
Lagi-lagi sinar matahari pagi membangunkan lula yang sedang tertidur. Hari ini dia tertidur di atas kursi yang senagaja ia simpan di dekat jendela. Seperti biasa jika ia merasa ngantuk ia akan menarik kursi itu dan tertidur di atasnya. Perlahan-lahan mata itu terbuka.
"Astaga". Ia segera bangun dan mengambil baki yang tadi malam diisi beberapa menu makanan yang sampai pagi ini makanan itu masih ada tampa berkurang sedikitpun.
Itu tandanya Lula tidak makan tadi malam. " Sebelum ibu datang, bahaya kalau dia tau akau tidak makan tadi mala". Ucapnya sambil membuang makanan itu kedalam keresek yang simpan di bak sampah di kamarnya.
Srett... Pintu kamar terbuka. Lula yang sedang membuang makanan tersontak menghadap pintu. Muka yang pucat khawatir kalau ibunya mergokin ia.
" Ya ampun bibi, Lula kira ibu", ucapnya ketika melihat sosok yang membuka pintu adalah asisten rumah tangga di rumahnya.
"Ya maap non, non Lula gk makan malam lg ya?".
"Iya bi. Td malam ketiduran, ya udah simpan aja di situ bi". Lula menyuruh bibi menyimpan menu sarapan di meja belajar Lula.
"Di bawah ada orang ya bi?".
"Iya non. Eang ibu sm eang bapak ada di bawah non". Jawab bibi kemudian berpamitan kebawah.
Suara keributan dirumah kala itu membuat Lula resah dan gelisah, resah dan gelisah karena ia tak mampu melakukan apapun yang akan membatalkan perjodohan yang dibuat oleh kedua orang tuanya. banyak cara yang ingin dicobanya untuk menggagalkan perjodohan ini, tetapi apa daya ia tidak mampu untuk menyakiti perasaan kedua orang tersayanganya.
“ aduh lula, jangan pikir macam-macam, ini adalah takdir mu, mau tidak mau kamu harus menerima itu”. Ucapnya sambil mecubit-cubit pipinya berusaha untuk menyadarkan diri.
Apa yang akan dilakukan jika menghadapi situasi seperti ini, apa harus melarikan diri dan meninggalkan rumah, berarti meninggalkan semua kenyamanan yang telah diberikan. Mungkin semua itu pernah dilalui oleh gadis-gadis lain tapi tidak untuk Lula. Jika harus meninggalkan rumah berarti sama halnya dia meninggalkan surga dan berlari mendekati Neraka.
Bagi seorang gadis yang terbiasa dengan kenyamanan rumah, yang selalu mengurung diri dikamar atau hanya duduk nonton TV diruang keluarga, dan sesekali membantu bibi didapur.
Lula memang jarang sekali keluar dari rumahnya walaupun hanya untuk sekedar jalan-jalan . bagi gadis itu jalan-jalan setiap hari itu adalah hal yang mustahil, mengingat ia memiliki penyakit yang menyerang tubunya dua belas tahun yang lalu.
Ia menderita penyakit aneh yang tidak ada obat sesuai dengan penyakit yang dideritanya hanya saja obat yang diberikan oleh dokter hanya mampu meghilangkan rasa sakit untuk sementara dan perlahan membuatnya tertidur. Setiap kali penyakit itu menyerang sakitarnya teramat sangat tetapi ketika dia akan hilang dia tidak akan meninggalkan jejak sedikit pun.
Penyakit itu terlihat karena tidak berbekas sehingga tidak berdarah tetapi sakitnya mampu membuat seluruh tubuhku takluk dan tunduk.
Hari ini semua orang kelihatan sibuk, rumah yang biasanya sepi tetapi sekarang dipenuhi dengan sanak keluarga. Keluarga dari Sangaji dan H. Hakim berkumpul kedua keluarga yang terpandang, dua-duanya adalah pengusaha yang namanya masuk dalam deretan kolong merat.
