
Tanpa aku menoleh terlebih dahulu, aku refleks bilang " iya tolong nih pegangin stroller anak saya "
Setelah kurasa dia mengambil alih memegang stroller,kini kedua tangan ku menarik dengan sedikit keras pintu gerbang ini, dan berhasil.
"Makasih ya" ucapku sambil menoleh.
Eh !
Aku tiba-tiba gugup, memandangi mata yang indah nan teduh membuat hati ku termangut segan.
"Terimakasih sekali lagi, mohon maaf merepotkan anda" aku mengambil alih kembali pegangan stroller.
Kemudian dia berlalu begitu saja dengan meninggalkan anggukan nya yang manis.
Ku lihat dari kejauhan dia terus berjalan ke arah pertigaan depan sana.Lalu sebuah mobil berhenti, sepertinya dia di jemput seseorang.
"Bodoh aku! Mengulang-ulang terimakasih terus dengan gaya yang kaku kaya gini.
Harus nya aku bisa berkenalan dengan dia walau dalam waktu yang singkat"
Aaaiiihhhhh....sejak kapan aku jadi seperti kecentilan begini.
Aku tersenyum sendiri.
___________
Arsila Putty Nurul.
__ADS_1
Nama anak ku yang saat ini aku ajak berjalan-jalan.Dia senang memandangi lingkungan sekitar sambil menggerak-gerakan tangan nya.
Aku mengajak nya ngobrol dengan memberitahu nya apa apa yang ada di sekitaran jalan sini,seperti beberapa pohon yang lebat, tanaman-tanaman bonsai yang berjejer si dekat trotoar jalan serta lalu lalang kendaraan yang sepi dan hanya beberapa saja yang lewat.
Ku lihat di tepi jalan sana ada sebuah toko pastry and bakery, aku berinisiatif mau membeli beberapa kue dan roti untuk nanti aku bawa sebagai buah tangan saat mengunjungi rumah Resy.
"Mba saya beli ini,itu, sama yang ini ya mbak" aku menunjuk beberapa kue dan roti pilihan ku pada pelayan toko.
Setelah semua siap pesanan ku di kemas lalu membayar nya di meja kasir, aku buru-buru untuk pulang karena cuaca mulai gelap padahal jam di tangan ku baru menunjukan pukul 16.15 wib.
Ya sudah emang waktu nya pulang juga sih.
Aku senang ternyata di tempat baru ku ini tersedia toko-toko terdekat, sehingga jika aku butuh sesuatu sampai makanan pun mudah untuk di jangkau tanpa perlu repot dengan jarak.
Setelah sampai di rumah,aku mengecek handphone yang tadi ku tinggal begitu saja.Batre telah terisi penuh, aku melepaskan sambungan kabel charger.
Aku merebahkan diri di sebuah kasur lantai dengan bulu-bulu yang lebut nan tebal.
Aku meng aktifkan data seluler, kemudian di susul dengan suara nyaring notifikasi pesan whatsapp yang berdering berturut-turut.
.
.
"PELAKOR!"
"Perempuan mu**han!!"
__ADS_1
"Kembalikan semua uang suamiku!"
"Kamu penggoda dan meracuni suami ku dengan licik!"
" *******, ******, *****, bla bla bla "
Siapa dia?
Sampai kata-kata kasar menghujam diriku seperti ini.
Aku membaca sambil berderai air mata.
Begitu hina kah diriku ini, begitu bodoh kah aku ?
Debar hati ku seperti bertalu-talu.
Rasa nya sakit dan perih, harga diriku dia gambarkan dengan begitu hina.
Tiba-tiba Arsyla menangis.Aku cepat menggendong nya sambil terisak.
Lalu anak ku seolah menatap ibu nya ini dengan bahasa yang mengharukan.
Apakah dia merasakan juga kesedihan ibu nya sendiri?.
"Nak, maafkan mamah"
Aku memeluk nya, sambil mengusap-usap rambut tipis nya supaya dia tidak ikut cengeng.
__ADS_1