
Seorang wanita datang dengan tergesa-gesa memasuki perusahaan Volker Group. Wajahnya tampak merah menahan amarah. Apalagi tatapannya yang begitu tajam. Entah pada siapa wanita dengan rambut light brown itu marah. Ia segera menuju ke bagian resepsionis dengan wajah amarah itu.
"Permisi, saya ingin bertemu dengan Herra. Cepetan!" ucap wanita itu dengan kalimat yang ketus.
Wanita resepsionis itu cukup terkejut dengan nada ketus dari wanita cantik itu. Namun, ia tak bisa marah karena dia harus selalu tersenyum pada tamu.
"Kalau boleh saya tau, anda ini siapa yah?" tanya bagian resepsionis dengan sopan.
"Bilang aja Dara ingin segera menemuinya. Cepetan yah Mba. Saya enggak mau lama-lama," ketus wanita yang ternyata adalah Dara itu lagi.
Bagian resepsionis kembali terkejut dengan nada bicara Dara. Buru-buru ia mengambil telpon untuk menghubungi Herra. Wanita di depannya ini benar-benar menguji kesabarannya.
"Iya, Nona. Ada orang bernama Dara ingin bertemu dengan Nona," jelasnya dengan nada sopan.
["Suruh tunggu aja. Nanti saya akan temui di bawah"]
"Baik Nona. Akan segera saya sampaikan," ucapnya lagi
Ia segera menutup telponnya dan menghadap ke arah Dara lagi.
"Begini Nona. Anda bisa menunggu sebentar di ruang lobi. Karena Nona Herra sedang ada kerjaan sedikit. Lagi sebentar dia akan menemui anda," jelasnya dengan nada sopan.
Dara menghela napas kasar seraya berlalu dari hadapan resepsionis itu tanpa mengucapkan terima kasih. Dara berjalan dengan cepat ke lobi.
"Itu cewek kenapa sih?! Sinis amat. Dasar! PMS kali," keluh wanita resepsionis itu.
***
Suara lift yang terbuka terdengar dan terlihat Herra yang keluar dari dalamnya. Ia berjalan menuju lobi karena Dara sedang mencarinya. Entah kenapa ia merasakan perasaan tidak enak kali ini. Tapi ia langsung berusaha membuang jauh-jauh pikiran itu. Mungkin ada hal penting yang perlu Dara bicarakan dengannya.
Walaupun rasa benci itu masih ada. Namun, Herra tak mau lama-lama menyimpan penyakit hati itu. Lebih baik berteman kan, daripada bermusuhan.
Ia melihat Dara yang sedang duduk menunggunya. Herra segera melangkahkan kakinya mendekati Dara. Ia sedikit khawatir sudah membuat wanita itu menunggu lama.
"Dara. Ada perlu apa kau ke sini?" tanya Herra menghadap Dara.
Dara langsung bangkit dari duduknya. Dipandangnya Herra dengan tatapan yang sangat tajam. Herra sedikit terkejut dengan tatapan Dara. Kenapa rasanya tatapan itu sangat tak bersahabat?
__ADS_1
Apakah Dara sedang marah? Karena ia pernah melihat tatapan ini saat Dara marah karena Vian yang menjadi pacarnya saat SMA dulu.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau sepertinya sedang marah?" tanya Herra dengan alis yang bertaut.
"Apa kau tau kalau Vian udah meninggal?" tanya Dara dengan nada amarah dan menekan.
'jderr'
Bagai tersambar petir ketika mendengar penuturan Dara. Matanya bahkan melebar mendengar hal itu. Ia sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Dara. Bagaimana bisa?!
"Apa?! Vian udah meninggal?! Jangan bercanda Dara!" pekik Herra yang cukup emosi karena Dara sedang bercanda menurutnya. Ini bukan april mop kan?!
Untung saja di daerah lobi tidak terlalu banyak orang sehingga tidak memunculkan kehebohan dengan suara Herra yang cukup keras. Kalau tidak, dapat dipastikan semua orang akan langsung menatap ke arah mereka. Alhasil jadi pusat perhatian deh.
"Cih, kau jangan berlagak Herra. Kau kan penyebab dari Vian meninggal?" tuduh Dara dengan pandangan sinis dengan nada yang kembali menekan.
