
"Sekali lagi, Ayah minta maaf juga. Karena, Ayah telah menerima laki-laki itu sebagai calon suamimu," jelas Vino.
Lagi dan lagi, Ersya harus melapangkan dadanya. Ingin marah? Percuma! Marah tidak akan pernah merubah segalanya, yang ada, marah akan memperkeruh suasana.
Ersya hanya bisa pasrah sekarang, meratapi nasibnya. Wajah Ersya berubah menjadi cemberut, dia tidak berbicara apa-apa, bahkan, tidak membantah.
"Sya, kamu menerimanya?" tanya Vania, karena Ersya hanya terdiam.
"Gini-gini juga, Ersya itu mikir! Kalau Ayah udah menerima dia, apalagi dia datang sama keluarganya, terus, tiba-tiba Ersya batalin, emang Ayah nggak malu?" Ersya tidak berpikir pendek, dia berpikir panjang. Mau ditaruh di mana muka dan harga diri keluarganya, jikalau sampai Ersya menolak laki-laki itu.
Vania tersenyum senang, ketika mendengar jawaban Ersya. Ternyata, Ersya sudah dewasa juga.
"Ersya mau ke kamar," pamit Ersya. Lalu, bergegas pergi.
"Sya, seharusnya__" ucap Vania sedikit berteriak.
Ersya yang berada di tangga, menoleh, menatap kepada arah Vania, lalu, berkata, "Diam, loe! Jangan banyak ngomong! Gue lagi pusing."
Awalnya, Vino ingin membentak dan memarahi Ersya karena berperilaku seperti itu pada Vania. Namun, Vania menahannya, karena, Vania paham, bagaimana perasaan Ersya sekarang.
"Mas, biarkan Ersya. Kasihan, Mas harusnya paham sama dia. Jikalau aku yang ada di posisi Ersya, mungkin, aku udah kabur dari rumah."
"Tapi, dia nggak sopan sama kamu."
"Butuh waktu bagi Ersya untuk menerima keberadaan aku di sini. Lagian, Mas juga seharusnya paham sama situasi."
"Makasih udah ngertiin Ersya."
"Sudah seharusnya."
***
Tepat di hari ke dua setelah pulang dari rumah sakit, Ersya yang merasa dirinya sudah baik-baik saja, memutuskan untuk kembali kuliah. Karena, dia juga merasa bosan jika terus berdiam diri di rumah.
Hari ini, ada jadwal Hafidz mengajar. Ersya berpikir keras, akan seperti apakah sikap Hafidz terhadapnya, setelah kejadian di rumah sakit itu.
"Sya, Pak Hafidz udah masuk!" Diva menggoyah-goyahkan lengan Ersya. Karena, Ersya terus saja melamun dari tadi.
__ADS_1
"Hah, apa?" jawab Ersya kaget.
"Itu." Diva melirik ke arah Hafidz, yang sudah duduk di bangku dosen.
Pembelajaran dimulai, saat itu juga semua mahasiswa sibuk menyimak dan mencatat materi yang penting. Beberapa orang, mungkin tidak hanya menyimak materi, tetapi, plus, sambil memandang wajah Hafidz yang mampu membuat mereka terpesona.
Usai pembelajaran selesai, Hafidz keluar. Diikuti oleh Ersya, yang mengekor berjalan di belakang. Hafidz yang merasa ada yang membuntuti, menoleh ke belakang, dan waktu itulah Ersya hanya bisa menyengir kuda.
"Ngapain ngikutin saya?" tanya Hafidz dingin.
"Ehm, mau bilang makasih, Pak, karena, Bapak sudah bantuin saya," ucap Ersya jujur, karena, niatnya dari awal emang untuk itu.
"Sama-sama," jawab Hafidz.
"Pak, jangan terlalu dingin sama cewek. Nanti, nggak ada yang mau nikah sama Bapak," celetuk Ersya.
