My Imagine

My Imagine
21. Permintaan Maaf Dari Dara


__ADS_3

Herra meregangkan ototnya yang kaku karena terus mengerjakan pekerjaannya di depan komputer. Ia juga melepas kaca matanya untuk sejenak lalu meneteskan obat mata karena matanya terasa kering. Agak lebih baik saat cairan bening itu mengenai matanya.


'tok-tok'


"Permisi Nona," ucap salah satu karyawan di depan pintu ruangannya.


"Iyah, silahkan masuk Tella," ucap Herra pada salah satu karyawan.


Wanita yang bernama Tella itu segera masuk.


"Ada seorang wanita di depan yang mengatakan ingin bertemu dengan Nona," ucap Tella dengan sopan.


"Tella, udah berapa kali aku bilang. Jangan panggil aku 'Nona', panggil aja aku Herra. Lagipula kita sama-sama karyawan di sini," timpal Herra dengan senyum tipis.


"Iya Nona. Eh? Herra," balas Tella seraya tersenyum malu.


"Kau ini. Ya udah orangnya ada di mana?" tanya Herra seraya bangkit dari duduknya.


"Ada di depan lobi," jawab Tella


"Baiklah. Makasih yah Tella. Aku akan segera menemuinya," balas Herra dengan senyuman lebar.


"Kalau begitu, saya pamit dulu," pamit Tella seraya berlalu dari hadapan Herra.


Herra segera merapikan sedikit pakaiannya yang agak kusut. Setelah itu, ia segera beranjak untuk menemui orang yang ingin bertemu dengannya.


Sebenarnya Herra agak bingung. Ia mengira-ngira siapa gerangan orang yang ingin menemuinya itu. Karena ia tak terlalu terlibat dengan banyak orang akhir-akhir ini.


Katanya Tella tadi wanita ya? Apa mungkin itu Bulan? ~ batin Herra


Akhirnya ia sampai di depan lobi dan melihat siluet wanita yang tengah duduk membelakanginya. Herra pun segera mendekati sosok perempuan itu.


"Anda mencari sa...."


Ucapan Herra seketika terpotong saat melihat sosok yang mencarinya itu. Matanya seketika melebar kala melihat sosok itu. Entah mengapa rasa sesak di dadanya masih ada.


"Herra"


Wanita itu tiba-tiba memeluk Herra begitu erat. Herra masih dalam mode keterkejutannya. Namun saat sadar, Herra langsung melepaskan pelukan itu dan menatap dingin pada wanita itu. Rasa benci itu masih ada dalam dirinya. Mengingat apa yang telah dilakukan oleh wanita di hadapannya ini.

__ADS_1


"Untuk apa kau ke sini, Dara?" sinis Herra melipat kedua tangannya di dada.


Ternyata Dara yang merupakan pelaku yang memfitnahnya dulu itu datang menemuinya. Wajahnya nampak bersalah.


"Maaf jika kedatanganku ini mengganggumu," lirih Dara dengan wajah yang sedikit ia tundukan.


Herra menghela napas kasar. Ia menatap Dara dengan enggan. Sungguh perbuatan Dara padanya masih menyisakan lubang di hatinya. Walaupun hati kecilnya mengatakan harus memaafkan perbuatan Dara itu. Karena sedari dulu, jika ada yang berbuat salah padanya, Herra pasti akan dengan cepat memaafkannya.


"Aku tanya kau ngapain ke sini?" tanya Herra kembali yang mulai jengah.


"Aku ingin menjelaskan sesuatu padamu. Bisakah kita bicara di luar sebentar?" pinta Dara


"Maaf Dara. Aku lagi sibuk saat ini. Lain kali aja kita bicara," tolak Herra seraya pergi dari hadapan Dara.


Namun Dara dengan cepat menahan tangan Herra.


"Aku mohon Herra! Aku sangat ingin berbicara padamu. Kalau enggak, mungkin aku akan mati mengenaskan," pinta Dara dengan nada memohon.


Herra sedikit terkejut dengan penuturan Dara. Apa maksud perkataan wanita ini? Kenapa sampai membawa-bawa sial nyawa? Ia pun memikirkan ajakan itu.


"Baiklah. Aku mau. Tapi jangan lama-lama yah. Aku masih ada pekerjaan," jawab Herra yang akhirnya menyetujui ajakan Dara.


