My Stupid Lovers

My Stupid Lovers
Gumawo


__ADS_3

Aku menutup kepalaku dengan bantal. Ini adalah hari minggu seharusnya disaat seperti ini aku bisa tidur dengan nyenyak sampai siang karena sekolah libur dan menikmati waktuku yang berharga tapi bocah nakal itu terus saja berteriak memanggil namaku dan mengatakan hal-hal aneh membuat ku tidak bisa tidur dengan tenang.



"Noona dimana kau meletakan sikat gigi ku? Eomma bilang kau yang menyembunyikan nya!!"



Memangnya aku tahu! Dia menyikat gigi atau tidak saja aku tidak tahu apalagi sikat giginya. Eomma? Alasan konyol macam apa itu.



"Noona!! Apa kau tahu dimana letak sabun mandi ku?! Apa kau memakainya lagi?"



Oh! Bocah itu. Dia pikir aku ini tidak mampu apa membeli sabun sendiri sampai harus memakai sabun miliknya dan lagi sejak kapan aku memakai sabun miliknya. Huh! Kapan sih dia berhenti menganggu tidur ku ini.



"Noona bangunlah!! Apa kau tahu dimana celana dalam bergambar banana kesayangan ku? Aku tidak menemukannya di jemuran, apa kau yang mengambilnya?!"



Ya tuhan! Apa-apaan dia itu?! Celana dalam?! Seumur hidup aku tidak pernah mengambil barang pusaka miliknya jangankan mengambil melihat nya saja tidak pernah dan dengan lagi untuk apa. Aku akhirnya terpaksa bangun dan berjalan dengan kesal kerah pintu, membukanya kasar. "Yak!! Kenapa kau terus berteriak dan bertanya hal bodoh, hoh?! Kau pikir aku tahu dimana semua barang mu itu?! Berhenti berteriak atau aku akan mengisolasi mulut mu!!" Teriak ku, aku tahu bocah itu sedang bersembunyi didalam kamarnya sekarang, menyebalkan. Aku kembali menutup pintu kamar ku dengan keras, untung saja ibu sedang tidak ada dirumah biasanya jam segini beliau masih dipasar untuk berbelanja keperluan rumah tangga dan akan kembali saat makan siang.



Aku mendengus kesal, hendak tidur lagi tapi tidak bisa. "Aish!!" Aku mengacak rambutku frustasi. "Ini semua karena bocah kelinci itu terus saja menganggu ku." Kesal ku.



Akhirnya aku bangkit, lalu membuka tirai kamar ku yang masih tertutup. Sekarang masih jam delapan pagi padahal bisanya jika hari minggu aku akan bangun tepat pukul sepuluh dan karena bocah nakal bernama Jungkook aku tidak bisa tidur lagi.



"Noona!! Noona!! Buka pintunya!! Noona!! Jangan molor terus!"



Aku mengeram marah. Lagi-lagi bocah itu menganggu ku dengan mengetuk pintu kamarku dengan keras dan memanggil-memanggil namaku. "Yak! Apa?! Aku sudah bangun bodoh?!" Teriak ku dari dalam kamar.



"Eoh? Kau sudah bangun!! Kalau begitu keluarlah aku lapar dan tidak ada makanan. Buatkan aku sarapan Noona!!"



Rengek nya dari luar kamar ku. Cih, jika dia bukan adik ku pasti sudah aku cincang dan gantung di dinding. Menyebalkan. "Tunggulah, aku akan segera keluar!!" Aku masuk kedalam kamar mandi. Membasuh wajahku dengan air lalu memakai sabun muka membasuhnya lagi barulah aku selesai.



Aku turun kebawah, kulihat Jungkook sedang asik dengan game yang ada di tangannya. Dia itu polos atau pura-pura polos? Tidak mempunya rasa bersalah sekali setelah menganggu tidur ku di pagi minggu ini. Aku menggelengkan kepala melihatnya, bagaimana bisa aku memilki adik seperti itu? Bahkan aku tidak percaya jika kami ini sedarah.



