MY CEO : STOP KISSING ME !!!

MY CEO : STOP KISSING ME !!!
BERTENGKAR


__ADS_3

Hampir jam delapan malam ketika Zahra sampai di rumah ayah nya. begitu turun dari taksi, dia tidak langsung masuk. gadis cantik itu berdiri diam menatap gerbang rumah mewah milik ayah nya.


Antonio Hendrawan adalah salah satu orang terkaya di Indonesia. jika orang luar mendengar nama keluarga Hendrawan, maka mereka pasti akan memberikan wajah untuk menghormatinya karena mereka tidak ingin menyinggung salah satu keluarga besar di Indonesia tersebut.


Zahra masih menatap rumah mewah di depannya dengan linglung, kilasan masa lalu melintas di kepalanya. berputar seperti film yang menggambarkan kenangan indah sewaktu dia masih tinggal di rumah itu.


Sadar dirinya terlalu terbawa suasana, Zahra memejamkan matanya untuk menenangkan perasaan melankolis di hatinya. merasa sudah cukup tenang, dia melangkah kan kakinya dengan enggan.


Belum sempat dia menekan bel, tiba-tiba pintu di dorong dengan kasar dari dalam. Zahra tersentak mundur beberapa langkah karena terkejut, dia melihat seorang pria lima puluhan keluar dengan wajah memerah karena marah.


Antonio yang baru menyadari ada kehadiran orang lain juga sempat terkejut. tapi begitu dia melihat Zahra berdiri di depannya, wajahnya malah semakin buruk.


Dia menunjuk waktu di jam tangannya, "Sangat lambat. apa kamu sengaja mengulur waktu karena tidak ingin datang kemari?"


Zahra tidak menjawab, dia dengan berani menatap wajah garang ayahnya yang juga sedang menatapnya.


Melihatnya tidak merespon, Antonio mendengus tidak senang. namun karena tidak ingin menambah masalah dia segera menekan emosinya, "Masuklah. bujuk kakak mu! saya pusing mendengar teriakannya."


Ketika mendengar ayahnya menyebut teriakan, Zahra mengangkat satu alisnya tertarik.


apa dia menjadi gila karena marah? atau, apakah dia mendapat gejala depresi? kenapa dia berteriak!


Walaupun pikiran Zahra menerawang kemana-mana karena penasaran, namun tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya. dia masih membuat wajah tenang dari awal sampai akhir, seolah-olah tidak tertarik dengan topik tersebut.


Suara bantingan keras sebuah benda menggema di rumah itu ketika Zahra masuk. karena ayahnya terus mendesaknya untuk segera menghentikan kegilaan kakaknya, walaupun Zahra sangat malas. namun, dia hanya bisa menerutinya dengan enggan.


"DIA KEMBALI. SESSYL INGIN BERSAMANYA LAGI MAH! SESSYL GAK RELA DI CERAIKAN SAMA DIA GITU AJA! SESSYL BENAR-BENAR CINTA BANGET SAMA DIA MAH! PLEASE, BANTUIN SESSYL!"


Pekikan nyaring kakaknya, samar-samar terdengar ketika Zahra menaiki tangga menuju lantai dua. kembali? siapa, apa mantan suaminya? jika dia terus gila seperti ini, pasti sangat menyenangkan! memikirkannya membuat Zahra mencibir.


Semakin mendekati lantai dua, maka semakin jelas pula teriakan kakaknya itu. suara benda-benda jatuh juga semakin banyak, sepertinya benda itu sengaja dia jatuhkan untuk mengekspresikan kekesalannya.


"Sessyl, kenapa kamu masih mengharapkan pria tidak bertanggung jawab sepertinya? mari kita lupakan saja, oke! masih banyak pria tampan yang mau sama kamu, kenapa kamu masih menangisi pria seperti itu!"


"Tapi Sessyl hanya mau dia! Sessyl gak mau orang lain Mah!" Sessyl sudah agak tenang, suaranya sudah tidak meninggi seperti tadi. dia hanya tenang di peluk ibunya.


