
Part_1_MSG
Seorang gadis berlari di jalanan yang sepi, dia tengah menghindari sebuah geng motor yang menjadi musuh dan lawan nya selama ini. Dia melihat sebuah pintu gerbang yang terbuka di daerah sana. Tanpa ragu ragu, dia masuk, lalu, bersembunyi di tempat tersebut.
Dia lah Ersya Salsabila, seorang cewek tomboi dan anak geng motor pula. Tubuh nya pendek, nan mungil. Dia juga mempunyai wajah berbentuk simetris di tambah dengan mata nya yang sipit.
"Ngapain kamu di sini?!" Suara bariton menyadarkan Ersya yang tengah bersembunyi di dekat pohon.
"Siapa sih, loe. Jangan ikut campur, deh!" kesal Ersya, lalu, memutar bola nya malas.
Laki laki itu hanya mengangguk sambil menunduk, berniat ingin bertanya kembali pada Ersya, apa tujuan nya kemari.
Ersya tersenyum senang, bahkan, dia sudah bernapas lega. Beberapa motor yang mengejar nya, telah melewati tempat penyembunyian nya.
Ersya membalikkan tubuh nya, berniat ingin kembali melanjutkan langkah kaki nya menuju rumah. Satu hal yang membuat Ersya heran, mengapa laki-laki tadi masih ada di hadapan nya?
"Ngapain loe masih diam di situ? Loe mau culik gue, ya?" tuduh Ersya asal.
"Saya yang seharus nya bertanya, mengapa Anda berada di sini?" Bukan nya menjawab, laki-laki itu malah melempar kan pertanyaan lagi terhadap Ersya.
"Terserah gue! Ini tempat bukan milik loe 'kan?" sewot Ersya.
"Kamu tau kamu sedang di mana?" tanya laki-laki itu lagi.
Ersya melirik lingkungan sekitar nya. Banyak bangunan bangunan bertingkat seperti asrama, terlebih, ada mesjid juga.
Ersya berjalan ke tempat awal dia masuk, membaca sebuah tulisan yang di ukir di gerbang sana.
Mata Ersya membulat sempurna ketika melihat tulisan itu. Apa apaan ini? Ternyata dia ber sembunyi dan masuk ke dalam suatu pesantren. Selamat dari buaya, harus masuk lagi ke kandang macan. Tidak ada baik nya.
"Sudah sadar sekarang?" Laki-laki itu berjalan mendekati Ersya yang sedang panik gelagapan.
Tanpa menjawab, Ersya langsung berlari karena malu. Bisa bisa nya dia masuk ke kawasan seperti itu. Untung saja orang yang melihat nya hanya laki-laki itu saja. Coba, kalau ada banyak santri santri yang melihat nya. Mau di simpan di mana nih muka?!
"Astagfirullah," lirih laki-laki itu, setelah melihat Ersya yang malah berlari, bukan nya memberikan penjelasan.
Dia lah Hafidzan Fahri Ananta. Dia dan Ersya di pertemu kan dalam kejadian yang sama sekali tidak ter bayang kan sebelum nya.
__ADS_1
Lantas, bagaimana kah kisah mereka selanjut nya?
Part_2_MSG
Laki-laki berperawakan tinggi, mulai masuk ke dalam kelas. Wajahnya yang tampan rupawan, ditambah dengan penampilannya yang sangat rapih, membuat dia terlihat lebih cool.
"Sya, lihat itu!" Seorang gadis yang duduk di sebelah Ersya menepuk-nepuk pipi Ersya pelan, dengan atensi yang sama sekali tidak dialihkan. Yap! Dia masih memandang wajah rupawan sang dosen baru itu.
"Apaan, sih?" Ersya mendongak.
"Buset, gue ketemu dia lagi!" ucap Ersya dalam hati.
Sungguh, dunia terasa sempit sekali bagi Ersya saat ini. Mengapa harus berjumpa lagi dengan sosok laki-laki itu. Apakah ini yang disebut nasib ataukah yang disebut dengan takdir?
Melihat Ersya yang sama sekali tidak mengedipkan matanya. Gadis yang bernama Diva itu mencubit lengan sang teman, membuatnya meringis kesakitan.
"Aww," pekik Ersya bahkan dia bangkit dari kursi dengan spontan, membuat semua orang menjadikan dia sebagai objek pandangan.
