My Imagine

My Imagine
23. Vian Ingin Kembali


__ADS_3

Seorang pria yang cukup tampan tengah memasuki kawasan Volker Group. Ia cukup takjub dengan interior perusahaan itu yang begitu mewah. Namun, ia tak fokus ke interior perusahaan itu lagi. Karena ia lebih mempunyai urusan yang lebih penting. Ia pun berjalan menuju meja resepsionis.


"Permisi Nona. Ada karyawan yang bernama Herra Laiba?" tanya seorang pria pada salah satu resepsionis.


"Oh, ada Tuan. Kalau boleh tau anda siapanya yah?" tanya resepsionis itu balik.


"Saya temannya. Bisakah saya bertemu dengannya?" tanya pria itu lagi.


"Bentar ya Tuan. Saya akan menelpon nona Herra dulu," balas resepsionis itu seraya menghubungi Herra.


Pria itu berdiri menunggu jawaban dari resepsionis. Ia kembali melihat sekeliling perusahaan yang nampak sibuk dengan para karyawan yang berlalu lalang.


"Oh ya, baik Nona," celetuk resepsionis itu seraya menutup telponnya.


Wanita resepsionis itu kembali menatap pria itu setelah berbicara dengan Herra lewat telpon.


"Bagaimana? Apakah Herra bisa diajak untuk bertemu?" tanya pria itu setelah melihat wanita resepsionis itu telah selesai bertelepon.


"Iya Tuan. Sekarang anda bisa menunggunya di lobi yah," balas resepsionis itu dengan sopan


"Baiklah, terima kasih," timpal pria itu lagi dengan sopan pula.


"Iyah Tuan," timpal resepsionis itu seraya kembali pada pekerjaannya.


Pria itu segera berjalan menuju ruang lobi dan duduk di salah satu kursi. Ia menggengam tangannya dengan erat seraya menunggu kedatangan Herra. Pria itu nampak gusar sembari menunggu Herra. Terlihat dari beberapa kali pria itu menghembuskan napas kasar.


***


'ting'


Herra baru saja keluar dari lift untuk menemui seseorang yang ingin bertemu dengannya. Herra ingin menolak sebenarnya. Tapi ia jadi cukup penasaran dengan seorang pria yang ingin menemuinya. Entahlah, ia seperti merasa akan ada sesuatu yang penting.


Herra segera mempercepat langkahnya menuju ruang lobi. Herra sedikit nampak familiar dengan tubuh belakang orang itu. Ia pun segera mendekati untuk melihatnya. Ia ingin segera mengetahui siapa pria yang ingin menemuinya itu.


"Anda mencari saya?" tanya Herra seraya melihat pria itu.

__ADS_1


"Herra!" sahut pria itu seraya berdiri di hadapan Herra.


Seketika Herra melebarkan matanya begitu melihat sosok di depannya. Jantungnya berdegup dengan kencang saat ini. Ini sudah kedua kalinya ia merasa terkejut dengan orang yang datang menemuinya di perusahaan. Pertama Dara, dan sekarang ... mantan pacarnya, Vian?!


"Vian?! Untuk apa kau ke sini?!" tanya Herra dengan tampang yang sangat terkejut.


"Herra, aku ingin berbicara empat mata denganmu," pinta Vian dengan wajah memohon.


"Tapi untuk apa?! Kenapa pula kau datang sendiri ke sini? Mana Dara? Nanti yang ada kalau kita bertemu berduaan, Dara akan salah paham," tolak Herra yang mewaspadai sesuatu yang bakal terjadi.


Bukan tanpa alasan, ia tak mau saja harus terlibat pertengkaran lagu dengan Dara, disaat mereka berdua sudah menjalin hubungan yang baik.


"Please, Herra. Aku ingin berbicara hal penting denganmu," pinta Vian kembali dengan nada sangat memohon sembari menangkupkan kedua tangannya.


Herra pun sedikit tak tega. Ia pun menghela napas kasar.


Enggak Dara, enggak Vian. Sama-sama buat aku enggak bisa menolaknya. Haduh, emang cocok deh dua orang ini ~ batin Herra


"Bagaimana Herra? Kau bisa kan?" tanya Vian dengan wajah yang berharap.


