
Aku menghembuskan napas panjang lalu melihat keluar jendela. Dibawah sana, aku melihat dengan jelas seorang lelaki yang tengah dikrumuni para murid wanita sekolahan kami. Sejak tadi pagi ketika Myungsoo berangkat para gadis langsung berlari ke arahnya dan berteriak histeris memanggil namanya. Ini karena kejadian di aula waktu itu, mereka jadi terpesona dan mengeluh-eluhkan dirinya.
Aku menoleh ke samping ketika kursi yang biasa diduduki Myungsoo bergeser dan seseorang duduk disana. Jieun tersenyum kepadaku dengan lembut seperti biasanya. Dia memang gadis yang imut, baik, feminin dan juga cantik mungkin tidak akan ada yang percaya jika dia sudah berusia 18 tahun karena dilihat dari manapun Jieun tidak terlihat seperti itu. Makanya banyak sekali adik kelas yang tergila-gila padanya bahkan bocah nakal itu juga pernah mengatakan jika dia menyukai Jieun ketika dulu dia sering bermain ke rumah kami. Berbeda sekali dengan ku, tentu kalian tahu bukan.
"Wae? Kenapa kau menatap ku sambil tersenyum seperti itu?" Tanyaku sambil menopang dagu dan menaikan satu alis ku.
"Harusnya aku yang bertanya Jiyeon. Kau kenapa? Aku perhatikan sejak tadi pagi wajahmu terlihat begitu kusut, apa ada masalah? Atau kau merasa kesal karena sekarang Myungsoo sibuk dengan fans barunya?"
Aku kembali menghela napas. Haruskah aku mengatakan pada Jieun jika kediaman ku saat ini karena melihat Myungsoo yang tiba-tiba menjadi populer dan aku merasa tidak diperhatikan lagi olehnya. Yah, aku akui aku merasa ada yang kurang jika dia tidak mengikuti ku tapi bukan berarti aku mencintainya. Ingat bukan berarti aku mencintainya!!
"Aniya, nan gwaenchana. Aku hanya lelah dan tidak bersemangat." Jawab ku acuh lalu kembali fokus pada seseorang yang berada diluar sana tapi sayang sekali sudah tidak ada orang lagi disana. Mungkin mereka sudah kembali.
Jieun sepertinya masih menatapku. "Kalau begitu kajja kita ke kantin supaya perasaan mu kembali membaik."
"Eh? Yak!" Aku kembali hanya bisa mengikuti kemana Jieun membawaku. Mau marah pun percuma, Jieun terlalu baik jadi aku tidak tega untuk memarahinya.
"Jiyeon-ah.... Jiyeon-ah... Jiyeon-ah!!"
Aku dan Jieun berhenti ketika mendengar suara seseorang yang terus saja memanggil namaku. Aku hafal betul jika suara itu adalah suara Myungsoo dan kini dia tengah berlari kearah kami.
"Wae?" Tanya ku sambil menyilangkan kedua tangan ku didepan dada, menatapnya dengan kesal.
"Kau mau kemana?"
"Bukan urusan mu, bukankah kau punya banyak fans yang harus di urus? Pergilah jangan ganggu waktu ku." Ketusku.
"Kau pasti mau ke kantin kan? Aku ikut dengan mu." Pintanya dengan sedikit merengek seperti anak kecil.
"Yak! Pergi saja sendiri. Kajja Jieun kita pergi." Aku menarik tangan Jieun tapi gadis itu tak bergeming sama sekali. Aku menoleh ke arahnya dan kulihat dia tengah tersenyum sekarang.
"Mianhae Jiyeon-ah, aku harus pergi karena baru ingat jika ada urusan lain. Kau bisa pergi dengan Myungsoo lagipula dia sudah ada disini. Ne Myungsoo?" Jieun ini, kenapa tiba-tiba menyebalkan seperti ini sih. Dia yang mengajak ku sekarang dia juga yang meninggalkan ku.
"Ne! Kajja Jiyeon-ah!" Aku terkejut ketika Myungsoo meraih tanganku lalu menggenggam nya erat.
"Yak! Yak! Lepaskan tangan ku!" Aku meronta minta dilepaskan tapi Myungsoo kekeh tetap menggenggam tangan ku.
"Tidak akan sebelum kita sampai ke kantin."
"Yak! Aish, menyebalkan."
Aku mendengus kesal dan hanya bisa mengikuti langkahnya saja karena jujur aku benar-benar malas saat ini.