"Ma-maaf," cicit Ersya pelan, sambil kembali duduk.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Sebelumnya, perkenalkan nama saya Hafidzan Fahri Ananta, saya di sini menggantikan posisi Pak Desta. Salam kenal semuanya, saya harap kita bisa menjalankan program belajar mengajar dengan baik. Jika ada yang ingin ditanyakan, silahkan!"
"Pak, izin bertanya. Usia Bapa berapa tahun? Ditambah, statusnya juga, Pak." Gadis berkerudung cokelat itu memberanikan bertanya.
"Usia saya 26 tahun dan status saya sebagai anak kedua dari tiga bersaudara."
Gadis itu hanya menjawabnya dengan lengkungan bibir yang membentuk huruf O.
"Maaf, Pak. Maksudnya, status hubungan." Gadis itu bersuara kembali, karena jawaban Hafidz tidak selaras dengan apa yang dia maksud dan pertanyakan.
"Untuk status hubungan, saya single."
Jawaban Hafidz, tentu saja membuat gadis itu sangat senang, sebab, masih ada kesempatan untuk dia menjadi sosok penghuni hati dosen cool dan tampan itu.
"Jika tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, saya absen kalian, biar saya juga tau nama kalian siapa."
__ADS_1
Usai mengabsen, Hafidz melanjutkan dengan memberikan materi pada mahasiswa. Pembelajaran berlangsung selama satu setengah jam. Terhitung sangat singkat, bukan? Tapi, menurut Ersya sangat lama sekali, terasa seperti 4 jam, tanpa henti.
Usai pembelajaran selesai, Hafidz keluar dari kelas, diikuti dengan beberapa orang yang ikut keluar karena matkul sudah selesai. Tentunya, itu dilakukan oleh para mahasiswa kupu-kupu, alias kuliah pulang-kuliah pulang.
Ersya sendiri bukan tipe mahasiswa kupu-kupu, bukan tipe mahasiswa kura-kura (kuliah rapat-kuliah rapat), ataupun mahasiswa kutu-kutu (kuliah touring-kuliah touring), dia salah satu mahasiswa kunang-kunang (kuliah nangkring-kuliah nangkring). Makanya, saat ini juga, dia, Diva, dan juga Rena sedang mencari tempat yang nyaman untuk tempat mereka nongkrong.
"Kita nongkrong di mall aja, gimana?" saran Rena. Namun sepertinya, Ersya tidak akan setuju dengan hal itu.
"No! Gue nggak mau, terlalu sering. Gue pengennya, di kafe-kafe gitu," tolak Ersya.
"Nah, bagus ide loe, Sya. Gimana, kalau kita ke kafe yang ada di dekat pertigaan. Apa sih namanya? Gue lupa," ucap Diva sambil berpikir, mengingat kembali apa nama dari kafe tersebut.
"Gas, kita ke sana sekarang. Yuk, Div! Jangan luman-lamun, nanti kesambet lagi." Ersya menarik lengan Diva sangat kencang, untung saja, Diva bisa menyeimbangkan tubuhnya, kalau tidak, dia bisa jatuh tersungkur di lantai.
"Aish ... loe main tarik-tarik aja. Sabar kali, gue lagi mikir tadi. Hampir aja, gue inget nama kafe itu! Dan, gara-gara loe, gue jadi lupa lagi!" Diva berdecak kesal, karena kelakuan Ersya yang main turak-tarik seenaknya.
"Udah, loe berdua diem. Nggak enak, jadi pusat perhatian orang lain. Inget! Kita lagi di kampus bukan di kamar," peringat Rena, membuat kedua temannya terdiam.
Suasana kembali hening, ketiga gadis itu berjalan dengan tenang, bahkan, sama sekali tidak membuka suara mereka.
Sampai akhirnya, mereka sampai ke tempat parkiran.
"Eh, bentar-bentar. Kayaknya, ada sesuatu yang ketinggalan. Tapi, apa?" gumam Ersya.
Ersya menghentikan langkahnya, sementara Diva dan Rena, sudah lebih dulu naik ke atas motor.
"Gila! Handphone gue." Ersya menepuk jidatnya, lalu, memutuskan untuk kembali ke kelas, membawa handphonenya yang tertinggal di atas meja.
"Guys, tunggu bentar!" teriak Ersya, sambil berlari, namun, tatapannya masih tertuju pada teman-temannya.
"Sya, awas!" Diva dan Rena memperingati.
Ersya yang mendengar teman-temannya berucap seperti itu, mengalihkan pandangannya ke arah depan. Alhasil ....
Hayo, apa nih yang terjadi sama Ersya?
Ikuti terus kelanjutannya!
__ADS_1
Next?