
Sesaat Febry siuman, tapi dia hanya memanggil-manggil ibunya sambil menitikan air mata dengan mata tertutup.
"Bunda....Bunda.... Jangan tinggalin febry, Febry kesepian Bun. " hanya kata-kata itulah yang terus ia ucapkan. Ayahnya yang menjaganya di sisi barankar terkejut dan juga sedih, saat mendengar kata-kata yang diucapkan putrinya. Ia memegang tangan Febry lalu mengecupnya dengan lembut
" Feb, Bunda udah tenang disana. Febry jangan nangis lagi ya... Ayah selalu ada buat Febry, Ayah janji gak bakal ninggalin Febry. Ayah bakal gantiin Bunda buat nemenin Febry, Ayah janji sayang"
itulah kata-kata yang diucapkan oleh Ayahnya, kata-kata itu disertai deraian air mata dan rasa sedih yang mendalam.
Febry menatap ayahnya saat mendengar kata-kata itu, dia tersenyum lalu kembali tertidur. Melihat senyum anak tersayangnya tersenyum, ia mengusap air matanya lalu tersenyum sambil mengelus rambut anaknya.
Hari - Hari berikutnya, kondisi Febry makin membaik dan diizinkan untuk keluar rumah sakit. Febry merasa senang bisa pulang, ia tak sabar untuk bertemu teman -temannya.
Saat dirumah Febry selalu nampak girang bahkan nafsu makannya bertambah, lama - kelamaan berat badan Febry naik hingga ia terlihat gemuk. tapi Febry tdk mempermasalahkan itu, ia tetap senang dengan kehidupannya yang sekarang.
Tapi dia tidak tahu, kalau orang - orang disekitarnya mulai berubah sedikit demi sedikit kecuali Ayahnya. Teman - teman sekelasnya mulai menjauhi dan mengejeknya, yang tetap setia menemaninya hanyalah Sinta.
~
Sinta berjalan mendekati Febry, lalu berjongkok didepannya. Febry ingin memeluk Sinta, tapi tangannya di tepis oleh Sinta. Febry terkejut, terlebih lagi pandangan mata Sinta terhadapnya seperti sedang meremehkan.
"Jangan coba - coba buat nyentuh gue, entar gue ketularan jelek, lagi....cuih!" Tegas Sinta sambil menunjuk wajah Febry.
Lalu sinta berdiri, berjalan menuju Rangga sambil tersenyum manis. Ia memeluk Rangga dengan sangat erat ,begitu juga sebaliknya. Rangga membalas pelukan Sinta dengan kehangatan.
"Sayang, aku kangen. udah lama kita gak ketemu, itupun kalo ketemu harus sembunyi - sembunyi. kan gak enak " keluh Sinta saat melepaskan pelukannya dari Rangga.
__ADS_1
"iya sayang, aku juga. mau gimana lagi, ini kan buat kamu juga. " jelas Rangga dengan nada lembut pada Sinta.
Sedang Febry yang dari tadi mematung, tidak menduga akan hal ini. sahabat yang ia percayai mengkhianati nya, begitu pula tunangannya.
'Apa, sayang ?. apa yang sedang mereka bicarakan? kenapa aku tidak mengerti apapun? ' Febry bertanya - tanya pada dirinya sendiri.
tubuh Febry mulai bergetar, airmatanya tak kunjung henti. bahkan semakin deras. Dadanya sesak, ia sulit bernafas. ia mencoba bangkit, tapi tak sanggup. seluruh badannya lemas tak bertenaga. ia hanya menangis sesegukan di lantai ruangan.
Mendengar tangisan Febry, Sinta mulai mendekat lalu menjambak rambutnya.
"Lu bisa diem gak sih?!, gue tuh lagi melepas rindu ama pacar gue! " teriaknya pada Febry.
"Pacar?, ta...tapi kan dia timbanganku. " jawab Febry dengan isaknya sambil menahan sakit Karna jambakkan Sinta.
'I...i....ini gak boleh dibiarin!. aku harus kasih tau Ayah, iya.... aku harus nelpon Ayah! ' pikir Febry sambil merogoh sakunya untuk mengambil smartphone miliknya. ia mulai mengotak-atik dan menekan nomor Ayahnya. tak lama setelah itu....
tut....
tut....
