
Hari hari kami lalui,begitu banyak rintangan hidup yang kami alami,dari keadaan ekonomi, tetangga yang tidak bersahabat dan terutama ayah yang berubah,ayah berubah menjadi seorang pemabuk,entah apa yang menjadi penyebab nya.
semenjak SMP ayah berubah,dan sampai aku duduk di bangku SMA ayah tidak ada perubahan,ayah berubah menjadi sosok yang kasar.Aku bingung harus berbuat apa,terkadang disaat ayah pulang kami akan pura pura tidur.Ayah mabuk tidak seperti orang biasanya,dia akan melontarkan kata-kata yang tidak enak di dengar,bahkan terkadang berantam,dan disaat mama menjadi sasaran aku tidak bisa diam, terkadang aku menjawab untuk melindungi mama,namun aku merasa menjadi anak yang durhaka karena melawan sesungguhnya aku tidak pernah membenci ayah,aku menyayangi ayah,namun aku terkadang juga takut disaat ayah mabuk.Banyak hal yang ayah kerjakan agar kami bisa sekolah,ayah dan mama pernah berjanji,
"Semiskin miskinnya kita,tapi kalau untuk duduk di bangku SMA ayah dan ibu akan mengerjakan apapun agar kalian bisa lulus SMA,ayah janji"
Kata kata itu adalah kata yang selalu di ucapkan mereka,dan memang benar,adanya kami 11 bersaudara dan empat diantaranya sudah lulus SMA,dan tinggal satu orang lagi yang belum sekolah.
__ADS_1
Banyak tetangga yang memandang sebelah mata,Bahakan ada yang memfitnah keluarga kami,namun kami diam.Semua usaha dilakukan,mulai dari kerja , ngutang sana sini biar bisa sekolah terkadang makan pun hanya dua kali sehari bahkan sekali sehari terkadang,kami yang besar terkadang tidak makan demi sikecil.
Ayah bukan orang yang pintar berladang dulunya,dia lebih menyukai pekerjaan lain, seperti tukang,namun semua pekerjaan dilakukan ,apapun selagi bisa menghasilkan uang ,ayah saya menjadi inspirasi bagi saya,tidak gengsi dalam mengerjakan pekerjaan.
Saya bukan orang yang pintar,karena keseharian saya lebih banyak membantu keluarga,namun aku bukanlah siswa yang bodoh bodoh amat.Aku lebih suka pelajaran praktek daripada materi,dan ini menyulitkan aku untuk dapat beasiswa,namun aku sadar itu hal yang tidak mungkin bisa aku dapat.
"kamu pulang aja ya nak duluan,nanti bapak nyusul, nunggu minuman nya habis,oh ya ikan yang tadi dimasak ya biar nanti kita makan bareng"
__ADS_1
dengan senang hati aku pulang, kebetulan sore itu ibu membeli ikan hasil pancingan orang di danau,kami semua menunggu ayah pulang agar makan malam bersama.Ayah pulang sekitar jam 08:00, namun yang saya harapkan berbanding terbalik,ayah pulang dalam keadaan mabuk, impian makan malam bersama hancur sudah,tidak ada makan malam bersama.Kami memasak menggunakan kayu bakar,ikan masih di wajan sedang dimasak namun tiba-tiba ayah datang ke dapur dan mengangkat wajan berisikan ikan yang masih panas dengan kuahnya dan hampir melemparkan nya padaku, untungnya tidak jadi,jika hal itu terjadi aku tidak tau lagi akan seperti apa keadaan tubuh dan wajah jika disiram dengan air panas yang masih mendidih.
Banyak hal yang menjadi beban pikiran,mulai dari perkataan tetangga, keluarga, ekonomi,dan ayah yang kini berubah menjadi pemabuk.Tidak sedikit tetangga yang tersinggung dengan perkataan ayah jika sudah mabuk,tidak ada yang benar,semua yang dikatakan lawan bicaranya salah,dan hamya dia seorang yang benar.
Setiap malam hanya ada rasa khawatir yang melanda,jika jam sudah menunjukkan angka tujuh hati sudah gelisah menunggu kepulangan ayah,tapi jika sudah tiba di rumah kami semua akan pura pura tidur karena takut.Saya tidak tau kapan ayah akan berubah,dan bahkan setelah aku merantau jauh ke pulau Jawa ayah masih saja begitu,aku memutuskan merantau karena faktor ekonomi, untuk melanjutkan kuliah adalah hal yang mustahil.Namun nasibku di perantauan tak seindah teman temanku yang lain.
Aku berharap jika suatu saat merantau aku tinggal di kosan,punya teman banyak,namun itu semua tidak ada.Aku tinggal di rumah kelurga, awalnya janji manis, menjanjikan ini dan itu,tapi semuanya hanya kebohongan.
__ADS_1
menjanjikan jika suatu saat nanti mereka akan memberikan aku modal untuk menjadi seorang rentenir,tak lama dia mengalami stroke alhasil aku mengurus nya kurang lebih satu tahun lamanya.Namun setelah sembuh bukannya menepati janji aku malah tetap bekerja seperti biasa, membantu usaha catering nya dengan upah yang tak seberapa.Sampai pada suatu hari aku diajak ke pasar,namun hanya sebatas menemani kalau-kalau dia terjatuh supaya ada seseorang yang menuntunnya berjalan.selain usaha catering dia juga seorang rentenir,namun aku hanya dimanfaatkan bukannya memberikan modal malah mengajakku ke pasar hanya untuk sebatas pengasuh.