my love gus

my love gus
Part_10_MSG


__ADS_3

Sampai di rumah Amira, Ersya disambut baik oleh anggota keluarga di sana. Semua orang yang cenderung memiliki sikap ramah, membuat Ersya menjadi mudah akrab dengan mereka.


Kini, Ersya diajak oleh Amira untuk memasak di dapur, itung-itung sambil belajar juga. Sebab, Ersya sama sekali belum bisa. Dulu dia pernah mencoba menggoreng telur, tetapi, malah menyebabkan dapurnya berantakan bagaikan kapal pecah. Alhasil, sampai sekarang, Ersya tidak mau lagi melakukannya.


Ersya sedikit kesusahan, ketika kerudung yang dia pakai, menghalangi tangannya yang sedang mengiris bawang dan juga cabai. Jika saja tidak ada Amira di sana, mungkin, Ersya sudah marah-marah dan melepas kerudung itu.


Amira yang melihatnya hanya bisa tersenyum simpul.


"Kenapa, Sya?" tanya Amira, berjalan mendekati Ersya.


"Eng-enggak, Tante," jawab Ersya, berpura-pura, bahwa dia tidak mempunyai kendala apa-apa.


"Tante, emang perempuan itu wajib banget, ya, pakai kerudung sama baju yang kayak gini?" Entah ada dorongan dari mana, Ersya bertanya seperti itu.


"Wajib banget, Sayang. Wanita dalam islam diwajibkan untuk memakainya. Jika, tidak, maka, hukumnya dosa. Aurat perempuan dalam Islam adalah seluruh tubuh, kecuali, wajah dan juga telapak tangan. Hal ini disesuaikan dengan hadist yang diriwayatkan oleh istri Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, yaitu, Aisyah Radhiyallahu Anhu, menceritakan bahwa adiknya, yaitu, Asma binti Abu Bakar masuk ke dalam rumah Rasulullah dengan pakaian tipis. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam berpaling darinya dan bersabda, 'Wahai, Asma, sesungguhnya seorang wanita itu, jika sudah haid (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya, kecuali, ini dan ini', beliau menunjuk wajahnya dan telapak tangannya." Ersya manggut-manggut ketika mendengarnya, dia mencoba memahami apa yang Amira sampaikan.


"Tante, makasih banget. Ersya jadi malu, udah besar gini, gak tau soal agama sendiri." Sungguh, Ersya merasa dirinya sangat hina sekali.

__ADS_1


Ersya masih sibuk mengatur kerudungnya, mana ngerasa gerah lagi. Alhasil, dia melilitkan kerudungnya ke leher.


"Kerudungnya, jangan dililitkan ke leher!" Suara dengan nada dingin membuat Ersya kembali merubah kerudungnya menutupi dada. Pemilik suara itu, tidak lain adalah Hafidz.


"Jadi, harus terus menerus menutupi dada?" Ersya semakin penasaran sekarang.


"Iya." Hafidz menjawab kembali.


"Oh, gitu, ya." Ersya mengangguk paham. "Katanya, wanita itu boleh melepas kerudungnya, di hadapan mahram. Em, kalau mahram itu apa?" Ersya kembali bertanya.


"Mahram adalah semua orang yang haram untuk dinikahi selama-lamanya, karena sebab nasab, persusuan, dan pernikahan. Itulah pengertiannya," jawab Hafidz, sementara Amira hanya mendengarkan sambil memasak menu makanan untuk hari ini.


"Tentu saja, bukan."


"Caranya biar jadi mahram, gimana?"


Pertanyaan Ersya yang seperti itu, tentu saja membuat Amira ingin tertawa, namun, dia menahannya. Karena, kedua insan yang sedang bersamanya pada-pada serius.

__ADS_1


"Ya, nikah."


"Yaudah, yuk, kita nikah!" Jawaban yang keluar dari mulut Ersya, membuat Hafidz mematung seketika. Bahkan, untuk menahan salivanya juga sangat susah.


"Gus, alias Pak Dolin, kenapa diam aja? Itu, wajahnya, kenapa jadi merah gitu?"


"Bukan apa-apa." Hafidz bangkit dari duduknya, hendak bergegas pergi, karena wajahnya terasa sangat panas sekali.


"Gus Dolin, baper sama saya, ya?" goda Ersya.


Hafidz tidak menanggapi. "Saya bercanda, Pak." Ersya kembali bersuara.


"Ummi, Hafidz pamit, mau ke kamar," pamit Hafidz, lalu, pergi dari dapur menuju kamarnya.


Di setiap langkah, tidak henti-hentinya dia mengucapkan istighfar, untuk kembali menenangkan hati dan menormalkan detak jantungnya.


Sungguh, Ersya adalah wanita yang pertama kali membuat jantung dan hatinya seperti ini. Membuat detak jantungnya menjadi berdetak lebih kencang, seperti usai lari maraton.

__ADS_1


Di sisi lain, Ersya hanya bisa cekikikan, karena, melihat ekspresi Hafidz yang tiba-tiba berubah dan ternyata baper juga dengan apa yang Ersya ucapkan.


Next?


__ADS_2