
Hari ini adalah hari kedua di akhir pekan. Dan itu adalah hari kesukaan Zahra, terutama ketika dia menyadari bahwa hari ini dia tidak akan terus menerus berkutat dengan dokumen perusahaan.
Zahra mengambil ponselnya, lalu menyetel musik untuk memeriahkan moodnya yang sangat baik. Oh betapa bahagianya dia bisa bergelung selimut sepanjang hari!
Sejak semalam dia belum makan dengan benar karena ada di rumah ayahnya, lalu kecelakaan tak terduga tadi malam juga membuatnya kelelahan.
Ketika dia sampai di rumah sudah hampir pukul empat, Zahra hanya mandi lalu segera tidur untuk merilekskan tubuhnya.
Waktu berlalu hingga pukul tiga sore. Kalau bukan karena perutnya yang keroncongan, mungkin Zahra belum bangun saat ini.
Dengan malas Zahra beranjak dari tempat tidur. Dia mencuci wajahnya lalu Sepuluh menit kemudian dia sudah berada di dapur, kemudian Zahra membuat sarapan yang lebih pantas di sebut makan siang untuknya sendiri.
Tidak butuh waktu lama , seporsi spaghetti dan ayam goreng tersaji di meja makan. Zahra memakannya dengan lahap, “memakan masakan sendiri memang hal paling nikmat di dunia!” ucap Zahra membuat lelucon.
Sedang asik makan, dering ponsel tiba-tiba mengganggunya. Zahra merengutkan hidungnya saat melihat id panggilan, “ayah. Ada apa lagi!”
“Kenapa? Apa ayah tidak bisa menelpon putrinya sendiri!” balas Antonio dari sebrang telpon.
Zahra meletakkan peralatan makanya, nafsu makannya tadi sudah hilang karena panggilan dari ayahnya.
Zahra meletakkan tangannya didahi, “bukan begitu Yah! Ada apa menelpon?” ucap Zahra bersabar
“Ayah sudah memutuskan pernikahan kakak mu. Seminggu kemudian akan ada makan siang antar keluarga, ayah harap kamu bisa datang ke acara makan siang hari itu!” suara berat Antonio terdengar tidak bisa di bantah.
Zahra menghembuskan nafasnya lelah, “zahra tidak bisa berjanji Yah. Ayah tau sendiri, Zahra adalah sekertaris. Sewaktu-waktu akan ada rapat yang harus aku hadiri!”
“Setidaknya kamu harus pandai-pandai mengatur waktu lah. Hanya makan siang sekitar dua jam saja tidak bisa!.”
“Tapi—“
“Memangnya kenapa lagi ayah memberi tahu kamu sekarang! Sudah jelas supaya kamu bisa meminta izin lebihnya awal kepada bos mu. Apa kamu tidak mau mengusahakannya Zahra!” kata Antonio memotong ucapan Zahra, tanpa meninggalkannya perlawanan.
Pada akhirnya Zahra memilih mengalah saja. Berdebat dengan ayahnya sangat melelahkan, “baiklah. Zahra akan coba meminta cuti besok!”
“Bagus... Ayah tutup telponnya!” suara Antonio melunak
“Em....”
Zahra masih menatap layar ponselnya yang sudah mati karena panggilan sudah berakhir.
Tak lama dia mengambil kembali tatapannya dari ponsel, beralih ke arah balkon.
Zahra melangkah kakinya dengan ringan menuju ke balkon. Dia mengangkat ponselnya lagi, lalu mengotak-atiknya sebentar.
__ADS_1
Ketika matanya fokus mencari kontak yang sudah di kenalnya, mulut Zahra seketika melengkung membentuk senyuman.
Kemudian dia mendial nomor tersebut, Senyumannya tidak hilang saat dengan sabar menunggu telpon tersambung.
“Maaf. Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.” Namun suara mekanik dari operator membuat senyum Zahra memudar seketika.