"Kalau gitu, kita bicara di kafe depan aja," ajak Dara


"Hmm"


Herra dan Dara berjalan menuju kafe di depan Volker Group. Setelah memesan minuman, mereka duduk di  kursi. Herra masih memperhatikan Dara yang tengah bersiap untuk berbicara padanya. Herra pun menghela napas kasar. Ia tak bohong jika sedang sibuk di kantor. Tapi, wanita ini malah seperti membuang waktunya saja.


"Apa kau akan diam seperti ini terus?" sindir Herra yang mulai lelah.


"Aku akan berbicara! Aku ingin meminta maaf padamu soal aku yang memgfitnahmu itu. Aku sangat menyesal udah melakukan itu semua," ucap Dara dengan nada penyesalan.


"Cih, kau pikir dengan kau meminta maaf, semuanya akan kembali seperti semula. Enggak kan? Walaupun aku menerima permintaan maafmu, tetap aja itu enggak akan merubah keadaan yang ada," tukas Herra dengan wajah emosinya.


"Aku tau. Makanya aku udah jelasin yang sebenarnya dengan orang tuamu kemarin. Aku juga udah jelasin  ke Vian juga. Aku bener-bener minta maaf padamu Herra. Kumohon maafin aku. Aku enggak tahan terus dihantui oleh sesuatu yang terus mengatakan untuk meminta maaf padamu," jelas Dara seraya menggenggam tangan Herra dengan erat.


Herra melepaskan genggaman itu dengan cepat. Ia tambah kesal saat ini.


"Apa maksudmu ada sesuatu yang terus menghantuimu?" tanya Herra dengan wajah bingung.

__ADS_1


"Aku juga enggak tau. Setiap malam aku terus bermimpi menyeramkan yang menyuruhku untuk segera meminta maaf padamu," jelas Dara dengan wajah yang mulai ketakutan.


Herra berpikir hal yang dikatakan oleh Dara. Apakah itu benar? Atau hanya akal-akalannya Dara?


"Terus bagaimana reaksi mereka saat kau memberitahu semua hal itu?" tanya Herra yang sedikit penasaran.


Walaupun ia sama sekali tak peduli, tetap saja ia harus melihat apa reaksi orang tuanya dan Vian.


"Orang tuamu sangat memarahiku. Mereka bilang aku harus segera meminta maaf padaku. Orang tuamu juga sangat menyesal udah mengusirmu. Mereka akan segera menemuimu," jelas Dara


Herra tersenyum miring. Walaupun ada perasaan sedikit lega karena orang tuanya sudah mengetahui yang sebenarnya, tetap saja dia tak 'kan ingin kembali ke rumah orang tuanya.


"Terus kalau Vian bagaimana?" tanya Herra kembali.


Dara berhenti sejenak.


"Awalnya Vian marah denganku. Bahkan sangat marah. Malahan aku udah bilang padanya untuk mengakhiri hubunganku dengannya. Karena aku ini bukan cewek yang baik. Tapi ... Vian mengatakan tetap ingin berhubungan denganku," ungkap Dara


Herra tersenyum penuh arti.


"Baguslah! Kalau begitu," balas Herra dengan senyuman tipis.


"Kok kau enggak marah sih denganku? Harusnya kau marah karena Vian enggak pisah denganku," timpal Dara


Herra terkekeh pelan.


"Kau pikir aku masih memiliki perasaan terhadapnya. Enggak lah! Perasaanku padanya udah enggak ada lagi. Aku menanyakan hal itu, karena takut kalau Vian malah meminta putus padamu. Aku enggak mau nanti Vian malah kembali lagi padaku," jelas Herra


"Herra! Kau baik banget padaku," balas Dara seraya memeluk erat diriku.


"Da-Dara lepasin! Kau terlalu kuat," keluh Herra


Dara melepaskan pelukan itu seraya tersenyum malu.


"Aku harap kita bisa berteman baik," tutur Dara


"Semoga aja. Kalau begitu aku pamit balik ke tempat kerjaku," pamit Herra seraya meninggalkan Dara.


Herra tersenyum tulus saat berjalan keluar dari kafe itu. Entahlah, hatinya merasa sedikit lega karena masalahnya sedikit berkurang.

__ADS_1


To be continued....


__ADS_2