My Imagine

My Imagine
19. Apakah ini Nyata?


__ADS_3

Seorang wanita tengah sibuk memasak di dapur. Suara siulan di bibirnya menemaninya mengaduk masakan berupa nasi goreng. Senyum terpatri di bibirnya.


'grep'


Wanita itu langsung terkejut begitu sebuah tangan tiba-tiba memeluknya. Segera ia menoleh pada sosok yang dengan tidak etisnya memeluk dirinya hingga terkejut.


"Ri-Rizhan?!" pekiknya


"Hai sayang," celetuk Rizhan yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Rizhan, kamu terlalu erat memelukku. Ayo lepaskan! Aku lagi masak ini," protes Herra berusaha melepaskan pelukannya.


Bukannya melepaskan pelukannya, Rizhan malah menelusupkan kepalanya di leher Herra. Herra langsung tersentak begitu bibir Rizhan menyentuh permukaan lehernya.


"Rizhan! A-Apa yang kamu lakukan?!" pekik Herra dengan pandangan terkejut.


"Kamu harum banget sih Herra. Aku sangat menyukai aromamu. Itu membuatku sangat bersemangat," celetuk Rizhan yang semakin gencar melakukan aksinya yang menurutnya mengasyikkan itu.


"Rizhan. Ayo hentikan! Aku lagi masak sekarang. Apa kamu enggak mau makan malam?" tanya Herra berusaha melepas tangan Rizhan dipinggangnya.


"Aku enggak mau makan itu. Aku maunya memakan dirimu," tolak Rizhan seraya membalikkan tubuh Herra sekali hentakan.


Herra kembali memandang terkejut pada Rizhan. Mata itu tampak sangat berkilat menampilkan kegairahan. Herra sedikit merasa gugup. Ia menundukkan kepalanya.


Rizhan memajukan wajahnya pda Herra.


'ctak'


Rizhan mematikan kompor yang sedang menyala dan menggigit telinga Herra yang begitu menggodanya. Salahkan saja Herra yang mengikat cepol rambutnya hingga memperlihatkan leher jenjangnya.


"Au! Rizhan kenapa kau menggigitnya?" protes Herra menutup telinganya yang digigit oleh Rizhan.


Rizhan tersenyum menanggapi hal itu. Ia kembali memajukan wajahnya dan menelusupkan kepalanya di leher Herra kembali. Herra sedikit geli saat Rizhan meniup permukaan lehernya.

__ADS_1


'cup'


Satu ciuman mendarat kembali di lehernya. Kemudian hal itu terus saja berlanjut tanpa henti.


Herra menahan agar dirinya tak mengeluarkan suara laknat itu. Namun, ketika Rizhan menggigit sedikit permukaan leher itu, suara laknat itu tak sengaja keluar.


"Ahh!"


Herra refleks menutup mulutnya. Ia menatap Rizhan yang juga memandangi dirinya. Rizhan tersenyum senang.


"Sepertinya kamu menyukainya, hm?" goda Rizhan


"Ihh, kamu sih! Kenapa tiba-tiba menggigit leherku?!" pekik Herra dengan wajah yang merah padam.


"Lehermu harum sih. Lagipula aku ingin meninggalkan jejakku di tubuhmu. Agar orang tau kalau kamu itu udah ada yang punya," jelas Rizhan seraya mengelus dengan lembut pipi Herra.


"Rizhan...."


'cup'


Herra yang sudah ikut terbawa suasana, akhirnya menuruti arahan Rizhan. Ia mengalungkan dengan erat tangannya pada leher Rizhan. Dengan sekali gerakan, Rizhan menggendong tubuh Herra. Ia memasuki kamar dan merebahkan tubuh Herra dengan pelan di atas ranjang.


Ciuman itu terlepas karena Herra tampak kehabisan napas. Mata Rizhan sudah benar-benar tertutupi oleh kabut gairah. Apalagi melihat Herra nampak terengah-engah akibat ciuman itu. Semakin membuatnya hilang akal.


Rizhan kembali mencium bibir Herra. Kali ini ia memaksa agar Herra membuka mulutnya. Setelah mulutnya Herra terbuka, Rizhan langsung meneroboskan lidahnya untuk masuk dalam mulut Herra. Ia mengeksplor dalam mulut Herra. Rizhan mengabsen setiap gigi dalam mulut itu. Ciuman itu kembali terlepas.


Herra sangat terkejut ketika melihat pakaian atasnya sudah tanggal. Entah kapan Rizhan melepasnya. Kini hanya tertinggal kain penutup bagian atas dan bawah saja.


Herra refleks menutup bagian atas tubuhnya karena malu.


"Ada apa Herra?" tanya Rizhan


"A-Aku enggak mau melakukan hal ini," gagap Herra seraya mengalihkan pandangannya dari Rizhan.

__ADS_1


Rizhan memegang kedua tangan Herra. Ia menatap dengan lembut pada Herra. Ia mengelus dengan pelan pipi Herra.


"Kamu tenang aja. Aku akan bersikap lembut padamu, ya," timpal Rizhan dengan senyum meyakinkan.


Herra masih tak bergeming.


"Herra, sayang. Ayolah! Aku sangat menginginkanmu," tutur Rizhan


Herra memandangi wajah Rizhan yang nampak sangat tampan dengan keringat yang membasahi tubuhnya. Apalagi Rizhan saat ini tak memakai baju atasnya hingga memperlihatkan perut ABS-nya. Herra sedikit goyah.


"Aku takut Rizhan," cicit Herra


"Aku kan udah bilang, sayang. Kamu tenang aja. Aku akan bersikap lembut padamu. Aku hanya menginginkanmu," jawab Rizhan berusaha meyakinkan Herra.


Melihat Herra yang masih nampak bimbang, Rizhan pun mencium kening Herra lama. Herra langsung terkejut dengan hal itu.


Herra akhirnya mengangguk menerimanya. Ketika sudah mendapat lampu hijau Rizhan segera menarik celana pendek Herra dan membuangnya sembarangan.


Rizhan kembali mencium Herra dan adegan ranjang pun terjadi. Suara ******* dan erangan memenuhi ruangan itu.


Sampai akhirnya....


"AHH!!"


Herra berteriak dari tidurnya. Ia memeluk lututnya dengan erat. Air mata seketika mengalir dari matanya. Ia kembali memimpin hal yang sama.


Bagaimana bisa selama hampir tiga bulan ini, ia selalu bermimpi melakukan hubungan **** dengan Rizhan? Apa karena dominasi Rizhan semakin besar terhadapnya?


Selama kurun waktu tiga bulan ini, Rizhan sangat mengatur dirinya. Bahkan, ia melarang Herra jika bertemu dengan klien pria. Jika Herra membantah, maka nasibnya akan sama seperti para korban lainnya.


Herra hanya bisa pasrah menerima itu semua. Ingin sekali ia cepat-cepat mengakhiri ini semua. Tapi apa daya, jika saat ini tangannya tidak bisa menyentuh tombol pemberhentian kontrak itu. Entah gelang apa yang diberikan Rizhan pada kedua tangannya hingga ia tak bisa mengendalikan tangannya sendiri.


Bahkan karena gelang itu, ia secara tak sengaja mengikuti perintah Rizhan tanpa kehendaknya. Ia semakin aneh dengan dirinya sendiri. Ia seperti bukan pemilik dari tubuhnya sendiri.

__ADS_1


To be continued....


__ADS_2