Aku membuka lemari pendingin, yang ada hanya dua butir telur ayam dan sayuran. Apa yang harus aku lakukan dengan dua bahan yang tersisa itu. Baiklah kita lihat apa yang aku bisa.



Aku menyiapkan penggorengan, menyalakan kompor lalu mulai memasak.



"Noona jangan terlalu lama! Aku sudah sangat lapar!! Ppali!!"



Bocah itu hanya bisa memerintah, jika lapar kenapa tidak coba memasak sendiri saja?! Mungkin memang benar hari ini Myungsoo tidak menganggu ku denga terus membuntuti ku kemanapun aku pergi tapi masih ada Jungkook yang merepotkan itu. Mungkin tidak akan ada hari yang indah dalam hidupku.



"Yak! Cepat kemari! Makannya sudah siap!" Teriak ku. Jungkook dengan semangat meletakan benda persegi yang sibuk ia mainkan tadi dan langsung menghampiri diriku.



Aku hanya bisa menyuap kan ini untuk sarapan. Hanya telur gulung dan sayuran serta nasi goreng. "Cepat makan! Kau yang akan membersihkan ini nanti." Ketusku pada bocah yang sudah melahap hampir setengah makanannya.



"Hem, ne ne ne... Kau itu cerewet sekali Noona." Ucapnya dengan mulut penuh makanan seperti biasa.



"Yak! Mau aku ambil lagi makanan mu?!"



"Andwae!!"



Ketika ditengah acara sarapan kami, aku mendengar suara pintu rumah yang terbuka lalu sama-sama aku mendengar suara ibuku yang sepertinya baru pulang dari pasar. Tumben sekali, ini baru jam setengah sembilan dan ibu sudah pulang, tidak biasanya.



"Jiyeon-ah, kenapa kau belum bersiap dan malah makan?" Aku mengerutkan kening bingung, ketika tiba-tiba ibu datang dan mengatakan hal aneh ini.



"Wae? Apa masalahnya? Memangnya kenapa aku harus bersiap?"

__ADS_1



Ibu meletakan belanjaan nya diatas meja yang kosong. "Kenapa malah bertanya? Bukankah kau ada kencan dengan Myungsoo? Cepat bersiap Myungsoo sudah menunggu didepan."



"Uhuk.. Uhuk.." Lagi-lagi aku tersedak karena kaget dengan apa yang ibuku katakan. Segera aku meminum air yang ada disamping piring ku dan meneguk nya habis.



"Yak! Noona minumlah, kenapa kau selalu tersedak setiap kali bertemu dengan Myungsoo hyung atau ada seseorang yang menyebut nama Myungsoo hyung. Ahh... Kau pasti menyukainya kan? Cih, pura-pura malu."



"Yak! Diamlah!! Dasar bocah jelek."



"Sudah-sudah. Jiyeon cepat bersiap tidak baik membuat orang menunggu. Ppalli." Ibuku menarik lagi, kejadian ini sama persis seperti kemarin malam.



Aku melipat kedua tanganku didada sambil menatap kesal pada Myungsoo yang kini sudah berdiri didepan rumahku. "Mau apa kau kesini?! Pakek bilang mau kencan segala! Memangnya siapa yang mau kencan dengan mu?! Kapan aku bilang setuju?!" Aku tidak bisa menahan kekesalan ku lagi.



"Kau memang tidak bilang mau tapi aku pikir kau akan setuju jika aku langsung datang dan lihatlah bahkan kau sudah bersiap. Kau sangat cantik." Aku tidak tahu jika ibuku itu sangat menyukai Myungsoo, pasti karena wajahnya yang tampan. Ibuku itu mudah sekali tertipu.



"Jangan mengatakan hal bodoh lagi, cepat berangkat atau aku akan masuk kerumah lagi." Ancam ku.



"Ne, kajja." Dia mepersilhakan ku untuk masuk kedalam mobilnya. Jujur saja aku baru tahu jika dia mempunya mobil, karena seingat ku dia tidak pernah membawa mobil ke sekolah. Ah, sudahlah kenapa aku harus peduli.



