
Herra kembali ke apartemennya tepat pukul tujuh malam. Pekerjaannya di perusahaan cukup banyak. Apalagi tadi harus tertunda karena kehadiran Vian. Sungguh perkataan Vian masih terngiang di pikirannya.
Herra masih memikirkan ajakan Vian untuk kembali padanya. Sebenarnya dalam hatinya tidak ingin melanjutkan hubungan itu karena ia akan dilema. Lain dari pihak Dara maupun Rizhan. Ia benar-benar tak bisa!
Ia yakin jika kembali lagi berhubungan dengan Vian, dapat dipastikan Dara akan datang marah-marah kembali padanya. Entahlah, siapa yang benar antara Vian atau Dara. Mereka sama-sama menjelaskan hal yang berbeda. Herra pun tak tau harus mempercayai yang mana. Ia jadi sangat bingung saat ini. Tak tahu siapa yang bakal ia pilih.
Lain lagi dengan Rizhan. Ia sangat takut jika Rizhan mengetahui kalau Vian mengajaknya balikan, dapat dipastikan Rizhan akan membuat perhitungan dengan Vian. Parahnya lagi Rizhan akan membunuhnya. Sudah pasti dia tak akan menginginkan hal itu terjadi. Ia tak mau melihat orang mati lagi karena dirinya. Sudah cukup banyak orang mati karena kemarahan Rizhan. Jangan lagi! Ia tak mau semakin merasa bersalah dengan orang!
'cklek'
"Aku pulang," ucap Herra
Herra membuka pintu apartemen dalam keadaan lesu. Sungguh banyak beban di pundaknya saat ini.
"Herraku udah pulang ternyata. Kok lama sih pulangnya?" tanya Rizhan seraya memeluk tubuh Herra dengan erat.
Sekarang Herra tak terlalu terkejut dengan Rizhan yang memeluknya setiap kali ia pulang kerja. Karena itu akan dilakukan Rizhan setiap kali ia pulang dari kerjanya.
"Ada banyak kerjaan di perusahaan. Makanya aku lama pulang," jawab Herra dengan senyum tipis.
"Haih, apa mereka enggak memikirkan nasib karyawan yang lelah ya? Dasar," keluh Rizhan dengan tangan yang ia lipat di dadanya.
Herra sedikit tersenyum dengan perkataan Rizhan. Rizhan cukup perhatian dengannya.
"Udahlah, aku enggak pikirin lagi. Aku mau mandi dulu," ucap Herra seraya pergi dari hadapan Rizhan.
"Mau aku bantu?" tawar Rizhan dengan polos.
"Ihh, apaan sih Rizhan?! Jangan ngaco ya! Awas aja kamu ngintip!" protes Herra dengan mengacungkan jari telunjuknya pada Rizhan.
Rizhan terkekeh melihat Herra yang malu dengan pipinya yang me merah. Herra sangat lucu ketika sedang marah menurutnya.
"Iya, aku enggak akan ngintip kok. Udah sana, habis mandi aku tunggu di meja makan," balas Rizhan dengan senyuman lebar.
Herra segera beranjak menuju kamarnya. Ia mengunci pintu kamar mandi dan berusaha untuk tak memikirkan apalagi memanggil Rizhan kalau tak mau pria itu tiba-tiba hadir di dekatnya.
__ADS_1
***
"Makasih yah Rizhan untuk makan malamnya," celetuk Herra setelah menghabiskan makanannya.
"Tentu sayang. Apa sih yang enggak buatmu," balas Rizhan dengan senyuman lebar.
Untuk hal ini Herra masih agak kikuk. Ia belum terbiasa dengan panggilan 'sayang' dari Rizhan. Entahlah, sejak kapan hubungannya dengan Rizhan berubah dari teman menjadi pacar. Ia masih tak cukup nyaman dengan hal itu.
"A-Aku pamit ke kamar yah. Ada pekerjaan yang mesti aku liat lagi," pamit Herra seraya berlari ke dalam kamarnya.
Herra menutup pintu kamarnya seraya memegangi dadanya yang berdetak kencang. Kenapa ia merasa hatinya saat ini mulai goyah dengan Rizhan? Herra merasakan getaran hebat saat Rizhan memanggilnya 'sayang'. Enggak boleh Herra! Jangan jatuh dalam pesona Rizhan! Ingat, dia bukan manusia okey!
