
Sekali lagi aku melihat penampilan ku di depan cermin. Cantik. Pujiku pada diri sendiri. Keputusan ku sudah bulat, aku akan kembali memperjuangkan Myungsoo bagaimanapun caranya dan pasti akan menjauhkannya dari gadis bernama Yoon Sohee itu.
"Pagi.." Sapa ku pada ibu dan Jungkook yang tengah menikmati sarapan mereka.
"Noona kau baik-baik saja bukan? Kenapa kau terlihat begitu senang? Tentu kau masih waras kan?" Jika saja aku tidak dalam mood yang baik pasti sudah ku hajar bocah satu ini dan menyumpal mulutnya dengan roti isi yang ada di depannya itu tapi untung saja aku sedang baik hati saat ini.
Ku cubit kedua pipi Jungkook lalu ku tarik ke arah yang berlawanan, tidak peduli jika dia mengaduh kesakitan yang penting aku gemas melihatnya.
"Kau tenang saja, Noona mu ini baik-baik saja bocah nakal."
Setelah puas mencubit pipi bocah itu, aku duduk di kursi dan memakan makanan ku. Jungkook masih memegangi pipinya yang merah akibat cubitan ku, senyum kecil terulas di wajah ku melihat hal itu. Walau tidak di hajar tapi sepertinya ini lebih buruk dari pada di hajar. Maafkan Noona mu ini ya Kookie.
Selesai sarapan, aku langsung bergegas berangkat ke sekolah karena ada hal lain lagi yang harus aku lakukan. Aku berlari mengejar bus yang akan membawaku lebih cepat kesekolah dibanding harus berlari dan hanya akan menghabiskan tenagaku saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sesamapinya di sekolah, aku masih harus berlari lagi menuju kelas, aku harap Myungsoo masih belum datang atau setidaknya dia belum masuk kedalam kelas. Mulutku tak henti berkomat-kamit seolah membaca mantera.
Nafasku memburu ketika samapi di dalam kelas namun rasa lelah ku itu terbayar dengan melihat meja Myungsoo yang masih kosong, hanya ada Woohyun disana yang tengah sibuk membaca buku. Saatnya beraksi.
"Woohyun-aa, bisakah kita bertukar tempat? Aku sedikit ada masalah dengan pengelihatan ku dan akan sangat sulit jika aku duduk di belakang." Ucap ku sok melas pada Woohyun. Ku harap dia mau pindah.
Woohyun terlihat berpikir keras, kuharap dia tidak menolak. "Baiklah, aku juga ingin sesekali duduk di belakang."
Yes. Aku bersorak senang dalam hati. "Gumawo Woohyun-aa."
"Ne."
Woohyun mulai mengemasi barang-barang nya kemudian diapun pindah kebelakang. Akhirnya, rencana awal berjalan lancar, tinggal lihat bagaimana reaksi Myungsoo. Aku sudah memberitahu Jieun tentang pertukaran tempat duduk ini dan dia setuju, duduk dengan ku pasti membuatnya tidak bisa konsen. Yah maklum, aku ini banyak tingkah dan tidak bisa diam.
Aku duduk dengan tidak tenang, sesekali melihat pintu masuk melihat sosoknya yang tak kunjung datang, bahkan ini hampir bel tapi dia tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Apakah mungkin dia tidak datang atau sedang sakit? Oh ayolah, aku sudah mempersiapkan diri tapi kenapa malah seperti ini.
Aku mengalihkan pandangan ku pada pintu masuk kemudian menghela napas panjang. Sia-sia saja aku bangun pagi, berlari samapi kelelahan dan mencoba membujuk Woohyun agar pindah tapi malah ini yang aku dapat. Menyebalkan.
"Jiyeon-ah?" Aku langsung mendongak seketika saat mendengar seseorang memanggil namaku. "Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau duduk di tempat Woohyun?" Ini pertama kalinya dia mengajak ku bicara setelah kejadian beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
Aku menggaruk kepala ku dan tersenyum bodoh. "Itu... Itu karena aku tidak kelihatan dengan jelas tulisan di papan, jadi... Jadi aku meminta bertukar tempat dengan Woohyun." Kenapa aku jadi gugup begini. Ya tuhan, kenapa Myungsoo menatap ku seperti itu? Dia benar-benar berubah dan tidak sama lagi seperti Myungsoo yang dulu.
"Owh.. Sungyoon-a! Apa tempat di sebelah mu itu kosong?" Aku menatap Myungsoo tidak percaya, dia bahkan tidak mau satu tempat duduk dengan ku lagi. Hati ini rasanya benar-benar sakit ketika melihatnya memilih duduk bersama Sungyoon dan mengabaikan diriku begitu saja. Senyum yang tadi terpatri Indah lenyap begitu saja dalam sekejap. Secara tidak langsung Myungsoo telah menolak ku.
Aku menghela napas panjang. Tidak, aku tidak boleh menyerah hanya karena hal seperti ini, bahkan dulu aku telah memperlakukan Myungsoo lebih buruk dari pada ini. Ini tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan apa yang telah aku lakukan dulu. Jiyeon kau tidak boleh menyerah, kau harus tetap semangat. Tidak peduli seberapa banyak Myungsoo menolak mu, kau harus tetap berjuang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bel tanda istirahat telah berbunyi, aku langsung membereskan buku-buku ku dan juga teman-teman nya. Aku harus segera menghampiri Myungsoo sebelum gadis itu.
"Myungsoo, kajja kita ke kantin." Ajak ku dengan ramah berharap dia akan luluh dan mau pergi dengan mu.
"Mian, aku harus pergi ke ruang guru, lain kali saja." Lagi-lagi Myungsoo meninggalkan ku begitu saja.
