
Hari-hari sekarang berlalu. A-Yeong tengah berdiri didekat jendela kamar. Ntah pikirannya menerawang kemana. Dentingan jarum jam dan hembusan angin menemaninya.
Setelah Hwan pergi dari rumah selama satu minggu lamanya rumah itu menjadi sepi bagi Yeong. Pikirannya slalu melayang sangat jauh.
Ada satu kata yang terus A-Yeong ingat, kata-kata yang diberikan oleh Ae-Cho kepadanya beberapa hari yang lalu.
"Cerai saja.... "
"Kau pikir semudah itu untuk melupakan seseorang yang benar-benar kita cintai.. " Gumam A-Yeong sambil menatap kosong keluar jendela.
Ntah bagaimana jadinya jika aku melakukan hal itu, apakah aku akan mati muda karena bermain-main dalam pernikahan ini...dan keluarga Han... Pikir A-Yeong lagi.
Drtd.... Drtd.... Drtd...
Tiba-tiba ponsel A-Yeong berdering, menghentikan lamunannya.
"Ya ada apa?" A-Yeong langsung menerima telpon tanpa basa-basi lagi.
"Hai nona Yeong." Ucap seseorang dari seberang telepon, yang suaranya seperti seorang wanita.
"Kenapa? Ada apa?" Tanya A-Yeong dengan nada yang dingin.
"Jangan terburu-buru nona Yeong."
"Bicaralah cepat dan jangan berbelit-belit." Ucap A-Yeong yang mulai kesal.
"Oh baiklah kalau begitu... " Wanita itu meninggalkan keheningan selama beberapa detik. "Jauhi Hwan." Lanjutnya.
A-Yeong tertegun mendengar ucapan wanita itu sekarang keadaan benar-benar hening.
Tut... Tut.. Tut...
Panggilan telepon langsung terputus.
A-Yeong masih terpaku didepan jendela, dengan air mata yang terjun bebas diwajahnya.
"******..." Gumam A-Yeong. Dan mengembalikan keheningan.
"******!" Teriak A-Yeong dengan sekuat tenaganya.
"Apa maksud nya menjauhi Hwan!? Dia pikir dia siapa!? Apakah dia istrinya! Terserah aku mau didekat Hwan atau tidak itu urusanku!" Maki Yeong sambil menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
"KAU SAJA YANG MENJAUHI SUAMIKU! KENAPA AKU YANG HARUS MENJAUH!? MEMANGNYA KAU SIAPA!?" Teriak A-Yeong untuk yang kedua kalinya.
"Aaaa!" Teriak A-Yeong dan melempar ponselnya ke dinding hingga ponsel yang tadinya indah sekarang sudah tidak berbentuk.
Sementara itu.
"Apa yang terjadi"
"Apakah nyonya Yeong terluka!?"
Para pelayan langsung menerka-nerka apa yang terjadi dengan keadaan A-Yeong.
"Apakah nyonya sudah diserang?"
"Tapi itu tidak mungkin didepan ada banyak bodyguard tuan yang sedang berjaga."
Semua pelayan terlihat sangat ketakutan dan khawatir, mereka panik dalam waktu yang bersamaan. Karena tidak biasanya Yeong akan berteriak kuat.
"Apa yang terjadi?" Madam chin langsung menghampiri para pelayan yang diam mematung, didekat tangga yang menuju lantai dua.
"Madam chin.... Nyonya... Nyonya A-Yeong berteriak sangat kuat.." Ucap salah seorang pelayan yang tampak sangat khawatir.
"Apa!? Berteriak?"
"Nyonya Yeong! Nyonya Yeong!" Panggil madam chin sambil menggedor pintu kamar Yeong.
"Nyonya Yeong buka!" Teriak madam chin lagi.
Keadaan menjadi menegangkan, madam chin dipenuhi banyak kekhawatiran.
Akhirnya tanpa pikir panjang madam chin mendobrak pintu kamar Yeong sekuat tenaga.
BRAK
Pintu langsung terbuka paksa.
"Nyonya...."
Madam chin terpaku didepan pintu melihat A-Yeong yang duduk dilantai.
"Nyonya, nyonya. Apa yang terjadi?" Madam chin sangat khawatir dan segera berlari memeluk tubuh Yeong.
__ADS_1
"Chin..." A-Yeong mencoba menanggapi, namun kata-kata yang ingin ia keluarkan tersangkut di tenggorokan nya.
"Nyonya apa yang terjadi?" Madam chin sangat khawatir.
Namun Yeong tidak merespon ia hanya memeluk erat Madam chin sambil terduduk lemas dilantai.
Beberapa menit berlalu, keheningan masih menyelimuti seisi ruangan itu.
A-Yeong menangis tanpa suara sehingga membuat bahu Madam chin menjadi basa karena air matanya.
"Chin.. Aku lelah..." Suara gemetar keluar dari bibir A-Yeong dan langsung memecahkan keheningan pada saat itu.
"Ya... Anda butuh sesuatu nyonya?" Tanya Madam chin dengan suara yang sangat jangan dan perhatian.
"Aku bingung chin... Aku, aku lelah.." Suara Yeong masih gemetaran. "Tenangkan diri anda nyonya, semuanya akan baik-baik saja." Ucap Madam chin untuk menenangkan tangisan Yeong. "Aku juga berharap begitu.."
Kini keheningan kembali datang. Yang terdengar hanya dentingan jam, hembusan angin, dan isak tangis Yeong.
Madam chin masih memeluk erat tubuh Yeong yang terkulai lemah.
Beberapa kali Madam chin menarik nafasnya. "Anda bisa mengambil keputusan untuk diri anda sendiri nyonya, anda tidak harus terpaku kepada orang yang anda cintai. Keluarga anda juga pasti mengerti." Sekarang keheningan hilang.
A-Yeong menganggukkan kepala, ia mengerti apa yang dimaksud oleh Madam chin.
A-Yeong menarik nafasnya. "Tapi... Aku sangat mencintai Hwan..." Ucap A-Yeong yang masih menangis.
Bahkan dalam keadaan seperti ini nyonya Yeong masih memikirkan tuan Hwan, kenapa nyonya yang baik harus merasakan penderitaan dari keluarga ini. Pikir Madam chin yang diam mendengar ucapan A-Yeong.
"Aku akan mencoba sebisaku." A-Yeong mengangkat kepalanya dan mulai tersenyum. Inilah yang spesial dari Yeong, yang membuat Madam chin sangat menghormatinya, dalam keadaan sedihpun A-Yeong tetap bisa tersenyum, walupun itu hanyalah senyuman palsu.
Selain Ae-Cho sahabat A-Yeong yang memperdulikan nya Madam chin juga sangat perduli dengannya.
"Sekarang akan baik-baik saja." Ucap Madam chin sambil melepaskan pelukannya.
"Terimakasih chin.. Kau sudah perduli padaku, bahkan disaat keluarga ku tidak perduli kepadaku." Ucap A-Yeong sambil tetap tersenyum tipis.
"Itu sudah tugasku nyonya."
"Mungkin kau adalah keluargaku, bukan mereka." Lanjut A-Yeong.
Madam chin hanya bisa menahan kesedihan mendengar ucapan A-Yeong.
__ADS_1
...Apapun yang terjadi kau boleh pergi, tapi tolong kembalilah. Tidak apa-apa jika kau menghindar. Tapi pikirkan lagi untuk suatu hari nanti.....
...****************...