My Imagine

My Imagine
22. Rizhan And Nightmare


__ADS_3

"Hahh hah"


"Hahh hah"


Seorang wanita terbangun dalam sebuah rumah yang tampak gelap. Ia merasakan bahwa dia berada di atas ranjang. Namun, kasur ranjang itu tampak sedikit keras. Membuat punggung tubuhnya itu sangat sakit. Rasanya ingin cepat bangkit dari ranjang yang bagai batu itu.


Ia mencoba menuruni ranjang itu secara perlahan. Wanita itu mencoba meraba dinding di kamar itu untuk mencari saklar. Nihil, tak ada satu pun saklar di kamar itu. Hal itu membuatnya jadi semakin ketakutan dengan kegelapan yang menyergap indra penglihatannya. Ia sangat tak suka dengan kegelapan. Siapapun tolong kasih penerangan untuk wanita ini!


"Ahh!" pekiknya tiba-tiba.


Wanita itu terjatuh karena telah menabrak sesuatu. Ia merasakan nyeri di kakinya. Namun, ia berusaha untuk bangkit kembali untuk mencari penerangan. Sungguh kegelapan itu sangat menakutkan baginya. Dia merasa benar-benar sial saat ini. Entah di mana dia sekarang. Karena ia yakin jika dia bukan di rumahnya saat ini.


Alih-alih mendapat salkar, ia lebih mendapatkan sebuah pintu kamar itu. Ia mencoba meraih kenop pintu itu. Akhirnya ia menemukannya dan membuka pintu itu. Berharap agar pintu itu bisa dibukanya. Siapa tau di luar ada pencahayaan untuknya.


'cklek'


Wanita itu bernapas lega saat mendengar bunyi pintu itu terbuka. Ia pun segera membuka pintu itu. Lagi-lagi kegelapan menyerangnya. Membuatnya sangat kesal. Namun, keadaan di luar kamar masih terlihat mendingan karena ada sedikit cahaya walaupun temaram. Tetap saja ia harus hati-hati dalam melangkah dalam lorong itu.


Wanita itu berjalan dengan pelan menyusuri lorong yang temaram. Ruangan di lorong itu sangat banyak. Ia menolehkan wajahnya ke segala arah. Ia sama sekali tak tau di mana I berada saat ini. Ia ingin sekali bisa keluar dari sini. Ketakutan kembali menyergapnya ketika terdengar suara tawa memekikkan. Suara tawa yang bernada jahat itu, membuat jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Darimana suara tawa itu berasal? Dia menolehkan wajahnya ke belakang, tak ada siapa pun di sana.


Suara tawa itu semakin mendekat ke arahnya. Hal itu membuat wanita itu langsung berlari menjauhi suara tawa itu. Namun suara tawa itu semakin mendekatinya. Wanita itu menjadi menangis karena ketakutan yang begitu menyiksanya. Bahkan ia tak bisa berteriak minta tolong karena suaranya yang tercekat. Ia menutupi telinganya untuk mengurangi keras dari suara tawa yang ia dengar. Namun, nyatanya suara tawa itu malah semakin keras. Seperti sedang berteriak di telinganya.


Wanita itu mencoba membuka satu persatu ruangan di lorong itu. Namun tak satu pun bisa terbuka membuatnya semakin dilanda kepanikan. Dia tak tahu di mana dia berada saat ini. Suara tawa itu semakin dekat saja rasanya. Siapapun tolong? Kenapa juga ia tak bisa berteriak dengan keras?! Apa yang terjadi padanya saat ini?!


'bugh'


Wanita itu kembali terjatuh karena kelelahan pada kakinya akibat terus berlari. Namun ia berusaha untuk bangkit kembali walaupun rasa sakit begitu menyerang lututnya yang nampak berdarah.


Wanita itu akhirnya dapat berdiri kembali. Ia kembali berusaha berjalan dengan keadaan terseok-seok. Lututnya yang terluka terus mengeluarkan darah yang tiada henti. Ia tak boleh berhenti. Ia sangat takut ketika pemilik tawa itu akan muncul di hadapannya. Ia yakin jika pemilik tawa itu adalah seseorang yang sangat menyeramkan. Ia harus cepat pergi dari sini.

