
"Myungsoo-yaaa!!!"
"Hyung!!"
Pekik ibu dan Jungkook ketika kami baru saja masuk kedalam rumah. Mereka langsung saja menghampiri Myungsoo dan aku yang masih berdiri tak jauh dari pintu masuk.
"Aigo, kemana saja kau ini? Sudah dua minggu kau tidak kemari." Ucap ibu yang memang terlihat berlebihan tapi aku senang karena Myungsoo akan percaya jika ibu memang menyuruhku untuk memintanya kemari.
"Pasti Noona kan yang melarang Hyung kemari? Aish, Noona itu memang benar-benar jahat." Aku melotot marah pada bocah kelinci itu, enak sekali mulutnya yang rembes itu mengatakan jika aku ini jahat.
"Yak! Diamlah bodoh!!" Omel ku pada bocah itu.
Ibu mengajak Myungsoo untuk duduk di ruang tamu dan menyuruhku untuk menganti baju. Mereka sibuk mengobrol bahkan tertawa cukup keras samai terdengar dari dalam kamar ku yang ada di lantai dua. Ibu sangat menyukai Myungsoo sejak dulu karena menang dia sangat baik dan juga ramah, jika saja aku tidak melupakan semuanya pastilah ini tidak akan terjadi. Sudahlah, tidak perlu di sesali lagi, sekarang yang perlu aku lakukan adalah memperbaiki semuanya agar menjadi lebih baik lagi.
Aku turun kebawah bergabung bersama mereka, walau Myungsoo kini sibuk bercerita dengan ibu dan tak memperhatikan diriku, tapi aku senang dia ada disini dan tertawa lepas di hadapan ku.
"Jiyeon-ah, buatkan Myungsoo minuman." Suruh ibuku ketika aku sedang memperhatikan bocah kelinci berbicara dengan Myungsoo.
"Ne eomma." Aku segera berdiri dan menuju dapur tapi langkah ku berhenti ketika suara ibu ku terdengar.
"Sejak kapan kau langsung mau membuatkan minuman untuk Myungsoo? Biasanya juga marah-marah dulu dan menolak, sekarang langsung berangkat. Apa jangan-jangan kau sudah berbaikan dengan Myungsoo dan mulai menyukainya?" Ucap ibuku dengan senyum menggodanya.
Aish, kenapa ibuku harus mengatakan hal semacam itu sih membuat Myungsoo dan Jungkook kini ikut menatap ku saja, aku kan bingung harus jawab apa sekarang.
"Benar begitu Noona?" Sepertinya bocah kelinci itu juga penasaran.
"Yak! Bukan begitu, hanya saja aku sedang malas marah-marah tidak jelas dan hanya akan menghabiskan tenaga ku itu saja." Kilah ku, entah alasan apa yang aku buat ini semoga mereka percaya.
"Oh begitu, baiklah buatkan sana." Aku langsung bergegas ke dapur dari pada di tanya yang aneh-aneh lagi.
Selesai membuatkan minuman, aku kembali dan betapa kesalnya aku karena tidak ada siapapun disana bahkan ibu yang meminta ku membuatkan minuman pun juga lenyap entah dimana.
"Apa mereka sedang mengerjai diriku? Menyebalkan, lalu untuk apa semua minuman ini?" Grutuku sambil mempoutkan bibir ku karena kesal. Sudah susah payah aku buatkan mereka malah menghilang.
Aku meletakkan minuman itu di atas meja kemudian duduk di sofa dan menyalakan TV, lebih baik melihat sesuatu dari dalam kotak itu daripada memikirkan kemana perginya mereka, bahkan jika bisa aku akan habiskan seluruh minuman itu.
Lama aku menunggu tiba-tiba aku mendengar suara pintu terbuka dan tak lama kemudian munculah sosok ibu yang meneteng dua buah kresek berisi bahan makanan dan di belakangnya di susul Myungsoo dan Jungkook yang juga membawa satu buah kresek besar pada tangan masing-masing. Habis dari mana mereka? Jika dari pasar cepat sekali dan kenapa aku tidak mendengar suara mereka saat pergi tadi?
"Eomma, kalian dari mana?" Tanya ku pada mereka.
