My Golden Family

My Golden Family
dari kota mana aku berasal dan mengapa aku harus merantau?????part II


__ADS_3

 


***flasback off***


kejadian yg tak pernah terlupakan , sungguh menakutkan dan menyeramkan,muka pamanku yg dulu aku lihat orang baik kini sudah berubah bagaikan seorang iblis.


 


Disaat ayah ingin mengambil beras yg sudah di giling,tiba tiba laki laki itu datang dia tak lain adalah pamanku,ayah dari seorang laki laki yg tewas mengenaskan karena kecelakaan tunggal yang menewaskan nya beberapa satu bukan lalu.Ternyata dia menuduh ayahku sebagai pembunuh anaknya, sehingga dia ingin balas dendam dengan cara membunuh ayahku.Ayah tidak menyangka kalo selama ini dia sedang dalam pengintaian selama ini.Memang benar semenjak kematian anaknya cara pandangnya beda,dia lebih seram,hingga kini terbukti.


Disaat ayah sudah mulai dekat dia keluar dengan membawa sebuah golok,golok yg biasa dia bawa kemana mana.Ayah kaget dan langsung berlari ke kebun kopi milik kami yg memang dekat dari tempat itu.


 


"jika dia berani bertindak lebih dan macam macam mungkin disini sudah lebih banyak kayu atau batu yang bisa ku jadikan alat untuk melawan"


 


gumam ayah disaat dia melompat sebuah pagar kawat hingga membuat bajunya robek di bagian bawah.


aku ingat Persis ayah menggunakan baju hijau lengan panjang saat itu.


 


"kakak awas berhari hatilah"


 


tanteku berteriak dari kejauhan ,dia takut jika pamanku yg kini seperti iblis itu melempar golok yang dia pegang dari belakang,dan jika itu terjadi pasti akan mengenai punggung ayahku dan dengan mudahnya dia bisa membunuhnya.Tapi Tuhan berkehendak lain hingga hal yg di takukan tanteku tidak terjadi.


"pak nur cepat lari,Tuhan bantu dia hanya padamu aku menyerahkan kanya, lindungi anakku"


dari kejauhan suara wanita itu memanggil ayahku,sembari berdoa miminta pertolongan, tak lain dia adalah nenekku,ibu dari ayahku.


Secepat mungkin ayah berlari,dia tidak melawan yang ada di pikirannya hanya ingin menghindar.


"aku tidak akan melawannya,jika aku melawan pastilah aku lebih kuat,dia sudah lebih tua,tapi jika aku tidak melawan aku bisa mati,tapi jika aku melawan dia bisa mati,aku tidak ingin di penjara,anak anakku masihlah kecil kecil"


kata ayahku dalam hati,dia hanya menghindar dan berlari.


 


"Awas kau,aku hanya memiliki satu putra,kau pun juga hanya memiliki satu putra,kau telah membunuh putraku,maka aku pun akan membunuh putramu,jika aku tidak bisa mendapatkan putramu maka salah satu anak perempuan mu akan menjadi gantinya,aku tidak bisa mendapatkan kannya di sini maka nanti di saat pulangsekolah pun saya bisa membunuhnya."


pamanku sungguh mengatakan itukah,apa aku tidak salah dengar,yang dulu aku anggap baik sekarang jadi berubah bagaikan seorang iblis.


 


Dia mengatakan itu setelah ayah berhasil menghindar dan masuk kerumah nenekku.


kami hanya bisa bersyukur karena ayah bisa menghindar.

__ADS_1


 


Diluar sana dia masih memasang muka iblisnya itu,dia ditenangkan oleh keluarga nya dan dibawa pulang.


 


"sekarang kita tidak usah melawan tapi kita menghindar,untuk beberapa hari jangan keluar keluar dulu,buat anak anak di rumah aja dulu" kata keluarga mengingatkan ayah dan kami.


malam hari


karena rumah kami yang terbuat dari papan saudara ayah menyarankan agar kami tidak tidur disitu untuk sementara,dia menyarankan kami untuk tidur dirumahnya, rame rame bersama keluarga Tante dan nenekku.


tiap malam seperti itu,nenekku takut jika hal percobaan pembunuhan ini terjadi lagi.


Saudara ayah yang tinggal di Batam menyarankan agar kami pindah ke batam,dikarenakan pamanku tidak hanya mengancam nyawa ayahku,tapi aku, adikku,dan keluarga ku. libur semester sudah dekat, seminggu lagi pembagian raport akan di adakan,tapi karena kejadian tersebut kami tidak dibolehkan keluar dan ibu langsung mengambil tindakan.


"pak,saya mohon untuk satu Minggu ini anak-anak saya diliburkan pak,karena juga ujian sudah selesai,bapak pasti sudah tau kejadian 2 hari yg lalu kan pak,saya mohon."


ibuku meminta ijin ke sekolah untuk meliburkan kami sampai penerimaan raport nanti.


"baik Bu,saya juga sudah tau apa yg sudah terjadi,saya juga tidak bisa memaksa,karena akan membahayakan anak anak,dia bisa bertindak Kapan saja,lebih baik kita yang mencari aman bukan,saya bisa memaklumi,dan buat raport nya nanti mereka tidak usah datang di sekolah,biar saya saja nanti yg mengantarkan nya"


jawab kepala sekolah panjang lebar,selain guru di sekolah dia juga sudah kenal lama dengan keluarga kami.Dia sudah tau apa yg sudah terjadi sehingga dia tidak mau ambil resiko.


