
Hari ini sekolah libur, tentu saja karena ini hari minggu dan entah kenapa aku tidak suka jika sekolah libur karena itu artinya aku akan kehilangan satu kesempatan untuk melihat Myungsoo hari ini. Yah, sejak hari itu kami tidak pernah bertatap muka atau berbicara lagi dan dia bahkan selalu mengabaikan ku ketika aku hendak menyapa nya. Sungguh malang bukan nasib ku.
Aku beranjak bangun dari tempat tidur ku kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Ku tatap wajah ku di sebuah cermin yang sengaja aku letakkan dalam kamar mandi. Wajah ini benar-benar terlihat buruk dan tidak bersemangat. Akhir-akhir ini aku memang sering terlihat menyedihkan, entahlah aku butuh berjalan-jalan dan mencari suasana baru mungkin.
Selesai mencuci muka dan menyikat gigi, aku keluar dari kamar mandi kemudian turun kebawah. Rumah begitu sepi, tentu saja, ibuku masih menginap di rumah nenek dan Jungkook pasti masih molor, dia itukan tukang tidur. Menyebalkan.
Aku keluar dari dalam rumah, mengamati sekitar. Masih cukup pagi, aku akan berjalan-jalan sebentar dan semoga suasana hati ku ini akan membaik. Udara pagi benar-benar sejuk dan tidak ada suara bising mobil yang lewat karena masih terlalu pagi. Aku tersenyum kecil ketika di perjalanan melihat orang tua yang begitu bersemangat jogging dan banyak lagi.
Aku memasukan kedua tangan ku dalam saku karena udara yang cukup dingin. Aku mulai berlari kecil melewati sebuah jembatan dan kemudian sampai di sebuah taman, taman yang sama ketika Myungsoo memutuskan untuk menjalani kehidupannya sendiri. Aku tersenyum miris menatap tempat duduk yang menjadi saksi bisu pertemuan terkahir ku dengan Myungsoo. Semakin di ingat semakin menyesakkan dada.
Aku hendak berbalik tapi tiba-tiba seseorang menabrak tubuhku membuat ku jatuh tersungkur di tanah. "Aish... Appayo." Rintih ku menahan nyeri di pantat yang sempurna mencium tanah. Detik berikutnya aku melihat seseorang mengulurkan tangannya, aku mendongak menatap siapa pemilik tangan yang baik hati mau menolong ku itu.
"Gwaenchanayo?" Tanyanya sambil masih menunggu aku menerima bantuannya itu. Aku meraih tangannya dan dia pun membantuku berdiri. Aku masih tidak percaya jika dialah yang menolong ku, lelaki tampan yang menjadi idola para gadis di sekolahan ku. Oh Sehun kapten tim basket sekolahan, tentu saja aku tahu karena Jieun selalu saja membicarakan soal dia. "Mianhae, aku tidak fokus tadi dan menabrak mu begitu saja, aku benar-benar minta maaf." Ucapan nya terlihat begitu menyesal.
"Ani.. Gwaenchana. Lain kali kau harus hati-hati agar tidak menabrak orang lain lagi." Kata ku sambil tersenyum kecil.
Sehun juga tersenyum kecil kemudian dia mengulurkan tangannya lagi. "Oh Sehun imnida, sepertinya aku pernah melihat mu dan kita satu sekolah tapi kita belum pernah berkenalan sebelumnya." Senyuman nya benar-benar manis dan mampu membuat ku meleleh.
"Park Jiyeon imnida, yee... Kita memang satu sekolah." Aku membalas uluran tangan itu dan tersenyum kecil padanya. "Aku harus pulang sekarang." Kata ku ketika tautan tangan kami terlepas.
"Oh... Mau aku antar?"
"Tidak perlu, rumah ku cukup dekat dari sini."
"Tidak apa, hitung-hitung sebagai tanda pertangung jawaban ku karena telah menabrak mu tadi."
"Baiklah."
Kami berjalan bersama, Sehun orang yang cukup ramah dan mampu membangun suasana agar tidak canggung, aku benar-benar bisa langsung akrab dengannya.
__ADS_1
Tidak butuh waktu yang lama aku samapi di depan rumah dan kulihat masih sepi, itu berarti Jungkook yang pemalas itu masih molor. "Terima kasih sudah mengantar ku, apa kau mau masuk terlebih dahulu?" Tawarku padanya, tidak sopan bukan membiarkan seorang tamu pergi begitu saja tanpa meminum apapun atau duduk terlebih dahulu.
"Oh tidak perlu, aku juga harus pulang sekarang dan kebetulan sekali rumah ku cukup dekat dari sini." Tolaknya, aku baru tahu jika ternyata kami ini bertetangga dan betapa itu suatu hal yang luar biasa.
"Baiklah kalau begitu, sekali lagi terima kasih." Aku berbalik dan masuk kedalam.
Di dalam rumah, aku terkejut bukan main ketika Jungkook tiba-tiba sudah bangun dan berdiri di dekat pintu sambil melipat tangannya di dada. Dia sudah seperti satpam saja. "Yak!! Kau ini mengagetkan orang saja. Ku pikir kau masih tidur." Ucap ku padanya yang kini malah menatap ku penuh intimidasi.
"Yak! Noona, siapa namja yang mengantar mu tadi? Apakah dia selingkuhan mu? Jinja?! Kasihan sekali Myungsoo Hyung. "
Aku memutar bola mata ku jengah. Apakah dia masih berpikir jika hubungan ku dengan Myungsoo masih sama seperti dulu atau Myungsoo tidak memberitahunya jika kami sudah berakhir? Benar-benar membuat mood ku semakin buruk saja. "Yak! Jangan bicara yang tidak tidak. Itu tadi Sehun kapten basket di sekolah ku yang tidak sengaja menabrak ku saat lari pagi di taman tadi." Jungkook hanya manggut-manggut lalu tersenyum bodoh kemudian pergi meninggalkan ku.
