
...-JANGAN BERCERAI DAN UBAH DIA_...
Yeong terus menuruni tangga dan meninggalkan Hwan, pria itu hanya diam sambil menunjukkan sedikit lengkungan dibibirnya, yah senyum kecil dari Hwan.
"Pria aneh, gila... apa-apaan menahan senyum begitu, bukannya tampan malah terlihat jelek." Gumam Yeong.
"Chin" Panggil Yeong.
Seorang wanita berjalan menuju Yeong. "Iya nyonya, kita berangkat sekarang?"
"Ah iya." Yeong didampingi oleh madam Chin langsung berjalan menuju mobil.
Mobil Maserati Quattroporte itu keluar dari komplek perumahan mewah itu, dan melaju dengan kecepatan sedang.
"Ah aku bingung harus bicara tentang apa dengan ibu mertua ku..." Ucap Yeong memecahkan keheningan didalam mobil.
Chin yang tadinya melihat pemandangan diluar jendela akhirnya menoleh kearah Yeong. "Uh? um... Nyonya besar yang mengajak nyonya Yeong bertemu, jadi topik kali ini adalah milik nyonya besar, anda tidak perlu risau nyonya Yeong." Kata madam Chin sambil tersenyum hangat.
"Iya juga, tapi bagaimana jika aku melakukan kesalahan? Chin, Chin, apakah dandanan ku sudah rapi... Apakah pakaian ku sudah tepat?" Yeong tenggelam dalam kekhawatirannya.
"Nyonya, anda sudah rapi, pakaian yang anda kenakan juga sangat tepat untuk pertemuan dengan nyonya besar. Anda tidak perlu khawatir."
keadaan kembali tenang didalam mobil, tanpa Yeong sadari mobil sudah terparkir dihalaman rumah Tuan Besar Han Haseok.
"Ayo nyonya." Chin turun lebih dulu untuk membuka pintu Yeong, dan menawarkan tangan untuk Yeong gandeng.
"Terimakasih:)" Yeong turun dari mobil.
Yeong melihat rumah yang besar, megah, dan juga mewah. Didepan rumah ada banyak penjaga, juga ada dua orang yang menjaga didepan gerbang. Yeong berfikir bagaimana kesan terbaik didepan mertuanya..
.
__ADS_1
.
.
.
"Nyonya, nona Kim A-Yeong sudah tiba." Seru seorang pelayan kepada seorang wanita yang duduk sambil memegang cangkir teh, dia adalah Kang Seo-Ah ibu dari Han Hwan.
"Oh, cepat sekali. Biarkan menantuku masuk." Titah Nyonya besar. Pelayan menunduk dan segera pergi.
Beberapa menit kemudian seorang gadis cantik memasuki ruangan yang megah itu.
"Halo ibu, apa kabar?." Yeong memberi salam sembari membungkukkan tubuhnya.
Nyonya kang segera berdiri. "Oh, halo. Aku baik, wah ibu lihat kau tambah cantik!" Nyonya kang tersenyum dan juga memberikan pujian kepada Yeong, hal yang sangat umum diketahui semua orang nyonya kang adalah orang yang baik hati, dan ramah. Hampir sama dengan Yeong nyonya kang tidak membeda-bedakan antara orang kelas bawah dan orang dari kelas atas.
"Ah~ Terimakasih ibu, senang mendengarnya. Ibu juga sangat cantik." Balas A-Yeong dan kembali menatap nyonya kang.
"Ayo, silahkan duduk." Ucap nyonya kang, dan kembali ke posisi duduknya.
"Kau seperti biasanya sangat manis, dan sopan Yeong. Bagaimana keadaan Hwan?" Tanya nyonya kang sambil tersenyum.
"Hm, tuan Hwan baik-baik saja bu." Yeong tersenyum.
"Syukurlah, dan kau masih memanggilnya seperti itu hm? Aduh ibu tidak mengerti jalan pikiran kalian para anak-anak muda. Oh ya Yeong ibu sudah lama tidak melihat ibumu, apakah kamu mengunjunginya? Bagaimana keadaannya?" Nyonya kang memberikan pertanyaan yang membuat jantung Yeong berdenyut kencang.
"Yah dia baik-baik saja, saya sesekali berkunjung jika dapat kesempatan.." Balas Yeong, namun jauh didalam hati rasa sakit menjelajahi tubuh Yeong. 'Lagi-lagi aku harus menjawab pertanyaan semacam ini... dia kan ibu tiri untuk apa dibawa-bawa...'
