
Tanpa sadar kau berharap, pada dia yang tak mau diharapkan.
《Alena Priscillia Charletta Atmajaya》
"Oh, berarti ada dua, dong. Elo dengan si Mira ya, kan!? Soalnya cuman kalian berdua yang marga keluarga nya sama-sama Atmaja--" balas Raka lagi menimpali.
"Pfft, bukan gitu Ka." Ucap Alena sambil tertawa kecil disertai dengan jemari lentiknya yang menutupi bibir bawah nya juga suara lembut nan merdu nya yang menggetarkan hati.
Degh... merah menghiasi wajah seorang Raka William Bramasta, pria yang dingin ini berhasil dibuat terpana oleh Alena Priscillia Charletta Atmajaya.
"Hm? Kamu kenapa Ka? Kok, mukanya nge-blush gitu?" Tanya Alena bingung beserta wajah nya yang polos, yang membuat Raka benar-benar ingin membungkus nya untuk dibawa pulang. Gemezzz.
"Ah, nggak kok Al. Aku nggak apa-apa, cuman... em... cuman..." ucap Raka sambil menjeda dan mengulang kalimat yang sama.
"Cuman apa, Ka?" tanya Alena lagi deanng wajah polos dan suara lembut nan merdunya itu, yang tentu saja membuat Raka sekali lagi terpana.
"Ka? Raka?"
"Eh, iya? Ah, em, i itu.. anu...em, ah, iya. Tadi kata kamu 'nggak gitu juga' maksudnya apa, Al?" Jawab Raka gelagapan sesaat setelah ia tersadar.
"Oh, jadi gini. Ayah aku kakak dari ayah nya Mira, makanya marga kita sama-sama Atmajaya. Tapi, status kami cuman sepupu, kok." Jelas Alena panjang × lebar (walaupun, nggak panjang-panjang juga).
"Oh, gitu. O.K., aku paham sekarang." Balas Raka yang mulai paham.
Tak terasa, hari mulai gelap. Matahari pun perlahan menghilang ditelan kegelapan malam. Dan kedua sejoli yang sedari tadi asik berbincang, mulai beranjak dari tempat mereka duduk, dan berjalan menuju mobil.
🌼🌼🌼
Saat mereka sudah menemukan mobil yang dicari, mereka pun menaiki nya. Dan, selama diperjalanan hanya ada kesunyian. Raka yang fokus pada jalanan, dan Alena yang menikmati kesunyian ini. Satu jam perjalanan, kini mereka berhenti ditempat tujuan. Apalagi kalau bukan, mansion Atmajaya. Raka pun turun dari mobil nya dan berlari kecil menuju pintu mobil tempat Alena akan turun. Dan, dengan lihai Raka membukakan pintu sambil tersenyum, dan mengulurkan tangan nya bermaksud memandu Alena turun dari mobil.
"Silahkan turun, my princess." Ucap Raka seraya mengulurkan tangan nya sambil tersenyum simpul.
"Hm, ah! Baiklah, my prince." Balas Alena sambil menerima uluran tangan Raka dan menggenggam nya erat sembari turun dari mobil. Dan, jangan lupakan senyum manis yang menghiasi bibir Alena saat ini.
"Kalau gitu, sampai jumpa besok, ya."
"Lho, kamu nggak mau mampir dulu?"
"Hm, nggak deh, kayaknya. Soalnya, ini udah malem juga dan, kasian temen aku nungguin dirumah."
"Oh, yaudah deh, kalau gitu. Dah, hati2 dijalan, ya!" Jawab Alena dengan sedikit berteriak, akibat mobil Raka yang perlahan melenggang pergi.
Alena Pov*
Skip didalam mansion Atmajaya.
__ADS_1
"Acie, yg hati nya lagi berbunga karena baru pulang kencan." Seru Andin yang sepertinya sadar akan senyuman ku yang tak bisa berhenti ini.
"Ih, kok gitu, sih. Aku nggak kencan! Aku cuman..."
"Cuman apa? Cuman menikmati kenangan indah bersama nya, gitu!?" Seru Andin lagi, memotong ucapan ku tadi
"Andin, stop it. O.K.!?" Balas ku lagi dengan sedikit nyaring, tak mau kalah tentunya.
"Indin, stip it. I.K.!?" Balas nya lagi meniru gaya bicara ku dan dengan nada lebay+alay.
"AN--"
"Berhenti, lo jangan gangguin Alena lagi. Kasian dia, capek baru pulang. Yaudah, deh Al. Lo istirahat aja" lerai Mika.
"Hadeh, budak nya Alena. Iye, deh. Gua diam, kasian juga, sih ama tu anak." Balas Andin sambil tersenyum mengejek pada ku.
"Makasih ya, Mik. Aku istirahat dulu, dikamar." Ucapku berterima kasih sambil menunjuk kearah lantai 2.
"Hm" balas Mika derdehem.