"Tadi seorang pelayan dari rumah Myungsoo mengantar bahan makanan dan kami pergi keluar untuk mengambilnya, Myungsoo akan makan malam disini."
Entah kenapa, aku merasa sangat bahagia mengetahui bahwa Myungsoo akan makan malam disini, bersama dengan kami. Tidak dapat di pungkiri bahwa aku sangat bahagia saat ini.
"Jiyeon-ah jangan hanya diam, kajja bantu eomma memasak."
"Ne!"
"Eomonim, aku juga akan membantu."
"Tidak perlu, kau duduklah bersama Jungkook atau bermain game saja di kamar, biar kami yang memasak."
"Iya Hyung eomma benar, lebih baik kita main game saja, aku punya sebuah game baru yang aku pinjam dari Bomin kemarin."
Pupus sudah harapan ku, sudah senang mendengar Myungsoo akan membantu memasak tapi malah bocah kelinci itu mempengaruhinya bermain game baru. Punya sendiri pamer boleh, itu punya Bomin dipamerin, nggak modal banget sih luk Kook, untung adek gue.
"Aku sedang malas main game sekarang, eomonim biarkan aku membantu, tenang saja aku ini jago memasak dan masakanku itu juga sangat enak kok."
__ADS_1
Aku bersorak senang dalam hati karena Myungsoo menolak Jungkook, aku ingin tertawa keras ketika melihat wajah kecewa Jungkook yang sangat lucu itu. Kau kurang beruntung adek ku yang imut.
Di sinilah kami sekarang, berkuat dengan alat dapur dan sayur mayur yang akan di jadikan santapan makan malam.
Ibu bertugas menggoreng, aku memotong sayuran sedangkan Myungsoo, dia melakukan semua hal yang ia bisa. Uhhh, bahagianya melihat Myungsoo begitu tampan berkuat dengan penggorengan, dia terlihat sangat keren ketika memasukan bubu kedalamnya dan ibupun tertawa melihat tingkah konyol Myungsoo itu.
Karena sibuk memperhatikan Myungsoo, tanpa sadar aku malah salah memotong sayur sehingga mengenai tangan ku sendiri. "Auuww.." Ringis ku, darahpun mulai keluar dari jari telunjuk ku.
"Jiyeon-ah wae?" Tidak aku duga, Myungsoo menghampiri ku serta bertanya pada ku bahkan dia terlihat khawatir dengan diriku. "Jari mu berdarah, kemarikan." Myungsoo menarik tangan ku, dia menghisap darah yang keluar dari jari telunjuk ku. "Sudah berhenti, lain kali kau harus lebih hati-hati." Ucapnya lalu kembali memasak.
Aku tidak dapat bicara apapun bahkan tubuh ini serasa kaku, rasanya ada sesuatu yang mengekitik perutku dan bunga-bunga bertaburan memenuhi diriku. Myungsoo, benarkah dia yang melakukannya tadi? Ya tuhan, semoga aku tidak bermimpi dan ini adalah hal yang tak akan pernah aku lupakan dan juga aku ingin terbang rasanya. Myungsoo masih perduli pada ku, itu artinya masih ada kesempatan untuk ku.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Makan malam berjalan dengan lancar, Jungkook banyak bicara tapi juga itu yang membuat suasan makan malam terasa hidup.
Ibu meminta ku untuk mengantar Myungsoo sampai halte depan yang lumayan jauh dari rumahku, dengan senang hati aku mengiyakan permintaan ibu dan kini kami berjalan berdua tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut ku ataupun mulut Myungsoo. Kami hanya berjalan dan sibuk dengan apa yang kami pikirkan dalam otak kami.
Rasanya benar-benar canggung seperti ini, seolah kami ini adalah dua orang asing yang baru sehari bertemu dan bingung mau mengatakan apa. Apakah dia hanya akan diam sepanjang jalan saja. Aku ingin dia mengatakan sesuatu bahkan jika itu hanya menyebut namaku.
"Kim Myungsoo, nan jeongmal saranghaeyo. Mungkin ini sudah terlambat tapi aku benar-benar sadar bahwa aku mencintai mu dan aku hanya ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu Myungsoo. Aku akan pergi dan tidak akan lagi menganggu mu seperti kau yang sekarang tidak menganggu ku." Aku mengusap kasar air mata di pipiku kemudian berbalik untuk pergi. Rasanya lega sekali telah berhasil mengatakan hal ini pada Myungsoo setidaknya satu beban dalam diriku telah berhasil aku lepaskan.
