
Aku sudah siap untuk berangkat sekolah, sejak kemarin Myungsoo tidak menganggu ku lagi setelah kejadian di lapangan basket, aku bersyukur karena hal itu akhirnya kehidupanku yang normal akan segera kembali tanpa ada bayang-bayang Myungsoo.
"Pagi!!" Sapa ku riang pada ibu dan Jungkook yang tengah menikmati sarapan bersama. Aku tersenyum pada bocah kelinci itu tapi apa yang aku dapat, di malah menatap kesal kepada ku. Oh ayolah, apa lagi kesalahan ku sekarang? Kenapa dia menatap ku seperti itu, membuat moodku buruk saja. "Yak! Wae? Ada apa dengan tatapan itu, hoh? Apa ada yang salah dengan diriku?" Tanyaku karena mulut ini tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Aniya, hanya mengingatkan agar Noona jangan menyesal dan berhenti melakukan hal bodoh." Pasti ini ada hubungannya dengan Myungsoo. Sebebarnya ada apa sih dengan bocah ini, kenapa dia begitu membela Myungsoo yang bukan siapa-siapa dan terus menyalahkan diriku yang merupakan kakak kandungnya. Sungguh membuat pusing saja.
Selesai makan aku segera pergi kesekolah setelah berpamitan pada Ibuku. Aku terkejut ketika membuka pintu dan melihat seseorang yang kini berdiri di depan pintu uatama rumah ku itu. Siapa lagi jika bukan Myungsoo!! Kupikir dia sudah menyerah dan tidak akan mengganggu ku lagi, tapi apa ini?! Dia malah berdiri di depan pintu rumah ku dengan cengiran konyolnya itu. "Yak! Apa yang sedang kau lakukan di deoan pintu rumah ku?!" Ketusku, aku benar-benar muak dengan segala hal yang ia lakukan.
"Tentu saja menunggu mu untuk berangkat kesekolah bersama, apa lagi?" Jawabnya begitu enteng, seolah kemarin tidak terjadi apa-apa dan semua baik-baik saja.
"Kim Myungsoo, apa kau tidak lelah dengan semua ini? Mau samapi kapan kau akan seperti ini?" Aku tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi dirinya yang keras kepala melebihi diriku sendiri belum lagi, aku tidak tahu apa yang sebenarnya dia mau dariku hingga terus membuntutiku bahkan menjadikan diriku kekasihnya.
"Ani, aku tidak lelah, bagiku ini sangat menyenagkan." Lihatlah, jawaban yang keluar dari mulut itu selalu membuat ku binggung harus dengan cara apa lagi aku membuatnya berhenti dan tidak mengangguku lagi. Masa bodoh dengan apa yang sebenarnya dia mau dari ku, pura-pura tidak menganggapnya mungkin jauh lebih baik.
Aku memutar bola mataku jengah lalu berjalan mendahuluinya. Jika berjalan bersebelahan dia bisa salah paham dengan mengira aku telah menyerah dan menerima dirinya. Tentu saja aku tidak mau hal itu terjadi.
...
Setibanya di sekolah, seperti biasa para siswa dan siswi yang tidak punya pekerjaan selain bergosip tengah membicarakan diriku yang memperlalukan Myungsoo bak seorang pelayan. Tapi aku tidak peduli karena aku tidak pernah meminta Myungsoo melakukan hal itu dan lagi aku sama sekali tidak butuh ocehan mereka yang tidak berguna itu.
Sekilas aku melihat Myungsoo yang berjalan di belakang ku. Dia tersenyum, entah apa yang membuatnya senang dari kejadian hari ini tapi sejak berangkat tadi senyum itu tidak pernah luntur dari bibirnya. Mungkin itu efek karena kurang tidur dan minum obat, sudahlah nyambung nggak nyambung anggap aja begitu.
Pelajaran berjalan seperti biasa membosankan, tapi ada sesuatu yang membuatnya berbeda. Kalian tahu kenapa? Ini semua karena tiba-tiba saja Myungsoo berubah menjadi pintar, dia berulang kali berhasil menjawab pertanyaan dari guru bahkan jawabnnya tepat dan cepat, seolah dia memang pandai sejak awal. Entah aku yang tidak tahu atau mungkin tidak sadar sehingga tidak menyadari jika Myungsoo telah berubah atau mungkin saja dia ingin pamer padaku jika dia sekarang menjadi pandai. Tetap saja itu tidak akan merubah apapun.
__ADS_1
Di kantin, kembali Myungsoo disambut oleh para fans yang entah sejak kapan jadi sebanyak ini. Mereka membuat ku sulit untuk berjalan dan terjebak di tengah krumunan itu, untung saja seseorang menarik tangan ku sehingga aku bisa kelaur dari krumunan itu, namun aku terkejut ketika sadar jika Myungsoo lah yang tadi menarik tangan ku dan membebaskan ku dari krumunan itu.
