
Aku duduk diatas ranjang. Berkali-kali mengacak rambut ku frustasi sampai entah bagaimana keadaanya sekarang aku tidak peduli, kejadian tadi sore benar-benar membuat ku gila dan Myungsoo lah penyebab semua itu terjadi. Oh aku harap ini hanya mimpi buruk dan besok semua akan kembali seperti semula.
Aku menepuk kedua pipi ku pelan. "Ini hanya mimpi, yah jangan pikirkan itu lagi Jiyeon! Myungsoo bodoh itu tidak mungkin menyatakan perasaanya padamu." Aku meyakinkan diriku sendiri padahal diriku yang lain tahu jika hal itu adalah kenyataan yang tidak bisa aku ubah.
"Jiyeon-ah! Palli turun makan malamnya sudah siap!!"
"Noona jika kau tidak turun dalam hitungan ketiga, maka aku anggap kau memberikan jatah makan mu untuk ku!!"
Belum selesai aku memikirkan nasib buruk karena ulah Myungsoo, kini aku malah harus menghadapi keluarga ku yang benar-benar luar biasa. Aku memiliki seorang ibu dan satu adik laki-laki yang sangat menyebalkan mungkin hampir sama menyebalkannya dengan Myungsoo bedanya dia itu lebih banyak bicara tidak seperti Myungsoo yang hanya bicara kepada ku, jika dengan yang lain itu hanya hal yang penting saja. Ayah ku? Beliau sudah lama meninggal, ketika aku duduk dibangku sekolah dasar jadi aku tidak terlalu ingat bagaimana dirinya, yang aku tahu dia orang yang tampan dan juga baik.
Astaga! Si bocah nakal itu sudah mulai menghitung, dan jika aku tidak segera turun maka jatah makan ku akan benar-benar dimakan habis olehnya. Yah, dia tidak pernah main-main dengan ucapannya karena hal ini sering terjadi dan hasilnya aku harus memasak sendiri karena ibu ku mengatakan jika dia sudah repot memasak untuk kami dan karena aku terlalu lama dia pikir aku tidak makan maka dari itu dia oke oke saja jika makanan itu dimakan adik ku dan sebagai gantinya aku harus memasak sendiri.
Benar dugaan ku, ketika aku sampai disana dia sudah bersiap untuk memakan makanan ku. "Yak!" Ku pukul pelan belakang kepalanya dengan tangan ku ini, dasar adik kurang ajar.
"Aduh! Noona sakit." Rengek nya sambil mengusap belakang kepalanya yang baru saja ku pukul tadi.
"Makanya jangan suka mengambil jatah makan orang!" Sinis ku. Aku tidak peduli dengannya yang masih mengusap belakang kepalanya, aku langsung duduk disampingnya kemudian mengambil jatah makanan ku yang ia ambil tadi.
Aku mengerutkan kening ketika tidak.mendapati ibuku disana. "Eoh? Dimana Eomma?" Tanyaku pada bocah nakal disamping ku yang kini tengah menikmati makanannya.
"Ada tamu, mungkin eomma tengah menyambutnya." Jawabnya dengan mulut yang penuh dengan makanan. Lihatlah, hidup ku dikelilingi oleh orang-orang bodoh. Tapi tunggu! Dia bilang ada tamu? Siapa? Tumben sekali kami kedatangan tamu. Ah, entahlah kenapa aku harus pusing memikirkannya.
"Jiyeon-ah, lihatlah siapa yang datang." Aku menoleh pada ibuku yang datang bersama seseorang.
Aku langsung tersedak ketika mengetahui jika orang itu adalah Myungsoo dan dia berada dirumah ku. Di rumah ku!! Bahkan dia memperlihatkan senyum bodohnya itu lagi. Apa-apaan dia itu!!
"Noona minumlah, kau bisa mati nanti" Jungkook memberikan segelas air untuk ku.
Aish, bocah itu apakah dia sedang mendoakan ku cepat mati dasar adik kurang ajar dan lagi untuk apa Myungsoo datang kemari. Apa tidak cukup dia menganggu hidupku di sekolah.