"Yeong ibu mau membicarakan sesuatu.." Tiba-tiba nada suara Nyonya kang berubah menjadi sangat serius, bahkan kali ini dia berdiri dan menatap keluar jendela, Yeong hanya bisa terpaku di tempat duduk untuk mendengar kelanjutan dari ucapan Nyonya kang. "Kau ingin bercerai dari Hwan? Apakah itu benar?" Nyonya kang menatap Yeong.
Mendengar pertanyaan Nyonya kang tubuh Yeong langsung gemetar, Yeong mengepalkan tangan untuk menenangkan diri. "Aku... Yah... Itu benar." Jawab Yeong terbata-bata, karena Yeong tidak tahu itu adalah jawaban yang tepat atau akan menjerumuskan dirinya kedalam kegelapan.
__ADS_1
Nyonya kang diam untuk beberapa menit, ruangan menjadi dingin dan senyap.
"Aku punya alasan untuk itu, aku sudah tidak bisa menahan semuanya! Aku ingin hidup didunia dimana orang-orang menyayangi aku! Disana aku seperti dipenjara...Dan orang-orang yang disandera..." Yeong Terisak saat bicara sehingga ia sesekali meninggikan nada bicaranya.
Nyonya kang langsung bergerak dan memeluk tubuh Yeong, tubuh yang gemetar, dan air mata yang tidak bisa Yeong tahan. 'Aku tidak mau menangis... tapi bodohnya air mata ini keluar tanpa henti!'
"Ibu aku... aku hanya ingin keluar dari hidup nya... jika sikapnya tidak berubah itu berarti bukan aku yang dia mau... aku tahu kalian tidak akan setuju, tapi setidaknya ini akan mengubah Hwan... aku tahu ibu pasti merasa marah mendengar ucapanku, tapi aku bisa apa... ini adalah kenyataannya..." Yeong terisak dan mencoba menghapus air mata di wajahnya yang tidak meredah.
Nyonya kang hanya bisa diam dan tetap memeluk Yeong, didalam hatinya dia tahu bagaimana yang di rasakan Yeong. Dimana pernikahan yang semestinya bahagia menjadi sebuah penjara, dan mengikat seperti belenggu.
Antara Han Haseok dan Han Hwan sangat berbeda, seorang Han Haseok adalah pria yang hangat dan ramah. Sementara Han Hwan, dia adalah pria yang dingin terkadang pelayan merasa Hwan bisa meledak kapan saja. Bahkan tentang hubungan percintaan tidak ada wanita yang tahan dengan sikap Hwan, sehingga perjodohan harus terjadi itu adalah alasan lain dari terjadinya pernikahan antara Yeong dan Hwan.
Tap.
Tap.
Tap.
Suara sepatu fantofel bergema dilantai. "Halo semuanya!" Terdengar sapaan ceria dari seseorang yang membuat Yeong langsung menghapus semua air matanya.
"Uh? Ada apa disini?"
"Jaehyong hentikan itu." Tegur ibu kepada Jaehyong yang datang tiba-tiba dan merusak suasana, itulah yang terjadi. "Nanti saja kamu kesini ibu masih berbincang dengan kakakmu." Lanjut ibu.
"Hm... Baiklah, lanjutkan." Mau tidak mau Jaehyong langsung keluar ruangan.
"Ah anak ini~ Yeong ibu minta agar kamu jangan bercerai, ibu tahu kamu pasti bisa mengubah Hwan." Nyonya kang duduk didepan Yeong dan menggenggam tangan Yeong, lalu ia kembali melanjutkan kata-katanya. "Tolong jangan bercerai, hanya kau yang bisa bertahan dengannya selama dua tahun ini... Yeong, bantu Hwan untuk berubah. Ini bukan lagi tentang perusahaan, tapi ini tentang isi hatimu sendiri."
Jantung Yeong berdenyut dan Yeong menatap wajah nyonya kang, mencoba untuk memahami kondisi yang sekarang terjadi.
Nyonya Yeong kembali berdiri. 'Aku tahu ini sulit nak.. tapi kau harus menemukan perasaannya.'
__ADS_1
...****************...
......Kau sangat berharga,sehingga aku didorong untuk terus mencoba mendekat disaat kau juga mendorong aku untuk menjauh. Kapan kau akan mengeluarkan aku dari negeri dongeng yang menyedihkan ini.. ......