
Ersya menahan segala rasa sakit yang dia rasakan. Helm yang tiba-tiba terlepas waktu kejadian, membuat kepala Ersya terbentur keras. Darah terus bercucuran dari pelipis gadis itu, mungkin, tangan dan kakinya juga sudah habis terluka, karena tergores pada aspal. Tidak bisa dibayangkan, seperti apa yang Ersya rasakan, apalagi teman-temannya masih tertinggal jauh di belakang. Kepada siapakah dia harus meminta pertolongan?!
"To-tolong," ucap Ersya lemas.
Seorang wanita paruh baya yang sedang berdiri di tepi jalan, melihat Ersya yang sedang berjalan linglung di jalanan. Awalnya, wanita tersebut mengira bahwa Ersya sedang mabuk, namun, ketika melihat darah segar di bagian pelipis, lalu, celana jeans yang dipakai Ersya gugus dan menyisakan titik darah, membuat wanita tersebut berlari menghampiri ke arah Ersya, dan berniat untuk membantunya.
"Astagfirullah, Ya Allah Ya Rabb, apa yang terjadi sama kamu, Nak?" Wanita tersebut dengan segera menahan tubuh Ersya, yang sebentar lagi, sepertinya akan tumbang.
Ersya tidak menjawab, bahkan dia merasa setengah sadar, setengah tidak. Yang jelas, Ersya hanya bisa merasakan kepala dan sekujur tubuhnya yang terasa sangat sakit sekali.
Melihat kondisi Ersya yang semakin melemah, membuat wanita itu sangat panik. Satu barang yang dia ingat, yaitu handphone.
Wanita tersebut langsung mengambil handphone di tote bag miliknya, menghubungi seseorang agar segera datang, dan membawa Ersya ke rumah sakit.
Sepuluh menit kemudian...
Sebuah mobil Avanza berwarna putih telah datang. Seorang laki-laki keluar dari sana, menghampiri wanita tadi.
"Innalilahi, ini ada apa, Ummi?" tanyanya kaget.
"Ummi juga tidak tau, Nan. Sekarang, kita bawa dia ke rumah sakit, kasihan dia," jawab wanita itu.
"Baik, Ummi."
Laki-laki itu membukakan pintu mobil, sedangkan sang ummi memapah Ersya untuk masuk ke dalam mobil. Setelah itu, mereka pun membawa Ersya ke rumah sakit, agar Ersya segera diberikan pertolongan.
Di sisi lain, teman Ersya yang tadinya berada di belakang, langsung berhenti melajukan motornya. Body motor yang sudah rusak dan tergeletak sembarangan di jalanan membuat dia mematung seketika.
Dia turun dari motor, melangkahkan kakinya dengan sedikit lambat, mendekati tempat motor Ersya tergeletak. Dia membungkam mulutnya dengan tangan, dia menangis, apalagi setelah melihat helm yang keberadaannya jauh dari motor.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu, dua motor ikut berhenti.
"Ini ada apa?" tanya Rena.
"Er-Ersya," jawab gadis tadi, dengan air mata yang masih menetes.
"Enggak! Ini nggak mungkin. Nggak mungkin Ersya kecelakaan, bilang sama gue! Ini cuman prank 'kan?" Rena seakan-akan tidak menerima dengan apa yang terjadi pada teman dekatnya.
"Ini asli, Ren!" jawab gadis tadi.
"Ersya? Di mana dia sekarang?!"
"Gue nggak tau, pas gue nyampe sini, Ersya udah nggak ada."
"Sya, loe di mana? Jangan bikin kita khawatir!" ucap Rena.
"Mendingan, sekarang, loe hubungin Diva. Bilangin, kalau balapan kali ini nggak usah dilanjutin. Terus, loe bilang kalau Ersya kecelakaan dan sekarang dia belum ditemukan!" titah Rena.
"Gue cabut duluan, gue mau nyari Ersya."
"Iya, loe duluan aja. Nanti gue nyusul."
***
Keesokan harinya...
Ersya baru saja terbangun, dia melirik sekelilingnya, mengapa dia berada di rumah sakit, siapa yang telah membawanya ke sini? Dan apa yang menyebabkan dia bisa terbaring seperti ini?
Ersya memutar kembali memorinya, mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi. Sayangnya, kepala Ersya malah kembali pusing, bahkan, penglihatannya menjadi buram sesaat.
__ADS_1
Krek...
Seseorang telah membuka pintu, memperlihatkan wanita paruh baya yang menolongnya tadi malam. Ersya hanya bisa menatap heran, serta berpikir, siapakah wanita itu?
"Kamu sudah sadar, Nak?" tanyanya.
Ersya hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Tante, mengapa saya ada di sini?" tanya Erysa.
"Apa kamu tidak mengingatnya?" Alih-alih menjawab, wanita itu malah kembali bertanya.
Ersya diam bergeming, mencoba kembali, mengingat semuanya.
Setelah seperkian menit, barulah Ersya ingat perihal itu. Ya, dia mengikuti balapan lalu, menabrak pembatas jalan. Begitulah, yang dia ketahui, setelahnya, dia tidak mengingat apa-apa.
Ersya meringis ngilu, ketika mengingat kejadian itu. Namun, dia masih bersyukur karena masih ada orang yang mau menyelamatkannya.
"Bagaimana? Kamu sudah mengingatnya?" tanya wanita itu kembali.
"Su-sudah, Tante," jawab Ersya sedikit gugup.
"Alhamdulillah. Soalnya, Tante takut, kalau kamu menjadi amnesia," guraunya.
"Sebelumnya, terimakasih karena Tante sudah menolong saya," ujar Ersya.
Wanita itu tersenyum tulus, lalu, mengusap kepala Ersya yang tertutup perban dengan pelan. "Sama-sama, Nak. Cepat sembuh, ya?"
Diperlakukan lembut seperti ini, tentu saja membuat Ersya kembali mengingat masa lalunya.
__ADS_1
Lantas, apakah masa lalu Ersya sebenarnya?
Next?