Sesampainya kami di kantin, Myungsoo menyuruh ku untuk duduk dan dia pergi untuk mengambilkan makanan. Aku tidak meminta nya untuk melakukan itu bahkan aku tidak berminat untuk makan hanya saja Myungsoo ngotot untuk mengambilkan makanan untuk ku.
Dia kembali dengan makanan di kedua tangannya. "Ini, aku mengambilkan makanan yang spesial untuk kekasih ku." Ucapnya sambil meletakan makanan itu di depan ku dan jangan lupakan senyum menjengkelkan nya itu.
"Sudah aku bilang jangan katakan hal itu jika kau masih mau dekat dengan ku, telinga ku sakit mendengarnya bodoh." Sinis ku tanpa menatapnya.
Myungsoo duduk disamping ku. Aku tidak peduli dengan apa yang ia lakukan saat ini aku hanya berusaha menelan apa yang aku makan. Mood ku benar-benar buruk dan ini semua karena orang yang ada disamping ku ini.
__ADS_1
Tidak ada pembicaraan yang kami berdua lakukan saat makan tadi bahkan aku tidak berminat untuk mengatakan sesuatu atau sekedar berterima kasih karena itu bukan gaya ku. Aku juga tahu jika sejak tadi ketika aku makan, Myungsoo terus saja memandangi ku sambil tersenyum entah apa yang sedang ia pikirkan aku benar-benar tidak mengerti denga jalan pikirannya.
Selesai makan, aku beranjak terlebih dahulu dan Myungsoo mengikuti ku dibelakang.
Di perjalanan tak sengaja ada seorang gadis yang berjalan dengan ceroboh sampai menumpahkan minuman yang ia bawa di baju Myungsoo dan aku yakin itu adalah sengaja.
"Omo! Mianhae... Aku benar-benar tidak sengaja maafkan aku." Katanya sambil mencoba membersihkan tumpahan minuman itu pada kemeja sekolah Myungsoo. Aku memutar bola mataku jengah, hal seperti ini sudah ratusan kali aku menontonnya dalam drama percintaan korea yang setiap sore tayang. Menjijikan. Apakah tidak ada cara lain selain ini.
"Yak! Apa kau tidak punya mata, hoh? Jalan yang benar biar tidak menganggu orang lain." Marah ku pada gadis itu yang kulihat ber name tag Yoon Sohee.
"Aku benar-benar tidak sengaja, maafkan aku." Sambil menunduk menyesal.
Ku pikir Myungsoo akan marah seperti kebanyakan orang tapi dia malah menepuk pelan kepala gadis itu dan tersenyum. "Ne, gwaenchana, aku tahu kau tidak sengaja. Lain kali hati-hati ne." Aku terkejut bukan main ketika kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
Oh astaga! Apakah aku ini patung budha yang tidak berarti apa-apa dan diabaikan begitu saja. Melakukan hal seperti itu didepan ku yang ia akui sebagai kekasihnya. Cih, dasar menyebalkan.
Aku tidak peduli lagi dengan apa yang ia lakukan terserah saja, aku benar-benar tidak ingin tahu. Aku melenggang pergi meninggalkan dua orang itu.
Aku menghentak-hentakan kakiku kesal dengan apa yang terjadi tadi saat selesai dari kantin. Entah kenapa aku kesal sendiri dengan Myungsoo ketika dengan santai nya ia mengusap kelapa gadis sok kecantikan bernama Sohee itu. Menyebalkan. Hari ini benar-benar hari yang buruk untuk ku dan itu semua Myungsoo lah penyebabnya.
"Aku pulang!!" Teriak ku setelah masuk kedalam rumah. Ku lepas sepatu yang masih ku pakai lalu meletakkannya di rak samping pintu masuk.
"Oh, Noona kau sudah pulang. Eomma sedang pergi dan sejak tadi aku belum makan apapun bisakah Noona memasak sesuatu untuk ku? Aku benar-benar lapar." Tiba-tiba saja bocah kelinci ini muncul dengan tampang sok melasnya dan meminta ku memasak. Tidak taukah dia jika aku sedang dalam mood yang tidak baik. Kenapa rasanya semua orang menyebalkan sekali hari ini.
"Yak! Kau kan sudah besar kenapa tidak memasak sendiri atau pergilah membeli makanan diluar!!" Ketus ku sambil berlalu melewati dirinya yang masih menatap ku dengan memelas.
