
Seorang santriwan sedang membersihkan halaman depan. Wajahnya sangat senang sekali ketika menyanyikan shalawat Man Ana yang liriknya dia rubah menjadi seperti ini,"Gus Anan ... Gus Anan ... Gus Anan sangat tampan. Wajahnya rupawan ... hatinya dermawan."
Hafidz yang mendengarnya menjadi senyam-senyum sendiri, ada-ada saja kelakuan santrinya ini. Santri itu tersadar, lalu, menutup mulutnya menggunakan tangan. Sungguh, dia merasa malu, bisa-bisanya dia bernyanyi ketika ada gusnya sendiri.
"Eh, Gus Anan," sapa Fahrul, dia menghentikan aktivitasnya, yang sedang menyapu.
"Rajin sekali, Rul. Ngomong-ngomong, kamu pandai juga ngerubah lirik lagu," puji Hafidz, membuat santri yang mempunyai nama Fahrul itu, hanya bisa cengengesan.
"Gus Anan bisa saja." Fahrul tersenyum. "Gus, mau pergi kemana? Udah siapin mobil seperti itu?" tanyanya kemudian.
"Ini, mau jemput seseorang," jawab Hafidz sedikit binggung. Mau dibilang temen, bukan. Dibilang saudara, juga, bukan.
"Calon istri, ya, Gus?"
Hafidz hanya tersenyum saja. Dilontarkan pertanyaan seperti ini, membuat dia skakmat seketika.
"Jemputnya sendiri, Gus?" Fahrul kembali bertanya, dia sudah terlanjur kepo sekarang.
"Nggak, Rul. Ditemenin sama Ilfah." Jika harus menjemput sendiri, jelas, Hafidz tak mau. Apalagi, dia seorang wanita yang sama sekali bukan saudara ataupun kerabatnya.
"Bang Anan, ayo!" ucap Ilfah sedikit berteriak, karena, jarak antara dia dan Hafidz sedikit jauh.
"Iya, Fah. Tunggu!" sahut Hafidz. "Yaudah, saya duluan, Rul," pamitnya kemudian.
"Iya, Gus. Hati-hati."
***
Setengah jam berlalu, akhirnya, dia sampai di tempat tujuan. Kini, dia dan juga Ilfah sedang berdiri di pintu sebuah rumah yang berwarna abu-abu yang dipadukan dengan warna merah bata itu.
"Fah, kamu aja yang ngetuk," titah Hafidz, karena, dia sendiri merasa ragu.
"Jangan ngaco, deh, Bang. Ilfah itu sama sekali belum kenal sama dia." Ilfah menjawab.
"Yaudah, tunggu bentar. Abang coba hubungin dia dulu."
Hafidz membawa handphonenya di saku celana yang dia pakai. Lalu, menghubungi sang pemilik rumah. Namun, sama sekali tidak tersambung.
Sang pemilik rumah yang tidak sengaja mendengar suara orang berbicara di teras rumahnya, bergegas untuk membuka pintu.
__ADS_1
"Pak Dolin? Ngapain ke sini?" ucap Ersya heran, karena Hafidz berada di teras rumahnya.
"Saya 'kan sudah hubungi kamu, tadi malam. Kamu lupa?" Hafidz mengingatkan.
Ersya menepuk jidatnya, bisa-bisanya dia lupa tentang hal itu. Padahal, baru semalam Hafidz memberitahunya, kenapa sekarang sudah lupa lagi?
"Mbak Ersya, ya? Cantik banget," puji Ilfah, sambil tersenyum ramah.
"Iya. Ini adeknya Pak Dolin, ya?" jawab Ersya sedikit malu juga. Pasalnya, penampilan Ilfah itu sangat syar'i sekali, berbeda dengan penampilannya.
"Yaudah, masuk, Dek!" ajak Ersya kemudian.
"Saya?" tanya Hafidz kemudian.
"Bapak tunggu di luar saja. Jadi satpam sebentar." Bagi Hafidz itu bukan masalah, malahan, lebih baik seperti itu. Biar tidak menimbulkan fitnah.
Melihat Ilfah dan Ersya yang baru saja hendak melangkahkan kaki, Hafidz menghentikannya.