Myungsoo melaju kan mobilnya dengan pelan membelah jalan yang cukup ramai saat hari sudah hampir siang. Entah kemana dia kan membawaku kali ini. Kencan? Yang benar saja, aku bahkan sama sekali tidak tahu hal apa itu dan apa yang harus dilakukan saat kencan dan lagi ini yang pertama untuk ku. Jika bukan karena ibuku memaksa pasti aku tidak akan berakhir seperti ini.



Myungsoo membawaku ke taman bermain. Dia pikir aku anak kecil apa sampai harus pergi ke taman bermain? Tidak adakah tempat yang lain?



"Yak! Myungsoo kenapa kau membawaku kemari bodoh?" Tanyaku saat kami sudah masuk kedalam taman bermain itu. Disana sangat ramai dan banyak sekali orang berlalu lalang disana.



"Karena ini adalah tempat yang sangat menyenangkan, kau akan suka Jiyeon. Kajja." Myungsoo menarik tanganku.




Myungsoo menarik tangan ku, membawaku ke box foto. "Yak! Aku tidak suka berfoto." Tolak ku sambil menatap sinis padanya.



Dia tertawa. "Sudahlah, ini hanya berfoto Jiyeon-ah dan itu tidak akan membuat kecantikan mu berkurang."



"Sekali lagi kau bilang hal aneh, ku pukul kau." Aku sudah menyiapkan bogem mentah untuknya tapi dia malah semakin tertawa.



Pada akhirnya kami tetap berfoto bersama. "Yak! Jiyeon-ah, senyum lah sedikit. Kau terlihat jelek."



"Aku kan sudah bilang, aku tidak suka berfoto"



Myungsoo membalikkan tubuhku agar menatapnya. "Hanya sekali ini saja, tersenyum lah seperti saat kita menaiki wahana tadi, ne?"



Aku menghela nafas. Jika tidak ku turuti dia akan terus memaksa diriku supaya mau tersenyum. "Baiklah, hanya kali ini saja." Myungsoo tersenyum.



"Kita mulai. Han... Dul... Set..."



Cekrek.


Satu foto berhasil kami buat. Myungsoo mengedit foto kami, dia memberikan tulisan, bungai dan juga pernak-pernik lainnya membuat foto itu terlihat lucu. Aku diam-diam tersenyum sendiri melihat hal itu.



Keluar dari box foto, Myungsoo memberikan satu lembar foto pada ku dan selembar lagi dia simpan. Sebenarnya aku mah membuangnya tapi tidak tega juga jadi lebih baik aku masukan kedalam saku bajuku.



Kami duduk berdua dibangku taman. Lelah terus bermain sejak tadi, hati semakin siang dan tak terasa ini sudah jam dua. Para pengunjung mulai meninggalkan taman bermain.


__ADS_1


"Apa kau haus? Aku akan membelikan mu minuman jika kau haus." Tanya Myungsoo yang sudah bersiap untuk pergi.



"Hem. Aku sangat haus."



"Baiklah, tunggu disini dan aku akan segera kembali."



Aku hanya mengangguk kecil dan membiarkan Myungsoo pergi membeli minuman. Ternyata dia pengertian juga, aku tersenyum sendiri. Tapi tetap saja dia itu bodoh.



Lama aku menunggu tapi Myungsoo tak juga kembali. Apakah dia membeli minuman di Amerika? Kenapa lama sekali. Aku menghentak-hentakan kakiku karena terlalu lama menunggu. "Aish, sudah ku duga dia itu tidak bisa diandalkan." Kesal ku.



Tiba-tiba ada seorang pria asing yang datang menghampiriku. Dilihat dari manapun dia itu seorang penjahat, jelas sekali terlihat dari lagaknya yang sok itu. "Sendirian saja nona, mau aku temani." Ucapnya yang terdengar menjijikan di telinga ku.



