My Golden Family

My Golden Family
semakin rumit


__ADS_3

Semenjak duduk di bangku SMP semuanya berubah,mulai dari sifat tetangga, kebutuhan, perekonomian yang rumit,dan juga sifat ayah, entahlah apa yang membuat ayah berubah.tetangga yang dulu aku anggap baik ternyata hanya kebohongan belaka. Sejak saat itu aku mengerti tentang kerasnya hidup,duduk di bangku sekolah dan belajar mencari uang adalah keharusan yang kami lakukan, tuntutan kebutuhan sekolah,dan biaya hidup begitu banyak.Tidak banyak yang tau bagaimana kami harus melanjutkan hidup,makan hanya dengan nasi putih,makan hanya dengan mie,dan makan hanya dengan singkong,sudah kami rasakan.Hutang dimana mana sehingga kami harus bekerja keras dan hemat untuk melanjutkan hidup, bagaimanapun kami, hanya kami dan Tuhan yang tau.


pagi hari pun tiba,dimana kami harus berangkat sekolah, terkadang tidak sarapan karena yang tersedia hanya nasi putih,dan bahkan tidak ada sama sekali.


"mah,,,hari ini kami sekolah kan?"


aku bertanya,karena sekolah ku adalah sekolah terjauh diantara kami semua,adikku yang juga sudah masuk SMP saat itu memilih untuk masuk sekolah swasta katolik (Roma Katolik) yang merupakan sekolah favorit di kampung ku.Aku senang dia masuk di sana karena fasilitas nya lebih memadai daripada sekolahku.


"tapi mama tidak ada uang nak, mama udah coba minjam ke tetangga tapi tidak ada yang mau kasih mama pinjaman,mungkin mereka takut kalau kita tidak bisa bayar hutang"


terus gimana dong mah kita gak mungkin harus bolos lagi kan,Minggu kemaren juga kita udah gak sekolah gara gara gak ada ongkos.


"mama cuma ada uang 4.000 "


aku hanya ingin menangis melihat semua ini


ayah tidak bisa berbuat apa-apa,dia juga kehabisan uang karena uang dari tempat kerjanya pun sudah banyak yang menjadi pinjaman,dia tidak berani jika dia harus meminjam tiap minggu.Mencoba meminjam ke tetangga pun sudah dia lakukan,tapi nihil.


"ya udah mah gak papa ,biar nanti pulangnya kita jalan kaki aja,gak papa kok,yang penting kita sekolah"


mama sama papa hanya bisa terlihat senyum,namun aku tau kalau mereka menangis.Kejadian ini tidak terjadi hanya sekali dua kali,namun sudah berkali kali,dan tak jarang kami terlambat ke sekolah karena harus menunggu ayah mendapat pinjaman dari tetangga.


Mempunyai uang jajan lebih adalah hal mustahil untuk kami,tiap harinya kami hanya akan mendapatkan jatah lima ribu per orang,empat ribu menjadi ongkos dan seribu uang jajan,walau begitu aku tak mengeluh. Pulang sekolah kami harus bekerja demi mengisi perut,ayah yang tak pernah kenal lelah mengerjakan semua pekerjaan yang penting bisa menghasilkan uang,demikian juga Ibu,bekerja di sawah orang lain pun dia lakukan asalkan besok kami bisa makan dan berangkat sekolah.


Ayah yang saat itu berprofesi sebagai tukang kayu, harus memasuki hutan yang satu dan dan berpindah ke hutanyang lainnya,tak jarang kami ikut membantu.Memasuki hutan yang tak berpenghuni, tidak ada yang tau apa yang menjadi penghuni setiap hutan yang kami masuki,tidak ada manusia,hanya ada suara hewan hewan kecil,air dan pastinya kami,kami tidak tahu adakah binatang buas di hutan ini,dan jika itu kami tidak tau kapan hutan buas itu memangsa kami.


Suara mesin pemotong kayu yang begitu keras memilukan telinga,disaat mesin sudah mulai memotong kayu kami mulai mengangkat kayu - kayu yang sudah berbentuk.