Herra melebarkan kembali matanya mendengar tuduhan dari Dara. Ia terkejut dua kali mendengar perkataan Dara yang malah menuduhnya penyebab dari kematian Vian.
"Apa maksudmu?! Bagaimana bisa kau menuduhku yang melakukannya?!" protes Herra dengan alis yang menukik.
"Aku tau kemarin Vian datang menemuimu untuk mengajak balikan kan?!" duga Dara dengan amarah.
"Darimana kau tau?" tanya Herra dengan wajah yang kebingungan.
"Enggak peduli darimana aku tau. Yang penting sekarang adalah kau adalah tersangka utama dari kasus pembunuhan Vian," tuduh Dara seraya mengacungkan jari telunjuknya pada Herra.
Herra melebarkan matanya atas tuduhan itu.
"Dara! Bagaimana bisa kau menuduh aku yang melakukannya?! Aku akui kalau kemarin memang aku bertemu dengan Vian. Tapi aku sama sekali enggak melakukan apa pun padanya. Aku langsung balik ke kantor setelah berbicara dengannya," jelas Herra dengan runtut.
"Tapi kau adalah orang yang terakhir bertemu dengannya. Kalau bukan kau siapa lagi," tukas Dara dengan air mata yang mengalir.
Herra jadi tak tega melihat Dara yang menangis di hadapannya kini.
"Tapi beneran bukan aku Dara. Kalau enggak percaya, kau bisa memeriksa CCTV di dekat kafe itu. Kau liat apakah aku bersama dengan Vian setelah dari situ," jelas Herra berusaha meyakinkan Dara.
"Terus siapa yang melakukannya kalau bukan dirimu?!" pekik Dara
__ADS_1
Herra jadi sangat tahu kalau Dara benar-benar mencintai Vian. Untung saja ia berencana untuk menolak ajakan Vian untuk kembali.
"Emang bagaimana kronologi meninggalnya Vian?" tanya Herra
"Tadi pagi aku ke rumahnya. Terus para pelayan berkumpul dan menangis. Saat aku tanya ternyata aku melihat tubuh Vian yang udah enggak bernyawa," ungkap Dara dengan sesenggukan.
"Apa kau udah lapor polisi kejadian in?" tanya Herra
Dara menganggukkan kepalanya.
"Aku sangat yakin kalau Vian itu dibunuh oleh seseorang," jelas Dara
"Kenapa kau bisa seyakin itu?" tanya Herra
"Bekas merah di lehernya itu diduga karena dipatahkan oleh tangan manusia," ungkap Dara
Herra terkejut dengan penjelasan Dara. Entah kenapa pikirannya sekarang tertuju pada Rizhan.
Apa mungkin Rizhan yang melakukan semua ini? ~ batin Herra
"Aku kayaknya enggak sanggup hidup tanpa Vian. Aku sangat mencintainya," lirih Dara
Herra memeluk tubuh Dara.
"Jangan berkata seperti itu. Kau enggak boleh menyerah. Kita akan segera mengetahui siapa yang telah membunuh Vian," ujar Herra
"Jangan berpikir aku enggak menaruh curiga padamu. Kau tetap akan jadi tersangka," tukas Dara melepas pelukan Herra.
Herra menghela napas kasar.
"Terserah kau mau bilang apa. Aku jelasin juga enggak guna kan. Mending kita tunggu informasi dari kepolisian tentang pembunuh yang sebenarnya," jelas Herra
***
Selepas dari tempat kerjanya, Herra tidak pulang ke apartemennya dulu. Ia kini sedang menghadiri acara pemakaman Vian. Dara sepertinya masih menaruh curiga padanya soal kematian Vian. Herra tidak terlalu memperdulikan hal itu. Yang terpenting, sekarang ia bisa mendoakan yang terbaik untuk Vian.
Ya Tuhan, terimalah Vian disisimu. Hapuskanlah dosa-dosa yang ia miliki. Semoga kau tenang di sana ~ batin Herra dengan pandangan sendu.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari sosok Rizhan tengah berdiri tak jauh dari sana. Ia memandang ke arah pemakaman itu dengan smirk jahatnya. Setelahnya ia menghilang bak debu.
To be continued....