My Trash Husband

My Trash Husband
9


__ADS_3

"Ah bagus lah! Ibu sangat senang Yeong ingin makan bersama hari ini." Ucap Nyonya kang dengan senyuman yang indah terpatri di wajahnya.


"I-Iya aku juga senang." Jawab Yeong. 'Astaga aku saja terpaksa, baiklah mari kita telusuri gadis ini. Aku akan membongkar kebenarannya! Walaupun hanya untuk diriku sendiri~' Batin Yeong.


"Oke, kalian silahkan berbincang-bincang, aku akan memeriksa sesuatu terlebih dahulu." Nyonya Kang melenggang pergi meninggalkan Jaehyong, Luna, dan juga Yeong.


'Sial. Ini sangat canggung!' Batin Yeong.


Jaehyong memalingkan wajah dan menatap keluar jendela. "Kak Yeong, lihat ada kupu-kupu!" Seru Jaehyong sambil kembali menatap Yeong.


"Ah? Benarkah? Dimana!?" Tanya Yeong antusias.


"Lihat disana." Ucap Jaehyong sambil menunjuk kearah kupu-kupu yang higgap di bunga. "Bukankah itu indah?" Lanjut Jaehyong sambil tersenyum.


"Cih, kau bilang itu indah. Itu hanya serangga." Ketus Luna.


"Yah menurutku itu indah." Jaehyong menatap sinis kearah Luna.


"Astaga, seleramu sangat rendah yah. Buang-buang waktu saja jika berbicara dengan kalian~" Luna berbicara sinis dan menyilangkan tangan didepan dadanya.


Yeong menatap wajah Luna dan balik berbicara dengan nada dingin. "Adikku berbicara denganku bukan denganmu. Lagipula, kami juga tidak mau berbicara denganmu. Lalu kenapa kau menyela pembicaraan kami? Jika kau tidak suka kau'kan bisa diam."


Wajah Luna langsung terkejut mendengar ucapan Yeong, dan Luna menatap wajah Yeong dengan tatapan tajam. "Selera kalian sangat rendah yah, hei Jaehyong kau sangat cocok menjadi adik Yeong daripada menjadi adik Hwan. Kau tahu? Kau sama seperti wanita ini, kalian hanya beban bagi Hwan. Hm, dua orang yang tidak berguna berada di satu tempat." Sinis Luna.


"Siapa yang bilang mereka beban? Kau tidak pernah berkaca yah, Nona sepupu?" Ucap seseorang yang menyela pembicaraan mereka.


Wajah Yeong dan Jaehyong tampak kaget, dan terbersit senyum diwajah Jaehyong. "Hwan!"


"Ah.. Apa yang kalian lakukan disini? Ibu sudah menunggu di ruang makan." Ucap Hwan dengan nada bicara yang cukup hangat, namun tatapan Hwan sangatlah berbeda, disana tidak ada kehangatan sama sekali.


Tanpa pikir panjang mereka langsung berjalan menuju ruang makan.


'Apa yang dia lakukan disini? Aku pikir dia mati dalam tidurnya.' Batin Yeong yang berjalan tepat disamping Hwan, kali ini mereka terlihat seperti pasangan yang serasi.


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Mereka sampai diruang makan,dan Yeong terkejut dengan semua masakan yang memenuhi meja makan namun Yeong masih menyembunyikan keterkejutan nya. 'Wau... Ini sangat berlebihan, walupun sering melihat hidangan yang banyak dimeja makan. Tapi, bukankah yang ada dimeja ini sangat banyak!! Siapa yang akan menghabiskan makanan sebanyak ini.' Batin Luna.


Disaat yang sama semua orang sudah duduk dan Yoeng menarik kursi didekat Hwan. Namun, dengan cepat Luna duduk dikursi yang dipegang Yoeng.


"Ah? Maaf nona Yoeng, aku tidak bisa duduk dikursi lain." Ucap Luna tanpa rasa bersalah.


'Sialan, kenapa wanita ini sangat menjengkelkan.' Cerca hati Yeong. "Oh ya, kau bisa duduk disini nona sepupu." Yeong hanya bisa tersenyum paksa dan duduk disamping Jaehyong.


"Tidak apa-apa Yeong?" Tanya ayah Han Haseok yaitu mertua Yeong.


"Yah ayah tidak masalah, saya bisa duduk disini." Ucap Yeong dengan kerendahan hatinya. 'Haha! Aku seperti sedang akting main film'


"Wah hari ini sangat ramai dirumah, kita hanya kurang satu orang. Aku berharap Yoon juga cepat pulang dari Amerika!" Seru Tuan Haseok.


"Yah tentu saja. Kita akan menjadi lebih lengkap jika Yoon juga bisa hadir disini." Sahut Nyonya kang sambil diikuti senyum diwajahnya.


Han Yoon adalah anak bungsu dari keluarga Han, saat ini Han Yoon sedang bersekolah di salah satu Universitas di Amerika.