__ADS_1


Suara tawa itu kembali hadir membuatnya semakin memaksa untuk menggerakkan kakinya untuk berlari. Sama sekali tak ia pedulikan sakit di kakinya.


Akhirnya wanita itu menemui jalan buntu dari lorong itu. Sebuah ruangan yang terletak di ujung lorong. Wanita itu pun segera mencoba membuka pintu ruangan tersebut.


'cklek'


Wanita itu bernapas lega saat pintu itu terbuka. Ia langsung memasuki ruang itu dan segera menutupnya. Wanita itu memundurkan langkahnya perlahan untuk menghindari suara tawa itu. Degup jantungnya masih bisa ia rasa. Bahkan, rasanya jantungnya akan keluar saja.


Seketika ia terkejut karena menabrak sesuatu di belakangnya. Sebuah ranjang. Ia segera meringsut di bawah ranjang itu untuk bersembunyi dari suara tawa itu. Suara lirihan dari tangisnya sedikit terdengar.


Wanita itu sangat ingin keluar dari semua hal yang membuatnya sangat ketakutan.


'tap-tap'


Suara tawa itu tak kembali terdengar. Namun tergantikan dengan suara derap langkah seseorang yang mulai mendekatinya. Jantungnya berdetak sangat cepat, seakan-akan akan keluar. Ia menahan napasnya ketika pintu ruangan itu ingin dibuka.


'cklek'


Suara siulan dari orang yang memasuki ruangan itu begitu membuatnya merinding. Wanita itu semakin bergetar ketakutan.


"Aku tau kau ada di sini. Ayo dong, keluar. Bermain denganku," ucapnya


Wanita itu menyadari kalau orang itu berjenis kelamin pria. Tapi saat ini ia tak terlalu memperdulikannya. Yang terpenting sekarang adalah pergi dari ini semua.


"Kok enggak mau keluar sih? Kenapa? Takut ya?"


Bagaimana ia ingin menjawab jika suaranya saja tercekat tak bisa keluar.


"Begini aja udah takut, hm? Padahal kau sangat berani berbuat ulah hingga membuat orang-orang itu tersiksa. Baiklah, karena kau enggak mau menemuiku, aku ingin memberitahumu sesuatu. Kau harus cepat-cepat meminta maaf pada Herra jika kau enggak mau hal ini terulang lagi. Kau harus tau kalau aku akan terus menghantuimu sebelum kau meminta maaf padanya. Sadari kesalahanmu. Sebelum kematian yang menjemputmu," tukasnya seraya keluar dari ruangan itu dengan bantingan pintu yang cukup memekakkan telinga.

__ADS_1


Suara tawa itu kembali terdengar hingga membuat wanita itu langsung menutupi kedua telinganya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir suara tawa itu.


***


"Aku pulang"


"Selamat datang Herraku. Capek enggak?" tanya Rizhan yang memeluk tubuh Herra.


"Sedikit. Ada hal yang mau aku tanyakan padamu. Tapi kamu harus jawab dengan jujur pertanyaan ini," celetuk Herra


"Iyah, tanyakan saja. Aku pasti akan jawab dengan jujur kok," balas Rizhan dengan senyuman seraya mengajak Herra duduk di sofa.


Herra menarik napas yang dalam sebelum berbicara.


"Apa kamu yang sering mendatangi Dara untuk meminta maaf padaku?" tanya Herra dengan pandangan yang serius pada Rizhan.


"Iyah, itu aku. Emang kenapa?" tanya Rizhan


"Kenapa kamu melakukannya?" tanya Herra balik.


"Biar dia minta maaf padamu lah. Apalagi," jawab Rizhan


"Tapi kamu enggak perlu melakukan semua itu. Aku udah enggak terlalu memperdulikan semua itu lagu," timpal Herra


"Udahlah, Herra. Yang penting dia udah minta maaf dan mengklarifikasi semuanya kan," balas Rizhan


"Tapi kan...."


"Shutt. Udah ya, sekarang ayo kita makan," potong Rizhan seraya mengajak Herra pergi.

__ADS_1


Herra hanya pasrah dengan perlakuan Rizhan. Walaupun dalam hatinya sedikit berterima kasih atas perbuatan Rizhan.


To be continued....


__ADS_2