Dia mendial kembali nomor tersebut, setelah beberapa kali lagi itu masih sama. Nomor tetap tidak aktif.
Pada akhirnya Zahra memilih meninggalkan pesan di panggilan berikutnya.
“Sayang... Telpon balik yah, kalau kamu ada waktu!” Zahra menjeda suaranya sebentar. Pandangannya menerawang jauh ke arah hiruk pikuk kota di luar, “aku kangen banget sama kamu!” ucapnya lembut
......
Empat hari kemudian, Zahra akhirnya kembali lagi ke kantornya setelah tiga hari sebelumnya dia pergi ke luar kota untuk menghadiri pertemuan sebagai wakil CEO Wiliam yang tidak bisa di hadiri CEO James William ...
Saat ini sudah jam makan siang untuk seluruh karyawan termasuk Zahra, dia merapikan mejanya sebentar sebelum pergi menuju kantin perusahaan.
“Sudah dengar belum, kalau pak James bakalan pensiun...”
“Sudah.... Katanya anaknya yang bakal gantiin kan!”
“Hihi... Iya. Dengar-dengar anaknya ganteng banget loh! Aduh... Aku jadi penasaran!”
”Sama... Aku juga penasaran banget!”
“Zahra.... Sini!”
Tiba-tiba pekikan nyaring dari suara yang sudah sangat di kenalnya, mengalihkan perhatiannya.
Zahra mencari sumber suara di tengah kerumunan. Tepat di arah jam sepuluh dia melihat Dila, sahabatnya yang menjabat sebagai manajer personalia sedang tersenyum sambil melambaikan tangan ke arahnya.
Begitu Zahra duduk. Dila bertopang dagu sambil menatap Zahra, “Cie yang abis liburan di Bali... Bening amat Bu, wajah mu cantik berseri-seri!!!” ejeknya
Zahra terlalu malas menanggapi ejekannya. Dia hanya duduk dengan tenang lalu memesan salad sayur sebagai makan siang.
Zahra meletakkan kedua tangannya di meja makan. Jari-jarinya mengetuk pelan meja tersebut, hingga menimbulkan sedikit irama ringan.
Dia mengedarkan pandangannya lagi ke arah karyawan yang sedang makan sambil bersenda gurau di kantin, “Ku dengar tadi bos James bakalan pensiun. Apa benar?” ucapnya pelan
UHUK UHUK!!!!!
Zahra segera menyodorkan minum ketika melihat Dila yang tiba-tiba batuk saat makan, “Pelan-pelan dong makanya! Batuknya gak ada anggun-anggunya sama sekali!”
__ADS_1
“Peduli amat, anggun atau enggak!” setelah batuknya mereda Dila memelototi Zahra sampai-sampai bola matanya terlihat seperti akan keluar, “Gila kamu Ra... Sebagai sekretaris masa kamu gak tau kabar sebesar itu! Seantero perusahaan saja sudah tahu kalau bos James Bakalan pensiun! Lah kamu ke mana aja!!!”
Wajah Zahra langsung berubah jelek ketika mendengar ucapan Dila, “Aku baru kembali dari Bali. Pak Briyan gak ada ngasih tau apa-apa sama aku dari kemarin, gimana aku bisa tahu kalau pak James Mau pensiun!!” balasnya
Dila mencibir, “Jangan seperti orang susah yang gak punya handphone deh Ra! Grup chat perusahaan ramai banget loh ngebahas topik ini dari beberapa hari lalu!.”
“Aku ke Bali bukan buat liburan. Mana sempat aku main ponsel di saat kepala pusing mikirin pekerjaan!” Zahra berkata acuh sambil mengangkat bahunya, “lagian. Males banget aku mampir ke grup yang isinya Cuma spam sampah! Gak ada gunanya banget!”