Begitu sampai di kamar Sessyl, adegan intim ibu dan anak inilah yang memasuki penglihatan Zahra. dia tersenyum simpul, melihat interaksi mereka. ibu tirinya ini... ternyata bisa bersikap lembut juga ya! bintang Oscar ini, selalu tau bagaimana bersikap dalam berbagai situasi. aku benar-benar ingin memberinya empat jempol!

__ADS_1


"Hai..." Zahra menyapa. duo ibu dan anak itu sepertinya tidak puas ketika menyadari kehadirannya. terutama Sessyl, dia melihatnya seperti Zahra memiliki hutang puluhan milyar padanya. dia benar-benar tidak menyembunyikan ekspresi tidak suka itu di wajahnya.


Zahra hanya bisa menghela nafas tak berdaya, "Ayahmu yang menyuruh saya datang! dia memaksa ku datang untuk membujuk mu. jadi, kenapa kau memasang wajah seperti itu? "


"KELUAR!!! Aku tidak ingin melihat mu!" Sessyl memekik dengan keras


Zahra menyentuh hidungnya tanda ejekan. memangnya dia pikir aku mau melihatnya! kalau bukan karena rumah ibu, dia pikir aku mau menginjakkan kaki di rumah jelek ini!


Walaupun Zahra tidak puas dalam hatinya, namun di permukaan dia masih menyunggingkan senyum manis kepada ibu dan anak di depannya.


Sessyl semakin berang melihat senyumannya, dia diam-diam mencengkeram erat vas bunga kecil yang sejak tadi dia genggam. kemudian, dengan cepat dia melemparkan vas itu ke arah Zahra.


Untung saja dari tadi Zahra sudah memperhatikan gerak-geriknya, Dengan sigap dia melangkah ke samping untuk menghindari lemparan vas tersebut. Walau begitu, vas kecil itu tetap mengenai pelipis Zahra karena dia tidak menghindar terlalu jauh.


Darah segar mengalir deras dari pelipisnya. tapi Zahra tetap memasang ekspresi senyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Dia tidak memperdulikan rasa sakit yang datang dari lukanya, dia datang menghampiri Sessyl yang agak takut padanya.


Zahra memasuki kamar putri milik kakaknya, yang saat ini sudah tidak bisa di sebut kamar putri lagi karena banyak pecahan-pecahan benda dan robekan baju-baju mahalnya yang bertebaran di lantai. Oh jangan lupakan alat-alat makeup nya yang juga berserakan di lantai, ini sangat berantakan.


Selesai mengamati kamar, Zahra kemudian mengalihkan pandangannya kembali kepada putri kesayangan keluarga Hendrawan yang saat ini terlihat lemah di atas tempat tidur. seolah-olah orang yang tadi berteriak histeris dan yang membuat kamar ini berantakan, bukanlah dia.


Zahra jelas tersenyum, namun entah mengapa Sessyl merasa seluruh tubuhnya menggigil ketika melihat senyumannya. dia tampak sangat mengerikan hingga membuatnya takut.


melihat Sessyl ketakutan, Zahra menyeringai. dia membungkuk mengambil vas bunga kecil yang tergeletak di lantai. sontak Sessyl semakin menggigil ketakutan, dia segera bersembunyi di belakang ibunya.


"Kau menakuti kakak mu Zahra!" Sofia memandang waspada tangan Zahra yang sudah memegang vas bunga yang tadi di lempar Sessyl, "Kakak mu memang salah! Tapi moodnya sangat kacau hari ini, apa kamu tidak bisa memakluminya?"


"Bisa... Tentu saja bisa! kenapa aku tidak bisa?" balas Zahra sarkastik


"Ya benar... kalian adalah saudara. tidak boleh saling berteng—"


Praaangggg!!!


ucapan Sofia terpotong oleh suara nyaring vas bunga yang pecah.


"AAAHHHHHH ...... " Sessyl menjerit, dia menatap ngeri vas bunga yang pecah menghantam nakas di sampingnya. puing-puing pecahan vas tersebut langsung berserakan di meja.

__ADS_1


"Aku sudah tidak marah lagi," Zahra tersenyum jail "Aku sengaja tidak mengenaimu! apa kakak terkejut?"


"Zahra... kau sudah keterlaluan!," Sofia menangis, matanya berkilat basah "Bagaimana kalau tadi mengenai kakak mu!"