Kadang aku berpikir harus bersyukur atau malah sedih memiliki adik yang menyebalkan seperti Jungkook itu, tapi kadang dia juga ada gunanya. Ah, sudahlah lebih baik aku menyiapkan sarapan sebelum bocah itu berteriak dan merengek menyebalkan.
Sekolah benar-benar membosankan untuk ku, apa lagi aku harus melihat pemandangan yang entah kenapa membuat dada ku sesak. Lagi-lagi Yoon Sohee itu datang ke kelas ku dan dengan percaya diri menghampiri meja Myungsoo, pemandangan yang akhir-akhir ini selalu menggangu ku dan membuat ku tidak nyaman.
"Jiyeon-aa mau kah kau membantu ku?" Aku menoleh pada Jieun yang terlihat gelisah.
"Wae?"
"Bisa kau antar buku-buku ini ke meja guru Kang? Aku tiba-tiba ingin ke kamar kecil dan tidak bisa di tunda lagi sedangkan guru kang sudah menunggu buku-buku ini."
Aku mendengus pelan. "Baiklah. Aku akan mengatarnya untuk mu."
"Gumawo Jiyeon-aa, kau memang sahabat terbaik ku." Jieun langsung saja berlari keluar kelas. Pasti dia sudah menahannya sejak pelajaran tadi.
Akupun mengangkat buku-buku itu dan berjalan sesantai mungkin keluar kelas. Lagi pula Myungsoo juga sudah pergi entah kemana dengan Sohee ketika Jieun mengajak ku berbicara tadi. Entah memang nasib sial ku atau bagaimana, tiba-tiba kaki ku tersandung dan membuat semua buku yang aku bawa terjatuh berserakan dimana-mana. "Ahh... Jinja?! Kenapa tidak ada satupun yang berjalan dengan benar sih dalam hidup ku." Dumel ku lalu berjongkok memungkuti buku itu satu persatu.
__ADS_1
Tiba-tiba ada orang lain yang ikut membantu ku memungut buku-buku itu. "Sehun." Sang empunya nama tersenyum pada ku. "Apa yang kau lakukan?"
"Aku melihat mu tersandung dan buku yang kau bawa jatuh berserakan. Tentu aku tidak bisa tinggal diam dengan hanya memperhatikan mu bukan, jadi aku membantu mu."
"Terima kasih."
Selesai memunguti semua buku itu, Sehun juga membantu ku membawanya sampai ke ruang guru. Dia benar-benar baik, setidaknya ada yang masih peduli padaku selain Myungsoo.
"Kenapa kau membawa buku-buku itu sendiri, dimana kekasih mu yang selalu mengekor dibelakang mu?" Tanya Sehun ketika kami duduk bersama di taman setelah selesai dari ruang guru. Ternyata sudah banyak yang tahu tentang hubungan ku dengan Myungsoo.
Aku tersenyum getir. "Dia bukan kekasih ku dan lagi dia sudah menemukan kehidupan barunya dengan orang yang lebih menyayanginya. Seseorang seperti diriku yang telah mengabaikan setiap prilaku baiknya tidak pantas mendapatkan cinta tulusnya." Yah, biarlah orang tahu lagi pula tidak ada lagi yang harus aku sembunyikan dan aku tidak perduli dengan apa yang akan Sehun pikirkan tentang ku yang benar-benar menyedihkan ini.
"Kau sedih? Atau mungkin kau menyesal?" Sehun kembali bertanya dengan tatapannya yang lembut.
"Mungkin, tapi apa yang bisa aku lakukan? Semuanya sudah terlambat dan akan sulit untuk memperbaikinya. Setidaknya dia bahagia dengan gadis yang jauh lebih baik dari pada diriku." Akhir-akhir ini juga aku jadi gampang menangis dan membuat ku semakin terlihat menyedihkan.
"Kau mencintainya, kau mencintai Myungsoo?" Aku menatap Sehun lalu bertanya pada diriku sendiri, bertanya pada hati kecil ku tentang apa yang sebenarnya dia inginkan dan benarkah jika aku ini mencintai Myungsoo. Benarkah selama ini rasa sakit dan sesak ketika dia bersama orang lain adalah karena aku cemburu dan tidak rela dia bersama orang lain?. "Kau mencintainya Jiyeon, hanya saja kau terlalu lambat untuk menyadari itu dan ketika dia pergi kau baru menyadari dan menyesalinya bukan? Mumpung masih belum terlambat aku sarankan kau katakan yang sebenarnya pada Myungsoo, kejar dia seperti dulu dia mengejar mu dan berjuanglah seperti dulu dia memperjuangkan mu." Nasehat Sehun menyadarkan diriku.
Apa yang Sehun katakan benar, aku mencintai Myungsoo dan bodohnya aku terlalu gengsi untuk mengakui hal itu dulu. "Sehun, gumawo kau telah menyadarkan ku tentang perasaan ku ini. Setelah ini aku akan berjuang untuk mengambil kembali apa yang dulunya menjadi milik ku. Terima kasih Sehun." Aku mengusap air mata ku dan kembali bersemangat untuk mendapatkan cinta ku kembali.
Sehun ikut tersenyum. "Ya, berjuanglah Jiyeon. Aku akan selalu mendukung mu."
Walau kami baru saja saling mengenal tapi aku begitu berterima kasih pada Sehun yang telah membangkitkan semangat dalam diriku. Aku akan berjuang lebih keras dari Myungsoo dan akan aku buktikan jika aku benar-benar mencintai nya.
__ADS_1
Bersambung.....