
"Eh, bentar-bentar. Kayaknya, ada sesuatu yang ketinggalan. Tapi, apa?" gumam Ersya.
Ersya menghentikan langkahnya, sementara Diva dan Rena, sudah lebih dulu naik ke atas motor.
"Gila! Handphone gue." Ersya menepuk jidatnya, lalu, memutuskan untuk kembali ke kelas, membawa handphonenya yang tertinggal di atas meja.
"Guys, tunggu bentar!" teriak Ersya, sambil berlari, namun, tatapannya masih tertuju pada teman-temannya.
"Sya, awas!" Diva dan Rena berteriak.
Ersya yang mendengar teman-temannya berucap seperti itu, mengalihkan pandangannya ke arah depan. Alhasil ....
Gedebum!
Kepala Ersya terbentur keras menubruk dada bidang seorang laki-laki, hampir saja dia terjelengkang ke belakang, karena, kepalanya yang memantul akibat benturan itu. Namun, laki-laki itu dengan cepat mencubit baju Ersya, sehingga tubuh Ersya bisa tertahan. Ditambah lagi, dengan sebelah kaki Ersya yang berusaha menahan tubuhnya.
"Tuhan! Kenapa harus dia lagi?!" jerit Ersya dalam hati, ketika mendongak ke atas, menatap siapa orang yang dia tubruk barusan.
Laki-laki itu menatap datar ke arah depan. Sama sekali tidak melirik ke arah Ersya.
"Udah, lepasin saya, Pak!" titah Ersya.
__ADS_1
Tanpa aba-aba, laki-laki itu langsung melepas cubitan tangannya di bagian sikut Ersya. Sebelah kaki Ersya yang tadinya menahan, malah meleset, karena, Hafidz melepaskannya dengan sekaligus, membuat Ersya terjatuh ke atas tanah.
"Aww," pekik Ersya. "Bapak ngga punya hati, apa? Main lepas-lepas aja!" lanjut Ersya kemudian.
"Kamu yang nyuruh saya 'kan?" jawab Hafidz datar, tanpa ada rasa bersalah sama sekali.
"Nggak gitu juga kali, Pak. Lepasinnya pelan-pelan!"
Ersya mengusap debu-debu yang menempel di celana jeans yang dia pakai. Lalu, bangkit berdiri.
Hafidz hanya diam tidak menanggapi. Menurutnya, untuk apa menjawab? Percuma! Karena, di mata cewek, cowok itu selalu salah dan cewek selalu benar.
"Bapak emang ngeselin!" ucap Ersya lirih, namun, masih terdengar jelas di telinga Hafidz.
Sementara Hafidz, hanya bisa bergumam, "Emang bener apa yang dikatakan kamu, Jar. Cewek Indonesia emang susah bilang 'Ohiya, ini salah saya sendiri. Saya minta maaf.' meskipun, kita beda konsepnya."
'Jar' yang dimaksud Hafidz adalah seorang Fajar sad boy, yang saat itu sedang viral karena kata-katanya. Baik di sosmed, ataupun yang lainnya.
"Dasar Pak Dosen nyebelin! Orang ngomong, dibiarin, nggak dijawab, kayak orang budek. Moga-moga, gue nggak berjodoh sama laki-laki kek gitu."
Ersya terus saja menggerutu dari tadi, emosinya meledak seketika, sampai-sampai dia berjalan tanpa melihat jalanan dan fokus mengingat kejadian tadi. Yang ujungnya, merugikan dirinya sendiri.
__ADS_1
Brukk...
Ersya menabrak ujung tembok dan di sinilah dia menyadari satu hal setelah menatap dia sedang berada di mana.
"Si4l banget, ngapain gue malah datar jalan ke toilet? Tujuan gue ke kelas, bukan ke sini. Ini semua pasti gara-gara laki-laki menyebalkan itu!"
Ersya terus saja menyalahkan Hafidz atas apa yang terjadi padanya hari ini. Padahal, Ersya sendiri sedikit menyadari, bahwa, dia yang bersalah dalam hal ini. Hanya saja, hatinya selalu menyalahkan laki-laki itu, mungkin karena terbawa kesal dan juga emosi.
***
Malam hari, Ersya berkumpul bersama teman-temannya. Namanya anak geng motor, apalagi yang nekat, pasti, kalau ada balapan langsung sikat....
Begitupun dengan Ersya, dirinya dengan berani ingin mengikuti balapan itu. Gadis berambut sebahu itu, mulai memakai helm sebagai pelindung. Sekarang, sudah waktunya bagi dia memulai balapan.
Ersya melajukan motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Namun, dengan hati-hati. Takut terjadi kecelakaan.
Ersya memang dikenal si ratu balapan, sebab, dia selalu menang ketika mengikuti pertandingan. Anehnya, kali ini, dia merasakan perasaan yang tidak biasa, hatinya terasa tidak enak, bahkan, dia mempunyai firasat akan terjadi sesuatu buruk padanya.
"Tuhan! Jaga gue," monolog Ersya.
Terlalu sibuk memikirkan hal itu, Ersya menjadi tidak fokus, karena merasa tidak tenang. Sehingga menyebabkan dia menabrak pembatas jalan.
__ADS_1
Lantas, apa yang akan terjadi pada Ersya selanjutnya?
Next?