Diruang keluarga, seperti biasanya para wanita-wanita elegan keluarga itu berkumpul sambil memamerkan kekayaan masing-masing.
__ADS_1
Dibanding dengan saudara-saudaranya Nisalah yang memiliki segalanya dari segi kekayaan ialah nomor satu. Nisa memiliki banyak usaha, usaha yang dimiliki nisa tersebar dinegara-negara tetangga.
Apalagi dia memiliki suami yang super kaya. Saudara-saudaranya tidak pernah menyerang dengan menyinggung kekayaan yang dimilikinya sudah pasti mereka akan kalah.
Biasanya senjata ampuh yang dipakai para wanita-wanita elegan itu, mereka akan membicarakan mengenai status pendidikan dari anaknya. Dari sekolahnya dimana, lulusan Universitas mana, atau tempat kuliahnya dimana.
Nisa hanya mendengar dengan tenang jika mereka mulai bercerita, yang bisa dia lakukan hanya ikut tertawa. Jauh dilubuk hatinya dia merasa sedih, bukan karena dia tidak bisa ikut membangga-banggakan putrinya, melainkan Nisa kasian kepada Lula. Gadis malang itu tidak bisa merasakan apa yang dirasakan gadis-gadis lain selama 12 tahun.
Lula tidak pernah menginjakan kakinya masuk ke Universitas atau lulusan dari SMA bahkan SMP dimanapun. Mungkin orang akan berpikir, anak orang kaya ko nggak sekolah. What everlah orang bilang apa, toh yang jalanin kan aku. pemikiran itu yang membuat Lula tidak merasa rendah diri dihadapan sepupu-sepupunya.
Lula tidak suka jika dia harus bergabung dengan keluarganya. Gadis itu lebih banyak menghabiskan waktunya dalam kamar. Kaluarganya tahu tentang itu.
Sebelumnya Nisa dan Adam memang melarang anggota keluarganya mendekati kamarnya lula. Mereka takut jika seketika lula sakit dengan terlalu dekat dengan anggota keluarganya.
Biarlah mereka mengenal satu sama lain, asal jangan terlalu dekat. Itulah yang dipikirkan oleh Nisa dan Adam.
Aku suka ketika waktu ku habiskan duduk dekta jendela kamar ku. Menghadapkan wajahku untuk menatap jalan raya. Aku suka ketika menghitung mobil-mobil yang sedang berjalan. Senang rasanya jika ku biarkan agin memeluk wajahku, membirkannya menggoyang-goyangkan rambutku. Bagiku itu adalah suatu kebahagiaan tersendiri yang ku rasakan.
Jam tiga sore terdengar ada yang mengetuk pintu kamar Lula.
“Lula,, sayang ibu boleh masuk?”. Rupanya itu suara Nisa
“iya bu.” Jawab lula
“nyenyak tidur siangnya sayang”.
“gak bu, dibawah terlalu berisik”. Dengan terus terangnya lula berkata seperti itu.
“biasalah kalau lagi rame gitu, memang berisik”. Ucap Nisa. Nisa mengusap kepala Lula dan menyuruh putrinya untuk mencuci muka.
“kekamar mandi gih, Lulakan harus siap-siap”. Lula tanpa berkata-kata langsung menuju kamar mandi. Ibu dan anak sama-sama sibuk mempersiapkan segala hal.
Nisa sibuk dengan pakaian apa yang bagus untuk dikenakan Lula, isi lemarinya lula semua dibongkar oleh nya. Sedangkan lula duduk dihadapan cermin.
“bisakah aku menjalaninya?”, pikirnya.
__ADS_1
“sayang coba lihat, yang bagus ini atau yang ini”, lula menawarkan dua baju kepada lula. “yang putih aja bu, cantik”, jawabnya. “ok, ibu simpan sini. ibu tururn dulu, kayanya dibawah ada yang datang. Cepatlah pakaian!”.
Gadis yang hobi denga merias diri dan fashionable. Tidak akan memerlukan tenaga orang lain untuk mempercantik dirinya.
