MY CEO : STOP KISSING ME !!!

MY CEO : STOP KISSING ME !!!
MALAM YANG MENEGANGKAN


__ADS_3

Seorang anak perempuan berusia lima tahun terlihat sedang asik bermain boneka di halaman belakang rumahnya.


Gadis kecil itu tiba-tiba menghentikan mainannya ketika mendengar deru suara mobil dari depan rumah.


Dengan wajah riang, gadis tersebut berlari kencang menuju halaman depan. dia bahkan tidak menghiraukan pekikan khawatir dari ibunya yang sedang memasak di dapur.


begitu pandangannya tertuju ke orang yang di harapkan nya, gadis itu memekik kegirangan. dia menjulurkan tangannya minta di gendong, "AYAH!!!" teriaknya


Pria yang di panggil ayah itu menoleh. pandangannya melembut ketika melihat gadis manis itu berlari kearahnya.


HAP!!!


pria tersebut menangkap gadis kecil yang tiba-tiba melompat dalam gendongannya.


"Zahra kangen... kenapa ayah lama banget pulangnya!" gadis yang tadi terlihat riang, berubah sedih ketika sudah berada di pelukan ayahnya. dia memegang erat leher pria yang di panggilnya ayah itu.


"Maaf ya sayang! jangan sedih dong... kita kan mau liburan weekend nanti. ayah gak pulang-pulang karena menyiapkan semua pekerjaan ayah, kan biar bisa nemenin Zahra liburan." pria itu membujuk putrinya agar tidak menangis


"Benarkah! jadi ayah bakalan ikut Zahra sama ibu liburan?" gadis manis itu bertanya penuh harap, melihat anggukan ayahnya Zahra kecil langsung bersorak kegirangan "Yeayyy.... akhirnya Zahra bisa liburan bareng ayah dan ibu! Yeaayy!!!!"


Tawa gadis kecil itu menular kepada ayahnya. Antonio terkekeh geli sambil menggendong Zahra kecil yang antusias sekali bertanya ini dan itu tentang liburannya.


Begitu sampai di dalam rumah, duo anak dan ayah di sambut oleh wanita cantik yang sedang bertolak pinggang menatap mereka dengan garang. jangan lupakan apron yang masih menggantung di tubuhnya.


Wanita cantik itu menghampiri ayah dan anak yang saling berpelukan, dia mencubit lembut pipi Zahra kecil, "Sudah berapa kali ibu bilang, jangan berlarian seperti tadi! nanti kalau jatuh lagi kayak kemarin kamu nangis!"


"Ayah .... ibu menggertak Zahra!" gadis itu akan menjadi penghianat kecil jika sudah bertemu ayahnya, dia juga akan selalu bertindak centil untuk mencari perhatian ayahnya.


"Jadi baik oke! ayah akan memarahi ibu." Antonio melambai ke arah wanita cantik itu untuk menghampirinya.


"Apa?" Antonio tidak membalas, dia hanya menyunggingkan senyum jail. satu tangannya lagi menutup mata Zahra kecil yang ada di gendongannya, kemudian dia membungkuk mencium istrinya cepat dan kuat.


"Mas Anton!!!"

__ADS_1


Antonio hanya terkekeh pelan. Zahra kecil yang mendengar teriakkan ibunya juga ikut tertawa bersama ayahnya, dia pikir ibunya berteriak karena mendapat hukuman dari ayah jadi dia ikut-ikutan tertawa seperti ayahnya.


Pada akhirnya rumah keluarga yang terdiri dari tiga orang tersebut di penuhi suara canda dan tawa.


.....


"Mbak..." suara panggilan nyaring dari supir taksi membangunkan Zahra dari lamunannya.


"iya..."


Supir taksi itu menawarkan kotak tisu padanya, "Itu... keningnya berdarah! sebaiknya di lap dulu mbak, pakai tisu basah."


Zahra melihat kotak tisu yang di serahkan padanya. dia mengambilnya, "Terima kasih."


Sopir taksi mengangguk, dia sepertinya masih ingin menyampaikan sesuatu. tapi melihat penumpangnya hanya diam menatap panorama malam dari jendela. supir taksi itu menelan kembali suaranya, pada akhirnya mobil melaju dengan lambat ke tujuan.


Cit!!!


"Tidak tau mbak... sepertinya mobil saya mogok lagi!" supir taksi itu menjawab dengan gugup


"Lalu bagaimana sekarang?"


"Em.. maaf mbak. Saya benar-benar gak tau kalau bakal jadi seperti ini! Rumah mbak masih jauh tidak! maafkan saya karena tidak bisa mengantar mbak sampai ke rumah." Bapak supir taksi itu menangkupkan kedua tangannya merasa bersalah.


