
Pagi ini Myungsoo bodoh itu menjemput ku dirumah untuk berangkat bersama dan tentu saja aku menolak untuk berangkat bersama, tapi ibu ku yang begitu menyukai Myungsoo memaksa ku untuk berangkat dengannya mau tidak mau aku harus berangkat dengan Myungsoo.
Seluruh murid sibuk berbisik ketika aku berjalan santai dengan Myungsoo yang terus mengekor di belakang ku. Bukan hal yang perlu aku pikirkan hanya bisikan tidak penting dan aku sama sekali tidak peduli dengan hal itu.
"Cih.... Dia benar-benar jahat, memperlakukan Myungsoo seperti pembantunya."
"Kurasa dia tidak punya hati."
"Kasihan sekali Myungsoo, harus jatuh cinta dengan Jiyeon yang jelas-jelas tidak menyukai dirinya."
Kurang lebih seperti itulah bisik-bisik yang mereka ucapkan.
"Jiyeonnaa... Tunggu aku!!" aku berdecak kesel, berhenti lalu menyilangkan tangan ku di dada menatap Myungsoo yang menyebalkan itu sinis.

"Yak! Jalan yang cepat... Kau itu lambat sekali." Omel ku pada Myungsoo. Tapi anehnya Myungsoo sama sekali tidak marah dengan kalimat pedas yang terlontar dari mulut ku. Dia senang-senang saja dengan ucapan ku bahkan dia juga tersenyum. Aku benar-benar bingung dengannya itu, apakah dia tidak merasa sakit atau tersingung dengan ucapan ku? Dan lagi, apa dia tidak akan berhenti menganggu ku?
"Kau berjalan begitu cepat dan aku kesulitan untuk mengejar mu." Katanya yang kini sudah berdiri didepan ku dengan senyum bodohnya.

"Berhenti tersenyum seperti itu!!" Ketusku lalu kembali berjalan mendahuluinya. Aku sebenarnya bingung dengan dirinya yang tidak pernah marah ataupun kesal dengan setiap hal yang aku lakukan, sejujurnya aku ingin tahu apa alasan dibalik semua itu dan lagi selama dia pindah kemari dia tidak pernah marah dan terlihat membenci seseorang. Myungsoo type orang yang ramah. Itu yang aku lihat dari diri Myungsoo untuk saat ini.
Jieun melambaikan tangannya ketika aku masuk kedalam kelas tak lupa dengan senyum manis yang biasa ia tunjukan pada setiap orang yang ia temui. "Jiyeon-ah, nanti kau akan melihat latihan basket kan? Dengar-dengar ada pemain baru dan dia sangat tampan. Kau mau kan melihatnya dengan ku? Yeoseob juga akan bermain nanti. Ne? " Pinta Jieun dengan wajah memelasnya yang selalu menjadi andalan untuk membujuk diriku.
"Terserah kau sajalah." Ucapku sekenannya lalu berjalan lagi menuju kursi ku. Myungsoo sudah duduk manis di tempatnya.
"Aku juga ikut." Aku langsung menoleh ke samping setelah mendengar ucapan Myungsoo itu.
"Ikut apa?" Tanyaku sinis.
"Menonton latihan basket." Katanya dengan tak lupa senyum bodoh yang biasa ia pamerkan padaku.
"Shireo! Pulanglah." Aku tidak mungkin bisa menonton dengan nyaman dan damai jika Myungsoo ikut, yang ada dia akan terus menempel padaku dan itu sungguh membuat ku kesal nanti.
"Jebal... Aku juga ingin ikuttttt." Rengeknya dengan sangat menyebalkan apa lagi puppy eyesnya yang sungguh membuat ku ingin muntah.
"Baiklah.... Kau boleh ikut tapi jangan macam-macam, awas saja kau." Ancam ku dan dia terlihat begitu senang karena aku membolehkannya ikut.
Jam pelajaran berjalan dengan baik. Myungsoo tak banyak bertanya hari ini bahkan ia terlihat tenang ketika mengerjakan buku yang ada di hadapannya. Tunggu! Bukannya aku suka memperhatikan apa yang sedang dia lakukan, hanya saja dia itu orang yang usil dan suka ribut sendiri jadi dengan sangat terpaksa aku harus memperhatikan setiap tingkah laku menyebalkannya itu. Ingat itu bukan kemauanku sendiri.
Bel tanda istirahat telah berbunyi, aku membereskan buku dan alat tulis yang berserakan diatas meja begitu juga dengan Myungsoo. "Jiyeon-aa... Kajja kita ke kantin, aku sudah sangat lapar." Tanpa permisi dia langsung menarik tangan ku dan mau tidak mau aku harus ikut dengannya.
"Yak! Yak!.... Tidak perlu tarik-tarik seperti ini, pabo!" Kata ku lalu menepis kasar tangan Myungsoo. Kemudian aku berjalan mendahuluinya dan tentu dia mengekor dibelakang ku.