"kak,,,kalo kita teriak tidak akan kedengaran loh,,ayo teriak sekencang mungkin "


"ayok,,,suara siapa yang paling kuat"


jawabku pada adikku yang tiba tiba datang kesampingku


"aaaaaaaaaaaaaaaaaaa"

__ADS_1


"aaaaaaaaaaaaaaaaaaa"


kami berteriak sekencang mungkin,tapi aku menyadari setelah berteriak seakan ada yang pergi menjauh dariku,seakan semua beban hidup ku pergi meninggalkan ku,yah pikiran ku terasa tenang, entahlah apa hubungannya beban hidup dan berteriak.


"nanti malam kita makan apa y kak?"


Yenti memberi ku pertanyaan,yang entah apa akan menjadi jawabannya.


"huuuh,, entahlah mungkin malam ini kita hanya akan mie,dan jika pun ada nasi pasti sudah tidak cukup,sabar aja"


aku tidak tau harus menjawab apa, yang jelas itulah yang akan terjadi.


"kakak,,,aku tidak mau hidup seperti ini terus,aku ingin hidup berkecukupan aku juga tidak mau melihat mama sama bapak hidup menderita hanya karena kita"


"duaaaarrr"


aku dan Yenti dikagetkan dengan kehadiran Tarigan, saudara laki-laki kami


"serius amat,pada cerita apaan sih?"


"kita lagi membahas masa depan"jawabku sambil tersenyum


"masa depan?? ada ada aja" bertanya kembali tak percaya


"y masa depan,kalo kamu sendiri suatu saat nanti pengen jadi apa?"


aku ingin tau apa yang menjadi mimpi dari adik adikku


"untuk saat ini aku tidak bisa menjawab,tapi yang jelas aku ingin sukses"jawabnya singkat namun yakin


"kamu sendiri Dar mau jadi apa"


"aku pengen jadi orang yang sukses pastinya"


"kamu Yenti"

__ADS_1


"aku sih pengen banget jadi dosen,tapi kalau lulus SMA nanti aku gak mau kuliah sekalipun ada uang,kuliah itu ngabisin uang aja, mending kerja,dapat duit"


kami hanya bisa memasang muka heran,dan pandangan kami semua tertuju pada Yenti


dia hanya bisa tertawa kecil melihat kebodohan nya.


"kalo kamu Tala, mau jadi apa"


adikku yang ke empat,mereka bertiga masih duduk di bangku SD dan pastinya mereka belum berpikir menjadi apa mereka kelak.Dia menarik nafas dan,,,,,


"aku pengen menjadi pencipta kerupuk,hahahaha


jadi saat nanti karyawan ku bekerja aku bisa sambil makan kerupuk sepuasnya"


kami semua tertawa spontan mendengar jawaban nya,tidak disangka


"dasar muka kerupuk, pikiran mu memang hanya buat kerupuk, pengennya makan kerupuk aja terus,hahahaha"


kami tertawa dan tak menyadari kalau ayah mendengar semuanya


"tapikan tidak apa-apa,itu berarti dia pengen jadi pengusaha kerupuk"


ayah ikut bicara kami langsung diam,dan berpikir


"bisa juga sih pah,tapi emang Talanya pengen makan kerupuk Mulu hahahahahaha"


kami tertawa lepas seakan masalah sudah selesai


"sudah waktunya pulang,bereskan semuanya,bentar lagi malam,kita harus cepat keluar dari sini"


Ayah mengingat kan kalau hari sudah semakin sore ,sudah waktunya pulang,


kami pulang meninggalkan hutan yang besok harus kami datangi lagi sambil sesekali bernyanyi menyusuri jalan setapak.


tidak tau apa yang akan terjadi besok,apakah akan ada tawa,atau akan ada air mata semuanya menjadi misteri dan rencana yang ilahi bagi semua umat manusia, demikian juga kami, menjalani hari ini dengan tawa dan melanjutkan nya esok hari disaat matahari mulai muncul kembali.

__ADS_1


__ADS_2