
Kau mungkin berpikir bahwa dirimu hanya sekedar tertarik padanya, tetapi rasa ketertarikan itu mengisyaratkan sebuah kata cinta.
》Alena Priscillia Charletta Atmajaya《
Dan, hening! Tidak ada pergerakan, rasa sakit, juga amarah, Alena pun memberanikan diri untuk membuka mata dan mendongak sedikit keatas untuk melihat wajah orang yang 'menangkap' nya itu. Tampan, dengan tatapan dingin juga tangan kanannya yang masih setia dipinggang Alena, yang entah kenapa terasa nyaman. Hingga, dia mulai membuka suara.
"Sampai kapan lo mau natap gue terus kek gini?" Tanya nya dengan mata dan suara yang dingin, juga sebelah alis yang terangkat.
Degh, Alena pun terkejut dan langsung menarik diri hingga beberapa meter kebelakang. Lalu mulai menunduk malu sambil minta maaf.
"Ma..maafin aku, aku benar-benar nggak sengaja" ucapnya sambil tetap menunduk malu dan memejamkan matanya takut.
"Hm" seru nya yang diakhiri dengan sekilas senyuman tipis yang kemudian kembali menjadi datar.
Mendengar deheman yang menandakan bahwa ia telah memaafkan nya itu pun seketika berhasil membuat Al tenang dan akhirnya mengangkat kepala nya.
"Eh, kalian anak baru ya?--" tanya nya terpotong, kala teman nya yang satu lagi menimpali dengan 'pernyataan' atau alasan dari 'pertanyaan' nya.
__ADS_1
"Soalnya, kita nggak pernah ngeliat kalian disekolahan ini."
"Iya, kita murid pindahan, napa?" Ucap Mira sambil memutar bola mata nya malas akibat pertanyaan nggak penting, yang menurut nya hanya sekedar basa-basi itu. Dan, jangan lupakan nada jutek nya itu.
"Aelah, kasar bener mbak. Baek-baek dikit, napa???" Balas nya yang pertanyaan nya sempat kepotong oleh kembaran nya itu. Yah, kembaran! Karena, wajah mereka berdua tidak dapat dibedakan. Yang dapat membedakan mereka hanyalah tinggi nya.
"Emang napa, ada masalah? Ya serah kita lah mau ngomong apa, mulut-mulut nya temen gue, bukan lo. Jadi, nggak usah protes" ucap Andin yang ikut angkat suara untuk membela sahabat nya itu.
"Hah... kalian kayak anak kecil." Kata teman ketiga nya, yamg juga ikut angkat suara setelah diam sedari tadi.
"Sedangkan, yang ada disamping kanan nya Raka adalah Galang Arthur Alexander, dia anggota osis dan juga basket. Dan, yang disamping nya Galang, Gilang Arthur Alexander, dia juga anggota osis dan basket sama kayak saudara kembar nya Galang." Ucap nya memperkenalkan diri beserta ketiga teman nya itu.
"Dan, kalian masuk ke kelas yang sama dengan gue, yaitu kelas XI IPA-2, ayo kita masuk, bentar lagi bunyi bel" serunya memberitahu.
"Bentar, kita nggak perlu kenalin diri ya?" Mereka hanya menggeleng pelan sebagai jawaban. Mereka pun pergi tapi mata Alena terus tertuju pada Raka.
"Apakah aku sedang jatuh cinta? Ah, entahlah. Yang ku tau, saat ini aku sedang merasa tertarik padanya." Batin Alena tersenyum manis.
__ADS_1
Yah, tanpa disadari saat ini mereka sudah berada didepan kelas. Alena dan ketiga temannya pun masuk ke kelas, mengikuti mereka berempat.
Dan, lagi-lagi semua mata tertuju pada Alena dan sahabat-sahabat nya itu. Seperti biasa, Alena memilih untuk berpura-pura tak menyadari semua itu. Dan, memilih duduk dibangku kosong dipaling ujung, yang ternyata berdekatan dengan bangku keempat orang tadi. Tanpa sadar, sepasang mata sedang memperhatikan Alena sedari tadi.
Karena merasa risih, Alenapun memutuskan untuk melihat kearah orang tersebut yang ternyata adalah Raka. Terkejut, tapi juga senang. Itulah yang ia rasa saat ini. Tapi, sebisa mungkin dia mengendalikan senyum nya. Kenapa?! Tentu saja, karena dia sedang berakting menjadi gadis pemalu, pendiam, dan penakut, juga lemah pastinya dan..tidak ingin dianggap sok tahu. Karena bingung diperhatikan terus sedari tadi, Alena pun bertanya padanya.
"Kenapa, Ka? Ada yang salah dengan muka aku?" Tanya Al dengan wajah polos.
"Eh, nggak. Nggak apa-apa, gue cuman heran aja." Jelas nya.
"Eh, heran kenapa, Ka?" Tanya Al lagi.
"Ya, heran. Soalnya, lo keliatan nggak asing dimata gue. Kita pernah ketemu, ya? Atau, pernah papasan secara nggak sengaja?" Tanya Raka pada Alena. Alena pun tersadar bahwa, yang sedari tadi menarik perhatian nya adalah wajah Raka yang terasa familiar.
Tapi, siapa dia??? Dan, kenapa terasa tidak asing? Apakah Alena pernah melihat nya disuatu tempat? Tapi, dimana??? Begitulah pertanyaan yang muncul di otak Al, hingga sebuah teguran menyadarkan dia dari lamunan nya.
"Woi, melamun aje lu. Napa? Lo naksir ya, ama si Raka?" Tegur orang itu.
__ADS_1