My Pain Killer

My Pain Killer
chapter six


__ADS_3

Mendengar itu Naufal menarik kursi Lula sehingga keduanya saling berhadapan, saking dekatnya jarak mereka, sampai Naufal maupun Lula bisa merasakan tarikan napas dari masing-masing. Lula melototkan matanya, karena saking kaget dengan tingkannya Naufal, apa lagi jarak mereka yang begitu dekat.


“dengar, kalau ini tidak menyangkut kehidupan dan masa depan ku, aku tidak akan serepot ini datang menghampiri mu. Lagian aku gak masalah jika kamu membatalkan pernikahan ini. Karena aku juga gak rela menikah dengan mu”. Bisiknya halus di telinga Lula.


“kenapa jantung ku berdetak sekencang ini, apa dia bisa mendengar suara detakan jantung ku?”. Batin Lula. Ia tidak peduli apa yang dibisikan Naufal, yang dia khawatirkan jangan sampai Naufal mendengar detakan jantungnya.


“apa yang kamu lakukan?, tolong minggir”. Kata Lula, setelah sadar dan berusaha mendorong tubuh naufal yang masih menempel dari tubuhnya ketika Naufal sedang berbisik pada telinganya.


Lagi-lagi Naufal dibuat terkejut dengan tingkah Lula yang aneh. Dan tentunya dia cepat-cepat menjauhkan diri dari Lula.


“Baiklah, jika kamu masih tidak menjawab. Aku hanya ingin bilang, pikirkan sekali lagi tindakan mu sekarang dan satu hal lagi pikirkan apa yang membuat orang tua mu menjodohkan mu dengan ku. Kalau kamu masih tidak tahu jawabannya, kamu bisa bertanya pada ku”. Katanya sambil berdiri dan kemudian turun meninggalkan Lula.


Lula masih berpikir apakah tindakannya sudah benar atau tidak. Ia takut menyakiti ayah dan ibunya. Mereka sudah banyak berkorban untuk lula selama ini.


Kemudian Lula mengambil Hp dan menelpon ayahnya.


Hallo, ayah. Lula mau ngomong bentar aja sama ayah.


Baiklah ayah ke atas sekarang.


Setelah ditelpon oleh Lula, Adam pamit dari Agus dan pergi untuk bertemu dengan Lula.


“kenapa lula masih disini?, Para tamu pada nunggu loh di bawah”. Kata adam ketika sampai di kamar Lula


“yah, aku bisa saja menerima pernikahan ini tapi dengan satu syarat”. Kata Lula sambil menggenggam tangan ayahnya


“syarat apa?, ayah pasti turutin”. Kata Adam antusias


“Tapi ayah janji gak boleh komen dulu, sampai lula selesai ngomong”. Pintanya


Adam mengangguk


“pertama, Lula gak mau kalau penyakit Lula di ketahui oleh keluarganya om agus bahkan Naufal juga. Yang kedua ayah yang harus sediakan rumah untuk Lula tinggal sama Naufal dan rumah itu harus ada ruangan yang hanya Lula aja yang tahu. Disitu nanti obat-obatnya Lula di simpan”.


“Tapi sayang, itu berbahaya. Siapa yang akan merawat kamu jika gak ada yang tahu”. Jawab Adam


“Ayah tahu lulakan, Lula bisa atasi sendiri Yah. Lula mohon”.

__ADS_1


“Baiklah, ayah akan turuti. Tapi kalau ada apa-apa kabarin ayah dan ibu. Janji”.


“janji”. Jawab Lula.


“ya udah, ayo kita ke bawah. Gak enak ditunggu sama orang-orang di bawah”.


Akhirnya Lula dan ayahnya turun dan duduk kembali seperti semula. Depan penghulu naufal dengan berat hati mengucapkan kalimat yang seharusnya itu kalimat yang akan dia ucapkan ketika bersama dengan kekasihnya jessy.


“gimana para saksi sah?”. Tanya pak penghulu


“sah”, jawab para tamu undangan.


Pernikahan itu selesai dan para tamu undangan mulai memberikan ucapan selamat pada keduanya, Naufal segera beranjak dari tempat itu dan menghampiri teman-temannya.


“bu, aku mau ke kamar”. Kata Lula pada Nisa


“ayok ibu antar”, jawab nisa


Tapi lula tidak mau diantar, dia ingin pergi sendiri.


“yakin, mau sendiri?”. Tanya ibunya


Lula tidak bisa lama-lama mendangi Naufal dari kejauhan, salah satu temannya Naufal menatapnya dari bawah. Laki-laki itu senyum menyapa Lula. Melihat itu Lula segera melangkahkan kakinya dan segera menuju kekamarnya.


"aku antar kamu pulang ya". tawar naufal pada jessy.


"jangan, aku bisa balik sama putra. iyakan put?". dia menarik tangan putra dan putrapun menatap Naufal.


"iyakan put?". tanya jessy lagi.


Putra tidak bisa bilang apa-apa kalau Naufal menatapnya seperti itu. tatapan itu bisa saja membunuh Putra.


"Jessy memang harus balik sama putra". ucap Doni tiba-tiba.


Naufal dan Putra langsung mengarahlan pandangan pada Doni. laki-laki itumalah menyapa tatapan mereka dengan senyuman hangat.


"jika kamu balik dengan Jessy, itu akan menimbulkan masalah. apa lagi bokap lo ada disini". jelasnya pada Naufal.

__ADS_1


apa yang di bilang Doni ada benarnya juga. tapi apa yang di sampaikan Doni membuat hati kecil Jessy kecewa. di hati kecilnya dia menginginkan Naufal mengantarnya pulang seperti dulu, tidak ada yang membatasi.


"Naufal kemari". panggil papanya.


"kami balik duluan ya". pamit Doni.


"Hati-hati ya, nanti aku telpon". katanya pada jessy.


jessy mengangguk sedih. tidak ada perempuan yang tidak sedih jika orang yang dia cinta menjadi milik orang lain.


"ada apa pah?".


"pak Adam mau bicara sama kamu". bisiknya.


Adam datang menghampiri Naufal dan papanya.


"gimana perasaan mu?". tanya Adam pada Naufal.


naufal sedikit bingung dengan pertanyaan itu.


"perasaan saya senang om". jawabnya


"ko om sih fal, pak Adamkan mertua mu". ucap papanya.


"hahaha, pelan-pelan saja jangan terburu-buru". jawabnya santai.


Naufal hanya tersenyum.


"Naufal udah punya rumah sendiri?". tanya Adam.


mendengar pertanyaan Adam, Naufal menatap pada ayahnya.


"iya Naufal punya ko pak Adam tenang". jawab Agus. dia tidak ingin mengecewakan besannya itu.


"sayang sekali, aku sudah menyediakan rumah untuk kamu dan Lula tinggal. sekarang lagi masa perbaikan dulu, paling 2 minggu lagi sudah bisa di tempati". ucapa Adam.


"ta..". Naufal ingin menolak untuk pindah dari rumahnya. tapi sayang papanya sudah memyetujui hal itu. jadi dia tidak bisa berkutip.

__ADS_1


"Tapi untuk sementara Lula akan tinggal di rumah mu yang sekarang. besok kamu bisa menjempuntnya pindah". lanjut Adam.


"Baiklah, saya akan menjemputnya besok". jawabnya, Naufal tidak bisa berpikir kalau hidupnya di kendalikan oleh keluarga Adam Malingi. benih-benih kebencian tumbuh dalam hatinya untuk gadis yang menjadi istrinya sekarang.


__ADS_2