
Malam semakin gelap,matahari sudah menuju tempat istirahat nya.Malam dimana kami tidur tanpa alat penerangan,hanya cahaya lampu minyak yang tak begitu terang yang memberi sedikit cahaya.Belajar dengan penerangan yang tidak memadai sungguh tidak nyaman.
"Besok kalau udah bangun harus hati-hati loh".
Kata ayah mengingat kan.
"Loh emang kenapa pah? kan seperti biasa ,bangun pagi,masak,angkat air,mandi,udah berangkat".
Kami heran dan salah satu dari kami bertanya heran.
"Karena besok kalau udah bangun pagi,hidung kalian itu pasti hitam-hitam".
Ibu ikut bicara jika sampai tidak diingatkan pasti akan malu keesokan harinya.
"Hahahaha,benar juga y mah, kebayang tidak kalian, kalo besok sampe sekolah hidup pada hitam-hitam?, kebayang enggak sih?".
"Gak kebayang tuh,pas kumpul sama siswa yang lain dan ada yang bilang,kok kayak bau bau asap asap gitu y?,trus juga,itu hidung kenapa hitam -hitam,baru cium pantat kuali apa? hahahaha".
Kami tertawa bersama tidak peduli dengan cahaya yang hampir redup karena malam sudah semakin larut.
Satu persatu kami tertidur dibawah selimut yang menghangatkan badan, bermimpi bebas tentang hari esok,dan masa depan.Siapapun tidak akan tau apa yang akan terjadi besok,hanya bisa berharap ada yang sedikit berubah.Aku yang masih belum bisa tidur memandang langit-langit ruangan, mengingat rumah tempat aku dilahirkan kini menjadi rumah kosong,tak ada penghuninya.Aku hanya berharap akan pergi kesana dan membawa perubahan jika waktunya sudah tiba.
"Kak,,,belum tidur?".
"Belum Yen,aku lagi mikirin kampung kita,gimana ya rumah kita sekarang,apa sudah banyak sarang laba-laba disana, atau mungkin sudah sangat kotor?".
"Sama kak,kapan ya kita kesana?,kenapa sih kita harus seperti ini? semua orang seakan menjauh,tidak ada yang peduli sama kita,aku benci semua ini."
"Sama,, kakak juga, selain memikirkan paman yang sudah tidak punya hati itu, tetangga disini pun bikin tidak nyaman,aku janji,,,kalau nanti aku sudah besar,aku ingin jadi orang sukses biar orang-orang yang merendahkan kita saat ini tidak akan memandang kita seperti itu lagi,aku janji."
"Kakak juga,,, berjanjilah untuk tetap menjaga persaudaraan kita sampai kita menua nanti,jangan ada diantara kita yang saling berantam,janji?".
"Janji".
Aku dikagetkan adikku di saat sedang melamun,dan pembicaraan kami berlanjut hingga ngantuk menyerang dan tertidur dibawah hangatnya selimut yang ada diatas tubuh ku.
Matahari mulai muncul di ufuk timur, membangunkan umat manusia dari mimpi indah mereka.Ibu membangunkan aku selaku yang terbesar, sesungguhnya aku paling malas jika harus bangun pagi-pagi,tapi harus dilaksanakan.Aku memasak sedangkan dua adikku mengangkat air dari danau,dan dua lagi mencuci piring yang kami gunakan makan semalam.Seperti biasa kami akan membiarkan adikku yang duduk di kelas I SD bangun lebih lama.Dia akan bangun jika kami sudah siap-siap mau mandi ke danau.
__ADS_1
"Heiiii,,,ingat yang semalam mama bilang tidak?".
"apa?".
"Cuci hidung kalian jika tidak ingin malu,hahaha".
"Sepertinya hidungku kurang bersih lah".
"Hahahaha,,makanya mandi tu yang benar,masa ya hidup enggak bersih"
kami memulai pagi dengan tawa, berharap tawa ini tidak berakhir hari ini.
Kami menggunakan seragam yang berbeda, setelah selesai dengan semuanya,aku dan yang lain berpamitan kepada mama dan papa.
"Berangkat ya Mah,Pah".
"ya hati hati dijalan,nanti pulang sekolah kalian bawa bekal makan siang bapa ya, bantuin bapak angkat kayu".
"ya pah,ya udah berangkat ya".
"Nurrr,,tunggu,baru nyampe?".
"ya nih Les, baru aja".
"Bareng yuk".
"ayo"
salah satu teman sekolahku yang akrab dengan ku,meski bertingkah bodoh ,namun cukup menyenangkan untuk dijadikan teman dari pada yang lain.Hari-hariku bejalan seperti itu setiap harinya,tidak punya banyak teman menuntut ku menjadi orang yang tertutup dan tidak suka berbagi cerita.
