
"Sya, ada yang mau gue omongin! Soal__"
Belum selesai berbicara, Rena sudah terlebih dahulu mencubit pinggang Diva, membuat sang empu, meringis kesakitan.
"Gila, loe! Sakit tau." Diva mengusap-usap pinggangnya yang sangat terasa sakit sekali karena cubitan tadi.
"Salah loe! Loe, nggak inget apa? ini tuh rahasia!" Rena mengingatkan.
Entah apa yang mereka berdua sembunyikan dari Ersya. Tapi yang jelas, hal itu merupakan sebuah rahasia, dan Ersya tidak boleh mengetahui perihal itu dari orang lain, harus dari orangnya secara langsung.
"Heh, Diva! Loe mau ngomong apaan? Malah main bisik-bisik, apa jangan-jangan ngomongin gue, ya?" selidik Ersya.
"Bukan-bukan, gue lagi ngomongin makanan sama Rena. Iya 'kan?" bantah Diva, dengan susah payah, dia berusaha menetralkan wajahnya.
"He-heem, iya, kita lagi ngomongin makanan, Sya, hihi," sahut Rena.
Namun, melihat gelagat Rena yang berbeda, Ersya rasa kedua temannya itu sedang berbohong. Tetapi, tidak apa. Ersya juga tidak akan memaksa, jika mereka memang tidak ingin memberitahunya. Itu bukan masalah buat Ersya, mungkin, hal itu memang privasi mereka.
"Sya, kita pamit, ya? Bukannya nggak mau lama-lama, tapi, kita berdua masih ada urusan," ucap Diva berbohong.
"Iya, nggak papa. Makasih, karena udah jenguk gue, ya?"
"Jan gitu kali, Sya. Kita itu temen, loe. Nanti malem, kita balik lagi ke sini."
"Iya, deh. Yaudah, keluar gih. Gue juga mau istirahat," usir Ersya.
"Iya, Ersya Salsabila Mantan Narapidana."
Diva yang takut Ersya memarahinya, langsung keluar berlari terbirit-birit dari ruangan. Sementara Rena, hanya menggelengkan kepalanya karena tidak habis pikir dengan kelakuan Diva yang bagaikan anak kecil.
Satu minggu kemudian...
Hari ini, Ersya pulang kembali ke rumah, setelah delapan hari berada di rumah sakit.
Huft ... akhirnya, waktu yang dia tunggu-tunggu, kunjung juga.
"Sya, istirahat, ya? Abang mau kembali ke kantor, lagi banyak tugas," pamit Adrian.
Ersya bernapas gusar, apa bagi Andrian, pekerjaan lebih penting daripada dirinya?
__ADS_1
Sampai-sampai, ketika kondisi Ersya kurang baik pun, Andrian masih memikirkan tugasnya.
"Iya, Bang."
Meskipun Ersya merasa seperti itu, Ersya tidak egois. Ersya harus mencoba memahami Andrian, bagaimana pun juga, Andrian bekerja seperti itu untuknya. Tetapi, Ersya juga tidak munafik, dalam hati kecilnya, dia menginginkan sang abang agar meluangkan waktu bersamanya.
Kini, Ersya hanya bisa menatap kepergian sang abang, dan menunggu kedatangan seseorang, yakni sang ayah. Kabarnya, Vino akan menjenguk Ersya hari ini, mungkin, akan datang bersama mama dan adik tirinya juga.
Menunggu, bukanlah hal yang mudah. Jikalau masalah ini, Ersya akui, dia kalah. Makanya, dia malah memilih untuk tertidur dari pada menunggu sang ayah sampai di rumahnya.
Ya, jarak antara rumah Ersya dan Vino itu jauh. Bahkan, beda kota. Ersya sendiri tinggal di Jakarta bersama Andrian. Sementara Vino, dia memilih menetap tinggal di Bandung bersama keluarga barunya.
Dua jam kemudian...
Ersya terbangun dari tidurnya, ketika mendengar suara yang sangat berisik karena mengobrol. Mungkin, sang ayah sudah sampai, pikirnya.
Ersya berjalan menuju lantai bawah, dengan badan yang masih terasa gemetar ketika digerakkan, dan juga wajah yang meringis kesakitan.
"Eh, Sya. Kamu udah bangun?" Vino dengan cepat berjalan ke atas untuk memapah Ersya.
"Udah," jawabnya singkat.
Ersya memang sosok anak yang tidak terlalu dekat dengan sang ayah. Entahlah, bagi Ersya itu terasa canggung.
"Gimana kabar kamu, Sya? Udah membaik?" tanya Vania sambil mengusap-usap punggung Ersya lembut.
