My Pain Killer

My Pain Killer
chapter one


__ADS_3

Sinar senja sore itu memasuki ruangan menuju kamar lantai dua yg menghadap seberang jalan raya. Jendela coklat yang berukuran 3x4 meter. Berdiri sebuah pohon besar yang sedang menggoyang-goyangkan dedaunan. Dari balik daun-daunan itu, seorang gadis duduk dengan tatapan kosong, ia menghadap jalan raya, bola matanya bergerak ke kiri dan kekanan mengikuti kendaraan yang ada di jalan raya. Sesekali ia menundukan pandangannya sembari memeluk kedua lututnya. Layaknya seseorang yang sedang memikul beban yang amat berat.


"Apa yg harus aku lakukan, bagaimana bisa aku menolaknya. Aku takut mereka akan terluka dengan keputusan ku". Desitnya seorang diri.


Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju tempat tidur. Ia akan tertidur atau hanya sekedar memejamkan mata.


Tok...tok...tok, seseorang mengetuk pintu. Srett. Pintu itu terbuka.


"Lula, km tidur sayang?". Tidak ada jawaban untuk pertanyaan itu. "Ya udah, km istirahat dulu. Besokkan hari penting buat lula". Perempuan paruh baya itu kemudian berjalan menuju pintu dan meninggalkan Lula tertidur di kamarnya. "1...2...3...4....5..." Lula menghitung langkah demi langkah dari wanita paruh baya yang merupaka ibu kandungnya. Setelah hitungan sampai 5 Lula membuka kedua matanya. Gadis itu ternyata tidak tertidur, ia hanya saja memejamkan mata. Bukan karena ia sedang marah dengan sang ibu. Tapi saat ia sedang malas berbicara dengan siapapun.


Malam yang begitu dingin menyelimuti lula yang sedang duduk menghadap langit yang kosong karena ditinggalkan bulan dan bintang. Ya kondisinya saat ini sama seperti lula. Kosong dan hampa. "Langitpun seakan mendukung keadaan ku sekarang". Ucapnya. Di malam yang sunyi itu ia terus berpikir tentang nasibnya besok. Tok..tok..tok.. "non.. non lula". Suara bibi menghentikan kelamunan lula. "Ia bi. Bawa aja ke kamar". Jawab lula. Mendengar jawaban lula, bibi turun kebawah dan mengambil baki yang diisi dengan beberapa menu makanan.


" Lula gk mau turun makan bi?". Tanya Adam ketika melihat bibi sedang membawa makan malam lula. " Iya pak, makanannya disuruh bawa keatas". Mengerti dengan apa yang dikatakan bibi, Adam hanya menganggukan kepala. " Misi pak, saya ke atas dulu". Pamit bibi. Adam dan Nisa kembali untuk menyantap makan yang sudah disediakan di meja makan. Mereka sedang membicarakan persiapan untuk besok.


Di atas lula hanya membiarkan makanan itu menghiasi meja belajarnya sedangkan dirinya masih duduk terpaku dan matanya terbiasa di manjakan dengan kendaraan yang ada dijalan raya. Ia bisa menghabiskan waktu berjam jam hanya untuk menatap kendaraan yang ada di jalan raya. Kemudian menghitungnya satu persatu dan ketika ia ngantuk ia akan tertidur di jendela.


 Aku hanya membiasakan diriku dengan semua keadaan yang ada, Bukan karena aku menyukainya. Aku hanya menghibur diri yang sedang dilanda kebosanan. 

__ADS_1


Mungkin kamu menganggapnya aneh, apa menariknya itu semua?. 


Ya, pada awalnya aku merasakan hal serupa. 


Menarik? Mungkin semua yang ku lakukan tampak tidak menarik. 


Tapi aku melakukan bukan untuk menarik perhatian kamu atau yang lainnya. Aku hanya membangkitkan gairah hidup yang telah lama terkubur.


 Apa aku salah?.


Aku yang sedang duduk disini, memikirkan tentang dia. Membiarkan angin meghempas rambut ku, membiarkan dinginya malam memeluk wajahku dan memanjakan mata ku dengan lampu-lampu kota itu. 


flash back.......


Hari itu dua belas tahun yang lalu, tepatnya ketika umur lula masih 12 tahun. Mimpi itu datang menghampirinya.