__ADS_1
Aku begitu terkejut ketika mendapati Myungsoo yang tadi berjalan di belakang ku tiba-tiba sibuk dikrumini para yeoja yang entah dari mana bahkan dia terlihat kesulitan untuk keluar dari kerumunan itu. Aku menatap para yeoja itu kesal. Entah kesal dengan Myungsoo atau kesal dengan yeoja-yeoja itu.
"Yak!!" Pekik ku membuat semua perhatian beralih menatap ku, tak terkecuali Myungsoo. Aku menyibak krumunan itu lalu menarik tangan Myungsoo membawanya pergi dari sana. Baru saja satu menit aku biarkan dia sudah membuat ku repot.
"Jiyeon-a.... Gumawo." Katanya setelah kami duduk di meja kantin. Aku memutar bola mataku jengah.
"Tidak bisakah kau mengurus dirimu sendiri? Setidaknya jangan membuat repot orang lain. Jinja." Ketusku. Myungsoo hanya menunduk dan diam, kalau sudah begini dia terlihat semakin menyebalkan di mataku. Entahlah mungkin juga karena kalimat yang aku lontarkan terlalu kasar sehingga dia merasa tersingung atau entahlah aku sama sekali tidak mengerti dirinya dan aku juga tidak ingin mencoba mengerti dirinya.
Jam pelajaran telah selesai. Kini aku, Myungsoo dan Jieun sedang berjalan bersama menuju lapangan untuk melihat latihan basket yang tadi Jieun katakan. Jujur saja, aku sama sekali tidak menaruh minat pada latihan basket ini atau sebagainya itu, aku ingin langsung pulang masuk kedalam kamar dan menutup pintu kamarku rapat agar bocah kelinci itu tak mengganggu waktu ku yang berharga. Tapi rasanya itu hanya angan belaka karena pada kenyatannya aku harus ikut mereka menyaksikan latihan basket.
"Jiyeon-aaa kita duduk disana saja." Jieun menggandeng tanganku, membawaku ketempat duduk yang lumayan dekat dengan lapangan jadi kami bisa melihat dengan jelas perlombaan nanti. Mungkin ini akan seru melihat banyak yang menonton. Kulihat Myungsoo duduk tak jauh dari kami lebih tepatnya dia duduk di bangku bawah kami.
Suara terikan dan sorak-sorak mulai terdengar ketika tim basket sekolah milik kami keluar, Jieun begitu antusias dan ikut berteriak membuat gendang telinga ku hampir jebol, bagaimana tidak jika dia berteriak tepat di samping telingaku dan terus memanggil nama kekasihnya. Aku hanya diam dan memperhatikan apa yang terjadi dibawah sana.
"Cha Eunwoo!!!!!"
"Oh Sehunnnn!"
"Yang Yoseob!! Oppaaaa!!"
Telinga ku benar-benar bisa sakit jika terus mendengar teriakan para yeoja yang begitu histeris itu. Tapi aku juga penasaran, sebenarnya siapa yang mereka teriakan sejak tadi.
"Jiyeon-aa, lihatlah! Eunwo sangat tampan." Aku berpikir sejenak, kemudian menatap sosok yang tadi Jieun tunjuk.
Dia adalah adik kelas kami. Cha Eunwo, namja berkulit putih dan lumayan tampan menurutku tapi tetap saja aku tidak tertarik sama sekali. Dan ini semakin membosankan.
Ketika aku melihat kebawah tepatnya pada Myungsoo aku terkejut ketika manik mataku dan Myungsoo bertemu. Dia terlihat begitu serius ketika menatapku entah kenapa aku sedikit takut untuk menatapnya dan langsung mengalihkan pandangan ku.
Latihan selesai dan itu benar-benar latihan yang lebih mirip dengan pertandingan, melihat betapa antusias para penontonnya. Tapi aku sedikit heran ketika Myungsoo tiba-tiba berdiri dan berjalan turun. Aku pikir dia akan pulang terlebih dahulu aku cukup senang itu kabar gembira untuk ku tapi tidak, Myungsoo menuju ketengah lapangan dan dengan bodohnya dia menantang tim basket sekolah. Aku terperangah melihat hal itu.
"Yak!" Aku berteriak dari atas dan diapun menoleh dengan wajah yang berbeda, sangat berbeda dari Myungsoo yang biasanya. "Paboya! Apa yang sedang kau lalukan?!" Teriak ku lagi meminta penjelasan atas tindakan bodohnya itu.
"Jiyeon-ah.... Jika dalam pertandingan ini aku keluar sebagai pemenang kau harus mengatakan jika kau mencintai ku!!" Teriaknnya menjawab kebingungan ku.
