
Ngapain lo?" Tanya orang itu.
"Ng ng nggak, nggak ada kok. Nggak ngapa"in, gue." Jawab gue gelagapan. Dia cuman diam dengan wajah datar nya itu dan juga tatapan tak percaya. Melihat hal itu, gue cuman bisa menghela napas. Karna, dia emang nggak pernah bisa dibohongin.
"Hah, iya-iya gue ngaku, nih. Gue bercanda ama Andin, eh~ dia nya malah nganggap serius dan marah." Elak gue. Sekali lagi, wajah datar, tatapan curiga, dan alis nya yang terangkat sebelah, udah cukup untuk bukti bahwa dia nggak percaya sama perkataan gue.
"Gue bilang ke Andin kalau dia itu c*r*t, itu aja kok." Jawab gue enteng.
"Mira," panggil dia.
"HM~, apa?" Jawab gue sedikit meninggi, garis bawah, sedikit.
"Cepat atasi kemarahan Andin!" Titah dia.
"Ih, napa harus gue, sih??" Tanya gue yang nggak mau ketemu Andin untuk saat ini.
"Aku bakal temenin kamu." Jawab dia cepat.
"O.K." balas gue.
Dia pun ikut masuk lift dan turun bareng gue kelantai 1.
๐ผ๐ผ๐ผ
Pintu lift terbuka, menampakkan sosok Andin dengan tatapan membunuhnya (btw, serem amat yak, Andin marah๐). Glek... susah payah gue nelan saliva. Gue natap dia, takut-takut kalau dia bohong dan ninggalin gue.
__ADS_1
"Oi, ini seriusan nggak sih." Bisik gue kedia. Bukannya jawab, dia cuman natepin gue dengan tatapan tajam. Yah, udah cukup sih sebagai jawaban. Sekali lagi, gue cuman bisa menghela napas.
"Oke, fine. Gue pergi." Ucap gue dengan jantung yang serasa mau meledak ini.
"A Andin, kk." Panggil gue, dan lalu dia berbalik natap gue. Dan, saat dia mau mukul gue, gue langsung angkat tangan kedia dan meminta maaf.
"A ampun, ampun kk Andin. Aku tadi cuman bercanda aja, lho! Nggak ada maksud lain, beneran!" Bilang gue dengan mengacungkan ibu jari dan jari tengah gue membentuk huruf 'V'. Mendengar hal itu, gerakan tangan Andin yang tadi mau mukul gue berhenti (walaupun wajah nya masih nyeremin).
"Hehe, kk Andin kan baek, cakep, murah hati, rendah hati, dermawan, kaya, punya segalanya dah, pokoknya. Hehe, ya ya ya ya ya ya..." puji gue ke Andin sambil nampilin puppy eyes gue biar dia mau maafin gue. Jangan lupakan kedua telapak tangan gue yang sedari tadi menyatu, memohon maaf.
"Ampun, ni anak kesambet setan apaan dah? Bingung gua." Batin Andin.
"Hah, iya iya. Gue maafin lo kali ini, lo kira gue nggak tau. Kalau dia ada dibelakang lo dari tadi." Balas Andin dengan melirik sekilas kearah belakang gue.
"Hehe." Sambil nampilin deretan gigi putih gue. Dia pun muncul, nunjukkin dirinya didepan Andin.
"Iya iya, bilangin Mira juga! Jangan buat masalah untuk gua, atau nggak akan ada maaf lain kali." Balas Andin dengan wajah kesal nya, jantung gue mah, jan ditanya, udah tenang gegara ada dia. Andin pergi, dia mengambil jaket kulit warna hitam nya.
"Hehe, makasih Mika. Untung~ aja ada lo, coba kalo nggak, bisa abis gue." Ucap gue ber terima kasih. Yah, dia adalah Mika.
"Hm." Balas nya singkat. Mulai deh, penyakit dingin nya.
Mika pergi dan nggak lama nya gue dapet telpon.
Via telpon on*
__ADS_1
(Halo, Mira.)
(Ya, halo. Siapa?)
(Ini gue. Gimana kaki lo? Udah baikan?)
(Oh, udah kok udah. Sekali lagi makasih, ya.)
(Iya, sama-sama. Kalau terasa sakit lagi, bilang ke gue, ya! Biar gue obatin.)
(Hah? Iya! Iya iya.)
"Kyaaa, dia perhatian banget ma gue. Kalo gini mah, masih ada 'kesempatan'." Batin gue sambil tersenyum girang menahan gejolak di dada.
(Kamu kenapa, Mira? Kok ngulangin jawaban kamu terus?)
(Nggak, nggak ada. Gue gapapa.)
(Oh, ya udah. Gue mati'in dulu ya, telpon nya!? Nyokap udah manggil, soalnya.)
(I iya iya, dah~)
(Iya, da)
"Kyaaa, dia manis banget sih. Oh My God, so sweet!!! Kalo gini mah, gimana nggak cinta, coba." Monolog gue sambil loncat-loncat ditempat, kegirangan.
__ADS_1
...Siapakah yang menelpon Mira?...