my love gus

my love gus
Part_5_MSG


__ADS_3

Air mata Ersya tiba-tiba menetes, entah kenapa hatinya kembali rapuh. Wanita paruh baya yang mempunyai nama Amira itu, mengira bahwa Ersya menangis karena sakit. Padahal, nyatanya tidak! Masa lalu Ersya lebih menyakiti dibandingkan dengan hal itu.


"Sabar, ya?! Tante paham, ini pasti sakit sekali. Apa perlu, Tante panggilkan dokter?"


Ersya menggelengkan kepalanya.


"Apa boleh aku peluk, Tante?" tanya Ersya ragu.


"Tentu saja, Sayang," jawab Amira.


Hal itu membuat Ersya senang.


Dia pun memeluk Amira dengan erat. Dalam pelukan itu, dia kembali menemukan sebuah kenyamanan, yang sudah belasan tahun tidak pernah dia rasakan.


"Kau sangat cantik, Nak. Tapi__" Ucapan Amira terpotong, karena, seseorang telah masuk ke dalam ruangan Ersya.


"Ummi?" panggilnya.


"Iya, Nan," jawab Amira, namun, dia masih setia membalas dekapan dari Ersya.


"Ini, Anan udah beliin Ummi makanan. Dimakan, ya, Mi?" titahnya.


Ersya seperti mengenal suara dari anak dari wanita yang menolongnya. Dengan cepat, dia melepaskan pelukannya, lalu, membuka matanya yang sempat terpejam karena merasa nyaman.


Ersya langsung melirik laki-laki itu. Sepertinya, dia mengenalnya. Tapi, dia siapa?


Melihat Ersya yang malah bengong, membuat Amira heran. Tatapan Ersya sangat aneh sekali ketika memandang wajah anak laki-laki itu.


"Nak, kenapa?"


"Tante, itu anak Tante, ya?" tanya Ersya.

__ADS_1


"Iya. Emangnya kenapa?" jawab Amira yang diakhiri dengan pertanyaan juga.


"Aneh, Tante. Soalnya, anak Tante mirip Pak Dosen yang nyebelin banget dan sikapnya kayak kulkas tiga pintu, super nyeselin, pokoknya," ungkap Ersya. Namun, dari cara bicaranya saja, sudah dapat disimpulkan, bahwa Ersya memang kesal terhadap orang yang dia bicarakan.


Amira tertawa kecil ketika mendengar apa yang Ersya katakan.


"Tapi bukan anak Tante 'kan?" tanya Amira, padahal, Amira sendiri sudah tau jawabannya.


"Kayaknya, bukan deh, Tan. Soalnya penampilannya juga beda. Anak Tante itu sarungan, pakai peci, tampangnya kayak ustadz-ustadz. Emang sih, Ersya pernah ketemu sama Dolin itu di wilayah pesantren. Tapi, waktu itu penampilannya sama seperti kalau ngajar. Nggak kayak gini."


"Bentar-bentar, Dolin itu apaan?"


"Dolin, singkatan dari Dosen Nyebelin."


"Hahaha." Amira dan Ersya tertawa lepas, sementara, laki-laki yang merupakan sosok anak dari Amira itu hanya bisa menyimak, mendengarkan, dan tentunya hanya menggerutu dalam batin.


"Tante, anak Tante emang sikapnya kayak es batu, ya? Diam aja dari tadi," ujar Ersya heran.


"Oh. Gitu, ya?"


"Iya. Kalau boleh tau, Dolin itu nama aslinya siapa?" Amira kembali bertanya.


"Namanya Hafidz, Tante. Kalau anak Tante namanya Anan 'kan? Jadi, bukan dia."


Amira mengulas senyum. Ternyata, benar saja, anaknya sendiri yang disebut Dolin oleh Ersya. Amira tidak heran dengan hal itu, sebab, Amira sudah tau, bagaimana sikap Hafidz terhadap wanita, apalagi, yang bukan mahramnya.


"Nama anak Tante juga, Hafidz, kok."


Seketika wajah Ersya menjadi memerah. Apa jangan-jangan, anak dari Amira itu orang yang dia bicarakan dari tadi. Uh, bagaimana ini?


"Buset, semoga bukan Hafidz Dolin itu," monolog Ersya dalam hati.

__ADS_1


"Ekhem." Sosok laki-laki itu berdeham. "Sudah selesai ngomongin saya?" tanyanya kemudian.


"Ih, tuh 'kan, ternyata emang bener si Dolin." Sekali lagi, Ersya bermonolog dalam hatinya.


"Em, itu apa ini_" jawab Ersya panik.


"Kamu memang polos," gumam Hafidz pelan.


"Makanya, sebelum menyimpulkan, ingat baik-baik nama saya. Lah, ini__ malah main cuplap-ceplos aja," sindir Hafidz, dengan sedikit saran.


"Lah, ngapain saya harus ngingat-ngingat nama Bapak. Nggak penting!" ketus Ersya.


Hafidz kembali diam, tidak menanggapi.


"Tante, dulu waktu hamil, suka makan es batu, ya?" tanya Ersya dengan suara yang memang disengaja sedikit keras, agar terdengar jelas di telinga Hafidz.


"Nggak, emangnya kenapa?" jawabnya heran.


"Soalnya, sikap anak Tante kayak es batu, dinginnya melebihi kemampuan kulkas tiga pintu. Hanya saja dia manusia, namun, lebih pantas disebut kulkas yang berjalan."


Lagi dan lagi, Amira kembali tertawa. Ada-ada saja ucapan Ersya ini.


"Tante, maaf, ya, Ersya bilang gitu." Ersya kembali berucap, sebab, dia merasa, dia sendiri kurang sopan.


"Santai saja, Sayang. Emang kenyataannya gitu," jawab Amira, sambil menatap ke wajah sang anak, yang mungkin sangat merasa kesal sekali.


Sebenarnya, Hafidz juga ingin marah kepada Ersya. Hanya saja, dia masih mempunyai kesabaran. Jika seandainya, kesabaran Hafidz sudah habis, pasti, Hafidz juga akan melawan dan membantah ucapan Ersya.


Hayo, gimana nih kelanjutan kisah mereka?


Next?

__ADS_1


__ADS_2