"Karena masakan Noona sangat enak dan Noona tahu bukan kalau aku tidak boleh makan sembarangan, eomma bilangan makanan diluar itu tidak sehat jadi aku tidak boleh membeli makanan diluar. Kalau aku sakit apakah Noona mau bertanggung jawab?"
Aku kembali setelah menganti seragam ku dengan pakaian rumah yang lebih santai. Kulihat Jungkook tengah duduk di meja makan sambil bermain benda persegi kesayangannya pasti dia sedang bermain game online lagi. Jungkook itu maniak game jadi setiap ada waktu pasti dia akan bermain sampai puas tapi sepertinya dia tidak punya rasa puas.
Aku ke dapur dan memasak sesuatu untuk bocah nakal itu. Untung saja ibuku sudah berbelanja untuk satu bulan kedepan sekalian saja aku menyiapkan makan malam, bisa jadi ibuku pulang terlambat hari ini.
Hanya butuh waktu sekitar setengah jam makanan ala Jiyeon sudah jadi, beberapa aku masukan kedalam lemari pendingin untuk ibu nanti dan yang lainnya aku taruh di meja makan.
"Jungkook, berhenti bermain game. Kajja kita makan." Tegur ku, dia langsung mematikan benda persegi itu dan meletakkannya di samping piring nya. Tumben sekali dia menurut, pasti perutnya sudah sangat lapar.
Kami berdua makan dengan tenang tanpa ada perdebatan atau pertengkaran kecil seperti biasanya. Mood ku sedang buruk sekarang jadi aku tidak ingin menambah buruk mood ku dengan bertengkar.
"Noona, boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Jungkook ketika ditengah acara makan kami.
Aku menatapnya sambil masih mengunyah makanan. "Selesaikan makan mu dulu baru kita bicara nanti." Kata ku dan kembali makan.
"Aku sudah selesai!!" Aku terkejut waktu melihat piring yang tadi penuh dengan makanan bersih seketika. Baiklah seperting dia mau bicara hal serius dengan ku.
Aku juga sudah selesai makan, sebelum itu aku menyuruh Jungkook untuk menaruh piring kotor ke dapur dan aku menunggunya di ruang keluarga.
Disinilah kami sekarang duduk berdua di sofa ruang keluarga yang cukup panjang. "Kau mau bertanya apa?"
"Tapi kau tidak boleh marah atau apapun nanti."
__ADS_1
Aku berdecak kesal, dia sepi berbelit-belit dan aku tidak suka itu. "Sudahlah katakan saja!"
"Noona kenapa kau begitu galak sih?! Setiap ada Myungsoo hyung pasti kau marah-marah dan mengatakan hal buruk kepadanya, dia itu sangat baik dan juga mencintai mu Noona apakah kau tidak bisa bersikap baik kepadanya? Aku tahu, aku ini hanya anak kecil di mata Noona, yang tidak tahu apapun tapi Noona jika kau seperti ini terus lama kelamaan Myungsoo hyung pun akan berpaling dan balik membenci Noona, apakah Noona mau seperti itu? Setidaknya rubahlah sedikit sikap mu yang kasar itu Noona, aku tahu kau sebenarnya juga menyukai Myungsoo hyung tapi gengsi mu terlalu tinggi." Aku tertegun mendengar setiap kalimat yang Jungkook ucapkan, sejak kapan adik ku yang bandel dan nakal berubah menjadi ahli cinta yang begitu pintar dan semua kata-kata nya sangat bagus.
Aku menghela napas panjang. "Begitukah? Bagaimana jika ternyata kau salah? Bagaimana jika nanti aku berubah Myungsoo malah semakin membuat ku kesal apakah aku juga tidak boleh kesal dengan dirinya? Sudahkah Jungkook atau tidak mau membahas hal ini. Jika kau masih membahas tentang Myungsoo maka tidak akan ada jatah makan untuk mu." Aku beranjak dari duduk ku, menuju pintu keluar.
"Noona kau mau kemana dengan pakaian seperti itu? Di luar sangat dingin!" Teriak bocah itu ketika aku membuka pintu.
"Aku mau mencari angin." Jawa ku sekenanya lalu keluar.
Entah kenapa kalimat Jungkook terus terngiang dalam otak ku. Ada benarnya juga apa yang dia katakan jika pada akhirnya mungkin Myungsoo akan marah dan membenci ku karena sifat ku ini. Huh, apakah aku menyukainya? Entahlah hanya saja aku sedikit kesal tadi ketika para gadis sibuk berebut untuk bisa bersama dirinya dan kejadian di kantin tadi benar-benar merusak mood ku.