Dalam mimpi lula berdiri didepan cermin sambil memandang dirinya sendiri dan dibelakang ada seorang gadis yang berdiri, gadis yang mirirp sekali dengan lula hanya saja mereka memakai gaun yang berbeda.

__ADS_1


Melihat gadis itu lula tiba-tiba menangis, air matanya mengalir tiada henti. Sosok gadis yang selama ini ia rindukan. Setelah tiga bulan lulu datang untuk menemui lula, kecelakaan yang menimpa Lulu  membuat ia meninggalkan keluarganya untuk selamanya. Ya dia lulu kembaran lula yang tiga bulan lalu meninggal akibat kecelakaan.


Aku menangis dalam tidur ku, dia yang kurindukan datang menemuiku , ya! Dia. Dia saudara kusatu-satunya. Dia adalah bayangan ku yang nyata dan hidup. Aku berdiri depan cermin sambil memandang diriki, aku melihat lulu memandangiku dari belakang sambil tersenyum. Senyum itu yang membuat air mata ku terus mengalir. Perlahan-lahan lula memeluk ku hingga membuat ku sulit bernapas, kakak akan menjaga mu.


Setelah dari kecelakaan yang menimpa lulu, lula selalu menagis. Dia terus menyalahkan dirinya . “seandainya saja waktu itu aku hati-hati  mungkin saja Lulu tidak tabrak oleh mobil” ucap nya dalam tangisannya dan memukul-mukul diriny sendiri.


Ayah dan Ibunya  berusaha untuk menenangkan lula.  “sudah lula, kita tidak bisa melawan takdir, ikhlaskan saja kakak mu”. Ucap kedua orang tuanya.


Kepergian lula membuat nisa dan adam sangat terpukul, sebagai anak yang pendiam dan penyayang, lulu selalu difaforitkan oleh lala adeknya.


Nisa dan adam tidak pernah merasa khawatir meninggalkan kedua anak kembarnya dirumah bersama dengan bibi. Lulu sangat pandai merawat adeknya walaupun dia masih dikatakan anak-anak pemikirannya seperti anak umur  17 tahun. Lulu tidak akan membiarkan jika ada anak-anak lain yang mengganggu adiknya. Jika ada sesuatu yang ia miliki yang diinginkan lala maka lula tidak akan keberatan memberikan kepada adeknya, sedangkan lala memiliki sifat yang jauh berbeda dengan lulu.


Dia lebih kekanak-kanakan, manja dan selalu iri kepada kakaknya. Ada-ada saja barang yang ia inginkan dari kamar lulu. Tapi lala lebih suka mengekori kakanya, kemanapun lulu main dia pasti mengikutinya. Gadis kecil itu lebih menyayangi kakaknya lebih dari kedua orang tuanya. Kalau ditanya mana yang kamu sayang bunda atau ayah, lala selalu mejawab.


“jelaslah bund,, kak lula”. Ucapnya dengan polos.


Karena sayangnya pada saudara kembarnya dan gadis kecil itu tidak ingin melupakan kenangan bersamanya, diapun akhirnya memutuskan mengganti namanya menjadi lula singkatan dari lulu dan lala. Lula tau bahwa lulu satu dalam dirinya. Walaupun raganya tidak lagi bersama, tetapi hati dan jiwa lulu tinggal dan memeluk hatinya erat-erat.

__ADS_1


Awalnya orang tuanya keberatan dengan lala yang ingin mengganti namanya menjadi lula. Tapi setelah dipikir-pikir tidak ada salahnya jika lala ingin dipanggil lula. Mungkin dengan begitu lula bisa mengikhlaskan kakaknya.


Saat itu jiwaku telah mati, aku benci dipanggil lala, nama itu mengingatkan ku pada kejadian itu. Entah kenapa aku menggabungkan nama ku dengan lulu, lula. Ya! Lula, menurutku itu panggilan yang bagus. Perlahan aku mulai menghapus kenangan ku dengan lulu. Aku tak tahu, aku hidup dalam kegelapan. Hingga saat itu datang saat dimana aku merasakan api menyala dalam hatiku. Hangat dan terang itulah yang kurasakan. Aku yakin itu lulu, ya! Dia ada didalam sana aku yakin itu .tapi  lama-lama api itu menyala terlalu besar, hingga membuat hatiku perih.


__ADS_2