"Okey. Ayo," timpal Vian


Setelahnya Herra berjalan duluan meninggalkan Vian. Tak mau ia berjalan berdampingan dengan pria itu.


***


Di sinilah mereka sekarang dengan Herra yang duduk di depan Vian sembari menunggunya untuk berbicara.


"Aku akan langsung to the point aja yah. Aku ingin kembali padamu Herra," celetuk Vian dengan tatapan serius.


Herra langsung melebarkan matanya mendengar penuturan Vian. Herra bahkan langsung bangkit dari duduknya. Apa yang dikatakan pria ini?!


"Apa?! Kau ingin kembali?! Bagaimana bisa kau mengatakan itu padaku?!" pekik Herra dengan nada marah.


"Herra, kumohon duduk dulu. Dengerin," ujar Vian seraya menyuruh Herra untuk duduk kembali.

__ADS_1


Herra pun duduk kembali dengan memandang kesal pada Vian.


"Aku tau kau sangat marah padaku saat ini karena kejadian tempo lalu. Asal kau tau, itu semua adalah kerjaannya Dara. Aku baru tau kemarin saat dia mengaku padaku. Aku sangat menyesal saat mengetahui yang sebenarnya. Jadi kumohon padamu Herra, kita kembali kayak dulu yah," jelas Vian seraya menggengam tangan Herra.


Herra langsung menyentak tangan Vian dan semakin memandang kesal ke arahnya.


"Kau pikir aku ini barang yang bisa kau ambil saat kau butuh dan kau buang saat kau perlu, hah?!" protes Herra seraya menatap tajam Vian.


"Bukan Herra. Enggak kayak gitu.


Aku sangat kalut saat mengetahui kau selingkuh dariku. Asal kau tau, aku selalu memikirkanmu saat kita pisah. Aku baru menyadarinya kalau aku sangat mencintaimu," ungkap Vian


Herra kembali terkejut dengan penuturan Vian. Kenapa sangat berbeda dengan yang dijelaskan oleh Dara?


"Heh, kau bilang tetap mencintaiku?! Kau pikir aku akan percaya dengan perkataanmu?! Kalau kau benar-benar mencintaiku, kau enggak mungkin pacaran dengan Dara dan seharusnya kau lebih mempercayaiku," geram Herra


Herra tidak habis pikir dengan jalan pikiran mantan pacarnya ini.


"Maafkan aku Herra. Aku khilaf saat itu. Aku berpacaran dengan Dara hanya untuk membuatmu cemburu saja, enggak lebih. Aku sama sekali enggak mencintainya," jelas Vian dengan nada meyakinkan.


"Aku sebenarnya udah tau kalau Dara udah menceritakan padamu yang sebenarnya. Tapi dia mengatakan kalau kau enggak mempermasalahkannya lagi dengan itu. Dia mengatakan kalau kau sangat mencintainya hingga tak ingin lepas darinya," ungkap Herra


Vian nampak terkejut dengan penuturan Herra.


"Heh, aku enggak pernah mengatakan hal itu padanya Herra. Dia hanya membuat saja padamu. Dia itu yang tak bisa lepas dariku. Aku hanya mencintaimu saja. Aku berjanji, mulai sekarang akan terus mempercayaimu. Apa pun fitnahan yang akan menimpamu nanti," papar Vian seraya menggengam kembali tangan Herra erat.


Entah kenapa Herra jadi sedikit goyah dengan penuturan Vian. Apalagi mata abu-abu itu begitu memikatnya kembali. Herra hanya khawatir jika masalah akan kembali muncul jika mereka bersama kembali. Apalagi kalau Rizhan sampai tahu.


Seketika Herra melepas pegangan tangan itu seraya bangkit dari duduknya.


"Kenapa Herra? Apa yang terjadi?" tanya Vian yang sedikit terkejut Karena Herra berdiri tiba-tiba.


"A-Aku baru ingat punya tugas banyak di kantor. Aku akan menghubungimu lagi untuk memberikan jawabanku. Aku permisi," pamit Herra seraya berlalu dari hadapan Vian.


Entahlah, saat baru mengingat nama Rizhan, ia langsung saja panik. Herra jadi takut kalau Rizhan akan mengetahui hal ini dan membuat perhitungan dengan Vian.

__ADS_1


To be continued....


__ADS_2