
Jam menunjukkan pukul 8 malam. Yeong tengah duduk santai di halaman rumahnya yang luas. Yeong menggoyangkan kakinya sambil menikmati udara segar yang menghampirinya.
'Bagaimana mungkin mereka bilang tidak bisa, padahal aku sudah siap sekarang. Keputusan yang tidak adil dari keluarga Hwan, dan kenapa ayah malah mendukung keputusan mereka' Yeong memikirkan tentang apa yang terjadi saat berdiskusi dengan ayahnya. Hanya malam yang tenang tapi tidak dengan pikiran Yeong.
................
FLASHBACK...
"Ayah aku ingin bicara." Ucap A-Yeong tanpa memberikan salam kepada ayahnya, A-Yeong langsung memasuki kantor sang ayah.
"Apa lagi Yoeng?" Sahut Kim Hye-Byung sambil menatap wajah Yeong.
"Aku sudah memikirkan semuanya." Lanjut Yeong. "Lalu kau mau apa?" Ayah Yeong langsung berdiri dari kursi kerjanya, dan menghampiri Yeong.
Yeong menghela nafas dan membuat ruangan terasa hening seketika. "Ayah... Aku ingin bercerai dari Han Hwan." Akhirnya Yeong mengeluarkan kata-kata yang selama ini ia tahan untuk menjaga pernikahannya bersama Han Hwan.
"Kim A-Yeong! Jangan bicara yang aneh-aneh! Apa maksud mu ingin bercerai dengan Hwan. Pernikahan kalian sudah diatur dan kalian sudah menerima persyaratan nya. Kau jangan bertingkah kekanak-kanakan!" Bentak Ayah Yoeng, beginilah pernikahan politik akan ada konsekuensi jika mereka bercerai. Pernikahan yang mereka lakukan adalah atas dasar kemajuan perusahaan.
Dan Yoeng adalah jembatan kemajuan perusahaan Sian, yaitu perusahaan yang dikuasai oleh ayah Yoeng, dimana perusahaan ini menaungi beberapa artis ternama dan grup band dan masih banyak lagi. Sementara perusahaan Hwan adalah perusahaan yang memproduksi make-up, desain kostum, dan pakaian-pakaian branded yang diekspor keseluruh negara, selain itu mereka juga memegang dunia perfilman. Tidak bisa dihitung berapa banyak kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Han Hwan, tapi tentunya sangat banyak. Itulah yang menjadi alasan pernikahan politik antara Hwan dan Yoeng.
'Kekanak-kanakan apanya!? Aku sudah tersiksa karena pernikahan bodoh ini!' Yeong mengepalkan tangannya dengan kuat untuk menahan air mata sekaligus kemarahannya yang memuncak karena mendengar perkataan ayahnya sendiri.
"Yoeng, sebelum kalian menikah antar keluarga sudah melakukan kesepakatan, dan kalian sudah setujuh dengan persyaratan yang kita bahas. Kenapa setelah 2 tahun kau malah bertindak bodoh begini? Jika kau melakukan itu maka kita akan dituntut, begitupun dengan Hwan jika ia meminta hal yang sama. Pikirkan itu, jangan melakukan hal yang kekanak-kanakan Yoeng." Ucap ayahnya dengan nada dingin, yang membuat siapapun yang ada didekatnya akan ketakutan.
'Itu paksaan!'Ingin rasanya Yoeng berteriak saat itu juga.
"Tapi ayah... Aku tidak nyaman dengan apa yang terjadi... Aku sudah lelah." Ucap Yeong sambil menunduk melihat lantai, tanpa berani melihat wajah ayahnya.
"Kau ingin perusahaan Sian bangkrut karenamu!" Teriak ayah Yeong.
Tubuh Yoeng langsung terperanjat kaget seketika mendengar bentakan dari ayahnya sendiri. Dirumah ia dibentak oleh Hwan dan hal yang sama terjadi sekarang.