"Cih, pergilah jangan ganggu aku." Sinis ku lalu beranjak dari sana namun pria itu memblok jalan ku. Aku kesal sekali. "Menyingkir dari jalan ku!!" Marah ku tapi dia malah mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.



Aku terbelalak kaget ketika yang ia keluarkan adalah sebuah pisau lipat. "Serahkan semua yang kau punya jika tidak maka aku akan membunuh mu." Aku menelan saliva ku susah payah, tempat ini cukup sepi dan tidak ada orang yang lewat berteriak pun percuma karena tidak akan ada yang dengar. "Cepat serahkan!!"



Sial! Disaat seperti ini aku malah sendirian. Seharusnya aku turuti saja kata Jungkook untuk belajar bela diri. Sudahlah semuanya tidak akan ada gunanya lagi untuk disesali.



"Huh! Kau pikir aku takut dengan mu?! Aku tidak takut!!" Bodoh! Kenapa kau malah mengali kuburan mu sendiri Jiyeon. Tamat lah riwayat mu Jiyeon.



"Oh ya! Jadi kau memilih mati! Rasakan ini." Aku menutup mata tidak berani melihat ketika dia mau mengayunkan pisau itu tepat didepan wajahku.



Aku tidak merasakan apapun setelah cukup lama menunggu. Perlahan aku memberanikan diri untuk membuka mata. Saat ini seseorang tengah berdiri membelakangi ku sambil tangan kanan nya menahan pisau yang tadinya akan mengenai ku. "Myungsoo." Lirih ku tidak percaya dia melakukan hal senekat ini.



Dia menoleh dan tersenyum. Bahkan dalam keadaan seperti ini dia masih bisa tersenyum. "Kau baik-baik saja? Maaf karena meninggalkan mu cukup lama." Aku tertegun melihat hal ini.Myungsoo melepaskan pisau itu, dapat aku lihat darah segar mengalir dari tangannya. "Berani sekali kau mencoba melukai kekasih ku!!" Myungsoo menghajar orang itu dan baru kali ini juga aku melihatnya semarah itu pada seseorang. Dia benar-benar berbeda.



Orang itu berlari ketakutan setelah dihajar habis-habisan oleh Myungsoo. Aku mendekat pada Myungsoo, ku sentuh bahunya pelan. Dia menoleh pada ku dan langsung menagkup wajahku dengan kedua tangannya. "Jiyeon-ah gwaenchana? Dia tidak menyakiti mu kan? Kau tidak terluka kan?" Tatapan matanya kembali melembut dan terlihat sangat mengkhawatirkan diriku.



Aku menyentuh kedua tangannya dan menjauhkan nya dari pipiku. "Kau terluka, tangan mu terluka." Kataku pelan. "Kita harus segera obati tangan mu. Kajja." Myungsoo tidak bergerak sama sekali.



"Kenapa hanya diam? Ayo kita obati."



"Gwaenchana. Luka ini tidak ada artinya dari pada keselamatan mu, aku senang karena bukan kau yang terluka."



"Pabo! Kau benar-benar pabo. Tidakkah kau pikir hal ini sangat berbahaya, kau melukai tangan mu hanya untuk menyelamatkan ku. Myungsoo pabo!" Aku memukul pelan dadanya berulang kali. Entahlah aku merasa bersalah sekali kepadanya.



Myungsoo mendekap tubuh ku erat. "Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku, jika tahu karena luka sekecil ini kau begitu peduli padaku maka seribu luka lainnya akan aku tahan asal kau peduli seperti ini padaku." Aku kembali memukulnya.



"Pabo! Bicara apa kau? Jangan bicara hal bodoh seperti itu!" Kesal ku. Aku masih engan melepaskan pelukannya bahkan aku semakin mengeratkan pegangan tanganku pada belakang kemejanya. Jika dengan ini dia merasa baik maka aku akan lakukan sebagai ganti karena dia telah menyelamatkan ku. "Gumawo." Lirih ku entah dia dengar atau tidak tapi yang aku rasakan sekarang dia semakin erat memeluk ku.












Bersambung....


__ADS_1


__ADS_2