Baru dua langkah, aku terkejut ketika merasakan seseorang menabrak tubuhku dari belakang dan melingkarkan tangannya pada tubuhku. "Kajima." Bisikan itu terdengar jelas di telingaku.
"Myungsoo?" Yah, Myungsoo memeluk ku dari belakang dengan sangat erat.
"Jebal Kajima, mianhae karena telah mengabaikan dan mengacuhkan dirimu. Aku hanya ingin tahu apa kau merasa kehilangan diriku atau tidak saat aku menjauh. Bukan hanya kau Jiyeon, aku juga tersiksa. Salah jika kau mengatakan bahwa aku membenci mu dan ingin segera pergi menjauh dari mu. Kau tahu? yang sebenarnya adalah aku selalu ingin berlari kearah mu, memeluk mu bahkan mencium mu saat melihat kau ada di hadapan ku, tapi aku selalu menahan diri dan mencoba untuk menjauh agar aku bisa tahu apa kau mencintai ku atau tidak. Dan akhirnya hal itu pun terjadi, aku juga mencintai mu Jiyeon, aku sangat mencintai mu."
Aku terharu mendengar penuturan Myungsoo itu, air mata ini seolah tidak mau berhenti mengalir. Selama ini, kami hanya menyiksa diri kami masing-masing dan yang lebih tersiksa adalah Myungsoo.
Myungsoo membalik tubuh ku, dia menyeka air mata yang berada di pipiku dengan lembut dan penuh Kasih sayang. "Jangan menagis, aku merasa sakit ketika melihat kau menangis seperti ini." Aku mencoba untuk tersenyum tapi malah sebuah senyuman aneh yang muncul karena rasa bahagia yang tak dapat aku sampaikan dengan kata-kata.
"Yak! Bagaimana bisa kau lakukan hal ini padaku, huh?! Tidak taukah kau betapa aku sangat kecewa ketika kau menolak duduk dengan ku, kemudian kau juga menolak untuk pergi ke kantin bersama?! Dan belum lagi saat kau terus di tempeli oleh wanita bernama Yoon Sohee!!" Omel ku padanya. Myungsoo malah tersenyum ketika aku sibuk mengoceh. "Yak! Kenapa kau malah tertawa?!"
"Kau benar-benar lucu Ji. Kau tahu? Aku sangat bahagia ketika kau rela berangkat begitu pagi kesekolah, merayu woohyun untuk pindah supaya bisa duduk dengan ku, aku hargai usahamu dan aku ingin sekali duduk dengan mu saat itu tapi kemudian aku ingat jika aku harus menahan diri. Lalu saat pergi ke kantin, aku benar-benar ingin pergi dengan mu tapi sekali lagi menahan diri. Tapi terlepas dari semua itu aku sangat bahagia, aku bahagia dan semua itu karena kau." Jelas Myungsoo.
"Lalu? Yoon Sohee?"
Myungsoo kembali terkekeh geli. "Hanya kau wanita yang aku cintai Ji, dulu hingga sekarang. Kau tahu bukan, aku tidak menyukai gadis itu sudah aku katakan untuk menjauh tapi dia juga tidak mau menjauh."
"Tapi kalian terlihat akrab bersama!"
"Itu supaya kau cemburu."
"Mwo?!"
__ADS_1
Aku melotot marah pada Myungsoo. Bagaimana bisa dia berpikir sampai kesitu. Menyebalkan sekali.
"Sudahlah Ji yang terpenting sekarang adalah aku mencintai mu dan kau mencintai ku, bagiku itu sudah lebih dari cukup jangan pikirkan yang lain atau apapun itu. Hanya kita." Myungsoo mengangkat daguku dengan tangannya. "Heum?"
Aku tersenyum. "Baiklah, hanya kita." Myungsoo juga ikut tersenyum.
