My Imagine

My Imagine
27. Penolakan


__ADS_3

Hari ini Herra tidak berangkat ke tempat kerjanya. Ia sudah meminta izin kepada pihak HRD. Sungguh kepalanya masih begitu pening akibat kejadian kemarin. Ia masih sangat marah atas sikap Rizhan yang dengan kejamnya membunuh Vian. Bagaimana bisa pria itu dengan mudahnya membunuh orang sesuka hatinya?


Herra benar-benar murka dengan pria itu. Ia tak bisa lagi memendam ini semua. Sudah cukup banyak beban yang ia tanggung dengan kematian orang-orang sebelum Vian. Biarpun, tangan yang melakukan itu Rizhan, tapi tetap saja dia yang paling salah di sini. Karena kemunculan Rizhan ada karena dirinya.


Sungguh, semakin lama Herra semakin menyesal dengan keputusannya untuk membuat My Imagine itu. Awalnya saja yang bagus. Tapi lama kelamaan semakin buruk dan membuat banyak malapetaka.


Herra jadi dilanda kebingungan saat ini. Bagaimana bisa nanti polisi menemukan pelakunya? Sedangkan pelakunya adalah Rizhan yang notabene-nya bukanlah manusia. Bagaimana juga ia harus menjelaskan pada Dara siapa pembunuh sebenarnya? Mana mungkin ia menjelaskan kalau Rizhan yang merupakan teman khayalannya lah yang membunuhnya. Pasti semua orang akan langsung menganggapnya gila. Parahnya lagi, dia yang akan menjadi tersangka utamanya.


Herra juga saat ini dilanda oleh rasa bersalah yang besar. Bagaimanapun juga semua ini terjadi karena Rizhan yang cemburu dengan Vian. Herra benar-benar menyesal sudah menggunakan aplikasi itu.


Herra keluar dari kamarnya dengan keadaan lesu. Ia membuka kulkas dang mengambil sebotol air mineral. Tenggorokannya benar-benar kering saat ini. Bagaimana tidak, sejak kemarin ia tak ****** minum apa pun karena rasa terkejutnya kemarin.


"Kamu udah bangun, Herra," celetuk Rizhan yang sedang menyandarkan tubuhnya di meja makan sambil melipat kedua tangannya di dada.


Herra tak merespon apa pun. Ia lebih memilih untuk fokus meminum air mineral. Setelah air mineral itu habis, ia segera beranjak dari dapur untuk kembali ke kamarnya. Ia bahkan melewati Rizhan yang seakan-akan tidak melihat keberadaannya. Sungguh, rasanya sangat malas untuk berbicara ataupun menatap pria pembunuh itu. Jika bisa, ia akan membunuh pria itu agar masalah cepat selesai.


Rizhan sedikit terkejut karena Herra mengabaikannya. Dengan segera ia menahan tangan Herra untuk pergi. Tentu saja ia kesal dengan sikap Herra yang mengacuhkannya.


"Ada apa denganmu?! Kenapa kamu mengabaikanku, Herra?!" protes Rizhan dengan wajah kesal.


Herra memilih tidak menjawab kembali dan berusaha melepas tangan Rizhan darinya. Namun, Rizhan tak melepaskan genggaman tangannya dan malah semakin mengeratkan genggaman itu hingga Herra merasa kesakitan.


"Lepasin! Ini sakit!" pekik Herra tanpa melihat wajah Rizhan sambil berusaha melepas pegangan yang erat itu.


"Katakan padaku kamu kenapa?! Kamu tiba-tiba mendiamiku," protes Rizhan Kembali seraya menarik Herra hingga berdiri di hadapannya.

__ADS_1


Herra menutup mulutnya erat-erat. Rasa amarah dalam dirinya masih sangat besar. Ia sama sekali tak ingin berbicara apa pun dengan Rizhan. Bahkan ia menundukkan kepalanya untuk tak menatap wajah pria itu.


"Herra, jawab aku! Kamu kenapa?!" bentak Rizhan dengan mata yang melotot tajam.


Herra terkejut dengan suara bentakan Rizhan. Ini pertama kalinya Rizhan mengeluarkan bentakan padanya. Hingga air mata tak terasa sudah mengalir di pipinya. Rasanya sangat sakit saat suara bentakan itu keluar.