"Jangan sotoi. Banyak perempuan yang suka sama saya, termasuk kamu," ucap Hafidz dengan sedikit sombong.
"Maaf, ya, Pak. Saya tidak termasuk. Jangan kepedean." Ersya membantah, karena, apa yang Hafidz ucapkan tidaklah benar.
"Kalau, tidak, mengapa kamu terus ngikutin saya?"
Melihat jarak Hafidz yang sudah jauh, Ersya berteriak, "Pak Dolin, titip salam buat Tante Amira."
Hafidz tidak menanggapi, tapi yang pasti, dia akan menyampaikan salam Ersya kepada sang ummi.
***
Hafidz baru saja bersih-bersih usai pulang dari kampus. Dia pun turun ke bawah untuk menemui sang ummi yang sedang mengobrol dengan Amir, yakni abbinya.
"Ummi, ada yang titip salam buat Ummi," ujar Hafidz, setelah dirinya terduduk di kursi.
Ketika mendengarnya, Amira langsung menjawab,"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."
"Dari siapa?" Bukan Amira yang bertanya, melainkan Amir.
"Ersya, Bi."
__ADS_1
"Oh, Ersya. Sekarang udah mulai masuk kuliah lagi?" Jika tadi pertanyaan yang harus dilontarkan Amira, malah ditanyakan oleh Amir. Sekarang, malah terbalik. Seharusnya, Amir yang menjawab Hafidz, tetapi, malah Amira yang lebih awal menjawabnya.
"Udah, Mi."
"Alhamdulillah jika sudah, jika ketemu Ersya, suruh dia main ke sini, ya?" titah Amira.
"In Syaa Allah, Mi."
Tiba-tiba, suara teriakan terdengar dari luar. Amir, Amira, dan juga Hafidz langsung berdiri, dan melihat ke luar, untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
"Astagfirullah, Ilfah. Ngapain, hah?" tanya Hafidz, sambil tertawa pelan. Karena, melihat sang adik yang sedang dikejar-kejar oleh seekor ayam, peliharaan kesayangan dari sang ponakan, yakni, Fauzi.
"Bang Anan, tolongin Ilfah!" Ilfah berteriak ketakutan, dengan mata yang sudah berkaca-kaca ingin menangis.
"Jago ... Jago ... Jago...." Hafidz memanggil ayam itu. Sepertinya, ayam tersebut memang sudah dekat dengan Hafidz, makanya, ketika Hafidz memanggil namanya, dia langsung berhenti mengejar Ilfah dan berjalan mendekat ke arah Hafidz.
"Ngapain kamu ngejar-ngejar Ilfah?" Ayam itu hanya melirik kepada Ilfah yang sedang membawa kantung plastik. Mengisyaratkan, mungkin, dia mengejar Ilfah, karena hal itu.
"Awas aja kamu, Jago! Disembelih, baru tau rasa!" ucap Ilfah dengan memelototi si Jago dengan sangat tajam.
Ayam itu berkokok kembali, sepertinya dia ingin kembali menyerang Ilfah.
"Eh, nggak boleh, Jago. Itu nggak baik!" ucap Hafidz sambil mengusap-usap bulu ayam itu dengan lembut.
Ayam itu sepertinya luluh. Dia menurut, lalu, kembali lagi berjalan menuju kandangnya.
"Cepat masuk ke rumah, Fah. Nanti, si Jago keburu ngejar kamu lagi," suruh Hafidz.
"Iya, Bang."
Setelah Ilfah masuk ke dalam rumah, beberapa santriwati lewat.
'Itu Gus Anan, ganteng banget.'
'Maa Syaa Allah, Gus Anan ... adem banget liatnya.'
'Gus Anan, i love you.'
__ADS_1
Begitulah kira-kira, ucapan para santriwati itu. Hafidz tidak menanggapi ataupun apa? Lebih baik dia diam saja, seolah-olah, dia tidak mendengar apa-apa.
Next?