“Baiklah... Baiklah. Mari kita ganti topik! Dari sumber terpercaya yang ku dengar, bos baru kita nanti lebih tampan dari artis Korea! Duh Ra... iri banget aku sama kamu, yang bakalan setiap waktu berinteraksi sama bos!” Dila berkata dengan ekspresi keluhan di wajahnya
Zahra tetap acuh tak acuh mendengar ucapan Dila. Dia berterima kasih kepada pelayan yang mengantarkan salad sayurnya sebelum membalas perkataan Dila, “jadi kapan kita ganti bos baru?”
“Seharusnya kamu yang tanya! Kan kamu yang paling dekat sama pak James”
“Oke. Kalau ketemu pak James nanti aku tanya langsung ke dia!” kemudian keduanya berhenti membahas topik tentang CEO baru. Mereka berdua ganti membahas tentang kehidupan sehari-hari.
......
Tak terasa waktu berlalu sangat cepat. Saat ini Zahra sudah berada di rumahnya. Langit belum terlalu gelap, jadi Zahra menyempatkan untuk joging keliling komplek rumahnya.
Setelah berlari hampir satu jam. Dia memilih berjalan santai dalam perjalanan kembali ke rumah.
Namun, Zahra tidak pernah berpikir akan bertemu kenalan di sekitar kompleks rumahnya.
“Nona wonder woman... Bagaimana kamu bisa ada di sini!” Victor tidak menyangka akan melihat Zahra di sekitar rumahnya. Dia segera bergegas mendekati Zahra , “apa kau baru selesai joging?” tanyanya.
“Eung... Yah!” Jawab Zahra kikuk, dia kemudian menunjuk ke arah rumah di sebrang jalan, “Ngomong-ngomong rumah ku tidak jauh dari sini. Di sana, nomor delapan!”
“Wow.... Kita sebenarnya tetanggaan! Kenapa aku baru tahu kalau kau juga tinggal di sini!” Tanya Victor heran.
“Mana aku tahu! Aku sudah tinggal di sini selama empat tahun terakhir!” Zahra menjawab dengan santai. Dia menggaruk hidungnya yang tidak gatal, “Tidak nyaman... Tubuhku penuh keringat! Aku harus pulang sekarang untuk mandi! Bye tuan Victor!”
Tanpa menunggu jawaban dari Victor, Zahra berlari cepat kembali ke rumah. Bercanda! Mana ada wanita yang tetap percaya diri tampil berantakan penuh keringat di depan seorang pria.
Victor tersenyum saat menatap tubuh mungil Zahra yang baru saja berlari cepat seperti kelinci. Namun tiba-tiba sebuah benda melayang menghantam kepala belakangnya, “Brngs”k ... Berani sekali kau melempar sandal ke kepala ku! Mau cari mati ya...”
Begitu Victor berbalik, matanya bertabrakan dengan mata tajam milik Arlland. Seketika, Victor bisa merasakan seluruh tubuhnya dingin sampai ke tulang-tulangnya.
“Bos... Ternyata yang melempar sandal barusan kamu!” Victor tertawa canggung. Dia mengambil sandal yang baru saja mengetuk kepalanya, “lempar lagi saja! Aku tidak marah haha!”
Arlland hanya menatapnya sekilas, sebelum masuk kembali ke dalam rumah. Tubuh Victor langsung terasa hangat kembali begitu Arlland meninggalkannya sendirian, “Huhh... Hampir saja kena murka bos besar! Ngomong-ngomong, kenapa dia bisa semarah itu sampai melempar sandal segala?!”
Victor tak habis pikir. Arlland yang dia kenal, selalu tenang setiap waktu. Semarah apa pun dia, dia akan tetap tersenyum.
__ADS_1
Kenapa? Tentu saja karena Arlland adalah tipe orang yang dapat membunuh musuhnya dengan senyumannya. Oh tidak! Apa dia marah karena kelinci putih kecil!!! Damn.... Ini berita besar!!
to be continued.