Aku meneguk segelas air yang Jungkook berikan padaku tadi. Setelah itu aku langsung berdiri untuk menghampiri Myungsoo. "Yak! Sedang apa kau dirumah ku?!"
"Jiyeon-ah, jangan bicara kasar seperti itu dia kan tamu kita, bicaralah yang baik." Nasehat ibuku. Oh, kenapa tidak ada yang mengerti situasi ku saat ini. Menyebalkan.
"Wae? Aku hanya ingin berkunjung kemari sekalian mengajak mu untuk makan malam bersama di luar." Katanya dan terus saja tersenyum, apa dia tidak lelah terus tersenyum seperti orang bodoh.
__ADS_1
"Shireo!!" Tolak ku dengan tegas.
Siapa juga yang mau makan dengannya. Kalaupun ada pasti itu orang yang tidak waras dan sama bodohnya dengan dia.
"Tentu saja Jiyeon mau, dia tidak mau karena belum menganti baju saja kok." Ibuku tiba-tiba saja mengatakan hal itu membuat ku terkejut.
Kenapa ibuku malah berkata seperti itu? Kenapa dia malah berpihak pada Myungsoo. Aku menatap kesal kepadanya tapi ibuku malah menarik ku pergi naik keatas dan masuk kedalam kamar. Astaga, apakah aku benar-benar harus pergi dengan Myungsoo bodoh itu? Yang benar saja.
Karena ulah konyol ibuku itu akhirnya aku pergi dengan Myungsoo dan lagi Jungkook, bocah bandel itu tidak hentinya mengejek diriku membuatku semakin kesal. Kami sudah selesai makan di kedai ramen dekat stasiun kereta dan kini hanya berjalan saja tidak tahu arah. Berulang kali aku berdecak kesal tapi dia sepertinya sama sekali tidak peka jika aku ini bosan.
Langkah kaki kami membawa kami menuju ke tempat yang lagi-lagi nampak asing untuk ku. Apakah kami kesasar? Apakah karena terlalu fokus dengan pikiran ku aku sampai tidak sadar jika salah berbelok? Ya tuhan, bagaimana ini.
"Kita tidak kesasar."
"Eoh?"
Aku terkejut, dia bisa membaca pikiran ku? Ah tidak, mungkin saja hanya kebetulan dan sudah terlihat jelas diwajah ku jika aku kebingungan. Tidak mungkin orang seperti dia bisa membaca pikiran ku. Aku memperhatikan tempat ini, sebuah tanah lapang yang cukup luas dengan rumput hijau yang banyak dan satu buah pohon besar yang berada di tengah, ada banyak bunga juga disana.
Entah sejak kapan dan bagaimana, aku sudah berdiri dibawah pohon itu. Angin kembali berhembus dan menerpa tubuh ku. "Apa kau menemukan tempat ini lagi?" Tanya ku pada Myungsoo yang kini berada di jarak yang lumayan dekat dengan ku.
"Yak! Aku sudah bilang!! Aku tidak mau menjadi kekasih mu, kenapa kau terus saja mengatakan hal itu!" Mood ku yang buruk semakin buruk saja karena ulah Myungsoo ini.
"Aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan, kau kekasih ku dan aku juga sudah menyatakan perasaan ku kepadamu jadi aku anggap kau setuju dan aku tidak butuh jawaban mu." Dia mengatakan hal itu dengan begitu tenang tanpa ada beban sedikitpun. Tidak butuh jawaban?! Dia benar-benar bodoh, ini pemaksaan namanya.
"Hemph. Kau akan menyesal jika berpacaran dengan ku, aku ini bukan gadis yang cocok untuk hal seperti itu."
"Ani, aku senang sekali bahkan tidak ada rasa menyesal dalam hatiku karena telah menyatakan perasaan ku kepadamu dan menjadikan mu sebagai kekasih ku."
Aku pikir dia itu tidak hanya bodoh tapi juga gila. Aku dengan terang-terangan menolaknya tapi dia tidak menyerah juga.
"Hemph. Kau tidak tahu apapun tentang ku! Jadi berhentilah melakukan hal bodoh seperti ini. Semuanya hanya akan menjadi sia-sia." Aku memalingkan muka dan menyilangkan tangan ku didepan dada.