Astaga, hal konyol apa lagi yang sedang dia lakukan bahkan kini banyak yang sibuk berbisik tentang hal bodoh yang Myungsoo lakukan. Aku benar-benar malu dibuat Myungsoo. "Yak! Hajima! Berhenti mempermalukan dirimu! Kajja kita pulang!!"
"Shirieo!! Aku akan buktikan kepadamu jika aku ini hebat. Kau duduk dan lihat saja."
"Ji, sudahlah... Biarkan saja."
Jieun membantuku untuk duduk kembali. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan semua hal yang Myungsoo lakukan. Rasanya aku ingin pulang sekarang tapi entah kenapa aku juga ingin melihat namja pabo itu bermain basket.
"Jiyeon lihatlah! Myungsoo benar-benar hebat, aku baru tahu jika dia sehebat ini." Aku tidak peduli dengan ocehan Jieun yang sejak tadi mengeluh-eluhkan betapa hebatnya Myungsoo dalam bermain basket melawan tim basket sekolah. Jujur saja aku cukup terkejut mengetahui jika Myungsoo bodoh itu bisa melakukan hal semacam ini dan lagi permainannya sangat menarik dan seru.
Tanpa sadar, aku tersenyum kecil kita dia berhasil memasukan bola itu kedalam ring sedangkan Jieun sudah berteriak heboh disampingku.
__ADS_1
Permainan selesai dan benar saja, Myungsoo kelaur sebagai pemenang walau nyaris kalah disaat terakhir. Aku berdiri dan hendak pergi tapi suara Myungsoo lagi-lagi menghentikan langkah ku.
"Jiyeon-ah!! Aku menang, sekarang kau harus mengatakan jika kau mencintai ku." Aku melihat kebawah sana dimana ia berdiri ditengah lapangan dengan senyum bodohnya, bahkan dia tidak beristirahat setelah mengelurkan seluruh tenaganya untuk bermain mengingat dia hanya dua orang dalam satu tim.
"Yak! Aku tidak pernah berjanji untuk mengatakan hal semacam itu, lagi pula ini bukanlah kemauan ku, kau sendiri yang melakukan hal bodoh ini dan aku tidak memiliki kewajiban untuk mengatakan apa yang kau inginkan." Cukup sudah, aku akan benar-benar pulang sekarang. Percuma disini hanya akan menambah kekesalanku saja. Aku berjalan pergi tanpa menoleh lagi pada pria itu.
.....
Aku merebahkan tubuhku diatas kasur setelah melempar asal tas sekolah ku. Ku tatap langit-langit kamar ku yang berwarna putih, sekilas terbayang wajah Myungsoo yang tengah tersenyum lebar padaku saat dia berhasil memasukan bola kedalam ring.
"Aishhhh.... Jinjaaaa!!" Aku kembali bangun dan mengacak rambutku frustasi. Kenapa sekarang rasanya aku menyesal telah mengatakan hal jahat itu pada Myungsoo, padahal biasanya aku baik-baik saja dan tidak terlalu memikirkan hal itu lalu kenapa sekarang rasanya berbeda. Apa aku sudah sangat keterlaluan? Oh tuhan, aku bisa gila jika seperti ini.
Aku terkejut saat tiba-tiba pintu kamar ku terbuka dan munculah sosok bocah kelinci yang langsung membuat mood ku yang buruk semakin buruk. "Asih... Tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk? Menyebalkan." Grutuku.
"Noona, apa lagi yang kau lakukan? Apa kau tidak mendengarkan ku waktu itu? Aish..."
Aku tidak mengerti dengan apa yang Jungkook maksud, bocah itu tiba-tiba masuk dan mengatakan hal konyol. "Mwo? Apa maksudmu?"
"Igo.... Myungsoo Hyung minta maaf karena membuat mu marah." Jungkook melemparkan smartphone miliknya tanpa takut benda persegi panjang itu akan jatuh dan rusak. Untung saja aku sigap menerima benda persegi itu.
Myungsoo benar-benar meminta maaf tentang kejadian tadi. Aku menatap Jungkook, kemudian memberikan ponselnya pada dirinya. "Ck... Kenapa kau begitu marah hanya karena Myungsoo meminta maaf? Itu wajar karena dia salah."
"Noona, kau benar-benar tidak mengerti... Ck, sudahlah. Percuma aku ceramah pajang lebar, Noona tidak akan pernah mengerti. Jangan menyesal Noona." Jungkooo mengatakan hal yang sama sekali tidak aku mengerti. Bahkan dia meninggalkan ku begitu saja setelah mengatakan hal itu, membuat ku semakin pusing saja.
"Aish... Bocah itu." Grutuku. "Mollaaa!!" Teriak ku lalu kembali merebahkan tubuh ku di kasur. Sudahlah aku tidak peduli, sejak awal aku memang tidak menginginkan hal semacam ini terjadi.
Bersambung....
__ADS_1