"Ayah tidak mengerti." Yeong masih mencoba membujuk ayahnya walaupun ketakutan sedang menyelimuti Yeong.
"Yeong, ada hal lain yang bisa kau lakukan. Jangan membuat keributan dikantor ku, dan jangan mengetes kemarahan ku." Ucap ayah dengan nada bicara dingin dan mengancam.
'Gagal...' Batin Yeong dan langsung keluar dari ruangan ayahnya.
__ADS_1
................
Flashback Of
"Aku yang bodoh..." Gumam Yeong sambil menatap ke atas langit.
Drrt... Drrt... Drrt...
Tiba-tiba ponsel Yeong berbunyi.
"Ha... Halo?" Yeong langsung mengangkat telepon yang bertuliskan Ibu Han. Ia adalah mertua Yeong.
"Halo Yoeng."
Yeong dapat mendengar sapaan hangat dari ibu mertuanya, Yeong mencoba mengatur nafasnya.
"Halo ibu, ada apa?"
"Ah tidak apa-apa."
"Yah?.. Lalu?"
Yeong terdiam untuk beberapa saat dan memikirkan Jawaban yang akan ia berikan kepada ibu Mertuanya.
"Ba.. Baik bu."
"Baguslah kalau begitu, sampai jumpa besok."
Tut... Tut... Tut...
Panggilan langsung diakhiri.
"Pasti menyangkut pernikahan lagi." Gumam Yeong.
"Pernikahan yang mulai terasa menyebalkan!" Yoeng berjalan memasuki rumahanya.
"Chin.!" Yeong memanggil seorang pelayan kepercayaan nya.
__ADS_1
Dengan cepat madam Chin langsung menghampiri Yeong. "Apa yang bisa saya bantu nyonya?"
"Besok kita akan pergi kerumah ibu mertuaku."
"Baiklah nyonya." Sahut chin sambil tersenyum.
Tap... Tap... Tap... Suara langkah kaki sepatu pantofel berdetak di keramik.
"Untuk apa kau menemui ibu?" Terdengar suara seseorang yang tidak asing bagi Yeong, yaitu suara Hwan.
"Ngobrol." Jawab Yoeng singkat, bahkan ia tidak menoleh untuk melihat Hwan di belakangnya.
"Cih.Begitu caramu menjawab pertanyaan ku, kau lupa tatakrama ternyata.Ingin ku ajari lagi?Hah?" Hardik Hwan sambil melihat Yoeng dengan tatapan tajam.
"Apanya? Ajari saja dirimu tentang sopan santun." Yeong berbicara dengan nada dingin dan tidak perduli.
Chin yang melihat pertengkaran dingin antara Yeong dan Hwan hanya bisa menundukkan kepalanya.
Plak!
Suara tamparan keras bergema didalam ruangan.
"Itu yang akan kau terima jika menguji kesabaran ku." Ucap Hwan dingin.
"Hanya itu? Itu tidak ada apa-apanya." Balas Yeong sambil memegangi wajahnya dan menyeka darah dari pinggiran mulutnya. "Sialan! Laki-laki seperti mu seharusnya menderita sejak dini." Lanjut Yeong dan langsung pergi dari hadapan Hwan.
"Apa! Kau! Kau berani bicara begitu!" Bentak Hwan, namun Yeong sudah berlalu pergi tanpa memedulikan nya.
"Wanita itu bahkan berani mengatakan kata-kata kasar didepanku, apa yang dia rencanakan." Gumam Hwan yang terlihat sangat kesal.
Yeong memasuki kamarnya sambil tetap menyeka darah dari mulutnya yang mungkin pecah karena tamparan Hwan.
"Sakit..." Rintih Yeong sambil mengoleskan obat di lukanya.
"Aku harus apa sekarang?" Gumam Yeong.
...Jika aku pergi suatu hari nanti akan ku ingat rasa sakit ini :) ...
__ADS_1
...****************...