"Heh, kau pikir kenapa aku seperti ini?! Itu semua karenamu Rizhan! Kau yang menyebabkan aku seperti ini! Kau yang menyebabkan semua kekacauan ini! Enggak, ini bukan salahmu. Tapi ini salahku karena udah menciptakan makhluk iblis sepertimu," sarkas Herra dengan pandangan tajam.


Rizhan cukup tersentak dengan kalimat yang dilontarkan Zeline. Ia tersenyum miring. Rizhan tertawa sinis.


"Iya, kamu benar. Ini semua karenamu, Herra. Jika saja kamu menuruti apa yang aku bilang. Semua ini enggak akan terjadi," balas Rizhan dengan smirk jahatnya.


"Jadi kumohon, sekarang aku ingin mengakhiri ini semua. Jika kamu memang sangat mencintaiku, kamu harus membiarkanku menghentikan ini semua. Aku udah enggak sanggup menanggung banyak beban lagi. Kumohon," ungkap Herra dengan pandangan yang sangat memelas.


Rizhan memberikan senyum remeh. Mana mungkin dia mau!


"Kau bukan mencintaiku, Rizhan. Kau hanya terobsesi padaku. Itu bukan cinta, bukan," jelas Herra dengan tegas.


"Oh, kamu enggak percaya dengan cintaku. Ayo, aku akan tunjukkan seberapa cintaku padamu," timpal Rizhan seraya menarik tangan Herra dengan kasar menuju ke dalam kamar.


Herra cukup tersentak dengan tarikan itu. Apalagi tatapan Rizhan yang begitu dalam. Perasaan was-was kini menyelimutinya. Ia takut sesuatu yang buruk bakal terjadi padanya.


Rizhan langsung membanting tubuh Herra di atas ranjang begitu masuk ke dalam kamar. Bahkan Rizhan kini menindihnya. Herra memandang waspada pada Rizhan. Ia bahkan memundurkan tubuhnya perlahan. Rasa takut seketika merayap di tubuhnya.


"A-Apa yang mau kau lakukan Rizhan?!" gagap Herra dengan tatapan waspada.

__ADS_1


"Bukankah kamu ingin tahu seberapa besar cintaku padamu. Sekarang aku akan menunjukkannya padamu," jawab Rizhan seraya menarik kaki Herra untuk terlentang dan kembali menindihnya.


"Ahh!" pekik Herra karena begitu terkejut dengan tarian yang tiba-tiba itu.


Rizhan memandang penuh nafsu pada Herra. Wajah ketakutan Herra merupakan suatu kebahagiaan untuknya.


"Rizhan, hentikan! Ku mohon jangan lakukan ini. Aku enggak mau. Lepasin aku!" teriak Herra seraya menahan tubuh Rizhan yang menindihnya sambil menendang-nendang tubuh pria itu.


Rizhan seakan menulikan pendengarannya akan teriakan Herra. Ia semakin gencar untuk melakukan aktivitas yang diinginkannya.


'srek'


Sontak Herra menutupi tubuh atasnya karena Rizhan yang secara spontan merobek bajunya. Hingga terpampanglah bra merah yang ia kenakan.


"Aku akan tunjukkan cintaku yang tulus padamu," ucap Rizhan dengan suara yang rendah karena sudah diliputi oleh kabut gairah.


Herra semakin takut dengan Rizhan yang ada di depannya. Air mata sudah sedari tadi mengalir tanpa henti.


Rizhan meraih tengkuk Herra dan memaksanya untuk berciuman. Herra berusaha memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri untuk melepas ciuman itu. Bahkan ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia tak mau seperti ini.


Herra memukul dada Rizhan berulang kali. Namun, tak ada reaksi apa pun. Rizhan dengan gencar terus menciumnya.


Akhirnya Herra mengambil langkah berani dengan menggigit lidahnya hingga berdarah. Rizhan yang mencium Herra merasakan rasa darah di mulutnya. Detik berikutnya ia sungguh terkejut dengan keadaan Herra yang telah pingsan dengan darah di mulutnya.


"Herra! Herra bangun! Herra!"

__ADS_1


To be continued....


__ADS_2