MY CEO : STOP KISSING ME !!!

MY CEO : STOP KISSING ME !!!
PRIA INI.... TERNYATA DIA!


__ADS_3

William corporation


Pagi-pagi sekali Zahra sudah berada di ruangannya, di sebelah kantor CEO. Hari ini dia hanya bisa menangis tanpa air mata.


Di pagi buta tadi tiba-tiba telponnya berdering, ternyata Briyan menelponnya. Dia bilang pak James tidak bisa hadir di kantor hari ini, jadi Zahra harus mengatur ulang jadwal pertemuan yang sudah terjadwal.


Walaupun ini kelihatannya sepele. Namun membatalkan janji yang sudah di buat pasti menimbulkan ketidaksenangan dari pihak lain.


Untung saja Zahra bekerjanya di perusahaan besar seperti William corporation. Sebagai salah satu perusahaan Real estate ternama di Indonesia, tentu saja Wiliam corporation sangat di hormati oleh perusahaan lain.


Mengatur ulang jadwal bukanlah sesuatu yang mustahil karena bersifat sementara, hal itu tentu lebih baik dari pada pembatalan secara permanen.


Jadi mana mungkin mereka berani protes ketika pertemuan harus di undur. Bisa menjalin kerjasama dengan Wiliam corporation adalah berkah bagi mereka.


Hahhh!!!!!!!!


Zahra berdiri dari kursinya untuk meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Dia melihat jam di tangannya, "ya ampun.... Gak terasa sudah jam sepuluh aja!"


Dia melirik kantor CEO yang kosong. Zahra sebenarnya agak khawatir dengan calon CEO baru nanti, biar bagaimanapun dia sudah terbiasa dengan pak James.


Mendengar umurnya yang masih muda, membuatnya sedikit was-was. Orang kaya kan biasanya suka seenaknya sendiri kalau berprilaku.


"Please deh Zahra... kamu gak boleh netink duluan gitu dong! Belum tentu dia bakal kaya gitu kan!" Zahra menepuk-nepuk pipinya pelan supaya sadar dan tidak berpikir berlebihan.


Zahra melanjutkan pekerjaannya lagi. waktu makan siang masih lama, jadi Zahra menggunakan sisa waktunya untuk memilah-milah beberapa dokumen lain yang membutuhkan tanda tangan pak James.


......


Duk Duk !!!!


Briyan mengetuk pelan permukaan meja, ketika Zahra tidak memperhatikannya saat memasuki ruangan miliknya.


"ASTAGA!!! Paman Briyan...." Zahra menepuk dadanya yang berdegup kencang karena terkejut, "paman bikin kaget saja!" serunya


Briyan terkekeh pelan melihat ekspresi Zahra, "maaf!" ucapnya geli.


Zahra melambaikan tangannya tanda tidak apa-apa. Melihatnya tidak marah, Briyan menyampaikan maksud kedatangannya ke ruangan Zahra.


"Setelah mengatur ulang jadwal, kamu tidak perlu bekerja lagi," Briyan tersenyum sedikit ketika melihat kilau cerah di mata Zahra yang sempat dia sembunyikan,


"setelah jam makan siang, pak James akan membawa anaknya ke kantor untuk di perkenalkan ke seluruh karyawan di auditorium. Jadi, untuk sementara kamu tidak harus bekerja dulu."


"Paman gak ada merasa bersalah ya waktu ngomong gitu ke Zahra!" ujarnya santai. Namun jelas-jelas dia tidak bahagia.

__ADS_1


"Kenapa?" Briyan mengerutkan keningnya tidak mengerti, " mengapa paman harus merasa bersalah?" tanyanya


"Lah paman ko ngomong gitu!" Zahra tidak puas melihat sikap santai Briyan, "paman dan pak James, gak pernah ngasih tau Zahra langsung soal pergantian CEO. sebagai sekretaris saya bahkan tidak tau apa-apa!" Protes Zahra


Briyan terkekeh geli mendengar keluhannya, "maaf... Paman benar-benar tidak ingat memberi tahu kamu!"


"Lalu anak pak James itu orang yang seperti apa paman?" Zahra ingin tahu pengamatan dari Briyan sendiri


"Tentu saja dia pemuda yang sangat tampan!" balasnya singkat


"Oh my!!!! Jangan bercanda dong... Paman tau apa yang ku maksud!!" protes Zahra


"Haha baiklah." Briyan tertawa geli melihat ketidakpuasan Zahra,


"Kamu tidak perlu khawatir dengan anaknya pak James! Beliau adalah pria yang sangat berdedikasi. Selama ini di luar negeri dia membangun perusahaannya sendiri, jadi saat dia mau mengambil alih William corporation. Peluang untuk sukses menjadi semakin besar di masa depan, dan kamu.


Ketika William corporation menjadi lebih sukses nanti, gaji mu bisa bertambah tiga kali lipat. Jadi kamu tidak perlu khawatir dengannya!!!"


Zahra hanya bisa menekan dorongan untuk memutar matanya saat mendengarkan penjelasan Briyan.


"Sebenarnya paman kemari karena ada satu hal lagi yang harus kamu ketahui!" Briyan berkata sambil menghela nafas


"Paman, ada apa dengan ekspresi mu! Jangan menakuti Zahra!" seketika dia merasa horor melihat ekspresi kasihan di wajah Briyan.


Briyan terkekeh sebentar sebelum melanjutkan perkataannya, "karena tuan James pensiun, paman pun juga ikut pensiun!


"Tapikan...."