"Kau baik-baik saja?" Tanyannya terlihat begitu khawatir padaku. Aku langsung menepis kasar tangannya yang masih menggengam erat tangan ku.
"Eoh!" Ketusku seperti biasa lalu duduk di meja yang kosong. Myungsoo menyusul setelah itu.
Selalu seperti ini. Penyesalan itu kembali menyelimuti hati ku setelah aku melakukan hal kasar pada Myungsoo, padahal seharusnya aku tadi berterima kasih tapi malah marah dan berlaku kasar kepadanya. Ah sudahlah, memikirkannya semakin membuat pusing.
Tapi jujur saja, rasanya ada yang berbeda dengan Myungsoo, seolah dia bukan lagi Myungsoo yang kemarin ku kenal dia sedikit berbeda dari biasanya. Mulai dari menjemputku kerumah, menjadi pandai dalam waktu semalam dengan bukti berhasil menjawab pertanyaan guru dengan cepat seolah soal itu begitu mudah dan tadi ketika fans nya berkerumun begitu banyak dia bisa meloloskan diri tanpa bantuan ku bahkan dia yang membantu ku. Ada apa sebenarnya ini? Perubahan yang begitu cepet itu yang membuatku bingung.
....
Brukkk~~
Aku menatap sebuah kotak yang tidak sengaja jatuh dari dalam lemari karena tersengol lengan ku. Kotak itu lumayan besar berwarna coklat dengab motif garis di pinggirannya. "Apa ini?" Aku memungut kotak itu dan meletakknya di atas kasur.
Ku urungkan niatku untuk mengganti baju karena rasa penasaranku lebih besar pada kotak ini. Perlahan kubuka kotak coklat yang terlihat cukup usang itu, mungkin sudah lama ada disana dan aku tidak tahu hal itu. Aku mengkerutkan kening ketika melihat isi dalam kotak itu, sebuah album foto, beberapa surat dan sebuah boneka kayu yang terlihat begitu usang dan berdebu. "Milik siapa ini?" Aku terkejut ketika mendapati namaku ada di boneka kayu itu yang menandakan jika boneka itu adalah milik ku, tapi sejak kapan aku punya boneka macam ini.
Ku ambil album foto itu dan mulai membuka lembar demi lembar, di halaman pertama aku melihat foto seorang gadis kecil yang kira-kira berusia enam tahun sedang menggandeng seorang anak lelaki yang berusia sekitar emat tahun. Tentu aku tahu siapa yang berada didalam gamabr itu, gadis itu aku dan akan lelaki itu adalah bocah tengil bergigi kelinci. Jungkook.
Aku tertawa kecil ketika melihat batapa lucunya kami dulu, bahkan aku lupa jika pernah memiliki kenangan indah ini sewaktu kecil. Aku terdiam untuk beberapa saat ketika melihat foto pada halaman terakhir dimana ada tiga anak yang berdiri bergadengan dengan manis, aku tahu itu aku dan Jungkook tapi siapa yang satu itu, kenapa wajahnya begitu familiar, seolah aku pernah melihatnya disuatu tempat. "Apa sebaiknya aku tanyakan pada Jungkook saja ya? Siapa tahu dia kenal dengan anak ini dari pada penasaran." Aku berjalan kelaur dari kamar dengan membawa selembar foto itu dan kebetulan sekali Jungkook baru saja pulang dari sekolahnya. "Jungkook-aa..." Panggil ku suapaya dia berhenti, akupun menghampiri dirinya yang hampir masuk kedalam kamar.
__ADS_1
"Wae?" Tanya bocah itu.
"Aku mau bertanya sesuatu. Apa kau tahu siapa anak laki-laki yang berfoto bersama kita ini?" Akupun memperlihatkan selembar kertas itu pada Jungkook.
Jungkook seperti terkejut ketika aku menujukan foto itu, terlihat jelas pada air mukannya yang berubah. "Dari mana kau dapatkan foto ini Noona? Bagaimana bisa kau mendapatkan foto ini?!" Tanya Jungkook terkejut.
"Wae? Aku mendapatkannya dari dalam kotak yang tidak sengaja aku temukan di dalam lemari kamar ku. Ada apa? Kau mengenalnya?"
"Memangnya Noona tidak?"
Aku menggeleng sebagai jawaban, mau bagaimana lagi? Aku benar-benar tidak tahu dan tidak ingat siapa anak itu walaupun aku seperti pernah melihatnya. Jungkook terlihat kecewa dengan jawabanku. "Memangnya siapa dia?" tanyaku kembali.
Jungkook terdiam cukup lama. "Dia.... Orang yang sangat kita kenal.... Dia.... Myungsoo Hyung." Ungkap Jungkook membuatku terkejut bukan main.
"Mwo?!"
Bersambung....
__ADS_1