~skip~
Pagi hari pun tiba, matahari muncul entah darimana, suara merdu dedaunan yang terhempas angin, burung-burung berkicauan indah, dan cahaya menyilaukan matahari menembus kamar seseorang dari sela-sela gorden, yang membuat seorang gadis cantik yang sedang tertidur pulas merasa terganggu. Membuat nya, mau tidak mau harus membuka mata nya yang indah itu.
"Nyonya muda, anda harus bersiap untuk berangkat sekolah." Ucap salah satu maid yg ada disana.
"Sekarang sudah jam 06.00 pagi, nyo.nya!" Jawab gadis lain yang baru tiba dengan menirukan gaya bicara pelayan tadi disertai 'penekanan' pada kata 'nyonya' sambil mengenakan seragam high school nya dan kedua tangan yang dilipat didepan dada, ala bossy.
"Oh!" Gadis yang baru bangun tidur itu hanya ber 'oh' ria.
"Alena!" panggil gadis itu. Yap! Gadis yang baru saja bangun tidur itu adalah Alena.
"Andin!" Seru Alena padanya. Dan, yah! Gadis yang mengganggu nya tadi ialah Andin.
"Siap-siap sana, jan sampe telat!" Perintah nya pada Alena.
Sedangkan, pelayan yang lain sibuk membersihkan kamar Alena sambil membantu Alena bangun dan bersiap-siap.
"Pfft, iya-iya" jawab Alena mengiyakan perintah Andin sambil tertawa kecil. Alena pun bangkit dan berjalan menuju ruang ganti nya.
~Skip disekolah~
Mereka pun sampai disekolah bersamaan dengan Raka dkk.
"Hai, Andin. Pa kabar?" Sapa Galang.
__ADS_1
"Baek, lo?" Balas Andin sekaligus bertanya.
"Hm, sama" jawab Galang.
"Acie, ada yg lagi PDKT, nih!" Seru Mira yang mulai mengganggu.
"Lo---" ucap Andin yang langsung dipotong oleh Mira.
"Kemaren Alena, sekarang curut ama curut. Mang cocok!" Seru Mira menimpali perkataan Andin.
"Iya, ya. Mang cocok mereka, curut ama cur---" ucap Gilang yang dijeda nya karena baru menyadari sesuatu.
"Eh, bentar! Kek nya ada yang aneh, nih. Curut ama curut berarti, Andin ama Gal---" ucap nya lagi menjeda kalimat terakhir nya kala menyadari sesuatu untuk yang kedua kali nya. Sambil menampakkan muka bobrok nya itu.
"Berarti lo juga ngatain gue curut, dong! Soalnya kan, gue ama Galang kembar!"
"Emang! Wkwkwkwk" jawab Mira dengan membenarkan pernyataan Gilang sambil tertawa pecah. Sedangkan, yang lain sudah pergi kekelas meninggalkan kedua orang yang haqiqi ini.
"*nj*ng, lo!" Umpat Gilang karena kesal.
"Daripada lo, b*b*. Ahahahahaha" balas Mira lagi sambil tertawa terbahak-bahak, kali ini tawanya bahkan sangat nyaring hingga terdengar oleh murid disekitar parkiran sekolah itu dan bahkan membuat perut nya sakit dan ingin menangis akibat terlalu banyak tertawa.
"Lo, *d*n!" Balas Gilang lagi tak mau kalah.
"Lah, lo nya aja S*t*n. Ahahahah" seru Mira lagi menimpali.
"Serah lo dah, mending gue kekelas. Nggak ada faedah nya gua adu mulut ama lo, yang ada bisa gila gua dibuat lo." Pasrah Gilang akibat teman haqiqi nya itu.
"Ahahah, ok ok. Yuk, kita kekelas. Jangan ngambek lagi ya, oke?" Ucap Mira sambil meletakkan tangan kiri nya dipundak Gilang disertai jari kelingking nya yang diarahkan ke Gilang.
"Hm, iya" balas Gilang melirik kearah tangan Mira sambil mengaitkan jari kelingking nya dijari kelingking milik Mira.
"Aduh duh, tayangku ngambek, nih! Jan ngambek lagi dong, ya! Yayayayaya!" bujuk Mira.
"Hm, iya-iya. Hadeh! Mau apa, lo?" Tanya Gilang lagi.
"Gue? Mang gue mau apa?" Tanya Mira bingung dengan wajah cengo nya juga jari telunjuk nya yang ia arahkan tepat kedepan wajahnya.
"Lo pikir gue nggak tau, gituh!? Gue tau ada yang lo mau dari gue, cepat kasih tau" balas Gilang lagi.
"Hah, emang ya. Nggak ada yang bisa gue sembunyiin dari lo, gue minta nomor telepon 'dia' dong!" Balas Mira mengakui.
"Dia? Dia siapa?" Tanya Gilang bingung dengan wajah cengo nya itu.
"Dia, yang ngomong cuman pas diperluin itu, lho. Yang selalu ada disamping Raka, Nico siapa~ gitu!" Jawab Mira tampak berpikir.
__ADS_1
Siapakah yang Mira maksud?