
Aku membiarkan diri ku berlari
Bila perlu menghilang
Aku hanya diam menatap angan
Yang kunjung tak aku gapai
Di seberang sana, melihat dan hanya merasa
Kamu dan dia bercerita mengundang tawa
Aku yang tertekan dan kamu yang tersakiti
Dan dia yang mengalah
Atau aku saja?
Semua terserah pada mu
"apa sedang kamu lakukan Lula?". Bisik bunda yang saat itu kaget mendengar apa yang di katakan Lula.
Semua terdiam dan penghulu merasa bingung. Pengantin wanita yang menentang pernikahan. Sedang naufal menatapnya heran.
Lula beranjak dari tempat duduknya dan pergi dari kerumunan orang.
“lula….lula mau kemana?”. Panggil bundanya, tapi tetap saja lula tidak berhenti bahkan dia tidak menoleh.
Adam kemudian menyuruh Nisa untuk mengejar lula sedangkan dia sendiri menjelaskan kepada para tamu dan keluarga besarnya. Khususnya untuk keluarga Naufal.
“maaf kan tindakan lula, mungkin dia kaget dengan ini semua. Karena saya merahasiakan ini, yang dia tahu hari ini hanya tunangan”. Bisiknya pada Agus.
Agus mengangguk paham dan dia turut menjelaskan situasi ini kepada keluarganya.
__ADS_1
“kenapa kamu seperti ini Lula?”. Tanya Nisa setelah berhasil mengejar langkahnya Lula.
Lula tidak menjawab, dia masih menghadapkan wajahnya kearah jendela yang selama ini menjadi saksi kehidupan Lula.
“ini demi kebaikan mu, mungkin mama harus kasih tau kamu. Kalau ayah lagi mengembangkan bisnisnya di Amsterdam, jadi ayah harus pindah ke sana untuk beberapa bulan dan ibu harus ikut ayah mu. Kamu tahukan kodisi ayah mu lagi kurang sehat. Jadi kamu harus memiliki pendamping untuk menjaga kamu selama disini dan keluarga Ong itu sangat baik, bahkan Naufal juga ganteng dan Pengecara terbaik di sini”. Nisa menjelaskan alasan kenapa hari ini mereka menikahkan Lula segera mungkin.
“tapi gak kaya gini bu, Lula bahkan gak tahu gimana sifatnya laki-laki itu dan Lula gak mau repotin dia karena kondisinya Lula”. Jawab Lula lirih dan pelan
“nanti ayah dan ibu yang akan menjelaskan pada mereka tentang kondisi Lula sekarang, lagian udah 2 bulan ini Lula gak pernah lagi sakitkan”. Nisa berusaha meyakinkan Lula.
Dalam pikiraannya Lula berkata “Bukan itu maksud Lula Bu, dia udah punya kekasih. Sekarang Lula menjadi duri untuk hubungaan mereka”.
“Tapi bu, Lula tetap gak mau. Apa lagi menjelaskan pada mereka tentang kondisi Lula. Lula malu bu, penyakit ini sangat merepotkan. Ayah sama ibu aja udah gak mau lagikan ngurus lula apa lagi mereka bu”. Katanya sambil bercucuran air mata.
Nisa merasa bersalah mendengar kata-kata lula, tapi sesungguhnya bukan itu alasan Nisa dan adam menikahkan Lula secepatnya. Mereka gak punya pilihan lain, kondisi jantung Adam sangat mengkhawatirkan dan segera butuh penanganan serius, Adam telah menerima rekomendasi rumah sakit terbaik dan itu berada di Amsterdam. Bila mereka memberitahu Lula, takutnya itu akan mempengaruhi kondisi Lula yang sudah mulai mengalami perkembangan baik.
“kamu gak boleh bilang gitu sayang. Itu gak benar. Lula anak ayah sama ibu satu-satunya. Ayah dan ibu gak pernah meras merepotkan. Hanya saja Lula sudah saatnya untuk berumah tangga. Nanti kalau ayah dan ibu udah gak ada siapa yang nikahkan Lula”. Kata Nisa sembari memeluk lula.
Nisa masih mebujuk Lula sedangkan di ruang bawah Naufal dan keluarganya masih menunggu Lula dan Nisa. Tapi rupanya Nisa masih belum bisa membujuk Lula makanya meeka berdua tak kunjung keluar dari kamar Lula.
“sana pergi bujuk Lula”. Bisik agus pada Naufal
“gak ah pah”. Jawabnya. “malas bangat harus membujuk dia segala, malah bagus lagi kalau pernikahannya gak jadi”. Pikirnya dalam hati.
“sana, bahaya kalau pernikahannya gak jadi. Bisa-bisa kontraknya di batalkan sama pak Adam”. Ucap ayahnya masih bisik-bisik
Lula berpikir sejanak dan kemudian beranjak juga dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju lantai dua.
Tok…tok…tok… naufal mengetuk pintu kamar Lula.
Nisa segera bmembukakan pintu
“Naufal”. Katanya kaget melihat Naufal
__ADS_1
“boleh saya bicara dengan lula bentar tante?”.
“boleh..boleh”. nisa mempersihlakan Naufal masuk kedalam kamar lula dan dia segera turun ke bawah.
“Siapa bu?”, Tanya Lula. Kemudian dia membalikan badan dan menatap kearah laki-laki asing baginya itu.
“kamu”. Katanya.
Naufal melangkah kearahnya dan mengambil kursi yang jaraknya kurang lebih satu jengkal dengan tempat duduk lula saat ini. Mereka duduk sambil berhadapan, ini sangat asing bagi lula. Dia tidak tahu harus apa. Dia melihat kea rah pintu untuk mencari ibunya.
“aduh ibu dimana?”. Tanyanya dalam hati.
Naufal masih menatap gadis yang kelihatan sedang bingung itu sedangkan Lula tidak berani menatap langsung Naufal dia mengalihkan pandangannya ke kiri dan kanan.
“aku mau nanya sama kamu”. Kata Naufal sembari menyilangkan tangannya di dadanya.
Lula masih tidak menghiraukan Naufal dia masih kikuk dengan kondisi ini. Dia masih melirik ke kanan dan kekiri. Hal itu membuat naufal sangat jengkel padanya. Dia menggaruk-garuk dahinya, artinya dia kesal dengan tingkah gadis di depannya ini.
“aku mau ngomong sama kamu, kamu dengar gak sih!”.
Kata-kata itu membuat Lula berhenti melirik ke sana kemarin dan menatap Naufal, dia terdiam seperti patung. naufal mulai membicarakan sesuatu pada Lula.
“aku tahu pasti kamu gak tahu juga masalah ini dan kamu adalah korban disini, tapi aku penasaran apa alasan kamu menolak pernikahan ini?”,
Lula masih terdiam. Mulutnya seperti di lem.
“aku yang harusnya bertanya kepada mu, kenapa kamu menerima perjodohan ini sedangkan kamu sudah memiliki kekasih”. Batinnya.
Naufal masih menuggu jawaban dari Lula, tapi tetap saja perempuan itu masih dia terpaku.
“kamu gak dengar?”. Tanya Naufal
“aku gak mau bahas itu. lagian ini bukan urusannya kamu”. Jawab Lula
__ADS_1