"Eh, pakai ini. Jangan memakai pakaian yang terbuka." Hafidz menyerahkan sebuah tas yang berisikan gamis dan juga kerudungnya, yang merupakan pemberian sang ummi untuk Ersya.
"Makasih." Ersya menerima tas yang Hafidz serahkan. Lalu, dia dan Ilfah kembali melanjutkan langkah kaki mereka yang sempat terhenti.
Ersya menatap dirinya di cermin. Memutar-mutar tubuhnya, melihat penampilannya ketika memakai gamis dan juga kerudung. Ternyata, cantik juga, pikir Ersya. Namun, sayangnya, baru saja memakai gamis dan kerudung itu, dia sendiri sudah merasa gerah, mungkin, karena belum terbiasa.
"Kalau bukan karena Tante Amira, mana mungkin, gue mau pakai gamis dan hijaban kayak gini," gumam Ersya pada dirinya sendiri.
Ersya turun ke bawah menghampiri Ilfah yang menunggunya sejak tadi. Ya, memakai kerudung saja, membutuhkan waktu yang lama bagi Ersya. Pasalnya, dia tidak bisa.
"Maa Syaa Allah, cantik banget, Mbak." Sekali lagi, Ilfah memuji kecantikan Ersya.
"Makasih, Dek."
"Yaudah, ayok, Mbak! Bang Anan udah nunggu di luar."
"Em, i-iya."
Tiga puluh menit kemudian...
Ersya telah sampai di depan pesantren, namun, dia sama sekali tidak ingin turun dari mobil. Sebab, dari kaca mobil saja, sudah terlihat, bahwa di sana banyak sekali santriwan dan juga santriwati yang berada di luar. Tentu saja membuat Ersya malu.
__ADS_1
"Ayok, kita keluar," ajak Hafidz.
"Nggak, deh. Pak Dolin saja," tolak Ersya.
"Emang, kamu mau, terus-terusan di mobil?"
"Ya-ya, Enggak gitu juga, Pak. Nanti saya keluar sendiri."
"Mending sekarang, emang nanti kamu berani keluar sendiri?"
"Bapak, kenapa sih? Bapak itu nggak paham sama saya. Saya malu, Pak." Ersya mulai merasa kesal sekarang.
"Kalau malu, nunduk aja, mudah 'kan?"
"Ih, dasar Dolin!"
"Panggil saya dengan nama saya! Sekali lagi kamu manggil saya seperti itu, saya keluarkan kamu dari kelas matkul saya," ucap Hafidz sedikit mengancam.
"Yeah, bodo amat. Terima kenyataan, Pak. SD, juga. Bapak itu emang nyebelin."
"SD, apaan, Mbak?" Ilfah yang dari tadi awalnya menyimak, sekarang, bersuara.
"Sadar diri, Dek. Cuman, Mbak singkat aja, ikutin si Fajar itu." Ilfah yang mendengarnya hanya bisa tertawa, ternyata, Ersya juga mempunyai persamaan dengan Hafidz, yakni, sama-sama pengikut dan pendownload kata-kata Fajar Sad Boy.
"Cepetan keluar! Kamu mau, saya kunci di sini?"
"Dasar Dolin! Maksa banget. Yaudah, iya. Gue keluar!"
Akhirnya, Ersya mau juga keluar dari mobil. Kalau, tidak? Hafidz dan Ilfah sendiri yang akan repot, karena, harus menunggu Ersya yang duduk di mobil.
Ketika Ersya keluar dari sana, semua mata tertuju padanya. Beberapa dari mereka terpukau, namun, beberapa orang lagi, khususnya santriwati, mereka merasa patah hati, karena, mereka menyangka bahwa Ersya adalah calon istri dari gus mereka sendiri. Sehingga, harapan mereka yang sudah mengkhayalkan bahwa Hafidz adalah suaminya di masa depan, menjadi sirna.
"Roko magnum, susu jahe. Tetap tersenyum, walaupun nyeri hate," ucap seorang santriwati berpantun, sambil melihat pemandangan, yang mungkin sangat menyesakkan bagi dirinya.
"Kumaha barudak?" tanggap sang teman, sambil menggoda santriwati itu yang sangat terlihat sedih sekali.
"Weel, keun," jawab semuanya serempak.
Selepas mengatakan itu, mereka tertawa, karena tingkah konyol mereka.
__ADS_1
Next?