Myungsoo menarik tubuhku agar lebih dekat dengan dirinya bahkan tidak ada jarak di antara kami, dia menempelkan keningnya dengan kening ku, dapat kurasakan hembusan nafas Myungsoo yang hangat menerpa wajah ku. "Saranghaeyo." Setelah mengatakan itu Myungsoo mengecup bibirku pelan, mataku terbelalak kaget ketika merasakan bibir Myungsoo yang kenyal mulai melumat daun bibir ku dan memberikan sedikit gigitan disana. Akupun memejamkan mata dan mulai mengikuti permaian yang Myungsoo ciptakan dan perlahan membalas ciuman Myungsoo aku bahkan lupa jika kami sedang berada di tengah jalan, untung saja sepi jadi tidak akan ada orang yang melihat.

.
.
.
.
.
.
.
Matahari pagi mulai bersinar, perlahan aku membuka mataku dan kejadian semalam seperti rekaman yang di putar terus menerus dalam otak ku. Pipiku langsung memerah dan malu ketika mengingat kejadian semalam, kejadian yang tidak akan pernah aku lupakan untuk selamanya.
Aku sudah seperti orang gila saja, tersenyum terus sejak tadi dan tak berniat bangun dari tempat tidur. Aku benar-benar melayang dan bahagia sekaki.
"Noona bangunlah!!! Jika kau tidak bangun maka kau akan terlambat!!!" Suara Jungkook yang menyebalkan itu langsung membuat semua bayangan indah itu lenyap seketika.
"Aish, menganggu saja bocah itu." Dumel ku lalu segera bangun dan masuk kedalam kamar mandi.
20 menit bersiap itu cukup bagiku, kini aku telah tampil cantik dan siap untuk berangkat sekolah. Aku keluar dari dalam kamar, turun kebawah untuk sarapan bersama dengan ibu dan Jungkook tapi kali ini kami ke tambahan satu anggota baru. Lelaki yang sangat aku cintai duduk dengan manis di samping ibuku tengah menatap kearah ku saat ini. Aku jadi bersemangat untuk sarapan pagi kali ini, apalagi setelah melihat wajah tampan kekasih ku.
"Cih, lihatlah Noona, wajahmu sudah seperti kepiting rebus saja bahkan kau terlihat semakin bodoh dengan senyuman itu." Aku langsung menoleh dan memberikan tatapan mematikan pada Jungkook yang baru saja mencibirku.
"Yak! Ini makan yang banyak!! Sekolah yang benar dan jangan banyak bicara!" Akh memasukan satu roti kedalam mulutnya untuk menyumpal mulutnya agar tidak berbicara lagi. Lama-lama kesal juga aku dengan bocah ini, tidak tahu apa jika Noonanya ini sedang bahagia. Ganggu saja.
Selesai sarapan, kami berangkat kesekolah bersama. Myungsoo terus saja menggandeng tanganku sejak kami keluar dari dalam rumah, diapun juga tersenyum bahagia.
"Ji kau tahu? Setelah bangun tidur dan bersiap tadi aku langsung bergegas pergi kerumah mu, aku takut kejadian semalam hanya mimpi dan kau berubah lagi, maka dari itu aku segera pergi untuk memastikannya." Ucap Myungsoo benar-benar lucu.
"Jinja?!"
"Ne."
"Tenang saja, aku tidak akan pernah berubah dan apa yang terjadi semalam bukanlah mimpi."
"Kalau begitu, bisa kau katakan lagi jika kau mencintai ku?"
"Yak! Itu tidak perlu."
"Ayolah Ji, sekali saja agar aku yakin."
Aku menghembuskan napas kecil. "Baiklah, kim Myungsoo, nan jeongmal saranghaeyo." Ucapku dan Myungsoo malah mencium pipiku.
"Nado Saranghaeyo."
Aku tersenyum, dasar konyol ada saja hal-hal mengejutkan yang selalu Myungsoo lakukan. Sekarang, aku tidak akan lagi melepaskan orang yang aku cintai dan aku juga akan selalu menghargai apa yang ia lakukan untuk ku. Kim Myungsoo kau telah mengajariku banyak hal dan juga membuat ku mengerti bahwa keegoisanku hanya akan membawa dampak buruk bagi diriku sendiri. Aku pernah hampir kehilangan dirimu dan sekarang aku tidak akan membiarkan mu pergi. Tetaplah disamping ku Myungsoo.
»FIN«

__ADS_1