My Pain Killer

My Pain Killer
Chapter Nine


__ADS_3

*Disini Aku Asing, menatap ruang kosong.


Tidak! Itu fikiran ku yang kosong.


Tiada yang bisa ku kenali,


Karena hati yang sulit menerima


Diriku asing begitu pula km bagiku.*


"non, ini mau langsung di antar ke kamar", ucap bibi yang membuat Lula tersadar atas lamunannya.


"eh,, iya iya..." jawabnya dengan gugup.


Setelah mendengar jawaban lulu, wanita itu langsung menyuruh seorang pria yang kemungkinan juga pekerja disini. Mereka berdua menuju kamar yang ada di lantai dua. Sedangkan lula hanya terdiam terpaku ditempat tadi, dia tidak tau harus apa, dipikirannya apakah dia harus duduk di sofa yang ada didepannya ataukah harus mengikuti kedua orang tadi naik ke lantai dua.


Tidak lama, wanita tadi turun dan bertanya "non, mau minum apa?, atau non mau sesuatu?".

__ADS_1


sekali lagi lula menjawab dengan gugup "aduh,,, gak u..usah. Sa.. Saya gak haus".


Dan iapun malah bertanya "owh iya, saya harus kemana ya". Tanyanya hati-hati.


Mendengar itu, iyam heran dan bingung atas pertanyaan itu.


"non, mau istirahat ya?" tanya iyam. Untung saja bi iyam langsung peka, ia ngerti apa yang dimaksud lula.


Lula hanya mengangguk, ia sekarang hanya ingin istirahat saja karena kakinya udah pegal kaya mau patah akibat berdiri terlalu lama.


"ya udah, sini saya antar non", bi iyam langsung membawa Lula ke atas dan menunjukan salah satu ruangan yang akan menjadi kamarnya sekarang sampai rumah yang di sediakan oleh ayahnya siap untuk ditempati.


Iyam langsung turun kebawah.


"iya. Bi." jawab lula singkat.


Lula membuka perlahan pintu kamar itu, dan ia sangat kagum dengan ruangan yang begitu rapi dan tertata, bersih dan wangi. kamar ini sangat jauh berbeda dengan kamarnya yang sangat tidak teratur, barang dimana-mana.

__ADS_1


dia membuka satu persatu pintu lemari dan sekali lagi dia takjub dengan pakaian yang tertata rapi didalamnya. Sampai ia berpikir ko bisa gak ada satupun baju yang terlipat gak rapi, atau bekas pakaian yang di angkat, atau bahkan pakaian yang di gantungpun sangat simetris gak ada yang miring sama sekali.


"inikan lemari udah penuh semua, trus baju ku simpan dimana?". Bisiknya.


"Buat baju aja gak ada, gimana buat simpan obat obat ku ini ya, aku harus cari tempat yang aman buat simpan ini". Lanjutnya.


Lula sibuk mencari tempat buat dia sembunyiin obatnya untuk sentara, sampai sampai dia tak sadar kalau Naufal membuka pintu.


"jangan sekalipun km berani membuka laci itu!", ucap naufal sambil mengibas tangan lula dari laci itu.


mendapatkan hal itu, lula sampai gemetar dan tidak menyangka Naufal buat hal itu kepadanya.


"Udah bagus aku izinin km masuk kerumah dan bahkan secara terpaksa km harus tidur dikamarku, tapi satu hal yang harus kamu tau, jangan sentuh barang yang ada didalam ruangan ino seenakmu". bentaknya dengan menatap lula dengan tajam.


Lula hanya terdiam dan mengangguk, dia tidak tahu harus jawab apa, ini kali pertama dia perlakukan seperti itu oleh orang. saat ini dia merasa sakit hati, tanpa sadar dia berkeringat. Dan itu tanda awal gejala penyakitnya mulai muncul.


"Ingat ya!". Tegasnya lagi. dan kemudian ia leluar dari kamar itu lagi.

__ADS_1


Setelah mendengat pintu kamar tertutup kembali, lula langsung berlutut dilantai sambil mengatur napasnya, dia takut kalau penyakitnya kambuh lagi, ini bukan waktu yang tepat.


__ADS_2