"Lumayan, Tante." Ersya menjawab.
Jawaban itu membuat Vania sedikit sedih dan juga kesal. Pasalnya, Ersya masih menyebutnya dengan iming-iming 'Tante', bukan 'Bunda'. Vania merasa, bahwa Ersya masih menolak keberadaannya.
"Bunda, Sya." Vino mengingatkan, karena, melihat wajah Vania yang tiba-tiba sedikit murung.
"Iya, Yah. Maaf, Ersya lupa," jawab Ersya berbohong.
"Jangan diulangi!"
Ersya hanya mengangguk sebagai jawaban.
Hening kembali menyelimuti, sama sekali tidak ada yang membuka suara. Hanya terdengar suara mobil-mobilan yang sedang dimainkan oleh bocah kecil, yang notabennya sebagai adik tiri Ersya itu.
__ADS_1
"Sya, ada yang ingin Ayah bicarakan sama kamu." Vino memecahkan keheningan.
"Iya, Yah. Ada apa?" Ersya menjawab sambil menatap wajah sang ayah, yang terlihat sangat serius sekali.
"Beberapa hari yang lalu, ada seorang laki-laki yang datang bersama keluarganya menemui Ayah. Dia laki-laki yang baik dan Ayah percaya, bahwa dia merupakan sosok yang sangat bertanggung jawab. Niat dia menemui Ayah, adalah untuk melamar kamu. Apakah kamu tidak keberatan jika Ayah menerima dia sebagai calon suamimu?" ungkap Vino dengan penuh harap.
Ersya masih terdiam, memikirkan semua ini.
"Argh, kenapa harus gini, sih? Padahal, gue juga bisa nemuin calon laki gue sendiri," ucap Ersya dalam hati.
"Sya, Ayah tau dan Ayah juga paham. Kamu menjadi anak yang mungkin bisa dikatakan nakal, karena kamu kurang perhatian. Ayah tau itu! Tapi__"
"Jika Ayah tau itu, kenapa Ayah biarin Ersya. Kenapa, Yah?" potong Ersya.
Vino sadar, ini semua adalah kesalahan dia juga. Seandainya Vino tidak memikirkan dirinya sendiri, Ersya juga tidak akan seperti ini.
"Ayah tau?! Ersya merasa hidup sendiri, Yah. Abang selalu sibuk kerja, meninggalkan Ersya. Lalu, Ayah sendiri malah tenang-tenang aja, di Bandung. Setidaknya, jika Ayah tidak ke sini, Ayah bisa hubungin Ersya pakai handphone. Ersya bisa hargai itu!" Ersya berhenti sejenak. "Karena Ersya merasa kesepian, Ersya lakuin hal yang membuat Ersya senang. Ersya berkeliaran bebas di jalanan,
berharap, bahwa Ersya menemukan kebahagiaan di sana. Tentunya juga, Ersya lakuin itu supaya Abang dan Ayah memberikan perhatian kepada Ersya, peduli sama Ersya. Tapi, nyatanya tidak! Ayah dan Abang, sibuk dengan kehidupan masing-masing."
Sekarang, Ersya telah mengeluarkan unek-unek yang selama ini dia pendam, dia tahan. Dan kini, hanyalah air mata yang bisa mewakili bagaimana sakit hatinya Ersya.
"Maafin Ayah, Sya. Ayah salah." Vino menunduk, mencerna semua apa yang Ersya katakan. Membayangkan rasa sakit Ersya selama ini, yang seperti ditelantarkan olehnya.
"Sudahlah, itu bukan salah siapapun. Mungkin jalan hidup Ersya sudah seperti itu."
Ersya bangkit, berdiri dari kursi. Berniat, ingin kembali ke kamar. Namun, Vania mencekal pergelangan tangannya. Membuat Ersya, kembali terduduk di kursi.
"Sekali lagi, Ayah minta maaf juga. Karena, Ayah telah menerima laki-laki itu sebagai calon suamimu," jelas Vino.
Lalu, apakah Ersya akan menerima semua itu, atau dia akan membantah dan menolaknya?
Ikuti terus ceritanya, ya?
Next?
***
Maaf teman-teman semua, mungkin, ana tidak akan up setiap hari. Soalnya, sekolah juga mulai efektif, jadi banyak sekali tugas yang harus ana kerjakan. Belum lagi, ana juga ada jadwal madin, selepas sekolah sampai malam. Jadi, waktu ana cuman dikit, kalau ada waktu istirahat di sekolah sama waktu kalau habis madin.
__ADS_1
Syukron katsiron bagi temen-temen yang udah selalu support ana, baca cerita ana, dan juga yang lainnya.
#hambaAllah