Ayah : "Hallo Feb, knpa sayang?"
"Hallo Ayah .... Ayah ak-"
kalimat Febry terpotong, Sinta menutup mulutnya dengan cepat. Rangga langsung merebut smartphone milik febry, dan memutuskan panggilan secara sepihak.
__ADS_1
Rangga beralih menatap Febry yang berdiri ,sambil menundukkan setelah mulutnya tidak lagi dibungkam. Wajah Rangga memerah karena emosi, ia langsung menampar wajah Febry. lalu menambal rambutnya, menyeretnya ke dalam kamar mandi. melemparnya kasar ke arah bak mandi, alhasil kepala Febry terbentur dan mengeluarkan darah yang banyak.
Tak hanya sampai situ, Rangga menyalakan kran lalu menyiram wajah Febry dengan air dingin tanpa henti. mereka belum juga puas, Sinta lalu mencelupkan kepala Febry ke bak mandi.
Febry berkali - kali mencoba untuk memberontak Karna hampir kehabisan nafas. Sinta terus mencelupkan kepala Febry ke air sambil tertawa puas sedangkan Rangga melihat di ambang pintu dengan senyum.
sampai Febry berhenti memberontak dan tak bergerak. Tawa puas dari Sinta mulai berhenti, saat dia sudah tidak merasakan pergerakan dari Febry. ia takut, dan mulai cemas. ia beralih menatap Rangga yang juga merasa cemas.
Rangga memeriksa nafas Febry, ternyata Febry meninggal. Rangga panik, keringat mulai bercucuran di keningnya. ini pertama kalinya dia terlibat pembunuhan.
"Aduh.... ini gimana, dia udah meninggal. aku gak mau dipenjara,aku masih mau nikmatin kekayaanku. " panik Sinta sambil menatap Rangga.
Rangga hanya diam sambil berfikir, dia tidak menghiraukan perkataan Sinta.
seketika Rangga terpikirkan sebuah ide. Ia mulai mengolesi sabun pada lantai, dan juga pada telapak kaki Febry. lalu ia segera menelpon ambulans dengan nada cemas.
Sinta bertanya - tanya, apa yang sedang Rangga lakukan. lalu ,melihat gerak gerik yang dilakukan oleh Rangga, Sinta mulai mengerti. Ini akan jadi kasus Kecelakaan, bukan pembunuhan. dengan adanya bekas sabun di lantai dan kaki Febry, dan jika polisi mengotopsi ,polisi akan mengira kalau Febry terpeleset, kepalanya terbentur dan jatuh ke dalam bak mandi. Rencana ini pasti akan berhasil.
Sinta pun mulai berakting, mengeluarkan air mata Buayanya. mencoba agar matanya benar - benar sembab. tidak lama dari itu, suara sirene ambulans terdengar bergegas. perawat mulai naik dan masuk ke ruang menejer milik Rangga.
Mereka membawa mayat Febry ke Rumah Sakit untuk melakukan autopsi. Rangga menghubungi Ayah Febry dan mulai berakting lagi, tak butuh waktu lama. Ayah Febry datang dengan wajah panik dan cemas. saat Rangga ditanyai mengenai kondisi Febry, Rangga mulai menangis memeluk ayah Febry dan mengatakann kalau Febry tidak bisa diselamatkan tepat waktu.
Ayah Febry terdiam, dadanya sesak, sedih, dan perih yang pernah ia rasakan, kini menyerangnya kembali. ia menangis dan langsung menuju rumah sakit tempat mayat Febry berada. Anak satu-satunya miliknya kini diambil oleh Tuhan, ia merasa sudah tidak sanggup lagi berbuat apa - apa. Pertama istrinya, sekarang putri tunggalnya juga diambil. ia merasa ini sungguh tidak adil , mengapa takdir sangat kejam padanya.
Polisi mulai datang untuk memeriksa TKP, lalu menginterogasi para saksi termasuk Sinta dan Rangga. saat ditanyai, mereka menjawab sesuai dengan rencana yang sudah mereka susun. polisi langsung membebaskan mereka karna tidak ada bukti bahwa ini adalah pembunuhan atau bunuh diri, ini dinyatakan oleh pihak polisi Real kasus kecelakaan.
__ADS_1