Aku pikir dia akan memikirkan apa yang aku katakan dan menyerah tapi tidak. Dia menutup mata kemudian membukanya lagi lalu menggeleng dan tersenyum. "Aku tahu siapa dirimu bahkan aku sangat tahu. Aku tidak akan berhenti melakukan hal ini, jika belum dicoba siapa yang akan tahu? Jadi kau mau mencobanya bukan?"
Aku menatapnya, kami saling bertatapan cukup lama, angin berhembus menerpa tubuh kami dan udara semakin dingin. Apa maksud ucapannya itu? Dia tahu siapa aku? Lalu kenapa aku tidak tahu siapa dia? Kenapa aku sama sekali tidak mengingatnya? Aish, semua ini semakin membuat kepalaku pusing.
__ADS_1
"Terserah kau saja, tapi jangan menyesal nanti." Sinis ku lalu berjalan melewatinya. Aku sempat melirik nya dan dia tersenyum lebar.
"Aku tahu, kau pasti akan menyetujui hal ini. Gumawo Jiyeon-ah. Gumawo karena telah memberikan ku kesempatan." Aku mengabaikan ucapannya dan menganggap hal itu sebagai angin lalu.
"Yak! Mau sampai kapan kau berdiri disitu?! Kajja kita pulang, udara semakin dingin." Teriak ku karena jarak kami memang sudah cukup jauh.
"Ne!" Ucapannya girang dan berlari menghampiri ku.
Kim Myungsoo, orang seperti apa dirimu sebenarnya. Kau baru mengenal ku, kita baru saja kenal dan tiba-tiba kau mengatakan menyukai ku dan memintaku untuk menjadi kekasih mu. Apa yang sebenarnya kau rencanakan? Dan siapa kau sampai bisa tahu tentang diriku?
Jiwon, Suzy, Jieun dan Krystal. Pagi ini ketika aku berangkat ke sekolah mereka menyambut ku dan tiba-tiba memeluk ku erat dan mengucapkan selamat. Ada apa dengan mereka semua itu? Apakah mereka salah makan? Atau apa.
"Yak! Yak! Kenapa kalian ini?! Lepaskan!" Aku berontak dan melepaskan diri dari pelukan mereka itu. Aku menatap mereka satu persatu dan tatapan ku jatuh pada Jieun, dia pasti akan memberitahu apapun yang aku tanyakan karena Jieun tidak pernah berbohong. Mungkin?
"Yak! Lee Jieun! Apa yang terjadi? Kenapa kalian mengucapkan selamat kepadaku dan memeluk ku seperti itu?! Kalian pikir kita ini teletubis apa?!" Kesal ku.
Jieun tersenyum. "Jangan marah, kami sebagai teman hanya ingin menunjukan jika kami ikut bahagia dengan apa yang terjadi antara kau dengan Myungsoo. Kami senang sekali Ji."
"Mwo?!" Aku masih belum mengerti apa yang dia katakan. Bukalah yang terjadi adalah aku selalu mengatakan hal buruk kepadanya, apakah Jieun senang karena hal itu? Wah, dia lebih jahat dibanding aku jika itu benar.
"Iya, Myungsoo sudah mengatakannya pada kami. Kalian jadian bukan? Senangnya mengetahui hal ini." Tambah Suzy yang juga ikut tersenyum girang.
"Mwo?!" Aku mengerti sekarang.
"Jangan lupa untuk mentraktir kami ya Ji." Krystal menunjukan senyum penuh kemenangannya.
"Mwo?!"
"Yak! Apa hanya itu yang akan kau ucapkan. Sudahlah kau tidak perlu malu seperti itu Jiyeon, kami semua tidak keberatan kok jika kau jadian dengan Myungsoo malahan kami senang dengan hal itu." Tambah Jiwon yang merangkul ku dengan senang.
Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat. Sudah aku duga jika Myungsoo itu orang yang menyebalkan dan sangat bodoh. "KIM MYUNGSOOO!!!" Pekik ku begitu keras bahkan bisa membuat telinga siapa saja sakit mendengarnya.
__ADS_1
Bersambung....