
Hey, apa begini cerita dimulai?
membingungkan.
ayolah buat aku mengerti dengan tatapan itu
jangan terlalu menghakimi
tanyakan dulu padaku, cinta apa dicintai?
Ah tidak penting
aku akan mengakhiri
tok...tok..
ketukan pintu di kamar lula, tapi tetap tidak membuat penghuni kamar terbangun.
tok...tok...
sekali lagi diketok. perempuan paruh baya itu masih berdiri depan pintu menunggu penghuni kamar terbangun.
"Aduh, siapa lagi yang ketok pintu sepagi ini". rengeknya sambil merenggangkan badannya.
Dia menuju pintu dan membukakan pintu.
"loh Ibu". katanya kaget.
"kenapa kamu lama sekali buka pintunya Lula". kata Nisa.
"suami mu sudah menunggu mu di bawah". lanjutnya sambil membereskan tempat tidur Lula.
Lula masih mencerna apa yang di katakan ibunya. ada satu kata asing yang membuatnya berpikir lama. dia
masih belum sepenuhnya tersadar. pernikahannya saja di lupai.
"ko bingung. sana mandi". Nisa menarik tanga Lula dan menuntunnya ke kamar mandi.
"jangan lama dikamar mandi". kata Nisa lagi. dia tahu kebiasaan Lula yang suka lama-lama di kamar mandi.
didalam kamar mandi Lula masih memikirkan apa yang tadi nyokapnya bilang.
"Apa! ini bukan mimpi". teriaknya setelah melihat cincin yang terpasang di jari manisnya.
__ADS_1
apa yang terjadi kemarin dianggap mimpi oleh Lula. karena kejadian itu terlalu cepat. dia tidak peecaya. sekarang dia memiliki seorang pendamping hidup.
"Naufal". sebutnya. Lula mengingat wajah laki-laki itu dan dia tampa sadar senyum-senyum sendiri di kamar mandi.
Tapi itu tidak lama karena ibunya memanggilnya.
"Lula cepatan mandinya. kasian Naufal nunggu di bawah".
"Iya bu. ini Lula baru mau keluar". jawabnya dan segera memakai mantel.
disisilain di ruang tamu Naufal sedanh duduk kaku ditemani Adam yang sedang membaca koran pagi.
"Silahkan di minum tehnya". kata Adam.
seperti biasa Naufal langsung meminum teh itu, papanya sudah pesan padanya untuk tidak membantah pak Adam.
"aduh ko lama sekali perempuan itu. Ayah sama anak sama saja. nyusahin". batinnya.
Naufal sudah kesal menunggu Lula. dia tidak kunjung turun dari kamarnya.
"Lula, kapan ini?". kata Nisa sambil menunjukan jarim yang ada di keranjang sampah yang ada di kamar Lula.
"owh itu bu, tadi malam. tapi gak terlalu ko bu". jawabnya sambil merias diri.
"gak ko bu. buktinya Lula masih bisa handle". katanya semangat.
"kabari bunda ya kalau sakitnya datang lagi. kamu gak boleh banyak mikir". ucap Nisa sambil mengelus kepala Lula.
Lula mengangguk.
"ayok turun". ajak Nisa
akhirnya setelah 2 jam di tunggu Lula dan ibunya turun dari tangga. Naufal menatap Lula yang sedang turun. Lula tidak bisa mengangkat wajahnya karena ia tahu kalau Naufal sedang menatapnya.
"tu orang yang di tunggu turun juga". ucap Adam ketika melihat lula turun dari tangga.
"maaf ya Naufal, maklum prempuan lama kalau dandan". kata Nisa.
naufal lagi-lagi tersenyum paksa.
"owh iya tan... eh mah maksudnya. Naufal gak bisa lama-lama karena Naufal ada janji sama klien". kata Naufal bohong. dia terpaksa bohong karena tidak ingin lama-lama dengan keluarganya Lula.
"maklum mah, pengecara terkenal. gak ada liburnya". goda Adam.