Awal menjadi siswa baru aku bertemu dengan seseorang,bisa dibilang teman karena tinggal satu kampung meski tidak begitu dekat.Aku mengenalnya saat hari pertama masuk sekolah,tidak begitu akrab tapi aku berpikir tidak terlalu buruk untuk dijadikan teman.Namun dikarenakan kelas kami yang berbeda, kami jadi tidak saling sapa,ditambah lagi dia sudah punya teman satu kelas nya.Sampai pada akhirnya aku mengenal seseorang yang sering aku panggil Les.Seiring berjalannya waktu,aku menemukan teman dua orang lagi yang aku anggap lumayan akrab dengan ku dan salah satunya adalah teman sebangku.Namaya Rosa,aku akrab dengannya tidak pintar pintar amat tapi juga tidak bodoh.Kemana mana kami selalu bersama,bahkan mengerjakan tugas sekolah pun selalu barang.Ada yang mengira kami sudah saling mengenal waktu masih SD. pertemanan ini tidak berlangsung lama, kejadian yang menurutku tidak begitu penting.Setelah belajar diruang kelas yang sama,Aku,Les,Rosa,dan Lenesya menjadi teman yang kemana mana selalu bersama.Bermain bersama,dan jika pelajaran olah raga tiba kami selalu bermain dalam satu tim.Hingga suatu hari kejadian itu datang.Dimana buku catatan Rosa Yang selalu rapi bersampul plastik selalu bertuliskan namanya ROSA.
Bel berbunyi pertanda istirahat telah usai,kami berempat masuk ruang kelas dan merapikan buku-buku yang masih berserakan di atas meja.
"Siapa yang nulis ini".
Tiba tiba saja Rosa berkata dengan nada kesal,aku yang kebingungan melihat sampul bukunya.
__ADS_1
"Jangan-jangan kamu lagi nur?".
"Bukan Ros,tadi kan kita bareng,jadi mana sempat aku nulis kayak gituan".
"terus siapa?gak mungkin orang lain kan toh cuman kita doang yang disini"
Aku bingung dengan sikap Rosa,hanya dengan tulisan kucing yang tertulis setelah namanya dia bisa Semarah itu.Tulisan itu pun sudah jelas\-jelas bukan tulisanku.Aku tidak habis pikir dengan Rosa, pertemanan yang hampir enam bulan terjalin hancur begitu saja.Duduk berdua di satu kursi ,dan saling sesak sesakan selama hampir satu bulan lebih pernah kami alami dikarenakan kursi ku patah dan tidak bisa digunakan.Guru yang mengetahui menyuruhku untuk meminta kursi baru ke pihak berwajib,namun aku tidak tau harus pada guru siapa aku memintanya ,sehingga Aku dan Rosa duduk di kursi yang sama yang seharusnya untuk satu orang saja.Aku heran kenapa Lenesya dan Les hanya diam,namun tetap berteman.Aku disalahkan diatas kesalahan orang lain.Rosa diam dan tidak ingin berteman denganku lagi,aku cuek saja karena memang itu tidak penting bagiku.Permusuhan ini berlanjut hingga aku lulus SMA,kami masuk ke SMA yang sama hanya aja dengan jurusan yang berbeda.Sedangkan Lenesya masuk ke SMK.Namun sebelum lulus dulu Lenesya pernah berkata yang menyebabkan permusuhan ku dengan Rosa adalah ulahnya.
"Nur,,,kamu masih ingat enggak kenapa kamu musuhan sama Rosa?".
Lenesya bertanya disaat kami bertiga bejalan di koridor sekolah.Setelah ajaran baru aku dan Rosa berpisah tempat duduk.
"Enggak"
"Masa kamu lupa"
"Aku aja udah lupa masalahnya apa" Les ikut bicara
"Ngapain juga diingat ingat,toh juga lama,udah mau tiga tahun kan?"
" Ya sih nur,tapi tau tidak selama hampir tiga tahun musuhan, Rosa tidak pernah menjelek-jelekkan kamu loh,dia malah bilang kalau dulu temenan sama kamu dia merasa nyaman".
"Bener tuh Nur" Les tukang nyahut.
"Sebenarnya penyebab nya itu waktu itu Rosa nuduh kamu menulis Rosa kucing di bukunya" Lenesya mengakui perbuatannya setelah bertahun tahun aku melupakan nya,dan kini diingatkan kembali.
Aku diam sejenak sambil berjalan menuju kelas yang masih jauh di ujung lapangan sekolah.
"Sudahlah, toh juga kita tidak tau siapa pelakunya kan? kalau Rosa memang mengira itu aku,biarin aja aku enggak mau ingat-ingat yang dulu,bentar lagi kan UN jadi fokus aja"
"Masalahnya itu aku nur,waktu itu aku enggak berani karena Rosa marah banget"
"Lene kok jahat banget sih kamu, ternyata kamu pelakunya".
"Tapi waktu itu aku hanya bercanda,tapi nyatanya Rosa malah serius".
"Tapikan yang kena malah si Nur kan?"
Aku kaget dengan pengakuan Lenesya,tapi aku tidak marah,selain masih keluarga dia adalah temanku.
"Sudah enggak usah dibahas lagi,udah lama juga kok,ditanya sama Rosa aja belum tentu dia ingat kan? lebih baik kita fokus belajar aja".
__ADS_1
Aku hanya ingin tidak menghancurkan pertemanan kami disaat-saat terakhir seperti ini.