Briyan cepat-cepat memotongnya, "Maaf mengecewakan mu! anaknya tuan James tidak suka memiliki terlalu banyak kontak dengan orang lain. Jadi dia hanya menginginkan satu sekertaris saja yang berada di sekitarnya."


Zahra mengerutkan keningnya, "gak mungkin dong paman, kalau sekertaris nya cuma Zahra sendiri!"


"Memang tidak." balas Briyan tersenyum maklum, "nantinya sekertaris yang lain tetap bertugas seperti biasanya. Bedanya adalah ruangan mereka akan di pindahkan ke bawah."


"Zahra gak ngerti... Bukanya itu bakalan merepotkan kalau mereka akan membuat laporan atau lagi butuh tanda tangan!"


"Begini. Di masa depan seluruh lantai ini adalah milik CEO, tidak ada yang di izinkan masuk selain kamu!" Briyan dengan sabar menjelaskan, "jadi. Ketika sekertaris yang lainnya ingin menyerahkan dokumen dan sebagainya. Itu harus melalui kamu.


"Tugas ku semangkin banyak dong kalau gitu!" serunya tidak puas


"Mau bagaimana lagi. Anak tuan James tidak suka berinteraksi dengan orang lain, Jadi kamu harus menahannya. Lagian gaji mu nanti bakalan naik kok!"


Zahra menekan pelipisnya yang mulai nyut-nyutan mendengar pekerjaannya di masa depan, "Naik sih naik paman... Tapi kalau beban kerjanya bertambah, bisa mati muda ntar Zahra!!!"

__ADS_1


"Paman sudah tua. Biar bagaimanapun paman ingin berkumpul dengan keluarga!" Briyan tersenyum sambil menepuk ringan pundak Zahra, "maaf... paman harus pensiun!"


"Tidak perlu minta maaf... Zahra ngerti kok Paman!" dia akhirnya hanya bisa pasrah


"Baiklah... Paman masih harus melakukan sesuatu. Jangan lupa pergi ke auditorium nanti siang!" Briyan mengingatkan Zahra tentang perkenalan calon CEO baru nanti


.....


Pukul dua siang, auditorium sudah di penuhi para karyawan dari berbagai departemen.


Beberapa karyawan wanita terlihat sangat antusias menyambut calon CEO baru yang tampan, sementara karyawan pria biasa-biasa saja.


Zahra yang tidak suka keramaian akhirnya memilih duduk di sudut ruangan, dia sama sekali tidak menghiraukan hiruk pikuk yang terjadi di ruangan tersebut.


Dia sebenarnya terlalu malas ikut berkumpul seperti ini, namun di depan bos masa depan. mana mungkin dia berani bertindak sembrono.


Sepuluh menit kemudian, akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba. Dengan senyum sumringah pak James berjalan ke atas panggung yang sudah di sediakan.


"Selamat siang..." ucapnya


Seluruh hadirin yang hadir membalas dengan ucapan selamat siang juga.


"Tidak perlu basa-basi. Kalian semua pasti sudah mendengar kabar pensiun saya kan!" pak James menatap karyawan yang serentak menjawab dengan anggukan. Dia lalu tersenyum, "tidak perlu sopan. Mulai sekarang saya akan menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada anak saya!"


Zahra menatap pak James yang masih berwibawa ketika berpidato. Dia sangat menghormati orang ini, ada sedikit keengganan di hatinya mendengar pak James akan mengundurkan diri.


Kemudian pak James melanjutkan pidatonya lagi, "jangan meremehkan usianya yang masih muda! faktanya, Anak saya sangat berprestasi di dunia bisnis.Tapu saya tidak bisa memberi tahu kalian perusahaan apa yang ada di tangannya, yang perlu kalian tahu adalah di masa depan. William corporation akan menjadi lebih sukses lagi jika ada di tangannya."


James tersenyum puas melihat seluruh karyawan yang terstimulasi karena ucapannya, "Langsung saja, Saya akan memperkenalkan anak saya yang akan menjadi bos kalian semua di masa depan. ARLLAND WILLIAM naiklah ke atas panggung!"


Zahra agak terkejut mendengar nama Arlland. Tanpa sadar dia memfokuskan pandangannya ke arah panggung untuk melihat lebih jelas seperti apa penampilan bos nya.


Karyawan yang lain juga sama, mereka ingin melihat Arlland lebih dekat. Alhasil Zahra yang duduk di sudut kesulitan untuk melihat lebih jelas pria yang berjalan ke arah panggung.


Arlland sendiri tidak memperdulikan pujian-pujian karyawan yang di berikan padanya. Dia berjalan tanpa ekspresi ke atas panggung, tingginya sekitar seratus delapan puluh. Di lengkapi dengan wajah yang benar-benar tampan, penampilannya sontak menjadi sorotan di auditorium tersebut.


"Saya Arlland William." Berdiri di atas panggung, dia hanya mengucapkan kalimat yang sangat singkat sebagai perkenalan.


Bahkan tidak ada senyum di wajahnya, walau begitu karyawan wanita masih memekik pelan ketika mendengarnya.


Di sisi Zahra. Ketika akhirnya dia bisa melihat lebih jelas pria yang berdiri di atas panggung, dia hanya bisa menahan nafas. pria ini.... ternyata dia!


Arlland sepertinya bisa merasakan tatapannya. Dia mendapati mata polos seorang wanita yang menatapnya ingin tahu.

__ADS_1


Pada akhirnya dua mata bertabrakan. Yang satu menatap pria di atas panggung dengan tatapan tak percaya, sementara yang lainnya menatap tajam ke arah wanita di kerumunan tanpa ekspresi di wajahnya.


TO BE CONTINUED


__ADS_2