"Buktinya tidak kena!" balas Zahra polos


Sofia ingin membalas, tapi dia hanya bisa membuka dan menutup mulutnya tidak bisa mengatakan apa-apa.


Suara langkah kaki yang tergesa-gesa menyela pembicaraan mereka, tanpa membalikkan badannya Zahra sudah tau betul siapa pemilik langkah tersebut. ayahnya.


"ZAHRA..." pekikan ayahnya menggema, dia mengeraskan rahangnya menahan emosinya "ayah menyuruh kamu untuk membujuk kakak mu! bukan bertengkar seperti ini!"


Zahra diam tanpa suara, dia juga tidak berbalik menatap ayahnya. hal itu membuat Antonio tidak bisa melihat ekspresinya, dengan gusar dia melangkah menuju tempat Zahra berdiri. Antonio mengangkat tangannya untuk menampar Zahra.


"Kenapa berhenti?, tidak jadi menampar?" dia bertanya dengan senyum mencibir di mulutnya


Antonio menurunkan tangannya yang sempat dia angkat untuk menampar Zahra. nafasnya tercekat ketika melihat darah yang sudah mengering di pelipis Zahra. Meskipun dia melihatnya melempar vas ke arah Sessyl, tapi dia bukanlah pria tanpa otak. dia sepertinya bisa menggambarkan apa yang terjadi sehingga Zahra akan melempar Sessyl dengan vas.


Melihat ayahnya diam saja, Zahra menarik senyum di wajahnya. saat ini dia menatap Antonio tanpa ekspresi, "ini kan yang ayah mau? dari dulu ayah tau, aku tidak akur dengannya. tapi ayah selalu ingin aku dekat dengan dia! sebelumnya aku sudah bilang, dia tidak akan mendengarkan aku. tapi ayah memaksa aku datang dengan mengancam akan menjual rumah ibu! kalau aku tidak terluka, apa kau akan memarahi aku tanpa pandang bulu?"


Antonio tidak bisa membalas perkataannya, dia tidak pernah bermaksud membuat putri-putrinya bertengkar. dia hanya ingin mereka semakin akur sebagai saudari, jadi dia selalu membuat peluang untuk mereka bersama.


"Ayah minta maaf! panggil bi Santi dulu... suruh dia obati lukamu!"


Zahra mengedutkan mulutnya menahan perasaan ingin tertawa, "Ayah kau sangat lucu! kau bisa bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa, tapi aku tidak bisa! aku tegaskan sekali lagi, aku tidak akan pernah bisa akur dengan Sessyl. jadi jangan pernah meminta ku melakukan hal seperti ini lagi di masa depan!"


Selesai mengeluarkan emosinya, Zahra mengambil tasnya yang tadi sempat terjatuh ketika menghindari lemparan vas. dia berniat akan meninggalkan rumah ini.


"Mau kemana kamu? obati dulu pelipis mu, sebelum infeksi!" cegah Antonio


"Memangnya ayah peduli sama Zahra?" balasnya tersenyum, tapi itu bukan sekedar senyum. itu adalah senyum yang menyindir


"Apa maksud mu Zahra!" desis Antonio


"Ayah tidak mengerti? setiap kali ayah mengancam ku dengan rumah yang di tinggalkan ibu, itu membuat hati ku sakit. okelah kalau ayah sangat mencintai bibi Sofia, tapi Zahra juga sangat mencintai ibu. sakit di pelipis ku ini tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan rasa sakit ketika mendengar ayah akan menjual rumah ibu hanya karena masalah sepele. jadi ayah gak usah sok peduli dengan Zahra, faktanya ayah sudah berkali-kali menyengat rasa sakit yang Zahra miliki sampai Zahra kebal sendiri terhadap rasa sakit."


Tanpa menunggu respon dari ayahnya, Zahra bergegas keluar dari rumah yang sudah asing baginya. dia bisa gila jika berlama-lama di rumah ini, sudah jam sepuluh malam.

__ADS_1


Zahra khawatir susah mendapat taksi di jam segini, tapi dia benar-benar tidak mau berada di rumah itu terlalu lama. lebih tepatnya, dia tidak ingin satu atap dengan orang-orang yang selalu menjadi duri dalam hidupnya.


TO BE CONTINUED...


__ADS_2