Saat makan pun mata Yeong tidak bisa beralih dari Han Hwan dan Luna yang duduk bersebelahan. 'Hm, kalian sangat akrab ya. Sampai-sampai Hwan bisa melupakan istrinya sendiri. Tapi memang sudah begitu dari dulu'kan? Konyol jika aku ingin menangis.Aku tidak akan menangis untuk manusia sialan ini.' Yeong melanjutkan makan dan sesekali melihat kesamping, karena air matanya yang tidak bisa dibendung.


"Aku selesai." Ucap Hwan sambil berdiri. Hwan menatap A-Yeong dengan tatapan tajam dan ekspresi wajahnya tetap datar.


"Ah? Cepat sekali Hwan." _Tuan Haseok


"Saya masih punya urusan dikantor ayah, maaf saya harus segera undur diri." Ucap Hwan dengan ekspresi yang sama.


"Yah yah Baiklah. Kau pekerja keras, silahkan lanjutkan pekerjaan mu." Ucap Tuan Haseok dan sedikit tersenyum.


"Oppa! Kenapa cepat sekali? Apakah kita tidak bisa menghabiskan waktu bersama hari ini?" Seru Luna.


Ruang makan seketika menjadi senyap saat kata-kata itu didengar oleh banyak orang dan ucapan yang dikeluarkan secara lantang oleh Luna.


Wajah Yoeng menjadi pucat dan Yeong menunduk sehingga rambut panjang Yeong menutup wajahnya. 'Waktu bersama yah. Haha! Bajingan ini! Bahkan dia tidak tahu sopan santun.' Mata Yeong berkaca-kaca, namun Yoeng menahan semuanya.


"Luna, kakakku sangat sibuk. Kalian bisa menghabiskan waktu lain kali saja." Ucap Jaehyong dan pada saat yang sama Jaehyong menatap kearah Yeong. "Lagipula kakak juga sudah menikah, jadi lebih baik kau sadar posisi LUNA." lanjut Jaehyong saat nada kalimat terakhirnya ia tekankan dan seperti kalimat ancaman untuk Luna.

__ADS_1


"Tapi aku dan oppa memang tidak bisa dipisahkan." Cerca Luna dengan suara manja dan wajah cemberut.


Terdengar suara pukulan dimeja dan Yoeng yang sudah berdiri. "Ah maaf tanganku keram, sampai-sampai aku tidak bisa merasakannya. Ah tanganku sangat sakit rasanya." Ucap Yeong sambil tersenyum. 'Aku tidak tahan lagi!'


"Ah Yeong, biarkan ibu mengobati tanganmu. Ibu tahu cara untuk menghilangkan keram nya." Ucap Nyonya Kang sambil ikut berdiri.


"Terimakasih ibu." _Yeong.


Luna menarik lengan baju Hwan dan merengek. "Oppa ayolah, kau tidak sesibuk itu 'kan? Ayo kita jalan-jalan hari ini. Aku sudah lama tidak berkeliling di Korea."


Hwan menghela nafas dan saat bersamaan urat-urat di kening Hwan terlihat. "Berhentilah berbicara omong kosong, Luna.Aku sibuk, jika kau mau berkeliling maka lakukanlah dengan orang lain." Hwan menekankan kalimat di ucapannya dan matanya menatap Luna, dan rambut masih menutupi wajah Luna.


Tanpa melanjutkan pembicaraan Hwan langsung keluar dari ruang makan.


.


.


.


Acara makan selesai setelah Hwan pergi dan Luna sedang bersama Nyonya kang.


"Terimakasih ibu sudah mengobati tanganku." Ucap Yoeng sambil tersenyum.


"Yah tidak masalah." Nyonya kang tersenyum dan mengelus kepala Yeong. "Kau sama sekali tidak berubah dari dua tahun yang lalu, Yeong. Hari-hari lain pasti berat bagimu untuk menghadapi Hwan, maafkan ibu." Nyonya kang turun dari tempat duduknya dan berlutut didepan A-Yeong.


"Ibu... Ibu jangan lakukan ini." Yeong segera mengangkat tubuh Nyonya kang untuk kembali duduk dikursi.


"Maafkan ibu Yeong.Maaf karena ibu memaksamu. Maafkan ibu!" Ucap Nyonya kang sambil memeluk tubuh Yeong dan suara tangisan memenuhi ruangan.


"Tidak bu, ibu tidak salah. Aku yang mengambil langkah ini." Ucap Yeong sambil menahan tangisannya.


"Aku sangat berterimakasih kepadamu Yeong, disaat wanita yang lain tidak sanggup menghadapi... Hwan. Tapi, kau tetap ada disisi Hwan... Aku sangat berterimakasih..." Nyonya kang terisak dan menggenggam


tangan Yeong.


.


.


.

__ADS_1


...Aku terluka, aku kesakitan, hatiku sesak. Tapi... Lupakan saja. Tidak ada yang akan memperdulikan rasa sakit ku. Memang itulah kenyataannya... ...


...****************...


__ADS_2