My Imagine

My Imagine
17. Pengakuan


__ADS_3

Herra pulang ke rumahnya dalam keadaan lesu. Kejadian itu terlalu bertubi-tubi. Setelah ia mengetahui berita kematian Tuan Rayan, ia harus dilimpahin kembali dengan berita kematian dua karyawan di perusahaannya.


Yang menjadi pertanyaan untuknya adalah mengapa orang yang meninggal itu adalah orang yang sudah mengusiknya. Pertama, Tuan Rayan yang ingin melecehkannya. Kedua, dua wanita itu yang baru saja memfitnahnya. Bohong jika ia bilang tidak menyangkut pautkan masalah itu dengan Rizhan. Sejak tadi ia sangat khawatir kalau Rizhan adalah pelaku dari dua kejadian pembunuhan itu.


Herra membuka pintu apartemennya. Ia sepertinya merasa kalau Rizhan tidak ada di dalam apartemen. Herra menghela napas kasar. Ia berjalan menuju arah dapur untuk menyegarkan tenggorokannya. Herra juga sedari tadi tidak ada meminum air putih. Mungkin itu yang menyebabkannya sedikit pusing sekarang ini.


Seketika kegiatan meneguk air itu berhenti ketika melihat sebuah jam yang tergeletak di dekat rak piring. Herra mendekati jam tangan itu dan meraihnya.


"Seperti pernah liat. Tapi, di mana yah?" gumam Herra seraya memikirkan tentang jam tangan itu.


Herra langsung melebarkan matanya saat mengingat jam tangan itu. Ia melihat dengan teliti jam tangan itu.


"Aku mengingatnya. Ini jam tangan milik salah satu wanita itu. Tapi, kenapa ada di sini? Atau...."


Jantungnya seketika berdetak dengan cepat. Bahkan tangannya langsung gemetar. Apakah dugaannya benar kalau Rizhan yang menyebab dua kecelakaan itu? Herra berusaha membuatnya dirinya sedikit tenang. Air matanya mulai menumpuk. Buru-buru ia hapus.


"Rizhan! Kamu di mana?!" teriak Herra


"Hai, Herra. Kamu udah pulang?" tanya Rizhan yang muncul di belakang Herra.


Herra membalikkan badannya dan menatap dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Rizhan, boleh aku tanya sesuatu?" pintar Herra


"Boleh. Tanya aja," jawab Rizhan

__ADS_1


"Kamu ke mana saja seharian ini?" tanya Herra yang berusaha bersikap tenang.


"Aku di sinilah dari tadi pagi. Emang kenapa?" tanya Rizhan


Herra berdecih. Ternyata Rizhan berbohong padanya.


"Kamu ternyata berbohong padaku Rizhan," tukas Herra seraya menatap penuh luka pada Rizhan.


"A-Apa maksudmu Herra?! Aku enggak ngerti," timpal Rizhan dengan pandangan terkejut.


"Rizhan, kamu mengikutiku seharian ini kan?" selidik Herra


"Mana mungkin. Kamu kan enggak memanggilku. Bagaimana bisa aku mengikutimu?" sanggau Rizhan mengalihkan pandangannya dari Herra.


"Kamu bohong! Kamu kan yang menyebabkan kecelakaan yang terjadi pada Tuan Rayan dan dua karyawan di perusahaanku," geram Herra dengan tatapan marah.


"Terus ini apa?" tanya Herra seraya menunjukkan sebuah jam tangan yang ia yakini sebagai milik dari salah satu karyawan wanita yang sudah mengganggunya.


"Oh, jam tangan itu aku temuin di kamarmu Herra," jawab Rizhan


"Rizhan! Kenapa kamu semakin berilah?! Kamu ngaku aja. Kamu kan yang membunuh mereka?" selidik Herra


Rizhan menundukkan kepalanya sebentar lalu menatap wajah Herra.


"Iyah, aku yang melakukannya," ungkap Rizhan akhirnya.

__ADS_1


Herra menatap dengan pandangan terkejut. Walaupun ia tahu kalau jawaban ini yang akan keluar, tapi tetap saja ada sedikit harapan dalam hatinya agar bukan Rizhan yang melakukan itu semua.


"Kenapa Rizhan?! Kenapa?! Kenapa kamu harus melakukan semua ini?!" pekik Herra dengan air mata yang sudah tak terbendung lagi.


Tentu saja ia sangat kecewa dengan sikap Rizhan. Padahal Rizgan sudah berjanji untuk tidak akan melakukan semua itu lagi. Tapi Rizhan kembali mengingkarinya.


"Aku melakukan itu semua untukmu," jawab Rizhan dengan tatapan serius.


"Untukku?! Kamu bilang itu untukku?! Rizhan, aku udah pernah bilang padamu untuk berhenti melakukan semua itu. Aku enggak suka jika kamu sampai mencelakai orang," murka Herra


"Aku enggak bisa Her. Aku sangat kesal saat mereka menganggumu. Apalagi tua bangka itu yang seenaknya menyentuh tanganmu. Aku enggak suka. Dua perempuan itu juga yang menghinamu, aku enggak suka," tukas Rizgan dengan tatapan penuh amarah.


Herra sangat terkejut dengan penuturan Rizhan. Rizhan sudah benar-benar berubah.


"Aku tau niatmu baik untuk menolongku. Tapi aku sangat enggak suka jika kamu menganggap enteng soal nyawa manusia. Aku enggak apa-apa dengan itu. Karena aku tau pasti ada balasan untuk orang yang menjahati kita. Enggak perlu kita yang menghukumnya," papar Herra


"Tetap aja aku enggak suka. Siapa saja yang berani macam-macam denganmu, akan habis di tanganku," desis Rizhan


"Enggak Rizhan! Kamu benar-benar udah berubah. Kamu bukan Rizhan ynag pertama kali aku kenal. Aku sangat kecewa denganmu. Kamu tidak memenuhi tugasmu sebagai temanku. Lebih baik aku menghentikan ini semua," tukas Herra dengan tatapan kecewa.


Rizhan memandang dengan tatapan terkejut pada penuturan Herra.


"Enggak boleh Herra! Kamu enggak boleh melakukan hal itu. Kamu tau aku sangat menyayangimu. Aku melakukan ini semua untukmu," tahan Rizhan dengan tatapan sedih.


"Maaf Rizhan. Aku enggak kuat lagi. Mending kita akhiri ini semua, sebelum ada orang yang menjadi korban lagi," tolak Herra segera mengambil ponselnya.

__ADS_1


Namun....


To be continued....


__ADS_2