'kring-kring'
Herra segera meraih ponselnya yang berbunyi di atas nakas. Ia sedikit terkejut melihat nama dari si penelpon.
"Halo Vian. Ada apa?" tanya Herra dengan suara sedikit berisik karena takut Rizhan akan mendengarnya.
["Kau lagi di mana Herra?" tanya Vian]
["Di rumah orang tuamu? Kok enggak ada sih saat aku ke sana?" tanya Vian kembali]
"Aku enggak tinggal di sana lagi. Aku tinggal di apartemen yang diberikan oleh perusahaan," jawab Herra
Sungguh perasaannya sangat was-was sekarang. Entah kenapa ia merasa seperti seorang istri yang sedang berselingkuh.
["Oh begitu. Aku boleh datang main ke sana enggak?" tanya Vian]
"Enggak boleh lah. Apalagi ini udah malam. Aku enggak mau bawa pria ke dalam rumahku," tolak Herra yang terpaksa berbohong.
Padahal di apartemennya itu ada seorang pria. Mana mungkin Herra memberikan izin pada Vian untuk datang ke apartemennya. Walaupun Vian tak bisa melihat Rizhan. Tapi Rizhan bisa melihat Vian. Dapat dipastikan kalau Rizhan akan membunuhnya saat itu juga.
["Oh, ya udah deh. Aku akan datang ke tempat kerjamu aja besok," timpal Vian]
"Untuk apa kau datang ke tempat kerjaku lagi?" tanya Herra
__ADS_1
["Untuk mendengar jawaban darimu lah. Aku enggak sabar tau menunggu jawabanmu," jawab Vian]
"Vian! Aku udah mengatakannya padamu agar membiarkanku memikirkannya dulu. Aku enggak mau mengambil keputusan gegabah," balas Herra
["Ya udah deh. Aku akan sabar menunggumu. Yang penting kau tau kan jawaban yang kumau," ujar Vian]
Herra menghela napas kasar.
"Iya Vian. Aku tutup dulu. Bye," tutur Herra seraya menutup panggilan telpon dari Vian.
Herra melihat lagi ke arah pintu dan bernapas lega.
Semoga aja Rizhan enggak mendengar semua percakapanku dengan Vian ~ batin Herra
Namun hal itu tidak sesuai dengan ekspetasi Herra. Nyatanya Rizhan mendengar setiap kata dari percakapan Herra dan Vian. Meskipun Herra tidak menggunakan loudspeaker, Rizhan masih bisa mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Vian.
Rizhan bersmirk jahat saat panggilan itu selesai. Tiba-tiba saja matanya berubah menjadi merah. Itu pertanda bahwa amarah Rizhan yang begitu besar.
"Kau pikir bisa mendapatkannya kembali? Heh, kita liat apa besok kau masih bisa melihat dunia ini," desis Rizhan seraya menghilang bak asap.
***
"Aku yakin kalau Herra akan menerimanku lagi. Herra kan sangat mencintaiku," gumam Vian yang sedang berkaca.
Detik berikutnya Vian dibuat terkejut dengan sosok berubah hitam di belakangnya. Refleks Vian langsung menoleh ke belakangnya dan melihat sosok itu masih ada di depannya. Wajahnya tak kelihatan karena tertutupi oleh sebuah tudung.
"K-Kau siapa?!" pekik Vian dengan mata yang melotot ketakutan.
"Hehe, aku adalah malaikat pencabut nyawamu"
Vian dibuat semakin ketakutan ketika orang itu melangkahkan kaki mendekatinya. Vian melempar segala benda di dekatnya pada orang itu. Namun, semua benda yang dilempari ke orang itu bukan mengenainya, malahan melewatinya.
Di saat ia ingin berlari ke luar kamar, lehernya langsung dipegang dari belakang. Belum sempat berteriak, leharnya langsung dipatahkan selagi gerakan. Tubuh Vian terkapar di lantai kamarnya dalam keadaan tak bernyawa.
"Inilah akibat jika kau mengusik milik orang lain"
__ADS_1
To be continued....