"terima kasih pak untuk semuanya,sekali lagi terimakasih"


jawab ibuku dengan senang.


"pak nurrr,,bagaimana kalo kamu bawa keluarga kamu kesini,disini Abang juga ada lahan kosong,kmu bisa pergunakan,buat rumah nanti disana sudah ada rumah,biarpun sederhana tapi setidaknya anak anak kita aman dari ancaman itu, mereka pasti ketakutan,kasihan anak anak,mereka masih kecil."


terdengar suara bapaktua dari sebrang telepon yg di pegang ayah tapi ayah menolak


"tidak perlu bang,nanti kami pindah dari desa ini saja,tidak usah yang jauh jauh,apalagi kalo itu ke Batam,terlalu jauh bang,yang ada nanti orang orang akan berpikir sayalah pembunuh nya,karena saya lari disaat saat seperti ini"


jawab ayahku untuk meyakinkan bapaktua aku yang ada di seberang.


"tapi bagaimana dengan anak-anak,mereka pasti masih trauma"


"tidak apa apa bang,semua akan baik-baik saja"


"baiklah jika itu menjadikan keputusan mu Abang tidak bisa memaksa,tapi tetaplah berhati-hati jaga anak anak jangan sampai kejadian"


"y bang aku ngerti dengan kecemasan abang"


telpon pun terputus


 


Beberapa hari setelah kejadian tersebut ayah,ibu dan semua keluarga sudah memutuskan kalo kami harus pindah,memang tidak begitu jauh,tapi setidaknya sudah lebih aman.kami tidak boleh keluar keluar rumah,ibu menjaga kami agar tidak selalu bepergian jauh cukup bermain dihalaman,masa kecilku tidak ada waktu bermain, hanya sedikit,hari hariku habis untuk membantu pekerjaan rumah dan mengangkat air dari sumur.jadibermain dihalaman saja sudah cukup. Hari Senin , seminggu setelah kejadian itu ayah mendapatkan rumah kosong,selain sudah dekat dengan kota rumah itu juga dekat dengan sawah tempat kami menanam padi,sawah milik orang yang kami sewa.Awalnya hanya ayah yang kesana ,kami pun sesungguhnya ingin membantunya disawah tiap hari,tapi karena jauh tidak memungkinkan,kami hanya datang 2kali seminggu,dan jika ayah ada pekerjaan lain maka kami akan menggantikan nya disawah.


Rumah sudah di temukan,tinggal di bersihkan supaya layak untuk dihuni, cukup 2 hari buat ayah dan 2 orang adikku sama suami tanteku untuk membersihkannya,dan hari rabunya aku yang berangkat kepasar bersama ibu datang untuk sekedar melihat lihat,membeli perlengkapan sekolah karena aku hari Sabtunya sudah harus masuk sekolah baru,menjadi peserta didik baru,tidak anak SD lagi tapi sudah SMP. aku datang dengan mama semua sudah bersih tinggal menunggu penghuni rumah yang baru yang tak lain adalah kami.

__ADS_1


perjalan pulang kami tidak melalui jalan biasa,kami lewat sawah yg tidak pernah dilalui oleh siappun,kami menghindari paman iblis tersebut.


 


"orang yang tidak tau pasti mengatakan kita sudah gila"


suara suami tanteku memecah kesunyian


"memang kenapa"


aku bertanya spontan


karena jalan ini tidak pernah dilalui oleh manusia,jarang sekali ada orang yg lewat sini karena ini sudah seperti hutan"


ayahku pun ikut bicara,sedangkan ibu hanya fokus berjalan,mungkin dia sudah mulai capek karena harus menggendong adikku di punggungnya.selama beberapa jam perjalanan kami tiba dirumah,semua barang sudah kami kemas,karena besok hari Kamis ,saatnya untuk pindah.meninggakkan desa tempat aku lahir dan menghabiskan masa kecilku selama 11 tahun lebih disana.


"nur,, seperti nya tas kita ini tidak cukup, ambilah tas yg ada di rumah pamanmu (satu satunya saudara laki laki ibuku)


jam menunjukkan jam 06:00


"tapi ibu ini sudah sore aku takut jika nanti ketemu dengan paman iblis itu"


jawabku pada ibu,aku masih trauma dengan kejadian satu Minggu yang lalu.


"tidak apa apa semua akan baik-baik saja, ajaklah adikmu, kalian tidak akan ketemu dia kok"


kata ibuku meyakinkan


"baiklah ibu"


aku langsung mengajak adikku namun sial di tengah jalan kami bertemu dengan paman iblis itu dia muncul dihadapan kami entahlah dia datang darimana.secepat mungkin aku berlari dan menarik tangan adikku kami menangis sambil berlari sekuat tenaga aku melihat adikku yg sudah gemetaran dan wajahnya pucat Pasih.


adikku namanya wendelina tapi biasa dipanggil Tala,entahlah kenapa panggilannya jadi Tala.


"la,,,, itu tulang iblis itu kan"


kataku ketika dia muncul


"y kk Kita harus lari"


dia ketakutan


"loh kalian kenapa tasnya mana?"


tanya ibu Heran melihat kami pulang cepat dan yg sudah pucat dan menangis


"paman iblis itu ada di situ mah,, kami bertemu dia"


ibu kaget ayah yg mendengar langsung mendekat


"biar aja tasnya disitu,kita pake yang sudah ada" kata ayah sambil mendekat.

__ADS_1


__ADS_2