"Mau aku temani." Aku mencoba mendekatkan diri kepadanya yang terlihat begitu terburu-buru.
Aku berjalan lemah menuju kantin seorang diri. Jieun tengah sibuk berduaan dengan Yeoseb meninggalkan ku. Aku mulai berpikir bahwa semua ini hanya sia-sia saja, Myungsoo benar-benar tidak melirik ku sama sekali bahkan dia terkesan menjauhi ku. Apakah sekarang dia membenci ku? Aish, memikirkannya membuat kepalaku pusing sendiri.
Tuk.
"Aww.." Ringis ku sambil memegangi kepala yang baru saja di jitak orang. "Yak! Sakit bodoh!" Kesal ku pada sosok yang tengah berdiri tanpa dosa dihadapan ku dengan senyuman bodohnya.
"Kalau jalan itu lihat kedepan jangan menunduk ke bawah, kau pikir akan ada uang disitu?"
"Nggak lucu." Ketusku lalu berjalan mendahuluinya.
"Yah, begitu saja kau marah, awas nanti kau cepat tua lho Ji."
"Bodo amat."
"Ciaaa, ngambek nih ceritanya."
Aku berhenti, berbalik dan menatap kesal pada Sehun. "Yak! Oh Sehun. Aku sedang tidak dalam mood yang baik untuk bercanda dengan mu jadi tolong berhenti memberikan lelucon tidak berguna mu itu." Omel ku pada pria jangkung ini.
"Arraseo. Wae? Bukankah hari ini kau mengatakan bahwa akan berjuang merebut milik mu kembali, lalu apa yang membuat mood mu tidak baik?" Sehun berubah menjadi serius.
Aku kembali menghela napas entah untuk yang keberapa kalinya.
__ADS_1
Saat ini kami berada di taman belakang sekolah. Sehun memberikan ku sebotol air mineral yang ia beli dari kantin kemudian duduk di samping ku. Aku senang karena ternyata masih ada orang yang peduli pada diriku walau bukan orang itu yang aku harapkan untuk peduli pada diriku.
"Jadi, bisa kau ceritakan nona."
"Sehun-ah. Aku pikir semua ini akan sia-sia saja, Myungsoo benar-benar mengabaikan ku dan tidak peduli sedikitpun pada diriku. Aku tadi mencoba untuk dekat dengan dirinya, bahkan aku berangkat pagi hanya untuk bertukar tempat duduk dengan Woohyun yang tadinya duduk bersama dirinya tapi, dia malah memilih duduk dengan orang lain, kemudian saat jam istirahat aku mengajaknya ke kantin tapi dia malah mau pergi keruang guru dan mengatakan lain kali saja. Itu sangat menyebalkan." Mengingatnya membuat ku benar-benar kesal sekali.
Sehun hanya manggut-manggut sambil menatap ku yang tengah bercerita. "Apa lagi yang harus aku lakukan?" Tanya ku karena Sehun tak juga memberikan ku tanggapan.
"Kau harus lebih agresif lagi Jiyeon, buat Myungsoo tidak bisa menolak ajakan mu, dekati dia dan jangan pernah menyerah. Jika perlu buntuti saja dia saat pulang nanti." Saran Sehun yang membuat ku menemukan ide baru.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di sinilah aku sekarang, berdiri seperti orang bodoh di depan gerbang sekolah menunggu Myungsoo yang tak juga keluar dari dalam gedung sekolah.
Lama aku menunggu akhirnya Myungsoo keluar juga dari dalam gedung itu, aku bersembunyi di balik tembok ketika Myungsoo berjalan ke arah ku. Saatnya aku mengikuti Myungsoo.
Aku berjalan tepat di belakang Myungsoo dengan jarak yang bisa di bilang lumayan jauh dan pastinya, dia tidak akan mengetahui jika aku sedang mengikuti dirinya. Myungsoo terus berjalan saja sejak tadi, tidak berniat berhenti di halte untuk naik bus atau sekedar mampir ke toko ataupun resto. Sebenarnya mau kemana dia.
Saat di penyebrangan jalan aku kalah cepat dengan langkahnya yang gesit menyibak krumunan orang yang lewat. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri ketika berada di tepi jalan yang lain, tapi tak ada tanda Myungsoo atau baunya lagi, aku kehilangan jejaknya.
Aku terkejut ketika seseorang menarik tangan mu dan membuat tubuhku berputar menghadap dirinya. Aku terbelalak ketika mengetahui siapa orang yang menarik tangan ku itu. "Myungsoo?" Lirihku.
Myungsoo menatap ku intens dan dengan wajah datarnya. "Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau terus mengikut ku sejak tadi?" Entah kenapa aku ketakutan sendiri mendengar pertanyaan Myungsoo itu.
"Aku... Aku hanya.."
"Hanya apa?"
"Hanya saja, eomma meminta ku untuk mengajak mu kerumah, dia merindukan mu. Yah itu maksud ku."
Bodoh, aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang aku katakan ini tapi sudahlah, semoga Myungsoo percaya.
"Oh, ahjuma.. Kalau begitu kajja, tunggu apa lagi." Myungsoo menarik ku dan kami berjalan bersama menuju rumah ku dengan Myungsoo yang masih mengenggam erat tanganku. Aku menghembuskan nafas lega, untung saja Myungsoo percaya dan tidak bertanya hal yang aneh-aneh padaku.
Senangnya bisa berjalan berdua lagi dengan Myungsoo apalagi tanpa sengaja tangan kami bertautan seperti ini. Adem banget rasanya hati ini.
Tak apa dia mengabaikan ku hari ini tapi setidaknya ada moment yang menyenagkan seperti ini. Jika saja aku bisa menghentikan waktu pasti sudah aku lakukan saat ini.
Bersambung....
__ADS_1