
Herra berjalan dengan lesu menuju ke kamar mandi. Walaupun tubuhnya saat ini sangat letih. Mau tidak mau dia harus berangkat kerja. Entah kenapa saat ini ia tak memiliki gairah untuk hidup sejak kejadian itu.
Hidupnya perlahan semakin berubah. Rizhan yang mulai mengaturnya sangat membuatnya terbatas untuk pergi ke manapun. Rizhan benar-benar mengekangnya. Entahlah, setiap bangun pagi tubuhnya senantiasa kelelahan seperti remuk.
Tak butuh waktu lama untuknya membersihkan tubuhnya. Setelah mandi ia segera memakai pakaian kantornya dan berdandan sedikit.
Baru membuka pintu kamarnya, ia dibuat terkejut dengan kehadiran Rizhan di depan pintu kamarnya. Refleks Herra memundurkan langkahnya.
"A-Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Herra seraya menundukkan pandangannya.
Sejak kejadian itu, Herra merasa tidak terlalu nyaman berada di dekat Rizhan. Karena Rizhan senantiasa menempelinya. Bahkan melakukan tindakan yang tidak diinginkan Herra.
"Ayo, sarapan dulu," ajak Rizhan seraya menarik tangan Herra.
"Eh?! Enggak perlu. Aku mau cepat ke kantor aja sekarang," tolak Herra
Rizhan menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Herra.
"Herra, aku enggak terima penolakanmu. Ayo," tegas Rizhan yang kembali menarik tangan Herra ke arah meja makan.
***
"Aku berangkat dulu," ucap Herra seraya beranjak dari duduknya untuk pergi ke tempat kerjanya.
"Tunggu!" tahan Rizhan
"Ada ap...."
'cup'
Rizhan mencium bibir Herra. Herra melebarkan matanya saat Rizhan melakukan hal itu. Ini yang Herra tidak suka. Rizhan selalu bertindak seenaknya. Sejak kejadian itu, Rizhan jadi semakin sering menciumnya. Sungguh Herra benar-benar tidak tahan. Mau menolak pun tidak bisa karena Rizhan pasti memaksanya.
Rizhan melepas ciuman itu dan menatap lembut pada Herra.
"Hati-hati yah. Aku akan menunggumu pulang. Ingat, jangan kemana-mana," titah Rizhan
Herra menganggukkan kepalanya lemah. Tetap seperti itu. Saat Herra pergi ke tempat kerjanya, Rizhan pasti memberinya perintah seperti itu. Herra jadi merasa seperti anak kecil yang sedang diberi perintah agar tidak ke mana-mana saat sekolah.
__ADS_1
Akhirnya Herra sampai di Volker Group. Ia segera menuju ruangannya. Saat ini suasana perusahaan cukup kondusif. Para karyawan tak lagi membicarakannya. Mungkin masih ada segelintir. Tapi Herra tetap merasa lega karena suansanya tidak seperti dulu lagi.
Herra menaruh tasnya di atas meja dan memulai pekerjaannya.
***
Herra bersiap-siap untuk pergi ke kantin karena jam makan siangnya sudah tiba. Baru akan keluar ruangannya, tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang. Saat masuk berteriak, mulutnya langsung ditutupi oleh sebuah tangan besar. Herra melebarkan matanya begitu melihat sosok di depannya.
"Ri-Rizhan?! Kamu ngapain ke sini?!" tanya Herra dengan nada terkejut.
"Kok masih kaget sih? Padahal udah biasa kan aku datang untuk anterin makan siangmu," timpal Rizhan
"Aku kan udah bilang tadi malam enggak usah anterin aku makan siang. Aku bisa makan di kantin kok," papar Herra
"Herra, aku juga udah bilang padamu kalau aku enggak menerima penolakanmu itu. Aku akan tetap mengantar makan siang untukmu. Aku enggak mau saat kamu makan di kantin, malah anda yang berniat meracunimu," tegas Rizhan
"Mana mungkin kayak gitu Rizhan," balas Herra
"Udahlah, berhenti berdebat. Ayo sini," ujar Rizhan seraya menarik tangan Herra untuk duduk di sofa.
Herra mulai memakan makanan yang dibawakan oleh Rizhan. Walaupun makanan yang dibawa oleh Rizhan itu sangat enak, tetap saja ia lebih baik makan makanan di kantin saja. Lihat saja bagaimana Rizhan menatapnya dengan begitu dalam saat ini. Serasa Herra akan pergi dari hadapannya begitu ia mengejapkan sekali matanya. Tentu saja ia jadi risih.
"Nih, aku udah habisin," celetuk Herra setelah menghabiskan makanan itu.
"Gadis baik," timpal Rizhan seraya mengelus kepala Herra.
"Ihh, aku bukan anak kecil tau," protes Herra
"Iya, aku tau," balas Rizhan dengan kekehan.
"Ya udah, aku mau lanjut kerja dulu. Kamu bisa pergi," ucap Herra seraya beranjak dari duduknya.
Baru berjalan selangkah, tangannya ditarik ke belakang oleh Rizhan. Rizhan dengan cepat langsung mendaratkan sebuah ciuman pada bibir Herra. Bibir Herra dilumat pelan oleh Rizhan.
Herra mulai memukul dada Rizhan karena kehabisan napas. Herra sedikit menatap kesal pada Rizhan.
"Bisa enggak sih, jangan menciumku tanpa persetujuan dariku?!" protes Herra
__ADS_1
"Enggak. Aku akan tetap melakukannya. Aku pergi dulu," tolak Rizhan seraya pergi dari hadapan Herra bagai asap.
Herra menghela napas kasar atas perkataan Rizhan.
***
Herra memijat sedikit kepalanya yang pening karena pekerjaannya yang cukup menumpuk.
Herra dibuat terkejut saat baru masuk ke dalam apartemennya. Bagaimana tidak, Rizhan langsung menimbruknya dengan pelukan yang erat.
"Ri-Rizhan! Lepasin dong! Aku enggak bisa napas," keluh Herra
Rizhan pun melepas pelukan itu dan menggantinya dengan mencium bibir Herra. Seketika Herra melebarkan matanya.
Rizhan ******* dengan perlahan bibir Herra.
"Manis"
Herra semakin kesal dengan sikap Rizhan yang sangat semena-mena padanya. Herra langsung berlari ke kamar. Tak dapat dipungkiri jika jantungnya berdecak begitu cepat kala Rizhan menciumnya.
***
"Herra, udah mau tidur?" tanya Rizhan yang melihat Herra mulai berbaring di kasurnya.
"Iyah"
"Ini diminum dulu," ucap Rizhan seraya menyerahkan segelas susu putih pada Herra.
Herra pun menerimanya. Walaupun sebenarnya ia tidak ingin. Tapi seperti biasa, Rizhan tidak bisa ditentang sama sekali. Herra dengan cepat menegui habis susu itu.
"Ini"
"Bagus. Good Night," ucap Rizhan seraya mengecup bibir Herra.
Rizhan pun keluar dari kamar Herra. Herra langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Ia memegang bibirnya yang baru saja dikecup Rizhan. Itulah kesehariannya selama ini. Dengan Rizhan yang senantiasa mencium bibirnya.
To be continued....
__ADS_1