Tapi kali ini lula hanya ingin kelihatan biasa-biasa aja, Bila perlu ia harus tampil sejelek-jeleknya. Satu jam sudah lula menghabiskan waktunya hanya untuk merias dirinya. Kalau untuk wanita waktu segitu sih masih dikatakan normal.
Keadaan sekarang ini sudah berbeda. Suasana kamar juga terlihat berbeda. Suhunya agak naik padahal suhu Acnya seperti biasa. Lula yang tadi sudah merias dirinya sekarang wajahnya dipenuhi dengan keringat.
Tampa menyadari ia pun mulai mengipas-ngipaskan tangannya. Sejak kapan karakter itu muncul. Sejak kapan tangannya dijadikan alat untuk mengipas.
"Aduh.. gerah bangat, acenya rusak ya". Ucapnya sambik memegang remot ace.
Suhu ace di turunkan lagi oleh Lula. " Ya ampun, lula. Kamarnya dingin bangat sayang". Ucap Nisa yang entah sejaka kapan ia nerada di belakang Lula.
" Ibu bikin kaget aja. Ini bu, gerah bangat. Bunda gak rasa gerah?". Tanya lula dengan polos. Rupanya Nisa menjawab dengan senyuman.
" Kenapa bu, ada yang salah ya dengan penampilan Lula", Lula segera menghadap cermin untuk memastikan penampilannya.
"Gak, malah Lula cantik bangat hari ini", dengan sedikit senyuman untuk menggoda anak sematawayangnya.
"Kamu baik-baik aja sayang?". Tanya nisa sambil memegang kening anaknya. Nisa khawatir setelah melihat keringat yang membanjiri mukanya Lula.
"Gak tau ni bu, cuman Lula agak sedikit gerah baru itu hatinya Lula berdegup sedikit kencang", dia mengambil tangan ibunya dan meletakan di dadanya.
Mendengar curhatan singkat dari Lula, Nisa sekali lagi tersenyum. Hanya saja lebih lebar dari sebelumnya.
"Ibu ko ketawa sih, normal gak sih bu?". Tanya lula yang sedikit khawatir dengan keadaannya sendiri.
"Hehehe, normal sayang. Normal bangat. Ibuk juga gitu ko dulu. Pas mau dilamar ayah mu. Malah ibu lebih parah. Dua hari ibu gak bisa tidur, ya udah cepat pakaian tamunya pada nunggu lo di bawah".
Nisa mengambil haigh heels milik lula, yang tersusun rapi di lemari. Dari banyak koleksi heels yang di miliki lula,, nisa mengambil heels Alexander McQueen warna hitam. Lula memakai heels yang dipilih ibunya. Tidak lama Nisa kembali lagi untuk menjemput Lula.
Dengan perasaan campur aduk, dari sekian banyak yang ia pikirkan, gadis itu sempat berpikir bagaiman rupa dari laki-laki yang akan menjadi suaminya itu, kayanya terlalu cepat untuk dibilang calon suami. Maksudnya yang akan di tunangkan dengannya. Lula mulai menghitung langkah kakinya.
1...2...3...4....5... Anak tangga demi anak tangga ia hitung tampa memperdulikan orang-orang yang memandangnya dari bawah. Para keluarga maupun para tamu yang sempat hadir, mengagumi penampilan lula. Tampak anggun dan feminim, terkesan modis namun terlihat profesional. Dipadukan dengan gaya rambut layer beraturan, gelombang tebal yang terstruktur, lembut dan mengkilat. Ia memberanikan dirinya untuk menatap keluarga dan tamu yang hadir dengan senyuman khasnya yang tampak manis di pandang.
__ADS_1
Dari sekian tamu yang hadir matanya tertuju pada laki-laki yang berdiri di samping ayahnya. Laki-laki dengan balutan kemeja, jas dan celana bahan kalau gak salah itu style dandy casual look. Tampil formal namun tetap santai.