
Jam 8 malam.
A-Yeong sedang menyantap makan malamnya.
Pokoknya aku tidak mau bertemu dengan Hwan malam ini.. Pikir A-Yeong sambil mengunyah makanannya.
"Nyonya apakah ada masalah dengan makanan anda?" Tanya madam chin yang melihat ekspresi tidak nyaman diwajah Yeong.
"Ah tidak, tidak chin." Suara madam chin membuyarkan lamunan A-Yeong.
A-Yeong kembali memakan makanannya. Seperti biasa dalam ruangan hanya ada keheningan dan suara sendok yang dipakai A-Yeong.
"Nyonya tuan Hwan sudah kembali." Ucap seorang pelayan kepada A-Yeong.
Gawat. Pikir A-Yeong.
A-Yeong tertegun dan membawa kembali keheningan disekitarnya.
"Dimana dia?" A-Yeong membuka suaranya dan memecahkan keheningan.
"Tuan masih berada diluar." Jawab seorang pelayan lelaki yang berdiri disamping Yeong.
Tanpa menoleh kepada pelayannya Yeong kembali bertanya. "Kenapa dia belum masuk?"
"Tuan sedang menerima telepon." Jawab si pelayan lagi.
Dengan cepat Yeong langsung berdiri.
"Jika dia bertanya katakan aku sudah tidur." Titah A-Yeong. "Dan bereskan semua piring yang sudah aku pakai." Lanjut A-Yeong, dan langsung pergi ke lantai atas.
Bahkan demi tuan, nyonya Yeong menghindarinya agar dia bahagia. Pikir sang pelayan dan langsung melakukan perintah Yeong.
Sementara itu.
Dia menelepon siapa? Apakah calon istri barunya yang tadi menelepon aku? Pikiran Yeong langsung kemana-mana.
Yeong masih melihat Hwan bolak-balik didekat mobilnya. Mobil Lamborghini Aventador S milik Hwan, yah sebagai seorang pengusaha tentunya semua barang dan kendaraan yang dipakai oleh Hwan mempunyai harga yang fantastis.
"Cih, mondar-mandir saja terus sampai kau pusing." Gumam Yeong sambil terus melihat Hwan mondar-mandir didekat mobilnya.
Hwan masih fokus berbicara di ponselnya, dan dia mendongak melihat keatas tempat Yeong terus melihatnya.
"Bajingan! Gawat!" Yeong dengan cepat langsung menutup hordeng jendelanya.
__ADS_1
"Jangan bilang dia melihat aku." Gumam Yeong lagi, sambil membungkus diri dengan selimut.
Hwan masih melihat kearah jendela Yeong, dan langsung mengakhiri obrolannya ditelepon.
"Dasar wanita bodoh, dia bahkan memata-matai aku." Geram Hwan kesal.
Hwan memasuki rumah dengan wajah yang penuh amarah seperti biasanya. Hwan selalu kesal dengan hal yang menyangkut dengan Yeong, apapun bentuknya.
"Dimana wanita itu?" Tanya Hwan kepada seorang pelayan tanpa menyebutkan nama Yeong. Dalam otak Hwan nama itu adalah nama yang paling ia benci.
"Nyo.. Nyonya Yeong sudah tidur tuan." Jawab sang pelayan yang penuh dengan rasa takut.
"Sialan!" Gumam Hwan dan langsung berjalan cepat menaiki tangga.
"Hei bangun!" Teriak Hwan sambil mengetuk keras pintu kamar Yeong.
Hi, dia marah-marah lagi. Yeong duduk dikasur dengan rasa ketakutan.
Tidak, tidak. Aku harus bagaimana.
Sangat lama bagi Yeong untuk mengumpulkan keberanian untuk bertemu dengan Hwan ataupun amarahnya.
Kenapa dia malah mencari aku, kan tadi aku sudah menyuruh pelayan untuk bilang aku sedang tidur. Batin A-Yeong sambil memegang gagang pintu dengan tangan gemeteran.
Cklek..
"Ada apa?" Tanya Yeong sambil mengintip dari balik pintu.
Brak
Hwan langsung menendang pintu sehingga membuat Yeong terjatuh ke lantai.
"Apa yang kau lihat!?" Teriak Hwan kepada Yeong.
Apa yang dia bicarakan? Pikir Yeong sambil melihat wajah marah Hwan.
"Kenapa kau diam? Jawab aku!" Bentak Hwan.
"Ti.... Tidak, aku hanya.." Yeong tidak mampu menjawab kata-kata Hwan, bahkan sekarang Yeong hanya tunduk karena takut.
"Kau menguntit ku!" Teriak Hwan.
Plak.
__ADS_1
Suara tamparan keras mendarat diwajah Yeong.
"Siapa yang memperbolehkan kau melihat ku!?" Teriak Hwan lagi.
Terkadang Yeong juga berfikir, Hwan marah-marah bahkan dengan hal kecil. Apa salahnya jika hanya melihat, Yeong juga tidak menyentuhnya.
Yeong memegang sebelah wajahnya yang terasa sakit karena tamparan Hwan.
"Kau..." Rintih Yeong dan langsung berdiri.
"Wah.kau sekarang sudah berani menantang yah." Sindir Hwan sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
Aku akan melakukan apa yang aku mau kali ini. Benar seperti yang dikatakan chin, aku tidak harus slalu tunduk dengannya. Pikir A-Yeong.
A-Yeong melihat lekat wajah Hwan.
"Keluar.. " Ucap Yeong dingin.
"Apa!? Apa maksud mu!?" Hwan sedikit terkejut karena Yeong memerintah nya.
"Keluar!" Teriak Yeong dengan penuh amarah.
"Beraninya kau!" Ucap Hwan sambil mencengkram tangan Yeong.
"Jangan sentuh aku." Ucap Yeong dingin dan menekan kata-kata nya.
"Apa yang salah diotak mu!?" Hwan mendorong tubuh Yeong ke dinding.
Bajingan! Yeong hanya melihat wajah Hwan, dan menahan sakit.
Tanpa bicara Hwan melangkah keluar pintu.
"Lelaki macam apa kau?" A-Yeong kembali berbicara dan menatap tajam kearah Hwan.
Hwan membalikkan tubuhnya. "Berhentilah berbicara hal konyol." Hwan terkekeh pelan melihat A-Yeong.
Tanpa bicara Yeong langsung menutup pintu di depan Hwan.
"Bahkan aku tidak bisa marah dengannya... Kenapa ini sangat konyol.." Rintih Yeong di balik pintu.
"Apa yang salah dengannya? Kenapa dia kali ini berani kepadaku." Gumam Hwan dan pergi dari depan pintu kamar yang sudah ditutup oleh Yeong.
...Aku berubah, tapi gagal.. ...
__ADS_1
...Semua tentangmu sudah mengalahkan ku.. ...
...****************...