Melihat supir taksi itu memelas, Zahra hanya tersenyum sopan. dia menunjuk ke arah kargo, "Saya akan bayar tarifnya," lalu Zahra mengeluarkan lebaran uang dari dompetnya


Supir taksi itu sepertinya merasa tidak enak menerima uangnya, wajahnya terlihat kebingungan.


"Rumah saya sudah dekat, bapak tidak perlu sungkan seperti itu," Zahra menenangkan supir taksi yang bingung, dia kemudian menambahkan "lagi pula saya harus tetap membayar uang yang tertera di kargo, bagaimana pun saya sudah naik taksi bapak sampai di sini. jadi saya harus bayar!"


Melihat dia bersikeras, akhirnya supir taksi itu mengalah. dia menerima uang yang di berikan oleh Zahra.


Malam itu sangat sunyi, suhunya pun cukup rendah. Zahra yang sudah mengenakan mantel tebal masih bisa merasakan angin dingin menusuk tulangnya.

__ADS_1


Zahra menatap jam di ponselnya, sudah pukul sepuluh lewat tiga puluh malam. seharusnya dia sudah tidur nyenyak di kamarnya, namun gara-gara ayahnya dia jadi luntang-lantung di jalanan. oh ... dia benar-benar ingin menangis!


Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, Zahra tiba-tiba merasa ada yang salah. seharusnya ada beberapa rumah di jalan ini, tapi mengapa saat ini tidak ada apa-apa di jalanan.


Jangankan orang, rumah yang biasa dia lewati entah mengapa tidak terlihat. Zahra bisa merasakan tubuhnya menggigil ketakutan, bulu kuduknya sudah berdiri sejak tadi. situasi saat ini benar-benar mirip dengan film-film horor yang pernah dia tonton.


Dia ingin mengecek lokasinya di google map, namun sebelum dia sempat menghidupkan layar ponselnya. suara senda gurau kelompok pria membuatnya terkejut.


Zahra segera menyelinap ke balik tanaman rimbun di sekitar tempat dia berdiri, dia menyusut di pojok dengan tubuh gemetaran hebat.


Suara-suara mereka semakin jelas, tampaknya mereka akan melewati tempat dimana Zahra bersembunyi.


Melihat mereka semakin mendekat, Zahra semakin menyusut ketakutan. Dia menggigit bibirnya kuat, takut Suara kecil akan membuat mereka menyadari kehadirannya.


Bayangkan saja, sekelompok pria bertemu wanita muda di jalan yang sangat sepi. mustahil jika mereka akan membiarkannya pergi, apa lagi akhir-akhir ini pelecehan seksual kerap terjadi di lingkungan masyarakat. Zahra menjadi semakin ketakutan saat memikirkannya.


Salah satu pria terlihat kesusahan menggendong seseorang di punggungnya. karena malam terlalu gelap, Zahra tidak bisa melihat lebih jelas siapa orang itu.


" Bos... kenapa kita gak langsung habisin dia aja sih! kenapa kita bawa dia kemari? bukanya Tuan X menyuruh kami langsung membunuh orang ini !" pria yang bertugas menggendong sepertinya kelelahan, sejak tadi suaranya lah yang paling keras.


Pria yang di panggil bos tersebut berbalik lalu dengan wajah garang dia menendang kaki anak buah bodohnya itu, "Jangan banyak bicara! tugas mu itu hanya membawa dia saja. bukan tugas mu untuk menasihati ku!"


Setelah bos marah, tidak ada lagi yang berani membuat suara. mereka semua berjalan memasuki gudang tak terpakai, tepat saat melewati semak yang tumbuh subur bos kelompok tersebut menghentikan langkahnya tepat di tempat Zahra bersembunyi. dia memandang tajam ke arah semak-semak.


Di pihak Zahra kondisinya sangat tidak menguntungkan. walaupun dia takut gelap dan takut binatang melata namun saat ini dia tidak memiliki pilihan selain berbaring menghindari tatapan dari pria dengan bekas luka di wajahnya itu.


Zahra meringkuk di tempat yang paling gelap untuk menghindari garis pandangan kelompok pria itu. dia menggigit bibirnya sampai berdarah, matanya basah karena menahan tangis. tubuhnya gemetaran hebat, sepanjang hidupnya baru kali ini dia merasakan ketidakberdayaan dan ketakutan yang amat sangat mengerikan.


Zahra memejamkan matanya untuk menenangkan dirinya, jika yang dia dengar tadi benar. maka dia akan menjadi saksi pembunuhan, jika dia sampai di temukan oleh kelompok pria ini Zahra yakin dia tidak akan pernah bisa selamat.


Satu-satunya cara yang harus dia lakukan saat ini adalah diam dan pura-pura mati. jika mereka sampai menemukannya, maka konsekuensinya tidak akan pernah bisa dia bayangkan.


TO BE CONTINUED

__ADS_1


__ADS_2