Hari semakin gelap, matahari telah digantikan dengan cahaya sang rembulan. Aku duduk seseorang diri di taman dekat rumah yang sepi mungkin karena hari sudah berganti malam. Lampu jalan satu persatu menyala membuat pemandangan malam menjadi indah dan terang.
Aku itu memang bodoh, benar apa yang dikatakan Jungkook malam ini benar-benar dingin dan aku hanya memakai kaus tipis dan rok selutut serta sendal rumah. Gara-gara kata-kata Jungkook aku jadi dilema seperti ini.
Aku menghembuskan nafas lalu menutup mata sejenak. Kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa hidupku jadi membingungkan seperti ini.
Aku terkejut lalu membuka mata ketika merasakan sesuatu menempel pada bahuku, sebuah cardigan berwarna biru milik laki-laki. Aku mendongak dan mendapati wajah Myungsoo yang tersenyum lembar.
"Kau?! Sedang apa kau disini?" Aku terkejut sekali dengan kedatangannya yang tiba-tiba itu.
Myungsoo ikut duduk disamping ku sebelum menjawab pertanyaan ku. "Jungkook bilang kau keluar rumah sejak sore dan hanya menggunakan pakaian minim, dia khawatir dan memintaku untuk mencari dirimu." Bocah kelinci itu, kenapa harus bilang pada Myungsoo segala sih dan sejak kapan mereka jadi akrab? Menyebalkan. "Sedang apa kau disini, disini sangat dingin Kajja kita kembali."
"Shireoyo! Jika kau mau kembali, kembali saja sendiri." Ketus ku.
"Aku tidak akan kembali tanpa dirimu, jadi aku akan menunggu sampai kau mau kembali."
Kami kembali terdiam dan suasana menjadi hening. Dia benar-benar tidak pergi dan justru semakin membuat kesal. "Yak! Kenapa kau selalu bertindak bodoh, hoh? Pulanglah jika kau memang mau pulang!! Kenapa kau selalu bersikap seperti ini?"
"Karena aku mengkhawatirkan mu."
Aku mengerutkan kening. "Khawatir tetang apa?"
"Sejak tadi saat di sekolah, kau terus saja diam dan tidak mengatakan apapun dan saat di kantin tadi kau juga tidak banyak bicara seperti biasanya lalu kau meninggalkan ku ketika aku sedang berbicara dengan gadis yang menumpahkan minuman lalu pulangnya kau bahkan tidak menunggu ku. Aku khawatir mungkin saja kau sakit." Jelasnya. Ya ampun! Apakah dia itu seorang penguntit profesional? Dia tahu segalanya sampai sedetil itu.
"Bukankah aku emang seperti itu? Memangnya harusnya aku mengatakan semua hal kepadamu, aku rasa itu tidak perlu dan lagi aku pergi karena aku tidak suka saja berada disana." Kenapa kau tidak peka sih Myungsoo jika aku kesal kau melakukan hal itu pada gadis itu.
"Kau cemburu?"
"Mwo?! Apa kata mu?!"
"Apa kau cemburu, melihat mu bersikap seperti ini aku rasa kau memang cemburu." Myungsoo tertawa keras membuat ku kesal. Langsung saja aku pukul dia dengan tangan ku.
"Yak! Jangan gila, siapa juga yang cemburu padamu. Aku tidak cemburu, lagi pula kau itu sudah punya kekasih apakah pantas memperlakukan seorang gadis seperti itu didepan kekasih mu! Cih... menyebalkan. Apa kau pikir aku ini patung yang tidak berarti atau udara begitu." Aku mempoutkan bibir ku kesal. Ingat ini bukan cemburu hanya mengeluarkan unek unek yang ada dihati doang kok.
Myungsoo malah tersenyum aneh membuat ku semakin yakin jika dia tidak waras. "Jiyeon-ah!! Nan jeongmal saranghaeyo!!" Tiba-tiba dia memeluk erat membuat ku bingung. "Gumawo, aku benar-benar minta maaf tentang hal itu aku janji tidak akan lagi melakukan hal seperti itu pada gadis lain, hanya padamu." Aku tidak tahu kenapa tapi, aku senang mendengar hal ini lalu tanda disadari senyum kecil menghiasi wajah ku.
__ADS_1
Bersambung.....