"iya gak apa-apa, silahkan. kamu yang baik-baik disana ya. dan Naufal titip Lula ya". kata Nisa dengan nada parau. dia sangat sedih melepas Lula. ini kali pertama baginya berpisah dengan Lula. tapi keadaan yang memaksanya. hari ini juga ia dan Adam akan berangkat keluar Negri, karena Adam harus segera di operasi.
__ADS_1
"aku pamit ya bu yah". Lula memeluk Ayahnya dan kemudian memeluk lagi ibunya.
Adam tidak bisa berkata apa-apa, dia takut kalau dia berbicara maka kelihagan kalau sekarang dia sedih melepaskan Lula. dia tudak ingin kelihatan Lemah depan putrinya.
Naufal membawakan koper Lula dan menyimpannya di mobil. sedangkan Lula masih menatap kedua orang tuanya.
"ayok", ajak Naufal yang terburu-buru ingin menghilang dari tempat itu.
kaki Lula seperti terpaku di rumah ini. dia tidak bisa mengangkay kakinya. perasaan tidak percaya kalau dia akan jauh dari orang tuanya mwmbuat kakinya sulit untuk melangkah.
"Lula". panggil Naufal dari dalam mobil.
Lula segera membalikan badannya dan dia mengangguk paham.
"bye bu yah". pamitnya dan kemudian dia menuju mobil. Lula bukannya membuka pintu depan mobil dia malah membuka pintu yang ada di kursi belakang. seperti yang dia lakukan ketika berpergian bersama sopir pribadinya. tapi ini situasinya beda, yang nyetir mobil adalah suaminya, tidak sepantasnya Lula duduk di kursi belakang.
emosi naufal sangat marah dengan Lula, Naufal tidak terima di perlakukan seperti supir. tapi kali ini dia biarkan saja. dia takut jika dia menegur Lula dan dilihat oleh Ayahnya maka akan panjang urusannya.
mobil itu melaju dengan sekencang-kencangnya, Lula terlunta-lunta. sedangkan Naufal masih fokus menyetir dan tidak ada niatannya untuk mengurangi kecepatan mobil itu.
"kenapa dia membawa mobil ugal-ugalan?, aku hampir mau muntah. apa dia marah gara-gara tadi?". batin lula yang sangat polos.
kecepatan mobil itu di tambah oleh Naufal, emosinya untuk lula dia tuangkan melalui mobil. dia gak perduli dengan apa yang terjadi dengan perempuan itu.
"maaf, bisa bawa mobilnya pelan-pelan saja". tegur Lula dengan hati-hati.
"Agh!!". teriak Lula
bukannya mengurangi kecepatan, naufal malah menambah kecepatan membuat Lula terkejut dan berteriak ketakutan.
"ada apa dengannya?, apa aku salah ucap?, perasaan aku bilang pelan-pelan kenapa dia malah tambah kecepatannya". batinnya lagi.
setelah satu setengah jam, akhirnya sampai juga di rumahnya Naufal. rumah dimana ia dan Lula tempati selama dua minggu. rumah yang sudah menjadi sejarah bagi Naufal. rumah dimana ia beli pakai uang pertama dia memenangi kasus di persidangan. Tapi sayang, rumah ini akan ia tinggalkan karrna harus pindah ke tempat yang di sediakan oleh pak Adam.
"turun". pintanya pada Lula.
Lula turun dari mobil.
Naufal mengangkat koper dari bagasi, tiba-tiba ada pesan masuk.
(Fal, aku mau ngomong. aku tunggu di tempat biasa)
setelah membaca pesan itu Naufal menyimpan koper itu di samping Lula dan masuk kembali dalam mobil.
"aku mau pergi, masuk aja. ada mama di dalam. kopernya simpan situ nanti ada bibi yang bawakan kedalam". ucapnya dari dalam mobil. "dan jangan sentuh apapun yang ada dalam kamar ku!". lanjutnya dan kemudian melaju meninggalkan Lula.
__ADS_1