my love gus

my love gus
Part_6_MSG


__ADS_3

Ersya menatap sendu, ketika melihat Amira yang sudah melangkahkan kaki untuk pulang. Ternyata, dalam waktu yang sesingkat ini, Amira sudah berhasil mengembalikan sebuah pelukan yang telah menghilang, dan hal itu membuat Ersya merasa, bahwa Amira adalah sosok yang sama seperti bundanya.


"Bunda ... Ersya rindu," gumamnya.


"Ersya sekarang sendiri, Bun. Nggak ada orang yang nemenin Ersya. Abang sibuk kerja, Ayah juga sibuk dengan keluarga barunya. Mereka semua bohong, Bun. Mereka nggak nepatin janji mereka sama Bunda. Hiks ... hiks. Bah-bahkan, Ersya tidak pulang ke rumah pun, mereka tidak peduli, mereka tidak mencari Ersya! Bunda ... hiks ... kenapa Bunda lakuin semua ini?!"


Tangis Ersya pecah, dia sudah tidak bisa menahannya. Andai saja, jika sang bunda masih ada, mungkin, Ersya tidak akan seperti ini. Dan, Ersya yakin, dia pasti akan bahagia.


Flash back on...


Seorang anak berusia 8 tahun, sedang asyik bermain sepeda di jalanan. Tidak sengaja, dia melihat kupu-kupu cantik yang sedang terbang. Karena menginginkan kupu-kupu itu, maka, dia pun melajukan sepeda mengikuti kemana kupu-kupu itu pergi.


Terlalu asyik dengan apa yang dia lakukan, dia tidak memedulikan keadaan di sekitarnya. Padahal, dari kejauhan, sebuah truk sedang melaju kencang.


Di sisi lain, sang bunda sedang mencari-cari keberadaan Ersya, dibantu dengan anak laki-lakinya juga. Namun, tak kunjung menemukannya.


"Bunda, itu Ersya." Anak laki-laki itu menunjuk ke arah Ersya berada.


Aida tentu saja syok, ketika melihat anaknya yang berjarak dekat dengan truk yang sedang melaju kencang itu.


"Ersya, awas!" teriak Aida, sambil berlari ingin menyelamatkan sang anak.


Jebred....


Truk itu telah menabrak seseorang, yaitu Aida. Pada saat itu, Ersya yang awalnya tersungkur, langsung bangkit, menghampiri sang bunda yang sudah tergeletak di atas jalan dengan darah yang terus bercucuran.


"Bunda ... hiks ... hiks .... Bunda, bangun! Ayo, bangun." Ersya menangis, memeluk tubuh Aida yang sudah sangat lemah.


Tidak lama setelah itu, Adrian yang merupakan sang abang datang. Dia langsung duduk di samping sang adik.


"Sya, kamu tunggu di sini, ya? Abang mau beritahu Ayah dulu."


Ersya mengangguk. Sementara Andrian, dia langsung berlari untuk meminta pertolongan pada sang ayah.

__ADS_1


"Er-Ersya, jaga di-diri ka-kamu," ucap Aida terbata-bata.


"Bunda ... hiks ... Bunda ja-jangan tinggalin Ersya ... hiks ... hiks."


Tidak lama setelah itu, Andrian datang bersama sang ayah. Aida mengulas senyum pada waktu itu, meskipun dia sudah tidak kuat menahan rasa nyeri di tubuhnya.


"Aida, kamu harus bertahan!"


"Ti-tidak, a-aku ... u-udah nggak kuat .... To-tolong, ja-ga Er-Ersya dengan ba-ik."


Vino mengangguk, dengan deraian air mata yang terus mengalir di pipinya.


"Ja-Janji?" Aida dengan sisa tenaganya yang masih dia punya, mengangkat jari kelingkingnya.


"Janji." Vino menyatukan jari kelingkingnya, membalas sang istri.


"An-Andrian?" panggil Aida kemudian.


"Ja-jaga diri ka-mu. Bun-Bunda ti-tip a-adik ka-kamu, ya?"


Andrian mengangguk, lalu, kembali memeluk tubuh sang bunda.


Tidak lama setelahnya, Aida menghembuskan napas terakhirnya, dan mulai saat itu juga, Ersya merasa hancur, sehancur-hancurnya. Apalagi, Aida tertabrak, karena menyelamatkan dirinya, membuat dia dihantui perasaan bersalah.


Flash back off


Ersya menjadi binggung sendiri, dia ingin menghubungi teman-temannya, namun, ponselnya tidak ada, mungkin, tertinggal di jalan waktu kecelakaan.


Tidak disangka-sangka, Rena dan Diva datang menjenguknya. Tentu saja, Ersya senang.


"Ersya, gue kangen tau!" ucap Diva, sambil memeluk tubuh Ersya.


"Heh, sakit tau. Jangan kenceng-kenceng, kali!" Ersya melepaskan pelukan Diva secara paksa. "Btw, kalian tau dari mana gue ada di sini?" lanjut Ersya bertanya.

__ADS_1


"Dari Pak Hafidz," jawab Rena.


"Eh, tapi gue heran deh, kenapa Pak Hafidz bisa tau, loe ada di sini?" tambah Diva.


"Nyokapnya yang nolongin gue, makanya, dia tau. Sumpah! Baik bener, gue nyaman dijaga sama dia," ungkap Ersya.


"Widih. Tapi, Pak Hafidz juga, ikut nungguin loe di sini?"


"Nggak. Cuman nongol sebentar, pas jemput dan nganterin makanan buat nyokapnya." Seingat Ersya, Hafidz bertemu dengannya waktu itu saja. Padahal, Hafidz selalu datang bersama Amira, hanya saja, Hafidz selalu menunggunya di luar.


"Pinjem ponsel, dong. Gue mau hubungin Abang gue," pinta Ersya.


"Eh, kayaknya, Pak Hafidz udah beritahu Abang loe, deh. Soalnya, tadi Pak Hafidz minta alamat rumah Abang loe sama kita," jawab Diva.


"Buset, baik juga Pak Dolin," jawab Ersya dengan mata yang berbinar.


"Gila, loe, Sya! Nama orang, loe ubah jadi Dolin, keterlaluan, mana sama dosen lagi, nggak sopan tau." Rena menanggapi.


"Woi, nyokapnya juga nggak kenapa-kenapa. Malahan malah ketawa, padahal, gue itu kemarin ngeghibahin Pak Hafidz. Karena, sebelumnya, gue sama sekali nggak tau kalau Pak Hafidz adalah anaknya."


"Widih, terus Pak Hafidz, gimana?"


"Ya, diem aja. Cuman nyaut sebentar. Lagian, kalian tau? Penampilan si Dolin itu beda banget. Percaya, nggak? Tampangnya kayak ustadz gitu. Seratus persen beda sama penampilan waktu jadi dosen."


"Loe ketinggalan informasi, Sya. Sekampus udah tau kali, kalau Pak Hafidz itu seorang gus."


"Gila! Berarti, gue kemarin bicara sama istri Kyai, dong. Nggak nyangka gue! Pantesan, baik banget."


"Sya, ada yang mau gue omongin! Soal____"


Hayo, apa nih yang mau dibicarakan sama Diva?


Next?

__ADS_1


__ADS_2